
"Ye ...! Apaan cemburu. Amit-amit deh," balas Kalevi.
Brak.
Candra menggebrak meja."Woy!! Maksud lu apaan amit-amit?!"
Candra kelihatan tidak terima dengan perkataan Kalevi.
"Ya maksudnya itu. Ya kali gue cemburu sama mereka," jawab Kalevi.
"S*al*n!! Lu ngerendahin sepupu gue?!" bentak Candra penuh emosi.
Kalevi sedikit terkejut dengan kemarahan Candra. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"Biasanya juga yang mau sama si Restu cewek rendahan. Jadi wajar aja kalo sepupu lo direndahin kaya gitu," timpal Hadyan sambil menunjukkan smirk evilnya.
"S*al*n!!!" maki Candra pada Kalevi dan Hadyan.
Leilani hanya diam. Ia tidak berniat untuk ikut campur dalam perdebatan. Bagi Leilani, hal seperti itu sangat melelahkan.
"Ya terus? Lu maunya gimana?! Lu mau gitu gue macarin sepupu lu?!" tantang Kalevi.
Kalevi dan Candra pun terus berdebat tanpa henti. Tidak ada satu pun yang mau mengalah diantara mereka berdua.
"Lani," seru Bima yang ada di sebelah kanan Leilani.
Leilani menoleh pada Bima. Ini adalah pertama kalinya Bima memanggil nama Leilani. Sebelum-sebelumnya, mereka tidak pernah saling bicara sama sekali.
"Lo kan ... maksud gue kamu kan ketua di sini. Ngerti kan maksud gue?" ujar Bima mengingatkan Leilani.
Leilani kembali melihat perseteruan diantara Kalevi dan Candra. Leilani mengerti apa maksud Bima. Leilani harus bisa menghentikan perseteruan ini sebagai seorang ketua.
"Stop!!" ujar Leilani sedikit keras pada Kalevi dan Candra.
"Gak!!" balas Candra dan Kalevi berbarengan sambil melihat Leilani dengan tatapan tajam.
Leilani menjadi ciut setelahnya. Ia pun hanya bisa menundukkan kepala. Sementara itu, Candra dan Kalevi kembali melanjutkan perseteruan mereka.
Hadyan kembali mencemooh Leilani. "Ketua gak guna," ejeknya.
Bima hanya bisa menghela nafasnya. Ia kemudian beralih pada Fadhil. Biasnya Fadhil yang akan merapikan mereka. Tapi kali ini Fadhil hanya diam saja.
"Fahd," seru Bima pada Fadhil.
"Hm?" balas Fadhil santai.
"Suruh mereka jangan ribut!" titah Bima.
"Gue bukan ketua," balas Fadhil dengan wajah acuh tak acuh.
Restu mengerutkan kening mendengar jawaban Fadhil. Biasanya Fadhil adalah orang yang paling tidak mau melihat keributan. Tapi sekarang? Fadhil malah tidak peduli sama sekali. Ia malah asyik memainkan ponselnya.
Bima sepertinya menyerah. Ia memilih untuk duduk di sofa sambil menghela nafas lelah.
Brak
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut saat mendengar sebuah gebrakan keras.
__ADS_1
Ternyata itu adalah ulah Dimas. Dimas tiba-tiba menggebrak lemari yang ada di sebelahnya.
"Bisa diem gak!!" bentak Dimas pada Kalevi dan juga Candra.
Kalevi dan Candra langsung ciut melihat Dimas yang murka.
"Gue pengen pulang!! Kapan selsenya kalo gini?!" bentak Dimas sambil memelototkan matanya.
Dimas terlihat sangat menyeramkan. Kalevi dan Candra pun saling berpandangan sebentar dan kemudian mereka memutuskan untuk duduk juga seperti yang lainnya.
"Ya udah, Ly. Cepet mulai rapatnya," ucap Candra pada Leilani.
Leilani pun menganggukkan kepala. Dan kemudian duduk di sana bersama Restu juga.
"Jangan di situ. Sini aja!" titah Candra sambil menepuk kursi tempat bermain game miliknya.
Leilani pun menurut dan pergi menuju ke sana.
"Jangan deket-deket si buaya. Bahaya," ujar Candra pelan. Namum masih bisa di dengar oleh semua orang yang ada di sana.
Restu sendiri yang dikatai buaya oleh Candra hanya tersenyum mendengarnya.
Hening. Semua orang di situ malah diam setelahnya. Tidak ada yang mulai berbicara.
Untung saja, pak Bayu dan bu Rika cepat datang ke sana.
