
Dimas melihat sekeliling. Semua mata kini tertuju padanya. Termasuk Leilani, sang ketua.
"Terserah, kalo kalian gak percaya," kata Dimas akhirnya.
Dimas terlihat sangat kesal melihat semua orang mencurigainya. Tapi memang, diantara mereka semua, citra Dimas memang yang paling buruk. Dia bahkan dijuluki preman oleh teman-temannya.
Bima tersenyum tipis. "Bener. Jangan asal curiga. Mungkin aja justru pemiliknya orang yang gak kita duga," kata Bima pada semuanya.
Semua orang yang ada di situ terlihat bingung. Mereka juga kelihatannya menjadi saling curiga setelah mendengar ucapan Bima.
"Sudah! Jangan saling curiga! Mulai sekarang, kita harus saling percaya. Maka dari itu, bapak menginginkan kejujuran kalian semua," tutur pak Bayu dengan tegas.
"Kalau semisal memang pemilik puntung rokok itu adalah salah satu diantara kalian ... bapak harap kalian jujur pada bapak, supaya kita bisa memikirkan solusinya bersama-sama," lanjut pak Bayu.
Semua yang ada di situ diam mendengarkan pak Bayu dengan seksama.
"Sekarang bapak tanya ... apa salah satu diantara kalian adalah orangnya?" tanya pak Bayu pada mereka semua.
Dimas menggelengkan kepalanya.
"Baik. Bapak percaya," kata pak Bayu setelah mendapat jawaban Dimas.
Pak Bayu beralih pada yang lainnya.
Fadhil menggelengkan kepala, begitu juga halnya dengan Restu yang duduk di sebelahnya.
Pak Bayu beralih pada Candra.
"Udah saya bilang, enggak, Pak!" kata Candra.
"Candra, tolong bicara dengan sopan. Pak Bayu ini guru kamu. Masa ngegas begitu." Bu Rika mengingatkan Candra.
Candra pun langsung menurut karena ia tahu, ialah yang salah di sini. "Maaf, Pak."
Pak Bayu tersenyum dengan sikap Candra. Ia merasa senang karena Candra mau mendengarkan nasehat bu Rika.
Kini, pak Bayu pun beralih pada yang lainnya. Kalevi, Bima dan juga Hadyan, mereka juga menggelengkan kepala.
Tinggal Leilani. "Lani," seru pak Bayu.
Belum sempat Leilani menjawab, pak Bayu sudah lebih dulu bicara. "Bapak percaya kamu bukan orangnya," kata pak Bayu yakin seyakin yakinnya.
Bu Rika tersenyum lega karena bukan mereka orangnya. "Ibu sangat lega mendengar jawaban kalian. Jangan buat ibu kecewa ya," kata bu Rika pada mereka semua.
Leilani menatap wajah bu Rika lamat-lamat. Bu Rika sepertinya sangat peduli pada semua anggota klub ini.
'Apa jadinya jika bu Rika sampai tau kalau pemilik puntung rokok itu adalah salah satu diantara kita,' batin Leilani sambil terus menatap wajah gurunya.
"Lani! Ada apa? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya pak Bayu yang melihat Leilani berekspresi seperti itu.
__ADS_1
Leilani terkaget mendengar pertanyaan pak Bayu yang tiba-tiba.
"Eh? Tidak, Pak. Saya tidak memikikan apa-apa," jawab Leilani agak gugup.
Pak Bayu sepertinya kurang percaya. Kentara sekali kalau Leilani sedang memikirkan sesuatu di benaknya. Tapi pak Bayu juga tidak tahu apa itu.
"Mungkin Lani kenal orangnya," kata Bima tiba-tiba.
Leilani membelalakkan matanya. 'Kenapa Bima bicara begitu? Apa Bima juga sudah tahu siapa orangnya?' pikir Leilani.
"Lela, kamu tau sesuatu?" tanya bu Rika.
Leilani mulai panik. Tapi ia berusaha sebaik mungkin untuk menutupi kepanikannya.
"Saya tidak tau, Bu," jawab Leilani.
Pak Bayu dan bu Rika saling bertukar pandang. Sepertinya, mereka berdua sama-sama curiga pada Leilani. Leilani seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.
Leilani menyadari kecurigaan kedua gurunya tersebut. "Saya cuma pernah menemukan puntung rokok di dekat toilet. Tapi saya tidak tahu itu milik siapa."
