
"Jangan berantem di sini. Malu diliatin sama yang lain," kata Bima yang kebetulan juga ada di sana.
Dimas justru malah kelihatan semakin menyeramkan saat Restu mencoba mencampuri urusannya.
"Diem lu! Gak usah ikut campur! Ini urusan gue sama cewek gendut ini." Dimas memberi peringatan pada Restu.
Mendengar kata "gendut" membuat Restu semakin murka.
"Br*ngs*k!!!" maki Restu sambil menarik kerah baju Dimas. "Bisa-bisanya lo ngehina cewek kayak gitu!!"
Dimas dan Restu saling bertatapan tajam. Mereka seperti musuh yang siap untuk saling membunuh.
Bima dan Leilani terlihat mulai panik. Mereka takut terjadi apa-apa dengan Dimas dan juga Restu.
Bima dan Leilani pun berusaha untuk memisahkan Dimas dan juga Restu. Akan tetapi kekuatan Dimas dan Restu jauh lebih kuat dari mereka berdua.
"Cewek gendut itu yang cari gara-gara duluan!!!" bentak Dimas sambil memelototkan matanya.
"Tapi lo gak berhak ngehina dia kayak gitu, b*ngs*t!!!" balas Restu sambil mendorong Dimas dengan sekuat tenaga.
Alhasil, Dimas pun tersungkur ke belakang karenanya. Dimas yang tidak terima diperlakukan seperti itu langsung bangkit untuk balas menghajar Restu.
"Jangan!!" kata Leilani pada Dimas.
Dimas yang mendengar itu pun seketika menghentikan aksinya. Kepalan tangan Dimas hampir saja melayang ke wajah Restu jika saja Leilani tidak segera menghentikannya.
"Tolong jangan," pinta Leilani. "Jangan bertengkar," lanjut Leilani dengan ekspresi khawatir.
Akhirnya, Dimas pun menurunkan kepalan tinjunya. Ia terlihat berusaha menormalkan kembali deru nafasnya untuk mengurangi emosinya.
Sementara itu, Restu masih saja menatap Dimas dengan tatapan murka. Tangannya masih terkepal erat disamping tubuhnya.
"Minta maaf!" kata Restu pelan, namun penuh penekanan.
Dimas tidak mendengarkan Restu. "Harusnya cewek itu yang minta maaf," balas Dimas.
Leilani mengalihkan perhatiannya pada gadis gendut yang masih saja menangis tanpa mengeluarkan suara. Leilani merasa sangat iba. Ia tahu betul bagaimana rasanya saat orang-orang berlaku buruk pada dirinya.
"Tolong minta maaf. Kamu salah disini," pinta Leilani pada Dimas dengan nada marah. Kali ini, Leilani bersikap tegas layaknya seorang ketua.
__ADS_1
"Jangan harap. Sampai kapan pun ... gue gak bakal pernah minta maaf sama dia," kata Dimas yang kemudian langsung pergi meninggalkan mereka semua begitu saja.
"Bubar!!!" kata Bima pada para siswa dan siswi yang masih betah menonton mereka.
Setelah mengatakan itu, Bima pun segera pergi dari sana.
Setelah semua bubar, kini hanya tersisa Leilani, Restu dan juga gadis gendut itu. Gadis gendut itu berjongkok sambil menutupi wajahnya. Sepertinya ia merasa malu karena menjadi pusat perhatian akibat kerusuhan yang terjadi barusan.
Restu menghampiri gadis gendut itu dan kemudian berjongkok di hadapannya.
"Ra, kamu baik-baik saja?" tanya Restu pada gadis gendut itu yang ternyata bernama Rara.
Rara yang mendengar itu langsung mengangkat kepalanya. Air mata membasahi seluruh wajahnya.
"Lani, ada tisu?" tanya Restu.
Leilani menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah. Terimakasih," kata Rara dengan suara bergetar.
Setelah mengatakan itu, Rara pun bangkit dan kemudian pergi dari sana dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
***
Leilani merenung sendiri di dalam kelas. Ia memikirkan para anggota klubnya yang selalu saja bertengkar. Mulai dari Bima dengan Kalevi yang memang sudah memiliki hubungan yang kurang baik bahkan sebelum mereka masuk ke dalam klub. Lalu, kemarin Candra dan Hadyan bersitegang. Dan hari ini, hari ini Dimas dan Restu yang berkelahi.