Pak Bayu tersenyum melihat semua anggota klubnya ada di sana.
"Hey hey hey. Selamat siang semua," sapa bu Rika riang.
"Ini kenapa? Kenapa semua orang mendadak mogok bicara?" tanya bu Rika.
Lagi-lagi tidak ada yang menjawabnya.
"Pak Bayu!!" seru bu Rika sambil menyenggol pundak pak Bayu.
Pak Bayu pun menoleh pada bu Rika yang berdiri di sampingnya.
"Mereka kenapa?" bisik bu Rika.
Pak Bayu mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
"Perasaan kemarin-kemarin mereka keliatannya udah mulai deket deh," lanjut bu Rika sambil berbisik.
"Saya juga gak tau Bu."
Bu Rika dan pak Bayu pun memutuskan untuk bergabung saja meski mereka tidak tahu ada apa.
Leilani segera turun dari kursi dan memilih untuk duduk di lantai saja sebagai tanda hormat pada kedua gurunya.
"Lani! Gimana? Udah ada keputusan mau dibuat bagaimana halaman belakangnya?" tanya pak Bayu.
Leilani menggelengkan kepalanya.
"Loh! Kok masih belum? Bapak kira selama ini kalian sudah mendiskusikannya," heran pak Bayu.
"Ya mau diskusi gimana, Pak? Orang ketuanya aja malah asik pacaran," ucap Hadyan sinis.
__ADS_1
"Ha...h." Bu Rika terheran mendengarnya. "Pacaran? Lela pacaran?" tanya bu Rika setengah tak percaya.
"Enggak, Bu. Mereka salah paham." Leilani mencoba menjelaskan.
Bu Rika dan pak Bayu saling berpandangan. Sepertinya sekarang mereka tahu kenapa anak-anak ini hanya saling diam.
"Emang pacaran sama siapa?" bu Rika malah penasaran siapa pacarnya.
"Candra ya?" tanya bu Rika dengan wajah sumringah.
"Ya gak mungkin lah, Bu. Mereka sepupu," ujar Kalevi.
"Eh iya. Ibu lupa. Tapi kan mungkin aja."
"Kalo gitu pacarnya kamu ya, Levi?" tebak bu Rika lagi.
Kalevi menampakkan wajah tak suka. Apalagi Kalevi melihat Bima yang tersenyum seolah sedang mengejeknya.
"Amit-amit deh pacaran sama si mba Kun. Bukan selera saya kali, Bu," balas Kalevi.
Leilani yang mendengarnya tidak terkejut sama sekali. Ia sudah terbiasa mendengar cemoohan dari para pria seperti apa yang barusan Kalevi lakukan.
"Hush!! Kamu itu. Kalo ngomong gak disaring dulu. Kalo nanti beneran jatuh cinta baru tau rasa." Bu Rika memperingatkan Kalevi. Bu Rika merasa bersalah karena Kalevi mengatakan itu pada Leilani. Bu Rika takut Leilani sakit hati.
"Terus siapa pacarnya?" Pak Bayu juga ikut penasaran.
"Kamu?" tanya pak Bayu pada Dimas. "Ah!! Tapi kayaknya gak mungkin."
Pak bayu kemudian beralih pada Bima. "Bima?"
Bima menggelengkan kepala.
Pak bayu kemudian beralih pada Hadyan. "Hadyan?"
Hadyan mengernyitkan dahinya. "Saya?" ujar Hadyan dengan tatapan tak percaya. Matanya seolah menyiratkan bahwa tidak mungkin dia menjadi pacar Leilani.
"Kalau begitu—"
Ucapan bu Rika terpotong karena seseorang tiba-tiba angkat bicara.
"Saya," ujar Restu sambil tersenyum pada bu Rika.
Bu Rika menutup mulutnya. "Serius?"
Restu tidak menjawab. Ia hanya terkekeh geli mendengarnya.
"Tidak, Bu. Mereka salah paham," jelas Leilani.
Fadhil mengangkat sudut bibirnya. "Hh?! Salah paham? Jelas-jelas kalian gandengan," ucap Fadhil pelan sehingga tidak ada yang mendengar ucapannya kecuali dirinya sendiri.
"Lah? Tapi apa masalahnya kalau Restu sama Lela pacaran coba?" heran bu Rika.
"Mereka cemburu, Bu. Kayaknya," ucap Restu bercanda.
Keenam pemuda tampan yang ada di situ langsung melayangkan tatapan tajam pada Restu. Sementara Restu, dia malah asyik tertawa.
***
__ADS_1