Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Pacar Candra


__ADS_3

"Bapak akan memberi waktu kalian untuk mendiskusikannya. Pikirkan bagaimana kalian akan mengelolanya. Nanti bapak kembali lagi," tutur pak Bayu yang kemudian beranjak dari duduknya.


Pak Bayu memberikan mereka waktu untuk berdiskusi dulu. Ia pun pergi keluar.


Mereka pun mulai mendiskusikannya.


Selang lima belas menit, pak Bayu kembali lagi ke sana.


"Jadi?" tanya pak Bayu pada mereka semua.


"Hari ini kita hilangkan dulu rumput-rumput liar. Baru besok kita tanami tanahnya," jawab Leilani.


"Oke! Kalau begitu ... mulai!!" titah pak Bayu. "Perkakasnya ada di gudang. Minta saja pada pak Satpam."


Mereka pun mulai membersihkan halaman belakang.


Sepanjang mereka melakukan pekerjaan, Leilani dan Candra selalu berdekatan. Para anggota yang lain menyadarinya.


"Lo ngerasa nggak kalo si Candra sama mba Kun kayaknya jadi deket. Ya, kan?" ujar Kalevi pada orang di sampingnya.


Tidak ada respon dari lawan bicaranya. Kalevi pun menoleh pada orang di sebelahnya.


"Woy! Kok elu?!!" kaget Kalevi sambil mendorong orang tersebut.


Kalevi kaget karena orang yang ada di sampingnya adalah Bima—mantan sahabatnya. Kalevi mengira, yang di sampingnya adalah orang lain.


"Ada apa?" tanya Restu yang mendengar ada sedikit keributn.


"Gak ada," jawab Kalevi sambil berjalan menghampiri Restu dan Fadhil.


"Susah?" tanya Candra. "Sini. Biar gue aja."


Keenam pria yang lainnya saling memandang satu sama lain ketika melihat interaksi antara Candra dan Leilani.


Mereka sedikit merasa aneh karena Candra dan Leilani tiba-tiba menjadi dekat seperti ini hanya dalam sehari.


Setelah beberapa lama, mereka pun kembali ke markas. Mereka sudah selesai membersihkan area belakang, dan mereka pun memutuskan untuk istirahat dulu di dalam ruangan.


Candra mengambil air paling depan. Namun, ternyata Candra memberikan air di gelas itu pada Leilani terlebih dulu. Baru kemudian dia mengambil untuk dirinya sendiri.


Semua itu tidak luput dari perhatian keenam anggota lainnya.


"Candra!!" seru Kalevi. "Lu lagi selingkuh ya?" tuding Kalevi.


"What?!" Candra tidak percaya kenap Kalevi menuduhnya selingkuh.


"Jangan boong lah. Kalian boleh jujur kok ke kita. Kita bisa pegang rahasia. Tenang aja," tutur Kalevi.


"Jangan ngomong sembarangan lu!" kata Candra.


"Dia gak sembarangan. Kita semua saksinya," timpal Hadyan dengan nada datar.


"Saksi apaan dah?" balas Candra.


Restu menyunggingkan senyumnya. "Kita cuma kaget aja, kalian tiba-tiba deket kayak gini."


"Pasti terjadi sesuatu kemarin," tebak Hadyan.

__ADS_1


"Cinta bersemi saat pulang. Dan akhirnya, dia jadi selingkuhan," ujar Kalevi.


"Aish!!! Sialan!! Kalo orang denger mereka bisa salah paham," kesal Candra.


"Kita gak salah paham. Kalian emang keliatan kayak orang yang baru pacaran," timpal Restu.


"Kita nggak pacaran kok. Kita cuma berteman. Itu saja," bantah Leilani.


"Jujur aja. Gak papa. Keliatan jelas loh. Mana ada temen perhatian banget kaya gitu," desak Kalevi.


"Wajar lah. Kita kan sesama anggota. Wajar kalo saling perhatian satu sama lain." Candra terus mencari-cari alasan.


Hadyan hanya tersenyum sinis mendengar alasan Candra.


"Udahlah. Gue mau balik duluan. Lama-lama setres gue kalo terus-terusan sama kalian,” ucap Candra sambil menyamber tasnya.


Hari ini, giliran Fadhil yang mengantar Leilani pulang.


"Hari ini, giliran lo kan yang anter si mba Kun pulang?" tanya Kalevi setengah mengingatkan.


Fadhil pun menganggukkan kepalanya. "Em."


"Ya udah. Mau pulang sekarang? Gue mau pulang," ujar Kalevi.


Mereka semua pun berjalan bersama menuju gerbang untuk pulang.


