Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Kotak Bekal


__ADS_3

"Welcome home, my sister," kata Rosa sambil tertawa.


Leilani hanya diam sambil menghela nafasnya.


"Lo harus berterimakasih sama gue, karena gue udah bujuk mama supaya lo bisa balik ke sini," kata Rosa sambil tersenyum.


Ternyata ini rencana Rosa. Pasti Rosa sangat rindu untuk membuat Leilani menderita. Pikir Leilani dalam benaknya.


"Mana makasihnya?" kata Rosa.


"Makasih," kata Leilani sekedarnya.


"Non Lely," teriak bi Sumi.


Leilani dan Rosa menoleh ke sumber suara. Itu adalah bi Sumi. Bi sumi kelihatan sangat bahagia sekali melihat Leilani.


"Bibi," seru Leilani.


Wajah sedih Leilani kini kembali berganti menjadi wajah bahahia setelah melihat Bi Sumi.


Leilani pun langsung menghampiri bi Sumi dan kemudian memeluknya erat-erat. Leilani sungguh sangat rindu pada bi Sumi. Ya, meskipun mereka selalu berkomunikasi setiap hari, tapi tetap saja Leilani rindu pada bi Sumi.


Rosa mendelikkan matanya melihat mereka berdua. "Si Lani emang levelnya sederajat sama pembantu. Pantes aja kalian cocok," gumam Rosa.


Setelah mengatakan itu, Rosa pun langsung pergi dari sana.


Sementara itu, Leilani dan bi Sumi pergi ke kamar Leilani. Dan Leilani pun menceritakan kronologinya sampai ia bisa kembali ke rumah ini.


***


Leilani sedang asyik fokus mengerjakan PR miliknya, dan juga milik Rosa tentunya. Tiba-tiba, ponsel Lani berbunyi.


Drrrt drrtt drrttt


Ada sebuah notifikasi di ponselnya. Ternyata Fadhil mengirim sebuah pesan padanya.


'Besok bawain gue bekel.'


'Buktiin kalo lo emng mau jadi temen gue.'


Begitulah isi pesan dari Fadhil pada Leilani.


'Iya,' balas Leilani.


Leilani tentu langsung mengiyakan permintaan Fadhil. Secara, Leilani sedang berusaha untuk mendapatkan maaf darinya.


'Mau sekalian sama minumnya?' tanya Leilani dalam pesannya.


'Gak usah,' balas Fadhil.


Leilani pun langsung memikirkan menu bekal untuk besok pagi. Ia pun pergi ke dpur untuk mengecek bahan makanannya.


Ada banyak bahan makanan di kulkas. Jadi Leilani tak perlu khawatir untuk menyiapkan bekal besok pagi.


***


Keesokan harinya.


"Non, kok bekalnya ada dua? Tumben non Rosa mau bawa bekel ke sekolah," kata bi Sumi yang melihat Leilani menyiapkan dua bekal.


"Bukan, Bi. Ini bukan buat Rosa," kata Leilani tanpa menghentikan kegiatannya.


"Terus buat siapa?" tanya bi Sumi.

__ADS_1


"Buat Fadhil, Bi," jawab Leilani.


Bi Sumi tidak yakin dengan apa yang ia dengar. "Fadhil?" ulang bi Sumi.


"Iya."


Bi Sumi tersenyum mendengarnya. Ia ikut senng jika Leilani sudah mendapat teman sekarang.


"Temen Non Lely ya?" kata bi Sumi.


Mendengar pertanyaan itu, Leilani pun langsung menghentikan kegiatannya. Leilani kelihatannya sesang memikirkan sesuatu di benaknya.


"Kenapa, Non?" tanya bi Sumi pada Leilani.


"Fadhil itu ... iya temen Lely. Tapi saat ini bukan teman sih .... kayaknya," jawab Leilani.


Leilani bingung juga, karena status pertemanannya dengan Fadhil sedang dipertaruhkan saat ini.


Bi Sumi tiba-tiba tersenyum aneh sambil melihat pada Leilani. Senyuman khas nenek-nenek, tapi menenangkan jiwa.


"Pacar ya?" tebak bi Sumi.


Leilani sedikit kaget dengan ucapan bi Sumi. Bagaimana bisa bi Sumi berkata bahwa Fadhil adalah pacarnya.


