Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Kesalahpahaman Berakhir?


__ADS_3

"Lu mendingan keluar deh dari circle itu, Can. Lama-lama lu ketularan jadi b*nci tau ga," kata salah seorang teman Candra.


Candra kelihatan semakin kesal mendengarnya. "Diem lu pada. Sekali lagi kalian bilang dia b*nci, mendingan pertemenan kita cukup sampe sini," ancam Candra.


Teman-teman Candra kelihatan tidak suka karena Candra lebih memilih Hadyan daripada mereka yang notabene telah berteman cukup lama dengan Candra.


"Halah. Jadi lu lebih milih si b*nci itu daripada kita?!" balas teman Candra yang bertubuh tinggi besar dan sedikit menyeramkan.


"Kalo iya, kenapa?" tantang Candra. "Lagian gue gak suka sama orang yang jelekin temen dibelakang."


Melihat Candra yang serius dengan perkataannya membuat teman-teman Candra tersebut sedikit panik. Sebelumnya belum pernah mereka lihat Candra seserius ini dengan mereka.


Teman Candra yang bertubuh tinggi besar tersebut gelagapan. Iya kira gertakannya akan berhasil, namun ternyata sebaliknya. Candra justru malah mengiyakan ucapannya.


"So-sorry, Can. Lagian kita kan juga cuma ikut-ikutan lu. Lu juga kan sering manggil si Hadyan b*nci," kolah teman Candra yang berukuran tinggi besar.


Candra menahan emosinya. Memang benar dirinya terkadang memanggil Hadyan dengan sebutan b*nci. Tapi Candra benar-benar hanya bercanda. Candra tidak ada niatan sedikit pun untuk mengolok-olok Hadyan. Ia hanya iseng saja memanggilnya.


"Kalo gue manggil dia b*nci emang kenapa? Gue temen dia. Dan cuma gue yang boleh manggil dia b*nci. Nggak buat kalian, karena kalian ngga nganggep dia temen sama sekali," bela Hadyan.


Teman-teman Hadyan terdiam. Mereka memang sengaja mengolok-olok Hadyan. Terutama di sosial media. Mereka membenci Hadyan karena Hadyan adalah bagian dari klub spesial. Dimana klub tersebut membuat Candra lebih sering menghabiskan waktu dengan mereka.


"Dan satu lagi," uhar Hadyan.


Hadyan menatap teman-temannya tersebut satu persatu.


"Kalo emang kalian masih mau temenan sama gue, lu semua ngga boleh ngolok-ngolok temen gue yang laen. Gue benci dengernya. Jangan-jangan lu pada juga ngolok-ngolok gue di belakang," tutur Candra.


"Ya nggak lah, Can. Kita temenan udah lama. Kaya yang nggak kenal kita aja," balas salah seorang dari mereka.


"Bener. Kita cuman nggak suka aja karena lu lebih milih ngabisin waktu bareng mereka dibanding kita. Lu jadi nggak asik, Can. Apa-apa ada acara. Apa-apa ada acara," timpal teman Candra yang tinggi besar.


Setelah melihat kejadian tersebut Hadyan langsung pergi dari sana tanpa mengatakan apa-apa.


Leilani dan Restu saling berpandangan dan kemudian langsung pergi dari sana untuk mengejar Hadyan.


"Yan! Hadyan!" seru Restu.


Hadyan tak menggubris panggilan Restu. Ia tetap berjalan dengan santai di depan sana.


"Hadyan!"


Kali ini Leilani lah yang memanggilnya.


Barulah saat Leilani yang meanggilnya Hadyan langsung berhenti.

__ADS_1


"Kenapa, Lan?" tanya Hadyan sambil tersenyum centil.


Restu mulai tidak suka melihat ekspresi centil Hadyan karena Restu juga tahu bagaimana sifat asli Hadyan.


Saat bersama mereka, Hadyan menunjukkan sikap yang berbeda 180 derajat dari yang biasa orang lain lihat.


Leilani tersenyum senang karena Hadyan menyahut panggilannya. Leilani pun sedikit berlari untuk menghampiri teman masa kecilnya tersebut.


Entah ada angin apa, tapi saat Leilani berlari ke arahnya Hadyan merasakan perasaan yang berbeda. Entah kenapa, Leilani menjadi terlihat jauh lebih manis daripada biasanya.


"Lo kenapa langsung pergi?" tanya Restu pada Hadyan.


Hadyan tidak menjawab. Tidak ada yang tahu bahwa Hadyan masih terpesona dengan senyuman Leilani untuknya.


