
Teeet teeet teeee.
Bel tanda pulang telah berbunyi. Para siswa dan siswi segera mengemas alat tulis mereka ke dalam tasnya. Mereka terlihat sangat antusias untuk segera keluar dari tempat belajar yang seringkali membuat mereka penat ini.
Seperti biasanya, para siswa dan siswi akan mencium tangan sang guru sebelum pulang.
Leilani maju ke depan menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu mencium tangan sang guru.
Leilani hendak menjabat tangan sang guru sembari menundukkan kepalanya.
Dug.
Kepala Leilani berbenturan dengan kepala temannya saat hendak mencium tangan sang guru.
Ternyata Fadhil lah orang yang berbenturan dengan Leilani. Tapi Fadhil terlihat sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Woy, Bro. Lu ngapain di sini?" tanya Romi pada Restu yang sudah ada di depan kelas Leilani.
"Ada urusan," jawab Restu.
Romi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sama si Fahd?" tebak Romi.
Restu menggelengkan kepalanya. "Engga. Gue ada urusan sama Lani."
Rosa yang masih ada di sekitar situ mendengar ucapan Restu. Ia pun mulai penasaran, ada apa antara Leilani dan Restu.
"Sama si cupu?" tanya Romi dengan tatapan tak percaya.
Restu kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Yang bener aja, Bro. Gue tau lo playboy. Tapi gak si cupu juga kali. Lo kan bisa dapet yang lebih cantik dari dia," ledek Romi.
"Ya gimana ya ... gue pengennya sama dia," jawab Restu sambil tertawa.
"Udah gila lu ya," ujar Romi.
Restu hanya tersenyum mendengar ejekan Romi. Restu sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ini hidupnya, jadi terserah dia.
Tak lama kemudian, Fadhil dan Leilani keluar dari dalam.
"Tuh orangnya," ujar Romi sambil mengangkat dagunya ke arah Leilani.
Restu tersenyum manis pada Leilani yang baru saja keluar dari dalam kelas. Sementara Leilani, dia sedikit bingung karena Restu ada di sini.
"Ayo," ajak Restu.
"Hah? Ayo kemana?" tanya Leilani was-was.
Leilani merasa tidak nyaman karena saat ini dia dan Restu menjadi pusat perhatian.
"Loh ... masa kamu lupa. Tadi kan kita udah janjian," jawab Restu dengan wajah yang dibuat-buat seolah sedang kecewa.
Leilani pun akhirnya ingat dengan janjinya. "Oh, itu."
"Iya. Itu. Yang itu," balas Restu dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Emh ... Jangan di sini. Banyak orang," ujar Leilani pada Restu dengan suara sedikit pelan.
"Ya udah. Ayo," ajak Restu.
Leilani pun segera ikut dengan Restu. Berada di sini hanya akan membuat Leilani makin malu. Orang-orang bukannya segera pergi, mereka malah diam dan tetap di sini.
Para siswa dan siswi yang ada di sekitar situ terlihat menguping dan mulai berbisik-bisik tentang Leilani dan Restu. Mereka tentu saja penasaran dengan kedekatan antara si cupu Leilani dan si tampan Restu.
Sementara itu, Romi hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap manis Restu pada Leilani. Tapi ia memilih untuk mengabaikannya saja kali ini.
"Ya udah lah. Terserah," tukas Romi. Romi mengalihkan perhatiannya pada Fadhil. "Bro! Mo pulang bareng?"
"Duluan aja. Gue masih ada urusan," jawab Fadhil.
Romi pun mengangguk dan akhirnya ia pun pulang duluan tanpa Fadhil.
***
Kini, Restu dan Leilani sudah berada di taman belakang. Di sini kebetulan sedang tidak ada orang.
Restu dan Leilani kini saling berhadap-hadapan.
"Jadi?" tanya Restu memulai pembicaraan.
"Sebenarnya ... aku mau bertanya. Boleh?" tanya Leilani dengan sedikit ragu
"Tanyakan!" jawab Restu tanpa beban.
"Itu ... apa kamu menganggap aku teman?" tanya Leilani malu.
