
Rosa ternyata sudah pulang. Tadinya ia pergi ke dapur untuk menyuruh Leilani mengerjakan tugasnya. Tapi ternyata ada Candra.
Sejak dulu, Rosa tidak pernah mengganggu Leilani jika ada Candra. Rosa selalu berpura-pura baik di depannya.
Dari dulu, Rosa tidak pernah menyerah. la selalu berusaha untuk akrab dengan Candra. Tapi usahanya selalu sia-sia. Candra selalu mengabaikannya dan hanya fokus pada Leilani saja. Itu membuat Rosa semakin benci pada saudari tirinya.
"Mau nginep?" tanya Rosa sambil mendudukkan dirinya dan bergabung bersama mereka.
Bi Sumi pamit undur diri. Ia tahu Rosa tidak akan suka duduk bersama dengannya.
"Nggak. Main aja," jawab Candra.
Leilani dan Rosa sedikit terkejut karena Candra mau menjawab pertanyaan Rosa. Biasanya Candra akan berpura-pura tidak mendengarnya.
Kelihatan sekali kalau Rosa sangat bahagia. Lihat saja senyum di bibirnya yang begitu lebar.
"Lely. Bosen nih. Nonton TV yo," ajak Candra.
Leilani pun menganggukkan kepalanya. Mereka pergi ke ruang tengah dan mulai menonton TV di sana.
Rosa tidak mau ketinggalan. Ia juga mengekor pada mereka.
"Ros. Lo cewek baik hati, kan?" ujar Candra.
"Hah? Maksudnya?" Rosa bingung.
"Bisa kerjain PR gue gak? Tuh di tas," kata Candra dengan entengnya.
Rosa tersenyum kaku. "PR? PR apa?"
"Nggak susah kok. Cuma nyatet aja," kata Candra.
Leilani hanya diam sambil memperhatikan mereka berdua.
Rosa terlihat bingung. "Tapi kan PR mesti dikerjain sendiri. Gimana kalo ketauan? Yakan?" Rosa mencoba mencari alasan.
"Ck. Ya udahlah. Ternyata lo gak sebaik yang gue kira," ujar Candra.
Rosa kelihatan bimbang setelah mendengarnya. "Ya udah. Sini. Mana PR nya?"
Candra tersenyum mendengar Rosa yang berubah pikiran. "Nah. Gitu dong. Kalo gini kan kita bisa temenan," ujar Candra.
Rosa langsung berbunga-bunga mendengarnya. Akhirnya Candra mulai luluh padanya. Rosa merasa, usahanya selama ini tidak sia-sia.
'Gak papa lah sekali-kali nyatet buat Candra. Yang penting kita bisa lebih deket. Abis itu gue bakal bikin Candra ngejauhin gadis norak itu,' batin Rosa puas.
"Oh ya. Tasnya di dapur. Lo ambil aja," ujar Candra pada Rosa.
Rosa pun berdiri untuk mengambil tas milik Candra.
"Ros!" teriak Candra. "Gue sekalian minta jus jeruk dua."
Leilani menatap Candra yang duduk di sampingnya. "Sengaja ya?" ujar Leilani.
"Iya. Emng sengaja," jawab Candra sambil menahan tawa.
Selama Candra di rumah Leilani, ia terus mengerjai Rosa. Dan bodohnya, Rosa malah iya iya saja.
"Gue pulang dulu ya," pamit Candra.
Di depan sana, sudah ada supir yang menjemput Candra. Candra memang sengaja menghubungi sang supir untuk menjemputnya.
__ADS_1
"Besok pagi dateng ke markas!" kata Candra sambil mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.
Leilani pun mengangkat jempolnya sambil tersenyum.
"Bye, sampai ketemu besok," ucap Candra sambil melambaikan tangannya.
Leilani kembali masuk ke dalam. Rosa langsung mencegat Leilani yang hendak pergi ke kamarnya.
"Lo liat? Candra udah mulai mau terbuka sama gue. Gue yakin, bentar lagi dia bakal makin deket sama gue," tutur Rosa penuh percaya diri.
Leilani hanya menghela nafas lelah setelah mendengarnya.
"Gue pastiin, gak bakal ada lagi yang berpihak sama lo nanti," ujar Rosa dengan senyuman sinisnya.
Leilani tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam sambil menatap Rosa malas.
Rosa jadi bingung sendiri, kenapa Leilani tidak bicara.
