
Leilani pergi menuju toilet. Tidak mungkin Bima dan Kalevi mengikutinya. Jadi mereka pun memutuskan untuk menunggu Leilani di ruang klub saja.
Di ruang klub, ternyata ada Restu yang masih belum pergi dari sana. Selain itu, ada Hadyan juga yang sedang tidur di sofa.
"Udah balik lagi. Mana Lani?" tanya Restu yang tidak melihat keberadaan Leilani bersama dengan mereka berdua.
Bima dan Kalevi tidak segera menjawab pertanyaan Restu. Bima duduk bersandar pada lemari, sedangkan Kalevi, dia duduk di kursi tempat Candra bermain game di komputernya.
"Si Mba Kun ke toilet," jawab Kalevi.
Restu kelihatan akan bertanya lagi. Kalevi yang menyadari itu seketika kembali bicara.
"Jangan tanya-tanya lagi. Kalo si Mba Kun ke toilet, ya mana gue tau dia mau apa di sana," ujar Kalevi.
Restu terkekeh geli mendengar ucapan Kalevi. "Gue emang mau nanya lagi. Tapi bukan berarti gue mau nanya dia ngapain di toilet. Kalo itu ya privasi."
"Makanya, jangan nanya sama bocah itu. Udah tau dia b*go, masih aja ditanya," timpal Bima sambil menaikkan sudut bibirnya.
Kalevi yang dikatai seperti itu merasa tidak terima. Sementara Restu, dia semakin terkekeh geli melihat pertengkaran antara mereka berdua.
Drrttt drrttt drrrttt
Sebuah pesan masuk ke ponsel Bima dan juga Kalevi. Bima dan Kalevi pun langsung membuka pesan itu. Ternyata pesan itu berasal dari Leilani. Leilani mengirim sesuatu ke grup chat "Misi Rahasia".
'Aku mau berhenti saja,' tulis Leilani dalam pesannya.
Bima dan Kalevi langsung bertukar pandang setelah membaca pesan dari Leilani. Sementara Restu, ia semakin penasaran saja, ada apa antara Bima, Kalevi dan juga Leilani.
"Ada apa? Kalian nerima pesan barengan. Itu dari Leilani?" tanya Restu penasaran.
Sekali lagi, Bima dan Kalevi saling bertukar pandang setelah mendapat pertanyaan seperti itu dari Restu.
"Apa kalian punya rahasia yang gak kita tau?" tebak Restu.
Bima menghela nafasnya. "Em. Lo bener," jawab Bima.
Kalevi membulatkan matanya. Apa Bima akan membocorkan rahasia mereka? Pikir Kalevi dalam benaknya.
"Lo mau apa?! Jangan bilang ... lo mau kasih tau rahasia si Mba Kun sama mereka," ujar Kalevi pada Bima.
"Rahasia? Rahasia apa?" tanya Hadyan yang tiba-tiba bangun dari tidurnya.
Hadyan memposisikan diri di sofa. Sebenarnya sedari tadi Hadyan tidak benar-benar tidur. Hadyan hanya memejamkan matanya sembari mendengarkan percakapan para anggota lainnya.
"Lo mau nambah masalah sama gue?! Awas aja kalo lo sampe bocorin rahasia kita!!" ancam Kalevi pada Bima.
"Emang seserius itu masalahnya?" tanya Restu yang semakin penasaran.
__ADS_1
"Gue gak takut sama lo, b*go!!" balas Bima pada Kalevi.
Tiba-tiba, Fadhil masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan menuju ke arah lemari dan kemudian langsung membukanya. Di dalam lemari sebelah kanan, Fadhil melihat kotak bekal Leilani yang masih berada di tempatnya. Namun Fadhil memilih untuk mengabaikannya.
Fadhil pun kemudian membawa buku miliknya yang ia taruh di situ. Setelah mengambilnya, Fadhil pun kembali menutup pintu lemari itu dan hendak pergi dari sana tanpa bicara apa-apa pada rekan satu klubnya yang ada di sana.
"Fahd," seru Bima.
Fadhil berhenti dan kemudian berbalik menghadap Bima.
"Kayaknya kita semua yang ada di sini musti bicara," kata Bima.
"Penting?" tanya Fadhil datar.
"Penting," jawab Restu.
Setelah mendengar itu, Fadhil pun kembali dan kemudian duduk di sofa bersama dengan Hadyan.
"Jadi ... rahasia apa yang kalian berdua maksud?" tanya Hadyan langsung pada topik utama.
Fadhil yang belum mengerti hanya bisa menautkan alisnya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.