Leilani berbohong. Dia sebenarnya sudah tahu siapa pemilik puntung rokok itu. Akan tetapi, sampai kapan pun, Leilani akan tetap merahasiakannya.
"Dekat toilet? Toilet wanita?" tanya Fadhil.
Semua orang mulai berpikir. "Apa jangan-jangan pemiliknya cewek ya?" kata Kalevi dengan wajah terkejut.
Sedari tadi, Kalevi tidak banyak bicara. Baru sekarang ia kembali membuka suara. Padahal biasanya, Kalevi menjadi orang yang paling banyak bicara di klub ini.
"Kita cukup diem aja. Gak usah repot ngurusin hidup orang. Nanti juga lama-lama pasti ketauan siapa orangnya," lanjut Hadyan.
"No, no, no! Kamu salah, Hadyan," kata bu Rika. "Kalian ingat, kan, apa nama klub kita?"
"Kok gak ada yang jawab," protes bu Rika saat semua yang ada di sana hanya diam saja.
"Klub spesial," jawab Restu sambil menertawakan tingkah kekanakkan bu Rika.
"Benar. Klub spesial. Maka dari itu—"
Ucapan bu Rika langsung dipotong oleh Hadyan. "Jangan aneh-aneh deh, Bu."
Hadyan seakan sudah bisa menebak isi pikiran bu Rika.
Bu Rika tidak terima Hadyan memotong perkataannya dengan seenak jidat.
"Kalau orang lain sedang bicara, tolong dengarkan dulu. Kita harus belajar saling menghargai," kata pak Bayu.
Hadyan pun diam.
"Kita adalah klub spesial. Maka dari itu, ibu dan pak Bayu akan memberi tugas tambahan untuk kalian. Temukan siapa pemilik puntung rokok itu. Laporkan pada ibu dan pak Bayu," tutur bu Rika panjang lebar.
__ADS_1
Hadyan tersenyum meremehkan. "Bener, kan, dugaan gue," gumam Hadyan.
"Kalau misal ... pemiliknya udah ketemu, orangnya bakal diapain, Bu?" tanya Candra.
"Akan ada sanksi berat untuk dia. Mungkin bisa langsung di DO juga," jawab pak Bayu.
"Oh, ya. Tugas ini langsung diperintahkan oleh kepala sekolah pada klub kita. Maka dari itu, bapak harap, kita semua bisa bekerja sama untuk menemukan siapa orangnya. Laporkan hal sekecil apapun pada bapak dan bu Rika. Siap?"
"Siap!!" kata bu Rika penuh semangat.
Sementara itu, diantara para anggota, tidak ada satupun yang menjawabnya.
"Oke. Kalau begitu, bapak dan bu Rika pergi dulu. Lanjutkan proyek kebun kalian. Oke?" kata pak Bayu.
Setelah mengatakan itu, pak Bayu dan bu Rika pun pergi dari sana.
"Untuk masalah kebun, bagaimana kalau kita tanam hari minggu aja." Leilani langsung memulai diskusi mereka.
"Minggu jadwal maen lah, Ly. Jangan minggu," kata Candra.
"Terus mau kapan?" tanya Leilani.
"Besok aja," tawar Candra.
"Alat sama bahan belum siap kalo besok," timpal Restu.
Fadhil mengangguk setuju.
"Kalo gitu gimana kalo lusa?" usul Candra.
"Lusa gue ada pemotretan," kata Hadyan.
"Ck. Sok ngartis lu," ledek Candra.
"Gue kerja. Gak kayak lu yang kerjanya cuma maen aja," balas Hadyan yang mampu membungkam mulut Candra.
"Kalo gitu kapan?" tanya Candra kesal.
"Ya udahlah. Mending minggu aja. Lagian juga gak bakal tiap minggu kita ke sini. Cuma minggu besok aja," kata Bima.
"Oke. Terus nanti kita kumpul dimana berangkatnya?" tanya Candra.
"Di rumah lo aja. Gue pengen main ke rumah lo soalnya," kata Restu sambil tertawa kecil.
"Ngapain main ke rumah gue?" kata Candra heran.
Mereka tidak dekat. Bisa-bisanya Restu mau main ke rumahnya. Pikir Candra.
"Ngapelin Lani," jawab Restu bercanda.
__ADS_1
***