Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Orang Misterius


__ADS_3

"Haus juga," Leilani berhenti di bawah pohon rindang.


la membuka tasnya. Di dalam sana terdapat sebotol minuman pemberian Restu saat mereka pulang.


'Kalo nangis ... nanti orang-orang curiga.'


'Bagaimana kalau nanti mereka jadi membenci mama?'


'Atau mungkin melaporkan mama ke penjara.'


'Nggak. Aku nggak mau mama dipenjara.'


'Aku gak mau kehilangan mama.'


Leilani pun segera menghapus air matanya. la tidak mau orang-orang melihatnya.


'Tapi aku harus kemana?'


Leilani mulai bingung.


'Apa lebih baik aku hubungi Candra?'


Leilani pun mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya. Namun ternyata, baterai ponselnya sudah habis. Maklum. Ini adalah ponsel lama. Hanya bertahan beberapa jam saja.


'Apa mending di sini aja ya?'


'Tapi aku takut.'


'Rumah Candra ... terlalu jauh.'


Tiba-tiba, sebuah tempat terlintas di pikirannya.


'Klub spesial.'


Leilani tersenyum bahagia karena sudah menemukan solusi untuk malam ini. Mungkin besoknya, baru ia akan meminta bantuan Candra.


Leilani mempercepat langkahnya ketika ia melihat cuaca yang semakin mendung. la harus segera sampai supaya tidak kehujanan.


Saat Leilani hampir sampai, tiba-tiba turun hujan. Leilani berlari ke bagian belakang. Ini adalah jalan yang dilalui Candra ketika Candra ingin menyusup ke klub spesial.


'Basah.'


Leilani memeras bajunya di bagian belakang. Setelah itu, baru ia masuk ke dalam ruangan.


Leilani melihat sekeliling sebelum menapakkan kakinya ke dalam ruangan. Ia mencari sesuatu yang bisa ia pakai.


Tapi ternyata nihil. Tidak kain apapun di sana. Kecuali kain gorden tentunya.


'Ya sudah. Aku akan lap saja besok.'


Leilani melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Tetesan-tetesan air mengucur di bekas langkahnya.


Leilani pun duduk di kursi kayu yang ada di sana. Ia tidak mau membasahi barang-barang yang ada di sana. Karena itu mahal. Pikirnya.


Satu jam, dua jam, Leilani mulai bosan.


la melihat rok miliknya yang sudah tidak bercucuran lagi.


Leilani pun mulai berkeliling di sana. Mulanya ia mengamati komputer Candra. Akan tetapi, lemari di sudut sana jauh lebih menarik perhatian Leilani.

__ADS_1


Leilani pun membuka kedua pintunya. Di sana terdapat banyak makanan juga. Itu adalah ulah Candra.


Di sisi satu lagi, terdapat beberapa buku yang jauh lebih menarik perhatian Leilani.


Leilani tentu bisa menebak pemiliknya. Pasti itu adalah milik Fadhil. Siapa lagi diantara kedelapan anggota ini yang paling rajin belajar? Tentu saja Fadhil.


Leilani menarik salah satu buku di sana. Itu adalah buku matematika. Ini bukan buku dari sekolah, sepertinya Fadhil membeli sendiri bukunya untuk berlatih.


Leilani pun membawa buku itu ke atas meja. Leilani berdecak kagum. Ini adalah soal-soal yang disukainya.


Saking asyiknya mengerjakan soal di buku itu, Leilani bahkan sampai ketiduran.


***


Cklek


Seseorang membuka pintu ruangan klub spesial.


Orang itu kelihatan terkejut karena ada Leilani di sana.


Orang tersebut kembali menutup pintu ruangan klub. la kemudian melangkah mendekat pada Leilani.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Tidak ada respon apapun dari Leilani. Ia tetap pada posisi tidurnya.


Orang itu melihat wajah pucat Leilani. Ia pun memberanikan diri untuk menyentuh keningnya. Memastikan kondisi tubuh gadis di hadapannya.


Orang itu menyentuhkan punggung tangannya pada kening Leilani. "Demam tinggi."


Tatapan mata orang itu kini beralih pada tetesan air yang ada di lantai.


Orang itu mengerutkan keningnya. Ia kemudian menyentuh sedikit bagaian seragam Leilani untuk memastikannya.


Baju Leilani belum kering sepenuhnya. Masih terasa sekali lembab di bajunya. Rambutnya juga belum mengembang seperti biasanya.