"Jangan bocorin—"
Perkataan Kalevi langsung dipotong oleh Bima. "Bisa ga sekali aja dengerin apa kata orang?" kata Bima dengan tatapan tajam.
Bima menghela nafasnya sebelum mulai berbicara. "Si ketua mau ngungkapin perasaannya sama si Adam," kata Bima.
Restu dan Hadyan kelihatan cukup terkejut setelah mendengarnya.
Sementara itu, Fadhil langsung berdiri dari duduknya. "Gue kira beneran penting. Ternyata cuma masalah cinta-cintaan. Sia-sia aja gue dengerin."
Setelah mengatakan itu, Fadhil pun langsung pergi begitu saja dari sana.
Kalevi yang melihat sikap Fadhil langsung mengumpat. "Dasar bocah!! Gak punya rasa setia kawan!!"
"Terus gimana? Berhasil?" tanya Restu.
"Keliatannya gagal," timpal Hadyan dengan nada santai.
"Bener. Gagal," jawab Bima. "Makanya gue minta bantuan kalian juga."
"Syukur lah kalo gagal," kata Restu tak kalah santai.
"Lu berdua!!" kata Kalevi dengan nada kesal.
Bisa-bisanya mereka malah bersyukur saat Leilani gagal. "Gue tegesin ... bukan gagal. Tapi si Mba Kun nyerah sebelum nyoba," kata Kalevi menjelaskan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Hadyan.
Kalevi pun mulai menjelaskan semuanya, dari awal sampai akhir secara mendetail.
"Emang s*al*n si Dimas. Gak punya perasaan," umpat Kalevi yang kembali teringat dengan tingkah Dimas yang semena-mena pada orang.
Restu mengerutkan keningnya. "Yakin dia nyerah cuma karena kasian liat si Adam?" tanya Restu tak yakin. "Gak ada hubungannya juga, kan?"
Bima, Kalevi dan juga Hadyan mulai berpikir. Benar juga apa kata Restu. Lalu jika seperti itu, apa alasan Leilani tiba-tiba ingin menyerah padahal belum mencoba?
"Terserah lah. Gue lagi males mikir. Intinya gimana? Kalian mau bantuin kita?" tanya Kalevi pada Hadyan dan Restu.
Bima dan Kalevi menunggu jawaban mereka berdua.
"Sorry. Gue gak bisa bantu. Dan gue juga gak mau bantu," jawab Restu.
"Lagian, Lani juga cuma minta bantuan sama kalian berdua, kan? Jadi kalian musti kerja sama buat bantuin dia," lanjut Restu.
"Nah, kan? Apa gue bilang? Percuma bilang sama mereka. Mereka gak akan mau bantu juga." Kalevi mulai menyalahkan Bima.
Bima beralih pada Hadyan. "Lo, gimana?" tanya Bima.
"Gue pasti bantu," jawab Hadyan.
"Serius?" tanya Kalevi memastikan.
"Lewat do'a," lanjut Hadyan.
Setelah mengatakan itu, Hadyan pun kembali berbaring di sofa dan kemudian kembali memejamkan matanya.
"Aishhh!!! S*al*n!!" umpat Kalevi kesal.
Restu pun meninggalkan mereka dan kembali ke kelasnya. Ia sudah mendapat jawaban atas rasa penasaran yang sedari tadi menghantui pikirannya.
Setelah itu,Bima dan Kalevi mulai bertengkar tanpa henti. Mereka terus beradu jotos di dalam ruangan.
Pertengkaran mereka berdua bahkan semakin merambah kemana-mana. Sampai membawa-bawa orang tua dan juga masa kecil mereka.
Yap. Benar sekali. Bima dan Kalevi sudah berteman sejak kecil. Mereka sangat-sangat dekat lebih dari apa yang orang lain lihat. Tapi karena satu wanita, hubungan mereka menjadi rusak begitu saja.
Hadyan mulai jengah mendengar pertengkaran Kalevi dengan Bima yang tidak ada ujungnya. Mereka sangat berisik. Sudah beberapa kali Hadyan melerai mereka. Tapi mereka berdua tidak mau berhenti juga.
Pada akhirnya, Hadyan pun keluar dari dalam sana. Ia sudah tidak tahan lagi mendengar pertengkaran mereka.
Sementara Kalevi dan Bima sendiri, mereka seolah tidak lelah sama sekali. Mereka terus beradu mulut. Bahkan kepergian Hadyan pun tidak mereka sadari saking mereka terlalu fokus untuk memenangkan perdebatan yang tengah mereka lakukan.
***
__ADS_1