
"Sebenernya masalahnya bukan si Restu jadi pacar Mba Kun, Bu. Kalo masalah itu mah ya terserah lah," tutur Kalevi.
"Terus masalahnya apa dong?" tanya bu Rika.
"Masalahnya ... mereka berdua itu bikin kita nunggu lama. Masa yang lain udah pada ngumpul, tapi si Mba Kun sama si Restu malah pacaran. Kan ngeselin, Bu. Kita juga punya urusan lain, kali. Ga bisa seenaknya dong, mentang-mentang dia ketua." Kalevi menjelaskan keadaan pada bu Rika.
"Oh ... jadi gitu alesannya." Sekarang bu Rika memahami situasi dan kondisinya.
Prok
Prok
Prok
Pak Bayu meminta perhatian semua orang yang ada di sana.
"Dengar! Kalian semua harus mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Kecuali kalau memang urusan kalian itu sangat-sangat darurat, baru bapa maklumi. Tapi kalau urusannya masih bisa ditunda nanti, sebisa mungkin urus nanti. Dahulukan mana yang harus di dahulukan," tutur pak Bayu memberi wejangan.
"Dengerin tuh!" ucap Hadyan datar.
"Ssstt!" Bu Rika menyuruh Hadyan diam.
"Kamu juga jangan menyela pembicaraan. Pak Bayu kan belum selesai bicara," kata bu Rika pada Hadyan.
Kalevi dan Bima menahan tawa melihat Hadyan yang kena marah bu Rika.
"Silakan, Pak Bayu. Lanjutkan," kata bu Rika.
Pak Bayu terlihat sedikit berpikir. "Sebentar, Bu. Tadi sampai mana ya?"
"Hah?" Bu Rika tidak percaya pak Bayu bisa lupa begitu saja. "Pak Bayu ini gimana sih?! Masih muda kok udah jadi pelupa."
"Tadi bapa bicara sampai mana?" tanya pak Bayu pada mereka semua.
Tidak ada yang menjawab. Pak Bayu sedikit kecewa. Artinya, mereka semua tidak mendengar apa yang dikatakannya.
"Dahulukan apa yang harus di dahulukan," ucap Dimas tiba-tiba.
Semua yang ada di sana langsung menoleh pada Dimas. Sementara Dimas sendiri, dia duduk dengan santai sambil bersender ke lemari.
"Ah! Benar," ujar pak Bayu dengan mata berbinar. Akhirnya ia ingat apa yang ia katakan.
"Ternyata cuma Dimas di sini yang mendengarkan ucapan bapak dengan seksama," ujar pak Bayu menyindir keenam anggota lainnya.
"Kita lanjutkan. Semuanya harap dengarkan," kata pak Bayu memperingatkan.
Bu Rika menganggukkan kepala sambil memandang wajah pak Bayu dengan seksama. Kali ini, bu Rika memberikan perhatian penuh pada ucapan rekan kerjanya tersebut.
"Ini adalah organisasi. Kalian harus belajar menempatkan urusan pada tempatnya. Dimana urusan pribadi ditempatkan dan di mana urusan bersama ditempatkan. Semua punya tempat masing-masing. Dan apa yang Leilani dan Restu lakukan tadi, itu tidak bisa dibenarkan. Kalian menempatkan urusan pribadi kalian diwaktu yang tidak tepat. Padahal urusan itu masih bisa dibicarakan nanti, bukan? Kalian mengerti maksud bapak?" tutur pak Bayu panjang lebar.
Restu dan Leilani menganggukkan kepalanya.
"Saya minta maaf, Pak," ucap Leilani pelan.
"Saya juga," timpal Restu.
"Jangan minta maaf sama bapak. Minta maaf sama teman-teman kalian," balas pak Bayu sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
Leilani pun menurut. "Semuanya ... aku minta maaf ya."
Tidak ada satu pun yang menjawab.
"Oke. Bapak anggap diamnya kalian sebagai iya. Masalah ini selesai. Sekarang, kita langsung ke topik utama. Lani! Pimpin rapatnya," titah pak Bayu untuk mengarahkan mereka.
Leilani menganggukkan kepalanya. "Jadi, kita mau buat bagaimana halaman belakangnya?" tanya Leilani pada semua anggota.
Sementara itu, pak Bayu dan bu Rika pindah ke sofa. Mereka duduk santai sambil memperhatikan anak-anak didik mereka.
"Lo kan ketua, Mba Kun. Lo aja yang mikir. Lo kan pinter," jawab Kalevi yang seenaknya melimpahkan tanggung jawab pada Leilani. Seolah Leilani lah yang harus mengurus semuanya.
"Gue tau elo bego, Vi. Tapi ya sedikit mikirlah. Ya masa Lani yang musti mikir sendiri," ujar Bima pada Kalevi, mantan sahabatnya tersebut.