Para siswi yang masih melakukan kegiatan ekstra kulikuler langsung histeris ketika para pemuda itu berjalan melewati mereka.


Sekumpulan pria tampan bersama-sama, siapa yang tidak akan histeris melihatnya?


Restu, Bima, Kalevi dan Dimas pergi duluan. Mereka ternyata sudah ditunggu oleh supir pribadi mereka. Kecuali Dimas, dia naik taksi sepertinya.


"Tidak usah. Kamu langsung pulang saja," tolak Leilani ketika Fadhil hendak mengantarkannya.


Fadhil tidak memedulikan perkataan Leilani. la malah berjalan duluan untuk mengantar Leilani pulang.


Sepanjang perjalanan, Leilani terus berjalan di belakang. Ia memperhatikan punggung pria yang berjalan di depannya ini.


Fadhil tiba-tiba menghentikan langkahnya. la kemudian berbalik untuk melihat Leilani.


Leilani sedikit kaget dibuatnya. "Ada apa?" tanya Leilani.


Fadhil tidak segera menjawab. Ia malah menatap Leilani tanpa mengatakan sepatah kata pun. Membuat Leilani jadi bingung karenanya.


"Sebenarnya ... aku sudah lama ingin menanyakan ini padamu," ujar Fadhil dengan wajah serius.


"Menanyakan apa?" tanya Leilani.


Fadhil berjalan mendekat pada Leilani. Sekarang, jarak mereka hanya sekitar lima puluh senti.


"Apa kamu mengingatku?" tanya Fadhil. "Lo inget gue?"


Leilani mengerutkan keningnya. Ia tidak paham maksud pertanyaan Fadhil.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Leilani pada Fadhil.


Fadhil terlihat sedikit berpikir. "Ah. Udah. Lupain aja," ucap Fadhil sambil melanjutkan jalannya lagi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan lagi. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Terutama Leilani.


Leilani penasaran dengan maksud ucapan Fadhil barusan. Kenapa Fadhil bertanya seperti itu?


"Sampai sini aja. Sudah deket kok," ucap Leilani.


Fadhil menganggukkan kepalanya dan kemudian berbalik pergi.


"Fadhil," panggil Leilani.


Fadhil menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Leilani.


"Terimakasih," ucap Leilani.


Meski bukan Leilani yang ingin diantar, tapi tetap saja ia harus berterimakasih karena Fadhil mengantarkannya.


Fadhil pun kembali menganggukkan kepala.


Akan tetapi, Leilani bingung sekarang. Fadhil tidak segera pergi, ia malah terus berdiri dan menatap ke arahnya tanpa henti.


Dengan ragu, Leilani pun melambaikan tangannya supaya Fadhil cepat pergi dari sana.


***


Keesokan paginya, Leilani dan Fadhil bertemu di depan gerbang. Leilani bingung, haruskah ia menyapanya?


Pada akhirnya, mereka berdua tidak saling menyapa. Mereka bertingkah seolah mereka bukan orang yang saling mengenal satu sama lain.


Seperti biasanya, Leilani hanya akan duduk sendiri saat waktu istirahat tiba. Tidak ada orang yang mau menemaninya.


"Apa di kelas ini ada yang namanya Leilani?" tanya seorang gadis pada teman sekelas Leilani di depan pintu sana.


"Oh. Si jelek. Tuh, di sana," jawab teman sekelas Leilani.


'Siapa yang mencariku? Memang ada perlu apa?' batin Leilani bingung.


Lalu masuklah seorang gadis jangkung dengan rambut sebahu. Leilani kenal gadis itu. Dia adalah pacar Candra.


'Kenapa dia mencariku?' batin Leilani.


Karin celingak celinguk mencari keberadaan Leilani. Setelah menemukannya, Karin pun berjalan ke arahnya.


Brak


Karin menggebrak meja Leilani dengan penuh emosi.


Semua orang pun langsung memusatkan perhatian pada mereka. Bahkan, anak-anak dari kelas lain pun mulai berdatangan untuk sekadar menonton keributan.


"Berdiri!!!" titah Karin.


"Ada apa?" tanya Leilani tak mengerti.


Karin terlihat sangat murka pada Leilani. "Gue bilang berdiri!!" bentak Karin sambil "Gue bilang berdiri!" bentak Karin sambil menarik kerah baju Leilani agar ia berdiri.


Setelah Leilani berdiri, tiba-tiba ....


Plak

__ADS_1


Karin menampar wajah Leilani dengan sekuat tenaga. Bukan cuma sekali, tapi berulang kali.


***


__ADS_2