
Semua orang jadi diam sepeninggal pak Bayu dan bu Rika.
"Ekhm ...." Candra melirik orang-orang yang ada di sana.
"Bu Ketua," panggil Restu lembut. "Jadi, apa yang harus kita lakuin duluan?" tanya Restu dengan senyuman pemikatnya.
Leilani bingung sendiri. Tapi semua orang terlihat menanti jawabannya.
'Aku harus jawab apa?' kata Leilani dalam hatinya.
"Bersih-bersih," jawab Leilani sekenanya.
Hadyan kembali memutar bola matanya bosan. "Kalo itu kita juga udah tau kali," kesal Hadyan.
Restu tetap tersenyum manis mendengar jawaban Leilani yang terdengar lucu menurutnya.
"Bukan itu. Maksud mereka apa dulu yang harus dikerjakan untuk bersih-bersih di ruangan ini," Fadhil mencoba menjelaskan pada Leilani. Namun dengan nada dinginnya.
'Oh, begitu.'
"Mba Kun, gimana kalo lo aja yang bersihin ini semua? Bukannya lo suka bersih-bersih di kelas juga?" ujar Kalevi.
"Oh. Ya udah kalau begitu," jawab Leilani dengan polosnya. Dia menyetujui usul Kalevi begitu saja.
Fadhil menggelengkan kepala tak percaya. Bagaimana bisa ada ketua seburuk gadis di hadapannya.
"Gimana kalo buang dulu barang-barang rongsok ini?" ujar Dimas yang tiba-tiba bicara.
"Emang boleh?" tanya Bima yang di sebelahnya.
"Boleh lah," jawab Dimas.
Entah sejak kapan Dimas bisa bicara sesantai itu dengan orang. Seingat mereka, Dimas selalu marah pada setiap orang yang ditemuinya.
"Tumben enggak ngegas," celetuk Candra.
Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Candra. Bisa-bisanya Candra bicara begitu, langsung di depan orangnya.
Restu pun langsung menyikut Candra yang asal bicara. Bagaimana kalau Dimas kembali gila? Bisa-bisa habis mereka.
"Apaan dah?" ujar Candra pada Restu.
"Putuskan!" titah Fadhil pada Leilani. "Buang barang-barang ini atau tidak."
Leilani bingung. "Tapi ... memangnya kalian gak akan capek mengangkutnya nanti?"
Candra tertawa kecil mendengar gadis di sebelahnya yang kebingungan. "Tenang aja. Di sini ada si preman. Kita bisa manfaatin dia," ujar Candra bercanda.
Lagi-lagi Restu menyikut Candra karena terus saja memancing Dimas.
Sementara itu, Dimas hanya menatap tajam pada Candra yang malah cengengesan setelah mengatakannya.
"Jadi gimana keputusannya, Mba Kun?" tanya Kelevi yang sudah tidak sabar ingin cepat pulang.
"Itu terserah kalian aja. Kalian maunya bagaimana?" Leilani malah balik bertanya.
__ADS_1
"Emang mending di buang aja sih," jawab Candra. "Gimana?" tanya Candra pada lima orang lainnya.
Kelima pemuda itu pun mengangguk setuju.
"Tapi kalo dibuang ... kan sayang," gumam Leilani sambil memperhatikan sofa.
"Sayang apanya dah? Mending kita beli baru lagi. Kita cukup kaya kok buat ganti barang tua kayak gini," balas Candra.
"Oh. Ya sudah. Terserah saja. Kalau begitu ... kita mulai saja beres-beresnya," putus Leilani akhirnya.
"Oke," balas Fadhil.
Mereka pun berdiri dari duduknya. Dimas membuka seragam yang memang kancingnya sedari tadi sudah terbuka. Dimas memang selalu memakai kaos hitam sebagai lapisannya. Ia kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Begitu juga dengan para pemuda lainnya. Mereka juga membuka seragam putih mereka. Seperti Dimas, mereka memakai baju rangkap di dalamnya.
Hanya satu orang yang tidak membuka seragamnya diantara para pemuda itu. Dia adalah Fadhil. Sepertinya Fadhil tidak memakai baju rangkap di balik seragamnya.
Mereka pun langsung memindahkan barang-barang tua yang ada di sana ke dekat gerbang. Ada sofa, lemari, meja dan barang-barang lain yang sudah tidak layak pakai.
Leilani menatap ketujuh pemuda itu yang mulai sibuk memindahkan barang-barang.
'Ternyata mereka tidak seburuk itu,' Leilani berbicara sendiri dalam hati.
Para pemuda itu benar-benar diluar dugaan Leilani. Leilani tadinya berpikir, mereka mungkin akan membully dirinya. Tapi ternyata tidak.
