Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Seorang Gadis Gendut


__ADS_3

Leilani menyuruh Fadhil untuk mempercepat acara makannya. Teman-teman mereka yang lain mungkin sudah sampai di sekolah, tapi mereka masih disini saat ini.


"Nih. Besok masaknya harus enak," kta Fadhil.


"Emang ini gak enak?" tanya leilni


"Engga."


"Tapi abis," kata Leilani.


"Terpaksa. Sayang kalau gak dimakan," kilah Fadhil.


Setelah selesai makan, mereka pun bergegas untuk segera ke sekolah. Leilani berjalan sambil sedikit berlari kecil. Sementara Fadhil, dia berjalan seperti biasa.


Begitu sampai di sekolah, semua mata langsung tertuju pada mereka berdua. Tentu Leilani menyadarinya juga. Tapi Leilani mengabaikannya.


Tadi diperjalanan, Fadhil menyuruh Leilani supaya berjalan bersamanya sampai sekolah. Fadhil berkata, bukannya teman harus bersama-sama.


"Tapi kalau kita berangkat sama-sama kayak gini, apa kata orang? Mereka pasti tidak akan suka melihatnya," kata Leilani.


"Lo takut?" tanya Fadhil.


"Iya. Aku memang takut," jawab Leilani jujur dari hati.


Leilani memang takut mereka akan memperlakukan dirinya semakin buruk.


"Gak usah takut," kata Fadhil sambil menatap mata Leilani. "Ada gue," lanjut Fadhil.


"Katanya mau jadi temen kan? Temen bakalan ada buat temennya. Jadi gak usah takut. Gue gak bakal biarin mereka. Tenang aja," tutur Fadhil panjang lebar.


Untuk kali ini, Leilani ingin percaya. Leilani ingin percaya pada Fadhil—temannya.


Leilani dan Fadhil berjalan berdampingan menuju kelas. Sepanjang perjalanan, mereka menjadi pusat perhatian.


Beberapa kali Leilani berniat untuk menyerah saja. Tapi Fadhil berkata, jika Leilani tidak mau berjalan bersamanya, maka itu artinya, Leilani tidak mau berteman dengannya.


Berita mengenai Leilani yang berangkat bersama dengan Fadhil langsung menyebar seantero sekolah.


Berita ini menjadi trending topik seketika. Berita ini juga langsung sampai ke telinga Candra.


Candra bahkan langsung mengirim pesan pada Leilani untuk memastikannya.


'Ly. Lo beneran berangkat bareng sama si Fadhil.'


'Gue denger dari anak-anak. Bener apa engga?' tulis Candra dalam pesannya.


'Iya,' jawab Leilani dalam pesannya.


'Nanti kita bicara,' balas Candra lagi.


Selama Leilani berada di kelas, tatapan semua orang terus terarah kepadanya. Mereka melihat Leilani sambil berbisik-bisik.

__ADS_1


Mungkin mereka berbisik-bisik karena ada Fadhil juga di sana. Coba kalau Fadhil tidak ada, pasti mereka akan mencecar Leilani dengan perkataan-perkataan tajamnya.


Teeett teeettt teettt


Bel tanda istirahat berbunyi. Leilani pergi ke ruang klub spesial untuk makan bekalnya di sana. Kebetulan, tadi pagi Leilani sengaja pergi ke ruang klub lebih dulu bersama Fadhil untuk menyimpan kotak bekalnya.


Saat Leilani masuk ke dalam ruangan, ternyata ada Restu juga di sana. Restu langsung tersenyum manis menyambut kedatangan Leilani.


"Kamu sedang apa?" tanya Leilani.


"Ngambil ini," jawab Restu sambil menunjukkan earphone di tangannya.


"Kamu sendiri?" tanya balik Restu.


"Aku? Aku mau makan," jawab Leilani.


"Makan?" tanya Restu lagi.


Leilani menganggukkan kepala. "Iya. Tadi aku bawa bekal makan siang. Aku taruh di sini," tutur Leilani menjelakan.


"Ooh." Hanya itu respon dari Restu setelah mendengar jawaban dari Leilani.


Leilani pun pergi menuju lemari untuk mengambil kitak bekalnya. Ia kemudian duduk di atas sofa yang ada di sana.


Saat Leilani hendak membukan kotak makannya, Leilani baru sadar, sedari tadi ternyata Restu terus memperhatikannya. Bukannya keluar dari sana.


Restu kemudian duduk di sebelah kanan Leilani, namun ia menjaga jarak diantara mereka berdua.


