
Sepanjang acara makan malam, Kalevi terus memperhatikan Leilani dalam diam, membuat Leilani merasa sedikit tidak nyaman.
"Fin, mau bareng?" tanya bu Ayu saat mereka hendak pulang.
"Engga. Kita juga dianterin sama sopir kok. Tuh itu," jawab bu Fina sambil menunjuk mobil pribadi miliknya.
"Oh, ya udah. Bye. Sampai ketemu lagi," ucap bu Ayu.
Mereka pun berpisah di sini. Mereka kembali menuju rumah masing-masing.
***
Di tengah perjalanan, ponsel lama milik Leilani berbunyi.
Drrtttt drrrtt drrrtttt
Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Leilani dari nomor yang tidak dikenal.
Leilani pun membuka pesan itu karena penasaran.
'Mba Kun.' Begitulah isi pesan dari nomor yang tidak dikenal itu.
Setelah membaca pesan itu, Leilani sudah bisa menebak siapa yang mengiriminya pesan. Siapa lagi yang memanggilnya dengan panggilan mba Kun kalau bukan Kalevi.
Leilani pun hendak membalas pesan itu. Namun, sebelum Leilani membalasnya, Kalevi sudah mengirimi lagi pesan padanya.
'Lo lagi dimana?' tulis Kalevi dalam pesannya.
Leilani mengerutkan keningnya setelah membaca pesan dari Kalevi.
'Tentu aja di jalan. Apa Kalevi ini lupa ingatan? Kita kan baru berpisah barusan.' Leilani menggerutu dalam hati.
Bu Fyna menyadari bahwa Leilani sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
"Siapa Ly?" tanya bu Fyna penasaran.
Leilani menoleh pada sang tante. "Ini, teman Lely. Dia bertanya Lely lagi dimana," jawab Leilani.
Bu Fyna sedikit terkejut. "Emang kamu punya temen? Kata Candra kamu gak punya temen di sekolah?"
Leilani tidak segera menjawab pertanyaan dari tantenya. Jika dipikir-pikir, memang Leilani tidak punya teman, kan? Dan sejak kapan juga Kalevi dan Leilani jadi teman? Mereka itu kan hanya rekan satu klub saja, tidak lebih. Bahkan Kalevi pura-pura tidak kenal padanya saat makan malam barusan.
"Ini teman satu klub, Tante," jawab Leilani.
"Oooh. Ada apa? Kenapa ngehubungin kamu?" tanya bu Fyna penasaran.
Leilani mengedikkan bahunya. Ia juga heran kenapa Kalevi tiba-tiba mengirim pesan padanya. Tidak biasnya.
"Sini, biar tante yang bales pesannya," kata bu Fyna sambil merebut ponsel Leilani.
"Jangan, Tante. Lely aja yang bales pesannya," kata Leilani memohon.
Bu Fyna tidak mau mengembalikan ponsel Leilani, sekalipun Leilani sudah memohon padanya. Ia penasaran dengan teman Leilani ini. Jarang-jarang kan ada teman yang menghubungi Leilani.
"Mba Kun?" kata bu Fyna saat membaca pesan di ponsel Leilani. "Mba Kun siapa?" tanya bu Fyna pada Leilani.
__ADS_1
"Itu aku, Tante. Dia manggil aku mba Kun," jawab Leilani.
"Mba Kun? Kenapa mba Kun?" tanya bu Fyna semakin penasaran.
"Mba Kun itu mba Kunti, Tante. Dia manggil aku gitu. Katanya gaya rambut aku kayak kunti," jelas Leilani.
"Ppfttt." Bu Fyna tak kuasa menahan tawanya. "Ini siapa sih? Berani-beraninya dia manggil kamu kunti?" tanya bu Fyna sambil tertawa geli.
Leilani menghela nafas lelah. 'Itu Kalevi, Tante. Anak temen tante yang tadi,' ucap Leilani dalam hati.
"Kalian pasti deket," tebak bu Fyna.
"Deket darimananya tante. Kalau kita ketemu di luar sekolah aja, dia pura-pura gak kenal sama aku," bantah Leilani.
Bu Fyna terlihat kurang percaya. "Masa sih? Panggilan kalian aja gemes banget gitu. Masa kalian gak deket?"
"Terus kamu manggil dia apa, Ly?" tanya bi Fyna lagi.
"Aku?" kata Leilani sambil memperlihatkan wajah berpikir. "Kayaknya aku belum pernah manggil dia deh, Tante."
Bu Fyna kelihatan bingung. "Dia cewek? Apa cowok?"
"Cowok."
