Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Lani Kemana?


__ADS_3

Sekarang, ruangan klub sudah bersih. Sangat bersih, karena semua barang yang ada di sana mereka buang. Mereka juga menyapu dan mengepel lantainya. Kaca yang tadinya sangat kotor, kini bersih tanpa noda.


"Jadi, gimana besok pagi? Kita kumpul di sini lagi?" tanya Kalevi.


Fadhil mengalihkan pandangannya pada Leilani. "Gimana?"


"Pak Bayu kan tidak menyuruh kita. Jadi untuk apa?" jawab Leilani.


"Oke. Jawabannya tidak." Hadyan langsung menyimpulkannya dan kemudian pergi begitu saja dari sana.


Namun di ambang pintu, Hadyan tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Teman-teman ..." Hadyan kembali berakting kemayu setiap kali dia keluar dari klub ini. "... aku duluan ya," ucap Hadyan dengan senyuman ceria.


"Si b*nc* kambuh lagi," celetuk Candra.


***


Leilani membuka seragam milik Restu saat ia hampir sampai ke rumahnya. Bisa gawat kalau sang mama atau saudari tirinya mengetahui tentang baju ini.


Leilani masuk ke dalam kamarnya yang ada di sebelah kamar bi Sumi. Ya. Meski Leilani adalah anak kandung Ratih—pemilik rumah ini, tapi Leilani tidak diperlakukan dengan semestinya.


Leilani kemudian segera berganti baju dan kemudian mencuci baju Restu.


"Non Lely. Udah pulang ternyata," seru bi Sumi ketika berpapasan dengan Leilani saat Leilani hendak pergi ke kamar mandi.


"Iya, Bi," jawab Leilani singkat.


"Tapi, Non. Kok hari ini pulangnya telat sekali sih? Ini sudah sore loh," tanya bi Sumi penasaran.


"Iya. Tadi ada kegiatan dulu di klub. Jadi pulangnya telat. Mama gimana, Bi? Mama gak nanyain aku kemana?" tanya Leilani penuh harap.


Bi Sumi menggelengkan kepalanya.


"Nyonya gak bilang apa-apa," jawab bi Sumi.


Leilani cukup kecewa. Ternyata sang mama sama sekali tidak peduli pada dirinya.


Tiba-tiba ....


"Lani!!" bentak Rosa.


Yap. Benar. Ini adalah Rosa yang sama. Rosa adalah saudari tiri Leilani. Akan tetapi, Rosa menyuruh Leilani untuk menyembunyikan status mereka pada orang-orang di sekolah.


"Kenapa?" tanya Leilani.


"Nih! Kerjain PR gue!!" titah Rosa sambil melempar bukunya ke lantai.


Leilani hanya bisa menghela nafas lelah.


"Gak usah dikerjain lah Non, sekali-kali. Biar Non Rosa tau rasa," kesal bi Sumi.


"Bagus juga ide Bibi," balas Leilani.

__ADS_1


Keesokan harinya, Rosa murang maring karena PR nya tidak dikerjakan oleh Leilani. Rosa pun mengadukannya pada sang papa dan juga mama tirinya.


"Ma ... hiks hiks hiks," Rosa menangis di meja makan.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ratih khawatir.


"Semalem aku minta Lani buat ngajarin aku. Tapi Lani gak mau. Jadi aku gak bisa ngerjain PR-nya," dusta Rosa.


"Kenapa sih anak itu?!" kesal Ratih. "Biar mama tegur dia."


"Lani!!!" teriak Ratih.


Leilani yang sedang sarapan di dapur bersama bi Sumi langsung kaget.


"Iya. Ada apa, Ma?" sahut Leilani.


Leilani pun berdiri dan segera menghampiri sang mama.


"Iya, Ma. Kenapa?" tanya Leilani bingung.


"Kerjakan PR Rosa!!! Sebelumnya sudah aku bilang, kan? Bantu Rosa!! Apa kamu sengaja, tidak mau membantu Rosa karena kamu iri padanya? Kamu iri karena aku lebih menyayanginya?!" bentak Ratih pada putri kandungnya.


Mata Leilani mulai berkaca-kaca. "Tapi, Ma. Itu PR dia. Dia harus mengerjakannya sendiri. Masa aku yang mengerjakannya ..." protes Leilani.


"Diam!! Jangan banyak bicara. Cepat kerjakan saja. Aku muak mendengarnya," ujar Ratih sambil memalingkan muka.


"Sudah, Ratih. Jangan terlalu keras sama anak-anak," lerai pak Bagas.