"Bantu, woy!!" bentak Dimas yang kesusahan mengangkat sofa sendirian.
Candra pun akhirnya membantu Dimas mengangkat sofa. Restu dan Bima mengangkat lemari, Kalevi , Hadyan dan Fadhil mengangkat meja dan kursi.
Para siswa dan siswi yang mengikuti ekstrakulikuler heboh sendiri melihat ketujuh pria tampan itu memindahkan barang-barang. Mereka masih heran, kenapa ketujuh pria itu malah memilih klub rendahan.
Semua barang yang ada di ruangan klub sudah dipindahkan dan mereka semua mulai kelelahan.
"Capek juga ternyata," ujar Candra. "Gue izin ke warung dulu. Haus."
"Gue juga," timpal Kalevi.
Kelima pemuda yang lainnya pun mengikuti. Hanya Leilani yang tersisa di ruangan klub ini.
Leilani membuka tasnya. Ia kemudian mengambil botol minum miliknya. "Ah ... leganya," ucap Leilani sambil menunjukkan senyumannya yang cukup langka.
Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Ternyata itu adalah Fadhil.
'Kenapa dia malah kembali lagi? Apa uangnya ketinggalan ya?' pikir Leilani.
Ceklek
Fadhil menutup pintu ruangan klub dengan sengaja. Leilani menjadi heran dibuatnya.
Leilani berdiri. "Ada apa?"
Fadhil tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan ke arah Leilani sambil membuka kancing seragamnya.
Leilani mulai panik melihat Fadhil yang seperti itu. Ditambah, sekarang ini hanya ada mereka berdua di sana. Leilani jadi ingat perkataan bu Rika tadi. Jangan-jangan, Fadhil akan berbuat macam-macam padanya.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" titah Leilani.
Fadhil tidak memedulikan perkataan Leilani. la terus mendekat ke arah gadis itu.
Fadhil membuka seragam miliknya secara utuh, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang belum tumbuh sempurna.
Leilani memejamkan mata. Terasa canggung melihat tubuh telanjang pria.
Fadhil kemudian mengurung Leilani dengan kedua tangannya.
Leilani langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. "Jangan macam-macam! Atau aku akan panggil bu Rika!!" jerit Leilani.
Fadhil membekap mulut Leilani agar tidak ada orang yang mendengarnya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Leilani dan kemudian membisikkan sesuatu padanya.
"Pakai seragamku! Dalaman bajumu kelihatan," bisik Fadhil.
Benar. Tanktop hitam Leilani cukup kelihatan karena seragamnya basah oleh keringat.
Fadhil kembali menjauhkan wajahnya.
"Cepat! Sebelum mereka datang," ujar Fadhil.
Ceklek
Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Fadhil dan Leilani kaget dibuatnya.
Ternyata itu adalah Restu. Restu mematung di ambang pintu sana. Sepertinya Restu shok melihat adegan di hadapannya.
"Fahd! Lo ngapain?!" ujar Restu yang masih berada dalam kondisi terkejut.
Fadhil pun segera menutupkan seragam miliknya pada Leilani.
"Jangan salah paham," ujar Fadhil mencoba santai.
"Gimana gue gak salah paham. Lo telanjang, dan posisi kalian ....” Restu tak melanjutkan kalimatnya. Tapi Restu yakin, Fadhil mengerti maksudnya.
Restu yang sudah sadar dari keterkejutannya melangkah ke dalam.
"Lani, Fadhil gak ngapa-ngapain kamu, kan?" tanya Restu khawatir.
Leilani menggelengkan kepalanya. "Nggak. Ini ... sebenarnya ...." Leilani bingung mengatakannya. Ia merasa malu jika harus mengatakannya pada seorang pria.
"Keringat." Fadhil membantu Leilani menjawab pertanyaan Restu. "Kaos dalamnya kelihatan karena keringat. Gue cuma mau bantu dia."
Sekarang, Restu mulai paham dengan situasinya. "Tapi lo beneran nggak macem-macem, kan?"
"Gue gak mungkin macem-macem. Ada surat perjanjian," jawab Fadhil.
Restu menganggukkan kepalanya. Benar juga yang dikatakan Fadhil, jika Fadhil melanggar peraturan, tamatlah riwayat Fadhil.
"Ya udah. Biar Lani pake baju gue aja. Lo gak mungkin pulang dengan kondisi telanjang, kan?" kata Restu sambil mengambil seragamnya dari dalam tas.
Restu pun memberikan seragamnya pada Leilani dan kemudian mengajak Fadhil keluar untuk memberi waktu pada Leilani memakai seragam Restu.
***
__ADS_1