Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Ada yang Mau Aku Bicarakan


__ADS_3

Sepanjang waktu istirahat, Leilani terus menerus terpikirkan akan perkataan Fadhil. Leilani benar-benar tidak bisa berkonsentrasi sama sekali karena hal itu.


'Apa aku salah?'


'Tidak. Aku tidak salah kok.'


Leilani terus menerus bertanya-tanya dalam hati pada dirinya sendiri. Leilani mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan sudah benar. Akan tetapi, hati Leilani berkata sebaliknya. Leilani benar-benar merasa bersalah pada Fadhil. Terlebih setelah melihat raut kecewa di wajah Fadhil. Leilani bisa merasakannya.


'Apa aku kejam?'


'Haruskah aku minta maaf?'


'Tapi bagaimana caranya?'


'Aku tidak pernah berpikir bahwa Fadhil menganggap aku teman.'


'Aku kira tidak ada yang mau berteman denganku.'


'Aku ingin punya teman.'


'Tapi aku malah membuat orang yang menganggap aku teman kecewa.'


'Aku sudah berbuat bodoh. Aku yang membuat diriku sendiri kembali tidak punya teman.'


Leilani menunduk sedih. Ia menenggelamkan kepalanya ke atas buku yang sedari tadi ia pandangi tanpa bisa ia baca.


"Kenapa aku bodoh sekali?" gumam Leilani pelan.


"Siapa yang bodoh?" bisik seseorang di hadapan Leilani.


Leilani segera mengangkat kepalanya ketika ia mendengar sebuah suara yang berbisik kepadanya.


Ternyata itu adalah Restu. Leilani tidak tahu sejak kapan Restu ada di sana. Tiba-tiba saja Restu datang seperti hantu.


Restu tersenyum manis pada Leilani dan kemudian mengulang kembali pertanyaannya. "Siapa yang bodoh, hm?"


Leilani tidak segera menjawab pertanyaan Restu. Ia masih betah memandangi senyuman manis yang diberikan Restu padanya.


"Hey." Restu melambai-lambaikan tangannya di hadapan Leilani agar Leilani sadar dari keterbengongannya.


Leilani mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan dari Restu.


"Itu ... aku. Aku yang bodoh," jawab Leilani pelan.


Mereka berbisik-bisik karena ini adalah perpustakaan.


Restu menampakkan gigi-gigi rapinya saat mendengar jawaban Leilani.


"Tenang aja. Aku jauh lebih bodoh. Jadi gak usah khawatir," balas Restu geli.


Leilani tidak tertawa sedikit pun mendengar candaan Restu. Karena bukan itu maksudnya.


"Restu," panggil Leilani.


"Iya," jawab Restu lembut.


Leilani kelihatan sedikit ragu untuk berbicara.


"Ada apa?" bisik Restu penasaran.


"Emh ... ada yang mau aku bicarakan," jawab Leilani.

__ADS_1


Restu menatap Leilani dengan tatapan bertanya. "Bicara sama ... aku?" tanya Restu dengan wajah ragu.


Leilani menganggukkan kepalanya. "Iya."


Kini ekspresi Restu berubah menjadi serius. Ia penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Leilani padanya.


Teeet teeet teeet


Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Mereka keasyikan mengobrol sampai mereka lupa kalau waktu istirahat telah berakhir.


"Bel!! Masuk!!" pekik Leilani kaget.


Leilani tidak mau sampai kena sanksi. Tadi terlambat, sekarang juga terlambat. Leilani takut ketahuan guru lagi.


"Ayo, keluar!!" ajak Leilani buru-buru.


Leilani beranjak dari duduknya untuk segera pergi dari sana. Akan tetapi, tiba-tiba Restu menarik tangannya.


"Tunggu. Apa yang mau dibicarakan?" tanya Restu yang masih penasaran.


"Nanti aja," tukas Leilani.


Leilani ingin melepaskan diri dan segera pergi, namun Restu masih tidak mau melepaskannya.


"Nanti pulang sekolah kita bicara," kata Leilani agar Restu segera melepaskannya.


"Janji?" tanya Restu.


Leilani pun mengangguk sebagai jawaban.


Setelah mendapat jawaban dari Leilani, Restu pun akhirnya melepaskan tangannya dan membiarkan Leilani pergi.


Ssstttt.


Leilani ngerem mendadak di ambang pintu perpustakaan. Ia menengok ke belakang dan mendapati Restu yang masih santai di tempatnya.


Leilani pun kembali dan kemudian menghampiri Restu dengan terburu-buru. Ia menarik tangan Restu agar segera berdiri dan keluar dari ruangan ini.


"Ayo, nanti kita telat," ucap Leilani sambil menarik tangan Restu.


Restu tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengikuti kemana Leilani membawanya pergi.