Restu tersenyum kecil. "Mau nemenin kamu makan," katanya.


"Ooh," kata Leilani singkat.


Leilani sudah tidak aneh lagi dengan gombalan-gombalan Restu yang seperti ini. Bagaimana tidak, setiap mereka bertemu, Restu selalu bersikap seperti itu.


"Lan, aku denger ... kamu berangkat bareng Fadhil tadi pagi. Bener ya?" tanya Restu.


"Iya. Kita berangkat sama-sama," jawab Leilani jujur.


"Ah ... aku cemburu," kata Restu.


Leilani bersikap biasa saja saat mendengar kata aku cemburu dari mulut Restu, karena Restu sudah sering mengatakan itu padanya. Entah tulus atau tidak.


"Kamu suka ya sama Fadhil?" tanya Restu lagi.


Deg


Mendengar pertanyaan itu dari Rsstu, entah kenapa hati Leilani menjadi bertalu-talu.


"Enggak," jawab Leilani. "Aku gak suka pria tampan."


"Pria tampan itu brengsek," kata Leilani dan Restu berbarengan.

__ADS_1


Restu masih ingat betul kata-kata itu sampai sekarang. Itu adalah kata-kata legendaris dari Leilani.


Restu tertawa kecil melihat ekspresi wajah Leilani saat ini. Sementara itu, Leilani agak terkejut sedikit karena Restu mengetahui apa yang akan ia katakan.


"Berarti secara gak langsung kamu mengakui kalo Fadhil itu ganteng ya," ucap Restu lagi.


Leilani yang mendengar itu merasa sedikit malu. Jika dipikir-pikir, perkataan Restu ada benarnya. Tapi Fadhil memang sangat tampan, semua orang mengakuinya. Termasuk Leilani juga.


"Kalau aku? Aku gimana?" tanya Restu.


"Kamu? Gimana apanya?" tanya Leilani.


"Aku ganteng gak?" tanya Restu.


Leilani mulai berpikir. "Kamu? Iya. Kamu juga termasuk pria rupawan," jawab Leilani malu sekaligus tertekan.


"Berari, aku juga brengsek dong?" kata Restu lagi.


"Eh, bukan gitu maksudnya," kata Leilani mecoba mengklarifikasi.


"Gak papa. Santai aja. Aku cuma bercanda," kata Restu.


Leilani pun akhirnya memakan bekal makan siangnya. Leiani sebenarnya juga menawari Rsstu, tapi Restu bilang tidak usah, biar Leilani saja yang memakannya.


Setelah selesai makan, mereka berdua pun keluar dari sana. Restu mengajak Leilani untuk berjalan-jalan di sekitaran sekolah.


Awalnya Leilani menolak, tapi Restu terus memaksanya.


Seperti halnya berjalan dengan Fafhil, berjalan dengan Restu juga membuat semua orang mengarahkan perhatiannya pada mereka berdua.


Leilani dan Restu menarik perhatian semua orang yang dilaluinya.


Tiba-tiba, di salah satu sudut lapangan, Leilani dan Restu mnelihat seseorang yang mereka kenali.


Itu adalah Dimas. Dimas kelihatan sedang marah-marah pada seorang gadis gendut. Entah apa salah gadis gendut itu sampai-sampai Dimas terlihat murka.


Mungkin saja gadis gendut itu menyatakan perasaannya pada Dimas, namun Dimas tidak menyukainya. Maka dari itu Dimas kelihatan sangat marah pada gadis itu.


"Ayo kesana," ajak Restu ketika masalah sudah terlihat sangat serius.


Leilani dan Restu menghampiri Dimas untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Dasar cewek gendut!!" kata Dimas sambil menatap sinis penampilan si gadis gendut dari atas sampai bawah.


Gadis gendut itu mulai menangis, sepertinya ia sangat takut pada Dimas. Sampai-sampai, gadis gendut itu menangis dengan tubuh bergetar.


Mendengar Dimas menghina gadis gendut itu, wajah Restu langsung kelihatan sangat marah seketika. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Buku-buku jari Restu bahkan memutih saking kuatnya Restu mengepalkan tangannya.


Selain terkenal playboy, sebenarnya Restu juga terkenal karena dia baik pada setiap wanita. Restu tidak pernah membeda-bedakannya.


"Berani sama cewek! Kayak banci tau gak! Kalo berani, lawan gue!!" kata Restu dengan sedikit berteriak. Membuat semua orang yang ada di sana beralih memperhatikan mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2