
Candra menarik Leilani untuk langsung pulang. Setelah mereka berada di depan gerbang, barulah Candra kembali bicara.
"Ly! Jangan terlalu deket sama mereka!" kata Candra.
"Kenapa? Apa masalahnya?" balas Leilani.
Candra menatap Leilani dengan tatapan tak percaya. "Apa masalahnya?!" ulang Candra.
"Lo masih tanya apa masalahnya?" kata Candra setengah emosi.
Leilani diam mendengarkan ocehan Candra.
"Lo buta? Lo tuli? Enggak, kan? Lo pasti denger gimana omongan orang-orang. Mereka makin parah ngatain lo, Ly. Mereka ngejelek-jelekkin elo. Mereka ngatain lo cewek gak bener. Bahkan mereka sampe mitnah lo segala. Mereka bilang elo pemilik rokok itu. Sakit hati gue Ly, dengernya," tutur Candra meluapkan isi hatinya.
Leilani mengerti. Candra pasti sangat khawatir padanya. Tapi ia tidak mau menjauhi teman-temannya. Hanya mereka yang Leilani punya saat ini.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Leilani dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Haruskah aku membuang mereka, padahal hanya mereka teman yang aku punya saat ini. Dan lagi, dekat ataupun tidak dengan mereka, orang-orang akan tetap benci aku, kan? Jadi aku sudah tidak peduli lagi," tutur Leilani.
Kini, Candra yang diam sambil mendengarkan curahan hati Leilani.
"Kamu tau, saat aku dituduh mencontek? Fadhil lah yang membantu aku. Saat pacar kamu mempermalukan aku di depan umum, Restu lah yang membawa aku. Dan kamu tau, Hadyan adalah teman kecil aku. Dan yang lainnya, meski kadang mereka berkata kasar, tapi pada kenyataannya mereka sangat baik memperlakukan aku. Haruskah aku kehilangan mereka demi orang-orang yang membenciku?" ucap Leilani yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
Melihat Leilani yang menangis, Candra pun jadi merasa iba sekaligus merasa bersalah juga. Apa ia sudah keterlaluan pada sepupunya?
Jika di pikir-pikir, yang dikatakan oleh Leilani memang ada benarnya juga. Mereka sebenarnya tidak seburuk itu. Tapi masalahnya, Candra tidak mau sampai Leilani terluka karena semakin banyak yang membencinya.
"Maafin gue, Ly. Gue cuma takut lo kenapa-kenapa," ucap Candra tulus.
Leilani menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku tau kok, kamu sangat menyayangi aku. Makanya kamu bilang begitu."
"Syukur deh kalo lo paham," kata Candra lega.
"Tapi ... lo gak beneran suka, kan, sama mereka? Lo cuma nganggep mereka temen aja, kan?" kata Candra memastikan.
Leilani menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Ya udah. Kalo gitu udah cukup. Gue udah lega dengernya."
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Leilani dan teman-temannya kembali berkumpul di ruangan klub spesial. Sebenarnya mereka juga tidak tahu ada apa. Karena pak Bayu dan bu Rika lah yang menyuruh mereka.
"Loh, Dimas mana?" tanya bu Rika yang tidak melihat keberadaan Dimas di sana.
"Dimas izin katanya, Bu," jawab Bima.
"Izin. Tumben. Ada urusan apa memangnya?" tanya bu Rika lagi.
"Saya juga kurang tau, Bu," jawab Bima lagi.
"Nanti kamu tanyakan ya, Lela," titah bu Rika.
Leilani pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Bapak dan ibu Rika datang ke sini hanya untuk mengingatkan kalian tentang masalah puntung rokok itu." Pak Bayu mulai pada topik pembicaraan utama.
Bu Rika mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan pak Bayu. Sementara para anggota, mereka diam dan mendengarkan dengan seksama.
"Sepertinya, pemilik puntung rokok itu mulai berhati-hati saat ini. Jadi kita akan lebih sulit untuk menemukan pelakunya."
"Kita tunggu saja dulu untuk saat ini. Baru nanti saat pemilik rokok itu mulai lengah, kita bisa mendapatkannya," tutur pak Bayu. "Terus awasi orang-orang di sekitar kalian. Segera laporkan jika ada yang mencurigakan. Kalian mengerti?"
