
Fadhil buru-buru menyelesaikan acara makannya. la kemudian berdiri dan berjalan ke arah tempat duduk Leilani.
"Ayo," ajak Fadhil sambil berjalan melewati Leilani tanpa berhenti.
Leilani yang mendengarnya buru-buru menghabiskan nasinya. Ia harus segera ke sana.
Leilani pun pergi menuju ruangan klub sambil mengunyah makanan yang masih tersisa di mulutnya. Leilani menutupinya dengan kedua tangan agar orang-orang tidak menatap aneh pada dirinya.
Leilani mempercepat langkahnya, mencoba menyusul sang ketua kelas. Tapi percuma, langkah Fadhil sudah tidak terkejar lagi.
"Wah ... sudah banyak saja yang datang," gumam Leilani ketika melihat banyak orang berkerumun di bagian depan ruang klub spesial.
Leilani pun mencoba menyelip ke dalam. Akan tetapi ternyata susah juga. Mereka seperti sengaja tidak memberikan jalan padanya.
"Permisi," ucap Leilani pada siswi di depannya.
Siswi itu berbalik menghadap Leilani. "Paan sih! Pergi!!" ujar siswi itu sambil mendorong Leilani cukup keras.
Leilani yang tidak siap hampir saja terjengkang. Akan tetapi, syukurlah ada Restu di sana.
Restu datang tepat waktu. Dia menangkap Leilani yang hampir terjatuh.
Restu tersenyum manis pada Leilani. "Kamu nggak papa?" tanyanya.
Leilani menggelengkan kepalanya dan kembali berdiri tegak seperti sebelumnya.
Siswi yang mendorong Leilani terlihat sedikit malu karena sikap buruknya disaksikan oleh Restu. Dan ternyata bukan cuma ada Restu di sana. Ada Dimas dan juga Bima bersamanya.
"Minggir woy!!!" teriak Dimas sambil mengeluarkan tatapan mautnya.
Semua orang langsung berbalik dan kemudian segera memberi jalan untuk mereka.
Dimas berjalan paling depan diikuti oleh Bima. Restu pun menarik tangan Leilani untuk segera menyusul mereka.
Para siswi yang ada di situ histeris melihatnya. Digandeng oleh Restu adalah impian mereka.
Setelah semua masuk, Dimas langsung menutup kembali pintunya.
"Semua udah kumpul?" ucap Fadhil sambil menghitung jumlah anggota.
"Udah," balas Bima.
Dimas tidak menjauh dari pintu. Sepertinya dia yang akan duluan menjaganya.
"Oke."
Fadhil beralih menatap Leilani. "Duduk di sana," titah Fadil sambil menunjuk ke arah meja.
"Di atas meja?" tanya Leilani memastikan.
Fadhil menganggukkan kepalanya.
"Terus kalian di mana?" tanya Leilani.
Restu tersenyum. "Tenang. Kita gak bakal kemana-mana. Kita duduk di sana," balas Restu sambil melirik ke arah sofa.
"Oh." Leilani menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Woy, ketua!" seru Hadyan setengah berbisik. "Jangan sampe iba. Tolak mereka," titahnya.
"Oke," jawab Leilani sambil menunjukkan senyuman yang jarang ditunjukkannya.
Ketujuh pria itu terpesona. Mereka baru pertama kali melihat Leilani tersenyum seperti itu. Aura Leilani terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Leilani naik dan duduk di atas meja seperti intruksi teman-temannya. Ia *******-***** jari tangannya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Mulai sekarang?" tanya Leilani pada ketujuh pemuda itu karena mereka tidak kunjung memulainya.
Ketujuh pemuda itu pun tersadar dari keterpesonaannya. Dimas langsung membukakan pintunya.
Seorang siswi berambut pendek masuk menjadi yang pertama. Siswi itu menghadap ke arah Fadhil dkk.
"Salah," kata Fadhil. "Hadap sana!" titahnya sambil menunjuk Leilani dengan dagunya.
"Ke ... sana?" tanya siswi itu ragu.
Fadhil pun menganggukkan kepalanya.
Leilani mulai berdebar. Ini adalah pengalaman baru untuknya.
Siswi itu pun beralih menghadap Leilani dan kemudian mulai memperkenalkan dirinya.
"Halo. Namaku Rara. Aku ingin masuk ke klub spesial ini,” ucap Rara dengan lemah lembut dan sopan.
Leilani tidak enak. Lawan bicaranya sangat sopan, tapi dia malah duduk di atas meja.
Leilani hendak turun, namun Hadyan segera memberi tanda silang dengan kedua tangannya. Melihat itu, Leilani pun mengurungkan niatnya.
Siswi itu kelihatan tidak percaya. Ia melihat para anggota pria untuk meminta penjelasan mereka.