Orang itu membuka jaketnya untuk menyelimuti bagian tubuh Leilani.


Orang itu kemudian pergi untuk mengambil kotak P3K di UKS. Beruntung UKS tidak dikunci. Hal ini memang dimaksudkan untuk mempermudah para siswa dan siswi di sana.


Orang itu kembali. Ia hendak membangunkan Leilani. Akan tetapi gerakan tangannya terhenti ketika ia melihat luka di sudut bibir Leilani.


"Bukannya kemarin tidak ada?"


Orang itu pun bergegas membuka kotak P3K dan langsung mengobatinya. Ia juga mengompres Leilani supaya demamnya cepat turun.


la menarik satu kursi lagi dan kemudian duduk menghadap Leilani. Ia memperhatikan wajah Leilani yang masih terdapat bekas tamparan di sana.


"Pasti ada yang memukul dia," ucap orang itu sambil melihat luka disudut bibir Leilani.


Pandangan orang itu tiba-tiba tertuju pada buku coretan Leilani. Ia membuka lembar demi lembar di setiap isinya.


"Benar. Kamu memang orangnya," ujar orang itu sambil menatap wajah Leilani.


Orang itu kemudian melihat jam ditangannya. Sepertinya para murid akan segera tiba. Ia pun segera pergi lewat jendela.


***


Restu adalah orang pertama yang datang ke klub spesial.

__ADS_1


la sedikit terkejut karena pintunya tidak terkunci. Ketika ia masuk ke dalam, ia lebih terkejut lagi karena menemukan Leilani dengan kotak P3K di dekatnya.


Restu langsung menghubungi pak Bayu, bu Rika dan keenam anggota lainnya.


"Cepat ke sini. Ada kondisi darurat," tulis Restu dalam grup chat.


Tak butuh waktu lama, semua orang pun sudah berkumpul di sana. Mereka juga sangat terkejut melihat keadaan Leilani.


"Lely! Lo kenapa?" tanya Candra yang kelihatan sekali paling khawatir diantara mereka semua.


"Tutup pintu," titah pak Bayu.


"Dia demam," jawab Restu yang sebelumnya sudah duluan mengecek suhu tubuh Leilani.


Candra terlihat sangat khawatir. Ia pun membopong tubuh Leilani dan kemudian membaringkannya di sofa.


Candra menutupi bagian tubuh Leilani dengan jaket yang ada di sana. Entah milik siapa.


"Dia kenapa?" tanya Hadyan penasaran.


Restu pun menceritakan kronologi kejadiannya.


"Jadi, kotak P3K sama makanan itu udah ada di sini?" tanya pak Bayu.


Restu mengiyakannya.


"Jaket itu ...." Fadhil melihat jaket yang menutupi tubuh Leilani.


"Kayaknya nggak mungkin gadis itu pemiliknya," ujar Fadhil. "Itu jaket mahal."


"Berarti ada seseorang yang bersama Lela di sini.” Bu Rika mencoba menghubungkan berbagai tanda yang mereka miliki.


Leilani mengerjapkan matanya. Ia terlihat pucat dan lemah. Sepertinya ia terbangun karena suara berisik orang-orang yang ada di sana.


Candra cekatan mengambil air hangat dari dispenser dan memberikannya pada Leilani.


"Lani, siapa yang semalam sama kamu di sini?" tanya bu Rika.


Leilani menggelengkan kepalanya.


"Kamu yang ambil sendiri kotak itu?," tanya pak Bayu.


Leilani kembali menggelengkan kepalanya.


"Apa salah satu dari kalian?" tanya bu Rika.


"Gak mungkin, Bu. Kita baru aja dateng," jawab Kalevi.


"Apa jangan-jangan, penguntit itu?!" pekik bu Rika.


"Sekarang itu terdengar masuk akal," ujar Fadhil mengemukakan pendapatnya.


Semua mendengarkan pendapat Fadhil dengan seksama.


"Orang yang dulu membeli headset itu ... hanya orang yang punya cukup uang yang mampu membelinya. Lalu jaket itu ...." Fadhil tidak meneruskan ucapannya. Namun ia yakin mereka mengerti maksudnya.


"Penguntit itu orang yang sama?" tebak Kalevi.


Fadhil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dan paparazi itu ...." Candra tiba-tiba teringat pada orang yang diam-diam memotret dirinya dan Leilani. "Bener! Ada penguntit," ujar Candra.


***


__ADS_2