Restu tersenyum menatap tangan Leilani yang menggenggam tangannya dengan erat. Ini adalah pertama kalinya Leilani bersikap manis seperti ini padanya. Karena sampai hari kemarin pun, Leilani seolah acuh tak acuh padanya.


Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang sangat tajam di sudut sana.


***


Kelas


Leilani melirik ke sisi kiri. Di sana ada Fadhil yang sedang serius mendengarkan apa yang guru katakan.


Leilani merutuki dirinya sendiri dalam hati sambil terus memandangi objek yang mengganggu pikirannya tersebut.


Fadhil sepertinya mulai menyadari bahwa Leilani sedari tadi memperhatikannya. Fadhil pun menoleh pada Leilani dengan tatapan datarnya.


Leilani bisa merasakan perubahan sikap Fadhil hanya dari tatapannya saja. Tatapan ini berbeda dari tatapan Fadhil sebelum-sebelumnya.


Leilani dan Fadhil masih betah saling berpandangan.


'Maaf,' batin Leilani sambil terus menatap mata Fadhil dalam.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Fadhil pun memalingkan wajahnya. Ia kembali memperhatikan guru yang ada di hadapan mereka.


"Ekhm!!" Bu Anjani berdehem.


Leilani yang mendengarnya segera mengalihkan perhatiannya pada bu Anjani.


"Tolong semua perhatikan apa yang saya ucapkan," ujar bu Anjani sambil menatap mata Leilani tajam.


Leilani agak kaget mendapat tatapan tajam dari bu Anjani. Bu Anjani sepertinya menyadari bahwa sedari tadi Leilani tidak memperhatikan beliau.


"Oke. Sekarang ... bagi yang belum mengerti silakan angkat tangan," ujar bu Anjani.


Semua murid mengangkat tangan, kecuali Fadhil dan Leilani tentu saja.


"Oke. Fadhil, Leilani, jadi ... itu artinya kalian mengerti?" tanya bu Anjani sambil mengangkat alisnya.


Anak-anak di kelas pun beralih menatap Fadhil dan Leilani secara bergantian. Diantara mereka semua, ada Rosa yang menatap Leilani dengan tatapan tajam.


"Iya, Bu. Saya rasa saya sudah sedikit paham," jawab Fadhil.


Sementara itu, Leilani hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"A*j*r. Songong banget tuh anak. Kayak yang iya aja bisa. Palingan cuma so-soan aja," ujar Gina pada Rosa.


"Jangan gitu lah. Mungkin aja Lani emang bisa," balas Rosa seolah-olah membela Leilani, padahal dalam hati sebaliknya.


"Cih." Gina berdecih sambil menatap Leilani dengan tatapan meremehkan.


"Bagus. Kalau begitu kalian berdua maju ke depan!" titah bu Anjani.


Fadhil pun segera maju ke depan. Sementara Leilani, dia terlihat ragu-ragu untuk maju.


"Di suruh ke depan woy!" sindir Romi. "Lo budeg ya?"


Semua orang yang ada di kelas pun tertawa mendengar ejekan Romi pada Leilani.


'Lagi-lagi,' batin Leilani sedih.


Leilani pun maju ke depan sambil menundukkan kepala.


Bu Anjani menulis sebuah soal di papan tulis dan kemudian menyuruh Fadhil dan Leilani mengerjakannya.


Leilani dan Fadhil pun langsung mengerjakan soal yang diberikan oleh bu Anjani. Leilani di sebelah kanan dan Fadhil di sebelah kiri.


Semua anak diam memperhatikan. Fadhil dan Leilani mengerjakan dengan cara yang berbeda.


Anak-anak pun mulai berbisik dan menertawakan Leilani karena sudah bisa ditebak bahwa Leilani tidak bisa mengerjakannya.


Akan tetapi, ada yang mengejutkan. Ternyata hasil akhir jawaban mereka berdua sama.


Bu Anjani tersenyum pada Fadhil dan Leilani sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Kalian," seru bu Anjani pelan pada Fadhil dan Leilani. "Lain kali kalau lagi belajar jangan malah saling tatap-tatapan. Ini bukan film india atau drama korea. Ini dunia nyata."


Fadhil dan Leilani kembali saling bertatapan. Mereka berdua sepertinya kaget karena ternyata bu Anjani memperhatikan mereka berdua.


"Tapi untung saja kalian benar menjawab soalnya. Kalau sampai kalian salah ... habis kalian sama ibu!" ujar bu Anjani sambil tersenyum bangga.


Semua orang di kelas hanya bisa menerka-nerka apa yang dikatakan oleh bu Anjani pada mereka berdua. Mereka semua penasaran, tapi bu Anjani berkata dengan sangat pelan sehingga tidak kedengaran.


***

__ADS_1


__ADS_2