"Rosa, serahkan buku kamu sama anak itu. Biar dia kerjakan sekarang," titah Ratih.


"Lani. Kita berangkat sama-sama," tawar pak Bagas.


"Tidak usah, Om. Saya jalan kaki saja," tolak Leilani.


"Biarkan saja anak itu. Anak tidak tau terimakasih seperti itu harusnya dibuang saja. Sudah untung dia disekolahkan, tapi dia malah bersikap buruk pada Rosa," kesal Ratih.


"Ya sudah. Kalo begitu, papa dan Rosa berangkat duluan," pamit pak Bagas pada Ratih dan juga Leilani.


Pak Bagas memang cukup baik. Hanya saja, pak Bagas tidak bisa menolak permintaan anak dan istrinya. Itulah kelemahannya. Makanya, pak Bagas tidak punya kuasa untuk membela Leilani di depan keduanya.


Setelah kepergian pak Bagas dan Rosa, Ratih menyeret Leilani untuk berdiri.


"Berdiri!!!" bentak Ratih.


Plak


Ratih menampar wajah putri kandungnya dengan sekuat tenaga.


Leilani menangis karena lagi-lagi sang mama menamparnya demi Rosa.


"Ma ..." panggil Leilani dengan suara pilu.


Namun bukannya iba, Ratih justru semakin kesetanan dibuatnya. Ratih menjambak rambut Leilani dan kemudian menyeretnya.

__ADS_1


Ratih melempar Leilani ke taman belakang. Leilani hilang keseimbangan dan akhirnya ia terjengkang.


"Jangan pergi ke sekolah!! Urus tanaman itu!! Ini hukuman untuk kamu. Jika ini tidak selesai saat aku pulang, maka kamu akan tau sendiri akibatnya," ancam Ratih tanpa belas kasihan.


Leilani menangis sesenggukkan. 'Kenapa mama setega ini? Bukannya setiap ibu akan menyayangi anaknya? Tapi kenapa mama tidak?'


Sambil menangis, Leilani pun mulai melakukan tugasnya. Ia memotong rumput dan juga menyiram tanaman di sana.


Sementara itu, di ruangan klub spesial, semua orang bertanya-tanya tentang ketidakhadiran Leilani di sana.


"Fahd, Lani masih piket di kelas?" tanya pak Bayu.


Fadhil menggelengkan kepalanya. "Gadis itu tidak masuk sekolah."


"Kenapa? Apa Lela sakit?" Kini giliran bu Rika yang bertanya.


Fadhil kembali menggelengkan kepalanya. "Dia tidak bilang apa-apa di grup."


"Oh ...."


"Jadi gimana, Pak? Sekarang kita ngapain?" tanya Candra.


Pak Bayu terlihat masih berpikir. Dia memainkan janggutnya yang sebenarnya tidak ada.


"Bu Rika," seru pak Bayu. "Gimana?" Pak Bayu malah


bertanya pada bu Rika.


"Masalah Lela kita pikirkan nanti. Sekarang, kita diskusi saja masalah tempat ini," jawab bu Rika.


Pak Bayu pun mengangguk setuju.


"Oke. Karena hari ini ketua tidak ada. Jadi bapak yang akan memimpin musyawarahnya," tutur pak Bayu.


Ketujuh pemuda populer itu hanya diam mendengarkan.


"Karena ruangan ini sudah bersih. Itu artinya, kalian lulus di kegiatan pertama klub ini. Selamat," ujar pak Bayu ceria. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang memberikan tepuk tangan untuknya.


"Langsung ke intinya, Pak. Gak usah banyak bacot!" ujar Dimas, lagi-lagi dengan bahasa yang sangat frontal.


"Oke. Sebenarnya bapak cuma mau menyampaikan bahwa kalian bebas menggunakan tempat ini untuk apa saja yang kalian sukai," ucap pak Bayu dengan senyuman cerahnya.


"Beneran, Pak?" tanya Restu memastikan.


Pak Bayu mengangguk sebagai jawaban.


Pak Bayu mengangguk sebagai jawaban.


"Berarti ... saya boleh pacaran di sini?" ujar Restu sambil tersenyum jahil.


"Eits. Apa-apaan. Tidak bisa!!!" tolak bu Rika tegas. "Pokoknya tidak boleh ada yang menginjakkan kaki ke markas ini kecuali anggota. Titik."


"Benar. Masing-masing anggota akan diberi kunci untuk akses masuk ke sini. Tidak ada yang boleh membawa orang ke sini," tutur pak Bayu menjelaskan aturannya.

__ADS_1


***


__ADS_2