Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Candra yang Salah Tingkah


__ADS_3

"Si mba Kun beneran dateng," ujar Kalevi sambil melihat ke arah pintu.


Semua orang beralih menatap Leilani yang baru saja datang.


"Bisa bener gitu lu, Fahd," ucap Candra kagum.


Hadyan tersenyum sinis. "Gitu aja kagum."


"Itu namanya ikatan cinta," goda bu Rika, membuat orang yang ada di sana tertawa.


Fahd hanya bisa menghela nafas lelah sambil sedikit menggelengkan kepala. "Yang bener aja” gumamnya.


"Lani! Sini,” ucap Restu sambil menepuk tempat di sebelahnya seperti kemarin lagi.


Leilani teringat kejadian kemarin dimana Restu tiba-tiba merangkulnya. Leilani bergidik ngeri mengingatnya.


"Cie ....” Bu Rika senang sekali menggoda mereka. "Ayo, Lela. Mau pilih duduk dekat yang mana?" ujar bu Rika sambil membetulkan kacamatanya.


Bu Rika sebenarnya adalah wanita yang cantik. Usianya baru tiga puluh tahunan. Rambutnya kriting sebahu, tapi dia selalu menggulung itu.


Penampilan bu Rika juga cukup modis. Akan tetapi, sifat bu Rika dipandang sedikit aneh oleh murid-murid yang ada di sana.


Kalevi menutupi kedua sisi dekat tempat duduknya dengan telapak tangan. "Di sini gak ada tempat."


Semua mata kini tertuju pada Leilani. Mereka melihat kemana Leilani bergerak.


"Saya di sini saja, Pak," ucap Leilani sambil mendudukkan dirinya di antara Pak Bayu dan Candra.


"Wah ... ternyata Candra pemenangnya. Hihihi,” celetuk bu Rika yang duduk di sofa.


Candra terlihat mulai salah tingkah. "Ekhm. Apaan sih, Bu?" ujar Candra sambil melirik Leilani yang duduk di sebelahnya.


"Candra lu ..." Kalevi menggantungkan kalimatnya. "Lu salting ya deket si mba Kun?"


"Apaan lu?" Candra semakin salah tingkah setelah mendengarnya.


"Hoy! Ketua!" seru Hadyan pada Leilani. "Lu darimana aja? Semua udah nunggu. Eh ... malah seenaknya."


"Maaf," ujar Leilani.


"Pak," seru Fahd sambil mengangkat tangan kananya.


"Ya. Kenapa, Fahd?" tanya pak Bayu.


"Sepertinya ... dia tidak cocok jadi ketua," ucap Fadhil.


"Ada ape nih?" celetuk Candra dengan tatapan curiga.


Semua orang yang ada di sana juga bingung dengan perkataan Fahd yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kemarin kamu juga ikut milih Lani ya?"


"Iya," timpal bu Rika yang ikut heran juga.


Fadhil kemudian beralih menatap Leilani yang ternyata juga sedang menatap dirinya.


"Setelah saya pikir-pikir ... jangankan mengurus anggota, mengurus dirinya sendiri saja dia tidak bisa." Fadhil mengemukakan alasannya.


Leilani menundukkan kepala. Memang benar apa yang dikatakan oleh Fadhil. Dirinya tidak bisa mengurus diri sendiri.


Satu sisi Leilani cukup senang karena dia bisa berhenti menjadi ketua. Tapi di sisi lain, kenyataan bahwa dirinya tidak bisa menjaga diri sendiri cukup melukai harga dirinya.


Pak Bayu dan bu Rika saling melempar pandang.


"Tidak bisa mengurus diri sendiri bagaimana?" tanya bu Rika.


Semua orang menantikan jawaban Fadhil.


"Contohnya saja barusan. Barusan gadis itu telat karena dia mengerjakan pekerjaan orang lain," tutur Fadhil mengemukakan alasannya.


Pak Bayu dan Bu Rika akhirnya mulai mengerti maksud ucapan Fadhil. Mereka terlihat sedikit menahan tawa.


"Pekerjaan orang lain? Tugas piket?" Restu mencoba memastikan.


"Yap. Bener. Tiap hari dia mengerjakan tugas piket orang," jawab Fadhil mengiyakan.


Candra menyadari bahwa orang-orang menatap aneh ke arahnya. "Maaf, Bro. Maksud gue ... Iu kan ketua kelas, harusnya lo bisa ngatur semuanya. Gitu maksud gue."


