Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Selalu Ada Pertengkaran


__ADS_3

Bima dan Dimas membawa bekal yang disiapkan oleh bu Fyna ke luar.


Mereka berdua pun mulai membagikannya pada para anggota. Akan tetapi, ternyata kotak bekalnya hanya ada delapan saja. Karena pak Bayu dan bu Rika tidak dihitung oleh bu Fyna.


"Bekalnya cuman ada delapan. Gimana nih?" kata Bima bingung.


"Gak papa. Kalian makan aja," kata pak Bayu.


Mereka semua saling bertatapan satu sama lain.


"Kita gak tau kalau bapak sama bu Rika bakal dateng. Makanya mama saya cuma nyiapin bekel buat kita-kita aja," tutur Candra.


"Gak papa. Kalian makan aja," kata pak Bayu.


"Ini, Bu. Untuk ibu. Saya masih kenyang," kata Fadhil sambil menyerahkan kotak bekal miliknya pada bu Rika.


Bu Rika sedikit ragu saat akan menerimanya. Namun, pada akhirnya ia ambil juga.


Melihat itu, Leilani pun berinisiatif untuk memberikan bekalnya pada Fadhil.


"Ini," kata Leilani sambil menyodorkan kotak bekalnya pada Fadhil.


Fadhil yang kebetulan duduk tidak jauh dari Leilani, dia tidak mengambil kotak bekal itu. Dia hanya memperhatikan kotak bekal itu dan juga Leilani secara bergantian.


"Buat kamu aja," kata Leilani sambil menaruh kotak bekal itu ke pangkuan Fadhil.


Semua orang yang ada di situ langsung memperhatikan mereka berdua.


Restu kemudian bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekat pada Leilani dan kemudian duduk di sampingnya.


"Ambil aja, Fadh. Biar Lani sama gue makannya," kata Restu.


Candra yang mendengar itu langsung menampakkan wajah tak suka.


"Kagak, kagak! Apa-apaan lo?!" kata Candra.


"Ly. Sini. Jangan deket-deket mereka," kata Candra pada sepupu kesayangannya itu.


Leilani pun berdiri dan kemudian duduk di dekat Candra.


Di sisi lain, Hadyan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia jengah dengan pertengkaran-pertengkaran yang selalu terjadi diantara mereka.


"Ck!! Masalah gini aja dibikin drama," kata Hadyan dengan nada sinis.


Semua orang diam mendengar ucapan Hadyan. Tanpa banyak bicara, Hadyan pun pergi ke dalam ruangan klub dan kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah plastik yang cukup besar.


Hadyan kemudian menaruh plastik itu di tengah-tengah mereka semua. Setelah itu, ia pun mengambil satu persatu kotak bekal dari semua orang. Dan Hadyan menyatukan semua isi dari kotak bekal ke atas plastik tersebut.


"Beres, kan?" kata Hadyan. "Sekarang semua bisa makan."


Semua orang yang ada di sana tersenyum. Kenapa tidak kepikiran oleh mereka? Pikir mereka semua.

__ADS_1


"Tumben lo pinter, Cong," kata Candra.


"Cong? Apaan? Pocong?" tanya Kalevi penasaran.


Candra tersenyum jahil. "Bencong," katanya.


Hadyan yang mendengarnya langsung melayangkan tatapan tajam. Tapi Candra tidak merasa bersalah dan malah semakin menggoda Hadyan.


Hadyan yang sudah muak akhirnya berdiri. "Gue balik duluan," katanya dengan wajah datar.


Setelah mengatakan itu, Hadyan pun langsung pergi dari sana, bahkan sebelum mereka mulai makan.


Candra dan semua orang yang ada di sana menjadi terdiam. Mereka mulai panik. Hadyan ternyata benar-benar marah akibat perkataan Candra.


Candra tidak tahu kalau Hadyan akan menanggapi candaannya dengan serius. Biasanya juga Hadyan tidak akan marah kalau Candra sedang meledeknya.


Bima menghela nafas Lelah. "Gue juga balik deh. Udah gak mood," katanya.


Setelah mengatakan itu, Bima pun undur diri dari sana.


"Dim, mau bareng gak?" kata Bima setelah ia mengambil tasnya.


Dimas melihat pada teman-temannya yang lain. Sepertinya mereka sedang menunggu keputusan Dimas juga.


Dimas pun pada akhirnya mengangguk dan mereka berdua pun pergi dari sana.