Leilani menghela nafas lelah. Belum juga selesai masalah yang satu, sudah ada lagi masalah yang lainnya.
Tapi Leilani bisa apa? Jangankan membantu memperbaiki hubungan mereka, kesalahpahamannya dengan Fadhil pun belum selesai juga. Ya, meskipun kelihatannya saat ini Fadhil sudah mulai bersikap baik lagi padanya.
Leilani terus memikirkan kira-kira apa yang harus ia lakukan untuk membantu memperbaikinya. Ia benar-benar tidak ada ide sama sekali sekarang.
"Mau disini sampai kapan?" kata Fadhil.
Leilani pun langsung tersadar dari lamunannya. Ia pun berdiri dan kemudian pergi bersama dengan Fadhil menuju ruang klub spesial. Pak Bayu dan bu Rika menyuruh mereka berkumpul hari ini juga.
Saat Leilani dan Fadhil sampai ke ruang klub spesial, ternyata semua orang sudah berkumpul di sana. Termasuk pak Bayu dan bu Rika.
"Semua sudah berkumpul disini," kata pak Bayu memulai pembicaraan.
__ADS_1
Sedari tadi, diantara mereka semua tidak ada satu pun yang saling bicara. Akan tetapi, kali ini pak Bayu dan bu Rika sudah tidak heran lagi. Mereka tahu bahwa anak-anaknya ini sedang bertengkar satu dengan yang lainnya.
"Bapak sudah mendengar tentang perkelahian antara Dimas dengan Restu. Bapak tidak tau apa permasalahannya. Tapi bapak berpesan, jika kalian ada masalah, cepat selesaikan. Kita bicara sama-sama. Jangan malah diam-diaman seperti ini. Belajar untuk menyelesaikan masalah. Kita berada di dalam satu grup. Jika kalian terpecah, mau jadi apa klub ini? Bapak membentuk klub ini agar kalian bisa saling menguatkan satu sama lain. Bukan saling menyakiti," tutur pak Bayu panjang lebar.
Bu Rika mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Oh ya. Candra, Hadyan, apa kalian sudah baikan?" tanya bu Rika.
Semua orang yang ada di sana hanya diam. Mereka sepertinya tidak berniat untuk menjawab pertanyaan bu Rika.
Bu Rika menghela nafasnya. "Belum ya? Sudah ibu duga," kata bu Rika dengan wajah kecewa.
"Lani, kamu ketua di sini. Bagaimana bisa seorang ketua membiarkan para anggotanya berselisih satu sama lain seperti ini?" kata bu Rika.
Leilani menundukkan kepalanya. Ia benar-benar ketua yang tidak berguna.
"Jangan hanya menunduk, Lani," kata pak Bayu tegas.
Leilani mengangkat kepalanya. Ia sedikit terkejut mendengar nada bicara pak Bayu. Pak Bayu mengatakannya dengan tegas kali ini. Tidak seperti biasanya. Biasanya pak Bayu akan berbicara lebih lembut pada Leilani.
"Sekarang bapak tanya, apa usaha kamu sebagai ketua untuk menyatukan mereka semua?" tanya pak Bayu.
Leilani menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak tau bagaimana caranya.
"Kamu tidak bisa begitu. Ini juga tanggungjawab kamu sebagai ketua. Ketua itu bukan hanya sekedar nama. Ketua itu mempunyai fungsi tersendiri bagi anggota-anggotanya. Kamu paham maksud bapak?" kata pak Bayu panjang lebar.
Leilani mengangguk mengerti. Ia kemudian memperhatikan satu persatu temannya yang sedari tadi hanya diam saja.
"Teman-teman. Ayo baikan. Jangan seperti ini," pinta Leilani.
Para anggota itu bukannya menurut, mereka justru malah memalingkan muka.
Mendapat respon seperti itu, rasanya Leilani ingin menyerah saja.
"Lani, ikut ibu sebentar," kata bu Rika sambil berdiri dari duduknya.
Leilani pun berdiri dan kemudian mengikuti ke mana bu Rika akan membawanya pergi.
Sementara itu, para anggota lainnya terus diberikan nasehat oleh pak Bayu. Meski mereka tidak merespon ucapan pak Bayu, tapi pak Bayu yakin, mereka semua mendengarkannya.
__ADS_1
***