"Kayaknya dia suka deh sama kamu, Ly," kata bu Fyna.
Leilani tertawa geli mendengarnya. "Ya gak mungkin lah, Tante. Mustahil. Dia itu cuma suka cewek cantik."
"Kamu juga cantik," kata bu Fyna lagi.
"Gak tau ah. Tante kalau mikir suka aneh-aneh," kata Leilani sambil mengambil kembali ponselnya dari sang tante.
Namun, sepanjang perjalanan, bu Fyna terus-terusan menggoda Leilani tentang pria. Bu Fina bahkan menjodoh-jodohkan Leilani dengan Kalevi.
Sebenarnya, bu Fyna memang sengaja mengajak Leilani menemaninya makan malam, agar Leilani bisa bertemu dengn Kalevi. Siapa tahu Leilani dan Kalevi bisa dekat. Itu harapan bu Fyna sebenarnya.
***
"Mama sama Lely abis dari mana?" tanya Candra yang baru melihat mereka berdua pulang.
"Habis makan malam sama tante Ayu," jawab bu Fyna. "Kamu udah makan?"
"Udah. Barusan sama papa."
Candra kemudian memperhatikan Leilani dari atas sampai bawah. "Kok tumben-tumbenan lo dandan, Ly?"
"Ya gak papa lah. Sekali-kali," kata bu Fyna.
"Ke sekolah jangan kayak gitu, Ly," kata Candra.
"Loh? Kenapa emang?" tanya bu Fyna dengan ekspresi tidak terima.
"Jangan. Nanti Lely keliatan aneh. Dia kan jarang dandan, kalo dia kayak gini, nanti orang-orang pada syok liatnya," tutur Candra.
"Iya juga ya," gumam Leilani setelah mendengar saran dari Candra.
__ADS_1
Bu Fyna tidak terima. Kenapa Leilani malah setuju dengan perkataan Candra. "Ly. Enggak lah. Gak bakal aneh kok."
"Aneh," keukeuh Candra.
"Engga."
"Aneh, Ma."
"Engga ih, Candra."
"Aneh, Mama." Candra tidak mau kalah.
"Justru cantik." Bu Fyna mencoba meyakinkan Leilani.
"Ya udah. Terserah aja. Tapi liat aja besok. Kalo Lely penampilannya kayak gini, dia bakal jadi gunjingan semua orang," tutur Candra, yang kemudian langsung pergi menuju kamarnya.
Sementara itu, Bu Fyna terus mencoba meyakinkan Leilani supaya besok berpenampilan seperti ini juga.
Akan tetapi, sayang, sepertinya, Leilani lebih percaya dengan kata-kata Candra. Perkataan Candra jauh lebih masuk akal bagi Leilani.
***
Keesokan paginya, semua orang sudah berada di meja makan. Terkecuali Leilani. Entah kenapa Leilani menjadi orang yang paling akhir berada di meja makan kali ini. Biasanya, Leilani menjadi orng pertama yang berada di meja makan.
"Bi, tolong panggilin Lely," kata bu Fyna pada asisten rumah tangganya.
Namun, baru juga bu Fyna selesai bicara, Leilani sudah keburu ada.
"Panjang umur ponakan om," kata pak Satya — ayah Candra.
Candra dan bu Fyna pun mengalihkan perhatian mereka pada Leilani yang baru saja datang.
"Ly, rambut kamu kenapa?" tanya bu Fyna kaget.
Candra mencoba menahan tawa melihat penampilan sepupunya. Namun, pada akhirnya ia tidak kuat juga.
"Hahaha." Candra tertawa lepas sambil memegangi perutnya.
Begitu pula dengan pak Satya. Dia juga jadi ikut tertawa setelah mendengar Candra tertawa.
Sementara itu, Leilani hanya diam ditempatnya. Ia tahu Candra dan pamannya itu sedang menertawakannya.
Bagaimana mereka tidak tertawa, Lihat saja penampilan Leilani sekarang. Bisa dikatakan, gaya Leilani seperti orang gila.
Flashback
Semalam.
"Apa yang dikatakan Candra ada benarnya. Aku tidak mau jadi pusat perhatian di sekolah. Aku pasti akan kelihatan aneh dimata mereka."
"Tidak bisa. Aku harus tampil seperti biasanya."
Dan akhirnya, Leilani pun bersusah payah untuk kembali membuat rambutnya seperti semula. Ia melakukan segala cara supaya rambutnya kusut seperti biasa.
Saat sedang tidur pun, Leilani sengaja menggisik-gisik rambutnya. Berharap besok, rambutnya sudah kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
Flashback end.
***