Mereka semua pun mengangguk mengerti.
"Oh iya. Ibu juga mau berpesan, kebun kalian jangan sampai tidak terawat. Urus kebun kalian dengan sepenuh hati, seperti anak kalian sendiri," ujar bu Rika.
"Dan untuk masalah intern yang ada diantara kalian, ibu tidak akan ikut campur lagi. Itu terserah kalian. Yang penting, jangan sampai kegiatan di klub ini terganggu karena pertengkaran kalian," tutur bu Rika panjang lebar.
Setelah mengatakan itu, pak Bayu dan bu Rika pun pamit undur diri dari sana.
Sesaat setelah pak Bayu dan bu Rika keluar, Candra menyuruh Leilani untuk membelikan makanan untuk mereka semua.
Leilani pun langsung menyetujuinya begitu saja. Sementara para anggota lain, mereka menaruh curiga pada Candra. Tidak biasanya Candra membelikan makanan secara khusus untuk mereka semua.
Sepeninggal Leilani, Candra pun kembali angkat bicara. "Gue mau bilang satu hal penting sama kalian semua," ujar Candra.
"Hal penting apaan? Lo mau ngajak kita ngegame bareng?" tebak Kalevi.
__ADS_1
"Gue minta kalian jauhin sepupu gue," kata Candra tegas.
Para anggota yang ada di sana kelihatan sedikit bingung.
Melihat itu, Candra pun kembali bersuara. "Halah. Gak usah pura-pura lagi. Gue tau kalian pada caper sama sepupu gue. Tapi gue ingetin, mulai sekarang ... jangan pernah deketin dia. Kalau kalian masih nekat, kalian bakal berhadapan sama gue!" ancam Candra dengan wajah serius.
Namun, apa yang terjadi, para anggota klub justru malah menertawakan Candra.
"Lo yakin Bro, mau ngadepin kita?" kata Bima sambil tertawa.
"Gue lumayan loh kalo soal berantem," lanjut Bima bercanda.
"Gue juga pemegang sabuk hitam. Ya kalo lo mau coba duel sih, gue terima-terima aja," timpal Restu yang juga masih tertawa geli dengan kelakuan Candra.
Mendengar itu, Candra menjadi gelagapan sendiri. Niat hati mau mengancam mereka, tapi malah Candra yang ditantang balik oleh mereka semua.
"Terserah, terserah. Yang jelas, si Lely gak akan pernah suka sama kalian," kata Candra frustasi.
"Kenapa?" kali ini Fadhil yang angkat bicara.
Candra menunjukkan wajah sombongnya. Pasti kali ini para anggota tidak akan bisa lagi membalas perkataannya.
"Si Lely udah suka sama seseorang. Tapi bukan salah satu diantara kalian. Jadi jangan pernah mimpi!" kata Candra sambil tersenyum puas.
Para anggota kelihatan sedikit terkejut dengan pernyataan Candra.
"Paling itu cuma akal-akalan lo aja," kata Kalevi yang tidak mau percaya begitu saja.
Candra tertawa lebar mendengar ucapan Kalevi. "Ya terserah sih kalo kalian semua gak percaya."
"Siapa orangnya?" tanya Fadhil lagi.
Candra mengangkat sudut bibirnya mendengar pertanyaan Fadhil. Mereka semua pasti sangat penasaran dengan pria yang disukai oleh Leilani.
"Dia ada di sekolah kita. Tapi ... kalian gak bakal mungkin bisa nyaingin dia," kata Candra optimis. "Sekali lagi gue tegasin ... gak mungkin!!"
Para anggota pun mulai menerka-nerka siapa pria yang disukai oleh Leilani. Sebaik apa pria itu? Setampan apa pria itu? Sekeren apa pria itu? Sampai-sampai Candra berkata bahwa mereka tidak mungkin bisa menyainginya.
Apa pria itu kakak kelas mereka? Atau satu angkatan dengan mereka. Mereka semua terus menerka-nerka dalam benaknya.
__ADS_1
***