***
Leilani berangkat lebih pagi daripada biasanya. Ia sudah berjanji untuk bertemu Candra di ruangan klub.
Cklek
Leilani membuka pintu. Sudah ada Candra di sana. Seperti biasa, Candra sedang bermain game komputer di sana.
"Udah sarapan?" tanya Candra.
"Udah lah. Kalo gak sarapan mana ada tenaga buat jalan," jawab Leilani.
Leilani mendudukkan dirinya di sofa.
Candra berhenti bermain game kemudian ikut duduk di sebelah Leilani.
Leilani menggelengkan kepalanya. "Nggak. Yang ada malah tambah masalah."
Sebenarnya, Candra bukan tidak berniat untuk membantu Leilani. Dulu, ayah dan ibu Candra juga membelikan barang-barang untuk Leilani, tapi justru karena itu, hubungan orang tua Candra dan bu Ratih jadi memburuk.
Bu Ratih marah karena ayah dan ibu Candra ikut campur masalah anaknya. Sejak saat itu, Candra dan orang tuanya jarang bertamu ke rumah Leilani.
"Ribet banget sih idup lo," ujar Candra setengah bercanda.
"Gak tau," timpal Leilani.
"Ya udah. Mending kita makan burger aja. Gue beli tadi," ujar Candra sambil mengambil kantong kresek dari meja komputernya.
Candra dan Leilani pun memakannya.
"Kalo lo mau jajan bilang aja," titah Candra.
"Kalo minta semua uang jajannya?" tanya Leilani bercanda.
"Jangan dong. Nanti gue gak ada uang buat jajanin pacar," jawab Candra.
Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba ....
"Apa aku mengganggu?" tanya seseorang dari ambang pintu.
Leilani dan Candra kaku seketika. Tubuh mereka seolah beku. Lidah mereka kelu.
Di ambang pintu sana, ada Restu yang entah kapan datangnya.
__ADS_1
"Tidak. Masuk saja," jawab Leilani.
Restu pun masuk ke sana.
"Ohok ohok ohok." Candra berpura-pura batuk.
"Gue mau beli minum dulu, Bro," pamit Candra pada Restu.
Candra pun segera pergi dari sana.
Restu berjalan ke arah sofa dan kemudian duduk bersama Leilani di sana.
Seperti biasa, Restu akan menunjukkan senyuman hangatnya pada Leilani. "Wah ... aku iri," ujar Restu tiba-tiba.
"Iri? Untuk?" tanya Leilani.
Restu tetap mempertahankan senyumannya. "Aku iri karena kalian kelihatannya sudah dekat."
"Oh ... itu. Barusan cuma kebetulan," kilah Leilani.
"Benarkah? Apa nggak terjadi sesuatu diantara kalian kemarin?" tanya Restu lagi.
"Ngakk kok," jawab Leilani yakin.
"Syukurlah deh."
"Kenapa?" tanya Leilani tidak mengerti.
"Aku iri. Aku iri lihat kamu nyaman sekali dekat Candra. Berbeda kalau kamu sedang bersama aku," tutur Restu.
Leilani sedikit merasa bersalah. Ia sebenarnya memang kurang nyaman bersama Restu.
***
Sekarang, kedelapan anggota sudah berkumpul di ruangan.
Leilani duduk di sebelah Candra. Restu sedari tadi diam-diam memperhatikan mereka berdua.
"Anak-anak. Kita punya misi baru," ujar pak Bayu.
"Misi apa, Pak?" tanya Candra.
"Kalian tau kan halaman belakang ruang klub ini?" kata pak Bayu.
Kedelapan anggota mengerutkan keningnya.
"Terus kenapa, Pak?" tanya Candra lagi. "Masa kita disuruh bersih-bersih lagi."
"Kalian tidak ingat apa yang bapak katakan?" tanya pak Bayu lagi.
"Tidak," jawab mereka kompak.
Pak Bayu hanya tersenyum mendengarnya. "Oke. Kalau begitu biar bapak akan ingatkan."
"Gak usah repot-repot, Pak," ujar Kalevi sedikit bercanda.
"Sssttt!" titah Hadyan.
"Bapak menyuruh kalian menganggap klub ini sebagai milik kalian. Lihat ruangan ini setelah kalian kelola. Bagus, kan? Bapak juga ingin kalian mengelola halaman belakang," tutur pak Bayu.
"Bener kan dugaan gue," gumam Candra.
__ADS_1
***