Restu mengernyitkan dahi karena Hadyan tidak menjawab pertanyaannya dan malah asyik menatap Leilani yang berdiri tepat di hadapan Hadyan.


"Yan!" seru Restu sedikit kencang.


Hadyan mendelik pada Restu. Namun sedetik kemudian Hadyan tersadar bahwa banyak mata yang memperhatikan mereka bertiga.


Hadyan pun langsung memasang kembali topengnya. Ia tersenyum secerah mentari pada Restu meski Restu tahu bahwa itu hanyalah sebuah senyuman palsu.


"Apa? Ada yang salah?" tanya Hadyan lembut.


Restu jadi malas menjawab pertanyaan Hadyan. Akhirnya Leilani lah yang menjawab Hadyan.


"Oh ... itu ...." Hadyan menaruh jari telunjuknya di depan dagu sambil menunjukkan wajah berpikir.


Restu bergidik ngeri melihatnya. Sementara Leilani, dia menatap Hadyan dengan tatapan penuh harap menunggu jawaban.


Hadyan tersenyum dalam hati melihat ekspresi Restu. Hadyan pun malah berpikir untuk menjahili Restu.


"Emh ... emh ... itu ... apaya ...." Hadyan semakin menjadi-jadi. Ia membuat ekspresi-ekspresi sok imut di depan Leilani dan Restu.


"Apa?" tanya Leilani penasaran.


"Aku mau ke toilet," jawab Hadyan akhirnya.


"Oooh," ucap Leilani.


"Kenapa? Mau ikut?" tanya Hadyan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Restu.


Restu yang mendapat kedipan seperti itu semakin ngeri melihatnya. Dia juga langsung menunjukkan seolah-olah sedang muntah di hadapan Hadyan.


Hadyan merasa puas melihat ekspresi Restu yang seperti itu.

__ADS_1


"Lan, kita pergi aja yuk," ajak Restu.


Leilani menyadari bahwa Restu tidak nyaman dengan sikap Hadyan yang seperti itu.


"Yasudah. Kamu pergi saja duluan. Aku mau mengobrol dulu dengan Hadyan," balas Leilani.


"Oke. Dimana?" tanya Hadyan dengan sikap aslinya sebagai seorang pria.


Restu mengernyitkan dahi tatakala melihat Hadyan yang dengan sangat mudah Leilani ajak untuk bicara. Tidak biasanya Hadyan seerti itu. Restu menjadi curiga dibuatnya.


"Di taman belakang? Bagaimana?" tanya Leilani meminta persetujuan Hadyan.


"Oke."


Mereka berdua pun pergi menuju taman belakang. Lebih tepatnya kebun mereka yang baru saja mereka tanami tetumbuhan.


"Lo ngapain ikut?" tanya Hadyan sambil terkekeh geli.


Hadyan yang pertama kali menyadari bahwa Restu mengikuti mereka berdua.


Leilani menoleh ke belakang. Ternyata memang benar, Restu mengekori mereka berdua.


"Gue khawatir ninggalin cewe gue sama orang aneh kayak lo," jawab Restu.


Leilani dan Hadyan menatap tajam pada Restu.


Restu yang mendapat tatapan tajam seperti itu hanya tersenyum canggung.


"Bercanda, bercanda," kata Restu sambil tertawa garing.


Leilani dan Hadyan tidak ada yang tertawa. Menurut mereka perkataan Restu sama sekali tidak lucu.


"Kenapa si emang?" ujar Restu pada Hadyan. "Lagian Lani juga bukan cewek lu. Ya, kan?"


"Tapi aku juga bukan pacar kamu," kata Leilani tidak terima.


Leilani tidak mau sampai ada yang salah paham dengan perkataan Restu. Bagaimana jika orang-orang menganggap serius perkataan Restu. Itu kan bahaya untuk Leilani. Bisa-bisa perempuan-perempuan di sekolahnya semakin membenci Leilani.


Restu tak menggubris perkataan Leilani. Ia masih sibuk menatap Hadyan sembari tersenyum jahil pada Hadyan.


"Cemburu ya?" kata Restu sambil terkekeh geli.


Leilani menatap Restu dengan tatapan lelah. Sepertinya setiap orang Restu goda. Anak satu ini memang tidak ada capeknya menggoda orang di sekitarnya.


"Kalo iya. Gimana?" jawab Hadyan malas.

__ADS_1


Leilani dan Restu seketika terdiam mendengar jawaban Hadyan yang benar-benar diluar dugaan.


***


__ADS_2