"Gadis itu yang nggak bisa diurus. Dia satu-satunya orang yang paling nggak nurut di kelas gue," ujar Fadhil dengan nada tidak suka.


Aura dingin mulai memancar dari wajah Fadhil. Ia tidak suka dibentak-bentak oleh Candra.


"Pak Bayu," bu Rika memberi kode agar pak Bayu segera melerai pertikaian mereka.


"Oke. Dengar semua. Keputusan kemarin sudah final. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat," putus pak Bayu.


"Mengenai Lani ... kamu bilang dia tidak bisa mengurus diri sendiri, bukan?" tanya pak Bayu sekali lagi.


Fadhil pun menganggukkan kepala.


Bakti dan Dimas sejak tadi hanya diam saja. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka.


Ini jauh lebih baik daripada Dimas kembali mengeluarkan taringnya. Jangan ganggu singa tidur. Begitu istilahnya?


"Bapak rasa ... justru dengan menjadi ketua, Leilani akan belajar untuk mengurus dirinya. Selain itu, Leilani juga akan sadar bagaimana beratnya tanggungjawab seorang ketua. Dengan begitu, mungkin saja Leilani tidak akan membangkang lagi pada ketua kelasnya. Ya, kan?" tutur pak Bayu panjang lebar.


Fadhil dan yang lainnya menganggukkan kepala. Sepertinya perkataan dari pak Bayu masuk ke dalam paham mereka.


Pak Bayu dan Bu Rika tersenyum karena mereka semua paham alasannya.

__ADS_1


"Oke. Lani, kamu adalah ketua. Beri intruksi pada mereka," titah pak Bayu.


Leilani menatap satu persatu orang yang ada di sana. "Intruksi apa, Pak?" tanya Leilani.


"Kamu tidak lihat ruangan ini? Menurut kamu, apa yang harus kita lakukan terlebih dulu?" ujar pak Bayu.


"Emh ... bersih-bersih?" tanya Leilani.


"Yap. Betul sekali. Kegiatan pertama klub ini adalah bersih-bersih," ucap pak Bayu semangat.


Candra menghela nafas lelah. "Ternyata bener gosipnya. Klub ini kegiatannya cuma bersih-bersih aja," keluh Candra.


Pak Bayu dan Bu Rika tersenyum mendengarnya.


"Ini bagian dari pelajaran di klub ini. Bagaimana cara kita menghargai sesuatu yang kita miliki. Bukannya klub ini milik kalian? Maka dari itu, kalian yang harus merawat dan juga membangunnya," tutur bu Rika bijaksana.


"Tunggu, Bu. Kenapa kedengerannya jadi serius gini ya?" ujar Candra.


"Hah?" Kini giliran bu Rika yang salah tingkah. "Terlalu serius ya?" ujar bu Rika sambil nyengir kuda.


Prok


prok


prok


Pak Bayu bertepuk tangan untuk menarik perhatian semua orang.


"Ya sudah. Bapak dan bu Rika pulang dulu. Lani, tolong awasi mereka. Pokoknya, besok pagi, ruangan ini harus sudah bersih tanpa noda," tutur pak Bayu yang kemudian berdiri dari duduknya.


Pak Bayu dan bu Rika pun mengambil tas mereka, hendak pergi dari sana.


"Oke. Kita sewa tukang bersih-bersih aja gimana?" usul Candra. "Lagian biayanya juga gak seberapa."


"Tidak, tidak." Bu Rika dan pak Bayu yang masih ada di sana mendengarnya.


"Tidak ada sewa-sewaan tukang bersih-bersih segala. Pokoknya kalian harus mengerjakannya sendiri. Ini kegiatan sakral klub kita," tutur pak Bayu.


"Ribet amat sih, Pak,” protes Candra.


"Jangan protes. Ingat surat perjanjian kita.” Pak Bayu kembali mengingatkan ketujuh pemuda tersebut. "Harus patuh pada pak Bayu, bu Rika dan juga ketua. Kalau melanggar ... bapak yakin kalian tau akibatnya."


Pak Bayu beralih pada Leilani. "Oh ya, Lani. Awasi mereka. Jangan takut. Kamu aman. Semua sudah tertera di dalam surat perjanjian.”


"Kalau mereka macem-macem sama kamu, cepet lapor ibu, oke?" timpal bu Rika.


Hadyan memutar bola matanya bosan. "Ya gak mungkin lah, Bu. Dia bukan tipe kita," ujar Hadyan.


***

__ADS_1


__ADS_2