"Mau jadi pahlawan lo?" balas Kalevi.
"Haish!!" Hadyan menunjukkan wajah tak suka. "Kalo gini kapan selsainya? Gue ada acara," ujar Hadyan kesal.
"Gimana kalo kita nanem buah aja?" usul Candra.
"Gak, gak, gak. Lama. Keburu kita lulus baru berbuah," tolak Kalevi.
"Kita tanam bunga aja. Biar gampang." Kali ini Kalevi yang memberi usulan.
Sementara itu, pak Bayu dan bu Rika pamit undur diri. Mereka menyerahkan semua pada Leilani. Pak Bayu dan bu Rika juga menghimbau agar keputusan disepakati hari ini.
"Mending yang bisa dimanfaatin juga gak sih?" ucap Bima. "Iya, kan?"
Entah kenapa, hari ini Bima lebih banyak bicara.
"Ya yang ada manfaatnya. Tanaman obat misalkan. Gimana?" jawab Bima.
"Ide bagus. Gue setuju," balas Restu sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Mendingan nanem bunga lah. Biar indah." Kalevi tidak mau kalah.
"Lani, gimana? Kamu setuju dengan usul yang mana?" tanya Restu sambil menunjukkan senyum manisnya.
Leilani terlihat bingung. Ia tidak tau harus memilih usul siapa.
"Ck." Hadyan berdecak kesal. "Lama."
"Sabar," ucap Bima yang mencoba bersikap dewasa.
"Lu dari tadi belain si Mba Kun mulu. Naksir lo ya?" ledek Kalevi.
Bima memilih untuk diam dan tidak meladeni Kalevi.
"Emang rese si Bima. Gue ngomong gak ditanggepin," rutuk Kalevi dengan suara pelan.
"Tanam sayuran juga kayaknya bisa," usul Dimas Tiba-tiba.
Leilani masih belum memutuskannya. Ia menunggu Fadhil bicara. Akan tetapi, Fadhil sedari tadi malah diam saja.
"Fadhil," seru Leilani.
Fadhil menoleh pada Leilani dengan tatapan datarnya. "Terserah."
__ADS_1
Mendengar itu, Leilani pun menganggukkan kepala.
"Jadi?" tanya Candra.
"Terserah kalian saja," jawab Leilani dengan polosnya.
Semua orang yang ada di situ terheran mendengarnya.
"Ko gitu Mba?" tanya Kalevi.
Leilani jadi bingung sendiri. Alhasil suasana hening kembali.
"Aku lebih setuju usul Dimas," kata Fadhil tiba-tiba.
Mendengar itu, Leilani pun segera mennggapinya. "Oke. Kalau begitu. Sesuai kata Dimas saja," ucap Leilani.
"Sorry. Ralat. Gue setuju sama Candra," kata Fadhil.
"Oke. Kalau begitu aku juga," kata Leilani.
Terus saja begitu. Setiap Fadhil merubah keputusannya, maka Leilani berubah juga. Dan setiap Leilani menyetujui usulan Fadhil, maka Fadhil akan kembali merubahnya.
"Ly," seru Candra pada Leilani.
"Lo kenapa?" tanya Candra.
"Kenapa apanya?" tanya Leilani.
Candra tidak menjawab. Sepertinya Candra sedikit bingung mengatakannya.
"Dari tadi lo ngikut jawaban si Fahd mulu. Jangan bilang ... lo suka sama si Fahd ya, Mba Kun?" ujar Kalevi mengutarakan pemikirannya.
Leilani sedikit terkejut mendengar ucapan Kalevi.
"Ah ... aku cemburu," ucap Restu sambil tersenyum tipis pada Leilani.
"Bukan begitu ...." Leilani mencoba meluruskan kesalahpahaman mereka semua. Tapi Leilani juga bingung bagaimana cara menjelaskannya.
"Jadi keputusannya yang bener apa? Astaga ...." Hadyan mulai jengah karena mereka sangat lama dalam mengambil keputusan.
"Sejujurnya, aku juga bingung. Pohon itu ide bagus. Bunga juga. Tanaman obat apalagi. Jadi aku bingung," tutur Leilani.
"Boleh kasih saran?" tanya Dimas.
Leilani menganggukkan kepala.
"Halaman belakang kan lumayan luas. Kita bisa tanam semua. Mau pohon, bunga, atau yang lain juga bisa," saran Dimas.
"Bener. Gue setuju sama usul Dimas. Tinggal kita tentuin letak penempatannya. Gimana bagusnya," timpal Bima.
Leilani tersenyum senang mendengar usul Dimas dan Bima.
"Ya sudah. Kalau begitu kita tentukan letaknya," ucap Leilani penuh semangat.
Mereka pun mulai berembug untuk menentukan tata letak dan juga hal-hal lainnya.
***
__ADS_1