Kalevi sedikit terkejut karena Bima mengajak Dimas. Mereka kelihatannya sudah makin dekat saja.


Sementara itu, pak Bayu dan bu Rika hanya diam saja. Mereka berdua ingin para anggota menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa harus ada bantuan dari keduanya.


Restu tersenyum mendengar perkataan Kalevi. "Kenapa? Lo cemburu ya?" kata Restu bercanda.


"Cemburu? Cih! Ngapain? Kayak gak punya temen laen aja," kata Kalevi tidak terima.


"Ibu sama pak Bayu pergi dulu. Pokoknya kalian harus bereskan masalah ini secepatnya," kata bu Rika.


"Ayo, Pak," ajak bu Rika.


Bu Rika dan pak Bayu pun pergi dari sana. Meninggalkan Leilani, Fadhil, Restu, Kalevi dan juga Candra.


"Ini gimana jadinya? Jadi makan gak?" tanya Kalevi.


Tidak ada yang menjawab. Candra yang sedari tadi diam, tiba-tiba berdiri dan kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah kata sama sekali.


"Kita makan aja. Sayang kan, nyokap si Candra udah bikin ini semua. Kasian kalo gak kita makan," saran Restu.


Mereka pun akhirnya makan dengan hanya beraggotakan empat orang saja.


"Perasaan grup kita gak ada akur-akurnya. Ada ... aja masalah baru," kata Kalevi.


"Lo juga termasuk yang suka cari ribut juga," kata Fadhil mengingatkan Kalevi.

__ADS_1


Restu tertawa. Yang dikatakan oleh Fadhil benar. Kalevi juga sering mengajak ribut pada sesama anggota.


Leilani menghela nafasnya. "Aku merasa menjadi ketua yang tidak berguna," keluh Leilani.


"Emang gak guna," kata Fadhil spontan.


Leilani, Restu dan Kalevi langsung menatap Fadhil dengan tatapan yang beragam.


"Kenapa? Bukannya emang bener? Iya, kan?" Fadhil membela dirinya sendiri.


Ketiga orang yang ada di situ diam. Tidak ada yang membantah ataupun mengiyakan.


Fadhil kemudian beralih pada Leilani. "Tolong ambilin minum," kata Fadhil.


Leilani yang disuruh pun langsung berdiri untuk mengambilkannya.


"Lo apa-apaan sih, Fahd? Mentang-mentang dia cewek, terus lo bersikap seenaknya sama dia," kata Kalevi.


Fadhil tersenyum tipis. "Tumben lo belain ketua," sindir Fadhil pada Kalevi.


"Tapi kata Kalevi emang bener. Lo gak bisa seenaknya," kata Restu dengan wajah serius.


Fadhil menaikkan sebelah alisnya saat melihat perubahan ekspresi Restu. Jarang sekali Restu menunjukkan ekspresi serius seperti itu. Apa jangan-jangan Restu benar-benar marah karena Fadhil menyuruh Leilani untuk mengambilkan air minum untuknya?


"Dia ngerasa gak guna. Ya udah, gue suruh aja dia sekali-kali, biar dia merasa berguna," kata Fadhil.


"Serah lu lah, Bro," kata Kalevi jengah.


Leilani pun kembali dengan membawa dua gelas air. Satu untuk Fadhil dan satu lagi untuk siapa saja yang menginginkannya.


"Ini, satu lagi siapa yang mau?" tawar Leilani.


"Buat kamu aja, Lan," jawab Restu.


Leilani beralih pada Kalevi untuk meminta jawaban.


Kalevi tersenyum kecil pada Leilani. "Iya. Buat kamu aja," kata Kalevi.


Leilani, Fadhil dan Restu menatap aneh pada Kalevi. Tumben Kalevi bicara sopan begitu pada Leilani.


Kalevi yang ditatap seperti itu malah binhung. "Kenapa? Gue ada salah?" tanyanya.


"Enggak. Cuman ..." Leilani menggantung kalimatnya.


"Cuman apa?" tanya Kalevi masih dengan senyumannya.


"Aneh aja kalau kamu gak panggil aku mba Kun lagi," jawab Leilani.


Kalevi yang mendengar itu menjadi agak kesal. Dia galak pada Leilani salah. Dia bersikap baik begini juga masih salah.


"Ya udah, ya udah. Lo tetep mba Kun," kata Kalevi kesal.

__ADS_1


'Mba Kun gue,' lanjut Kalevi dalam hati.


***


__ADS_2