Sementara itu,Leilani harap-harap cemas menunggu jawaban dari Restu.
"Engga. Kita kan bukan teman," jawab Restu.
"Oh ... begitu ya," balas Leilani dengan wajah yang kelihatan sedih.
Restu tersenyum melihat kekecewaan di wajah gadis yang ada di hadapannya ini. Ia pun melanjutkan kata-katanya.
"Aku gak nganggap kamu teman. Aku maunya kita lebih dari teman," goda Restu.
Leilani tidak berekspresi sama sekali mendengar candaan Restu.
Melihat itu, Restu pun langsung meralat perkataannya. "Bercanda, Lani. Tentu aja aku nganggep kamu teman. Kita kan emang teman," ujar Restu.
Binar di mata Leilani akhirnya kembali setelah mendengar ucapan Restu barusan.
"Emang ada apa sih? Kok kamu ngasih pertanyaan kaya gitu?" tanya Restu penasaran.
Leilani pun akhirnya mulai menceritakan tentang permasalahannya dengan Fadhil tadi siang. Dan Restu dengan setia mendengarkan.
"Oh jadi ini yang kamu mau bicarain. Kirain ...." Restu tidak melanjutkan ucapannya.
"Kirain apa?" tanya Leilani.
Restu tersenyum tipis. "Kirain kamu mau nyatain perasaan. Padahal tadi aku udah deg-degan," tutur Restu.
__ADS_1
"Ya udah. Nanti aku bantu bicara sama Fadhil. Kamu tenang aja. Gak usah khawatir."
Leilani tersenyum senang mendengar ucapan Restu. "Makasih. Nanti kalau kamu ada masalah, aku juga akan bantu sebisaku," balas Leilani.
"Janji ya?" ucap Restu.
Leilani pun menganggukkan kepalanya.
***
Sementara itu, di ruangan klub spesial, sudah ada para anggota. Mereka masih menunggu kedatangan sang ketua.
"Eh, Fahd. Si Mba Kun kemana? Lama amat. Lagi beberes lagi di kelas lu ya?" tanya Kalevi yang duduk santai di lantai.
"Lu gimana sih, Bro. Lo kan ketua kelas. Masa sepupu gue masih kena tindas," protes Candra sambil asyik bermain game di komputernya.
"Ck." Fadhil berdecak kesal mendengar ucapan Candra.
"Kalo ngomong suka gak dipikir dulu. Cek dulu kebenarannya. Sepupu kesayangan lo lagi pacaran," tutur Fadhil.
"Pacaran?" tanya semua yang ada di situ berbarengan.
"Hm," jawab Fadhil malas.
Candra langsung mematikan komputernya. "Pacaran sama siapa?" tanya Candra dengan wajah khawatir.
"Liat aja ... yang gak ada di sini siapa," balas Fadhil.
Mereka pun saling melihat satu sama lain. Yang tidak ada hanya Restu saja. Berarti yang dimaksud oleh Fadhil adalah Restu.
"Restu?" ujar Dimas sambil menaikkan alisnya.
Fadhil hanya diam. Tapi itu sudah memberi mereka jawaban.
"Gak bisa!!" pekik Candra.
Tak lama kemudian, muncullah dua orang yang sedang mereka gosipkan.
Semua orang yang ada di dalam ruangan menatap Leilani dan Restu secara bergantian. Mereka menatap Leilani dan Restu dengan tatapan tajam.
"Semua orang udah pada nunggu. Eh ... kalian berdua malah asyik pacaran," sindir Hadyan dengan wajah ekstra sinis.
"Pacaran?" Leilani dan Restu saling bertatapan. "Maksud kalian kita berdua pacaran?" tanya Restu.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Restu.
"Kita gak pacaran," jelas Leilani.
"Halah ... alesan," ujar Kalevi yang sekarang asyik tiduran.
Restu tersenyum. "Emangnya kenapa kalau kita berdua pacaran? Kalian cemburu?" tantang Restu.
Semua yang ada di situ pun terkejut dengan jawaban Restu yang enteng tanpa beban.
***
__ADS_1