Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Kebun Impian


__ADS_3

Sekarang para pemuda itu sudah berganti pakaian dengan pakaian Candra. Mereka berganti pakaian dengan kaos dan training yang akan lebih nyaman saat dipakai untuk berkebun.


Begitu juga dengan Leilani. Dia sudah mengganti pakaian rumahannya yang ia kenakan tadi. Tidak lupa, dia juga memakai topi. Topi couple yang dibelikan oleh bu Fyna untuk Leilani dan Candra.


"Nah, kan kalau begini lebih cocok," kata bu Fyna.


Sementara itu, Candra masih terus menunjukkan wajah kesalnya. "Ma, itu baju aku. Ngapain Mama kasih ke mereka sih? Biarin aja mereka pake baju sendiri," kata Candra yang masih tidak terima.


"Ih, kamu kok gitu sih? Mereka itu kan temen kamu. Ya gak masalah lah kalau pinjem baju kamu," kata bu Fyna.


"Mereka bukan temen aku, Ma," keukeuh Candra.


Bu Fyna hanya tersenyum mendengarnya. Ia tahu betul watak Candra. Candra itu anak yang baik. Dia tidak mungkin benar-benar membenci teman satu klubnya ini. Mungkin Candra hanya sedikit gengsi saja.


"Tuh, mobilnya udah siap," kata bu Fyna.


"Kita naik mobil itu, Tante?" kata Kalevi tidak yakin.


Ternyata, mobil yang disiapkan oleh bu Fyna adalah sebuah kolbak hitam.


"Iya. Kamu gak suka ya?" kata bu Fyna dengan wajah agak kecewa.


Menurut bu Fyna, naik mobil kolbak akan lebih menyenangkan untuk mereka daripada naik mobil biasa.


"Kalo gak mau ya udah. Lo jalan kaki aja. Masih untung nyokap gue nyiapin semunya," kata Candra kesal.


"Tidak. Jstru kita sangat berterimakasih Tante karena sudah menyiapkan semua ini untuk kita semua," kata Fadhil yang merasa tidak enak dengan perkataan Kalevi.


"Iya, Tan. Maaf ya. Aku cuman kaget aja. Soalnya ini pertama kalinya aku naik mobil kayak gitu," tutur Kalevi dengan nada menyesal.


Bu Fyna kembali tersenyum. "Ya udah. Berangkat sana. Keburu siang."


Mereka pun mulai menaikkan barang-barang ke atas mobil. Mereka bekerja sama tanpa harus disuruh lagi.


Leilani mencium tangan bu Fyna sebelum berangkat. Begitu juga dengan Candra.


"Kita berangkat dulu, Ma."


Saat Leilani hendak naik, Restu dan Kalevi langsung mengulurkan tangannya. Leilani bingung harus menerima uluran tangan yang mana.


Ketika Leilani hendak menerima uluran tangan keduanya, tiba-tiba saja Candra langsung menepisnya.


"Minggir, lo berdua!" kata Candra pada Restu dan juga Kalevi.


Candra pun naik terlebih dahulu, baru kemudian dia mengulurkan tangannya pada Leilani.


Candra menyuruh Leilani agar duduk dekat dengannya. Candra tidak mau sampai teman-teman klubnya ini mencoba mendekati Leilani.


Mobil pun mulai melaju, dikemudikan oleh supir pribadi keluarga Candra. Semilir angin menerpa wajah mereka. Mereka kelihatan sangat menikmatinya.


"Woah ... ternyata kayak gini lumayan juga," kata Kalevi sambil menikmati semilir angin.

__ADS_1


"He'em," balas Bima tidak sadar.


Candra pun akhirnya berdiri. Dia berdiri di bagian depan. Kalevi yang melihat itu tidak mau kalah. Dia juga ingin mencobanya.


Dimas dan Bima jadi penasaran juga. Mereka berdua pun akhirnya bergabung dengan Kalevi dan juga Candra.


"Lagi kayak gini, seru kali ya kalo sambil nyanyi," kata Candra pada mereka semua.


"He'eh. Bener. Kali ini gue setuju sama lo," jawab Kalevi.


"Jangan!! Malu-maluin aja," kata Hadyan.


Candra dan Kalevi tidak menggubris larangan Hadyan. Mereka malah mulai bernyanyi bersama-sama.


Orang-orang di sepanjang jalan menatap mereka dengan tatapan yang beragam. Hadyan yang merasa malu langsung menutup wajahnya dengan tangan. Baginya ini sangat-sangat memalukan.