"Ah ... maaf, Rara. Aku tidak bisa bantu kalau itu keputusan ketua," ucap Hadyan dengan gaya kemayunya. Ia pura-pura menunjukkan wajah penyesalan pada Rara.
Rara terlihat kesal dibuatnya. "Apa alesannya?" tanyanya datar.
"Alasannya ... kamu harus fokus pada minat dan bakat kamu. Klub ini tidak lebih penting dari potensi kamu. Apalagi ... kalau cuma untuk dekat dengan pria," jelas Leilani.
Rara tersenyum sinis pada Leilani. "Baiklah. Kalau begitu ... permisi," ucapnya.
Begitu seterusnya. Leilani terus mengatakan alasan yang sama pada setiap orang, termasuk pada Rosa juga.
"Akhirnya selesai juga," gumam Leilani lega.
Hadyan menggelengkan kepalanya. "Kalau alesannya sama. Ya udah umumin aja. Kenapa musti satu-satu,” ucap Hadyan jengah.
Restu hanya tersenyum dan kemudian menghampiri Leilani. "Kerja bagus," ucapnya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Leilani tersenyum bahagia. la merasa senang karena bisa menjalankan salah satu tugasnya.
"Siap-siap aja. Haters lo bakal makin benci sama Io sekarang," ucap Hadyan sambil tersenyum miring pada Leilani.
Candra mengecek ponselnya. "Bu Rika ngirim pesan di grup."
"Apa katanya?" tanya Kalevi.
Candra pun membacakan pesan dari bu Rika. "Anak-anak. Selesai pelajaran kumpul lagi di markas. Ibu dan pak Bayu menyiapkan hadiah untuk kalian."
__ADS_1
"Hadiah?" ulang Restu.
***
Sepulang sekolah, mereka berkumpul kembali di markas. Fadhil dan Leilani datang berbarengan, karena kebetulan mereka mendapat jadwal piket kelas di hari yang sama.
Meski berbarengan, tapi Leilani tetap menjaga jarak dari Fadhil. Leilani berjalan jauh di belakang Fadhil. Ketika Fadhil berjalan lambat, maka Leilani akan semakin lambat. Dan ketika Fadhil berjalan cepat, Leilani pun ikut lebih cepat.
"Nah! Ketua kita sudah datang," ucap bu Rika sambil bertepuk tangan.
Seperti biasa, hanya Restu yang akan menyambut Leilani dengan senyuman.
"Oke. Kalau begitu, ayo ikut ibu! Ibu sudah menyiapkan hadiah untuk kalian," ujar bu Rika dengan penuh semangat.
"Tunggu, Bu," ucap Leilani, membuat semua orang berhenti.
"Kenapa, Lela?" tanya bu Rika.
"Sepertinya ada yang belum datang," jawab Leilani.
Mereka yang ada di sana pun melihat satu persatu orang yang ada di sana, mencari tahu siapa yang belum datang.
"Oh ... Dimas gak ada ya," ucap bu Rika yang baru menyadarinya.
Bu Rika terlalu antusias sehingga ia tidak menyadari bahwa ada yang belum datang di sini.
"Ya udah lah. Lagian mendingan si preman pasar itu gak ada. Lebih tenang," ucap Candra enteng.
"Bener, timpal Kalevi.
Tampa mereka ketahui, ada Dimas di dekat pintu sana. Ia mendengar semuanya. Dimas hendak berbalik pergi ketika ia mendengar bahwa anggota lain tidak mengharapkan kehadirannya. Namun, seseorang tiba-tiba bicara.
"Aku akan menunggu saja," ucap Leilani pada mereka semua.
Dimas yang hendak pergi dari sana mengurungkan niatannya ketika mendengar ucapan Leilani barusan.
"Dia juga anggota. Kalau tidak lengkap, pasti akan kurang," lanjut Leilani.
Dimas tersenyum di luar sana saat mendengar ucapan Leilani.
"Wow ... sekarang lo ada peningkatan jadi ketua," puji Hadyan, namun dengan wajah sinisnya.
Bu Rika tersenyum bangga mendengarnya.
"Oke. Kalau begitu kita tunggu Dimas," putus bu Rika.
Sedetik kemudian, Dimas pun langsung masuk ke sana.
"Wah ... panjang umur sekali. Baru aja kita bicarain kamu, Dimas," ujar bu Rika penuh semangat.
Dimas tidak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Mempertahankan wajah galak adalah keharusan baginya.
"Ya udah. Gimana Bu Ketua? Kita bisa pergi sekarang, kan?" tanya bu Rika pada Leilani.
Leilani tersipu malu mendengarnya. "Iya," jawab Leilani.
***
__ADS_1