"Oy, malu oy," kata Restu sambil tertawa.


Candra dan Kalevi pun akhirnya menghentikan nyanyiannya.


Bima yang melihat itu langsung bersuara. "Trobos aja!!!" kata Bima dengan suara yang keras.


Candra, Kalevi dan Dimas akhirnya melanjutkan nyanyian mereka. Kali ini dengan suara yang dibuat sekeras-kerasnya. Begitu juga dengan Bima, ia juga ikut bernyanyi bersama.


Sementara itu, di bagian belakang, Leilani, Fadhil, Restu dan juga Hadyan, mereka langsung menutup wajah karena malu. Orang-orang di jalan bahkan ada yang menyoraki mereka.


Huuuuhhhhhh


Mereka berempat malu sekaligus ingin tertawa juga karena lucu.


Semakin lama, keempat pemuda itu makin asyik saja bernyanyi. Dan yang berada di belakang pun pada akhirnya ikut bernyanyi juga.


Mereka semua tertawa bersama. Rasa benci dan rasa tidak suka menguap entah kemana. Rasa tidak suka, rasa benci, semua itu dikalahkan oleh gelak tawa dan juga kebersamaan mereka.


Mereka mulai menikmati masa mudanya. Masa-masa baru yang mungkin akan menjadi kenangan paling indah bagi mereka semua kelak.


***


Sesampainya di sekolah, mereka langsung bergegas. Di sekolah bukan hanya ada mereka saja. Ada juga beberapa siswa dan siswi yang lain yang punya kepentingan masing-masing.


Mereka mengangkut semua barang-barang menuju kebun impian mereka. Tanpa diduga, ternyata di sana sudah ada pak Bayu dan bu Rika juga.


"Kalian kemana aja? Kok lama?" kata bu Rika.


Tanpa membuang waktu lagi, mereka langsung memulai proyek kebun impian mereka.


Ada banyak selisih paham saat mereka mengerjakannya. Akan tetapi, pada akhirnya, mereka berhasil menyelesaikan semuanya.


Mereka semua berjejer dan menatap kebun impian mereka yang sudah mereka tanami berbagai jenis tanaman yang mereka kehendaki.


Mereka merasa puas dengan hasilnya. Mereka berharap, jerih payah mereka akan menghasilkan sesuatu yang bagus nantinya.

__ADS_1


"Foto dulu, foto dulu!" kata pak Bayu.


"Iya. Hampir lupa," timpal bu Rika.


Bu Rika langsung mengambil ponsel pintar miliknya dan juga tongsis tentu saja.


Mereka pun berswafoto sambil menunjukkan wajah-wajah bahagia. Mereka juga mengangkat tangan mereka yang masih kotor oleh tanah, akibat dari kerja keras mereka.


"Ayo, lakukan tos dulu sama-sama," kata bu Rika.


Kali ini, mereka sudah tidak menolak lagi. Mereka melakukan tos bersama-sama dengan tangan-tangan kotor mereka.


***


Kini, mereka sedang antri untuk mencuci tangan dari keran yang tidak jauh dari lapangan. Tentu saja mereka harus mencuci tangan, karena mereka hendak makan.


"Lani," seru Restu.


Semua langsung menoleh pada Restu.


"Gue cuma panggil Lani, btw. Sejak kapan nama kalian berubah jadi Lani," kata Restu sambil tertawa.


Mendengar ucapan Restu, mereka pun akhirnya sadar dan kemudian mengalihkan perhatian mereka kembali.


"Lani," seru Restu sekali lagi.


"Iya. Kenapa?" jawab Leilani.


"Kamu keringetan," kata Restu sambil mengusap wajah Leilani dengan tangan kotornya.


Alhasil, sekarang wajah Leilani menjadi kotor juga.


"Yah!! Kotor," kata Leilani spontan.


Restu langsung tertawa melihat Reaksi Leilani. Restu kelihatan senang sekali mengerjai Leilani.


"Maaf,maaf. Kalau mau bales, silakan aja," tantang Restu sambil tertawa.


"Baik," kata Leilani.


Restu pun mendekatkan wajahnya pada Leilani agar Leilani bisa membalasnya.


Melihat itu, Leilani malah jadi bingung sendiri. Kenapa ini malah jadi seperti adegan romantis?


Akhirnya Leilani pun mengurungkan niatnya untuk membalas Restu.


"Tidak jadi," kata Leilani.


Para anggota yang lain pun terkekeh karena Restu gagal menggoda Leilani.


***

__ADS_1


__ADS_2