"Bukan, Bibi," bantah Leilani.


"Oh ... masih PDKT ya, Non?" tanya bi Sumi.


"Engga, Bibi."


"Udah, Non. Gak usah malu sama bibi. Gak papa. Lagian wajar kok kalau ada rasa suka," tutur bi Sumi dengan nada keibuan.


"Tapi inget, kalau cowok itu sikapnya buruk, mending Non Lely jauhin aja. Ya?" lanjut bi Sumi.


"Iya, Bi. Bibi tenang aja. Dia orangnya baik kok. Dia juga pernah bantuin Lely waktu Lely kena masalah di sekolah," kenang Leilani.


***


Leilani melepaskan tas punggungnya dan kemudian mengeluarkan sebuah kotak bekal untuk Fadhil.


"Ini," kata Leilani sambil menyerahkan sebuah kotak bekal berwarna pink pada Restu.


"Itu?" kata Fadhil.


"Iya. Kenapa?" tanya Leilani karena Fadhil tidak segera menerimanya.


Fadhil menghela nafasnya. "Masa warna pink. Ada gambar bonekanya lagi. Kayak anak TK," kata Fadhil.


Leilani memperhatikan kotak bekal itu. Memng benar sih, modelnya seperti kotak bekal anak TK. Tapi Leilani sangat menyukainya.


"Jangan cuma liat luarnya, liaylt juga isinya," kata Leilani. "Tapi kalau kamu gak mau ya udah."


Leilani kembali menyodorkan kotak bekal itu pada Fadhil. Namun, karena Fadhil tidak kunjung menerimanya, maka Leilani pun memasukkan kembali kitak bekal itu ke dalam tasnya.


"Eits! Kenapa malah dimasukin lagi?" kata Fadhil tidak terima.


"Katanya kamu gak mau barusan," ucap Leilani.


"Siapa yang bilang?" balas Fadhil.


Akhirnya, Leilani pun mengeluarkan kotak bekal itu lagi dan menyerahkannya pada Fadhil.


Fadhil pun mengambil kotak bekal itu dari tangan Leilani.

__ADS_1


"Gue mau makan dulu. Tungguin," kata Fadhil.


"Sekarang?" tanya Leilani.


"Iya."


"Tapi gimana kalau sampai kesiangan?" kata Leilani.


Fadhil pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan kemudian menunjukkannya pada Leilani.


"Masih pagi," kata Fadhil. "Lagian katanya mau minta maaf. Seenggaknya tunjukin usahanya."


Leilani pun akhirnya menurut kembali. Mereka pun duduk di tepi jalan dibawah pepohonan.


"Isinya apa?" tanya Fadhil.


"Buka aja," kata Leilani.


Fadhil pun mengangguk dan kemudian mulai membuka kotak bekal itu dengan antusias.


Akan tetapi, saat mendapati isinya, ekspresi wajah Fadhil langsung berubah seketika.


"Ini apa?" kata Fadhil pada Leilani.


Leilani mengerutkan kening melihat ekspresi Fadhil. Memang ada masalah dengan bekalnya? Perasaan tidak. pikir Leilani.


"Itu nasi. Sama mie," jawab Leilani.


"Iya tau," balas Fadhil.


"Terus masalahnya apa?" tanya Leilani.


Fadhil sedikit memicingkan matanya. "Kata lo jangan cuma liat luarnya, liat juga isinya."


"Iya. Masalahnya dimana?"


Fadhil menggelengkan keplanya pelan karena tak habis pikir. Bukannya Leilani juga pintar. Masa Leilani tidak tahu apa maksudnya. Pikir Fadhil dalam benaknya.


"Masa sarapan sama mie. Harusnya sarapan itu sama makanan yang lebih sehat, Lani," kata Fadhil sambil menepuk kecil kepala Leilani dengan kotak bekal di tangannya.


"Aw," pekik Leilani.


Fadhil tersenyum melihat ekpresi Leilani. "Sorry. Abisnya lo pinter, tapi gak ngerti," kata Fadhil masih dengan senyuman tampannya.


Leilani yang duduk tidak jauh dari Fadhil tanpa sadar terpesona.


Deg deg deg


Leilani menyadari bahwa hatinya berdebar-debar melihat senyuman Fadhil.


'Apa-apaan ini? Masa diketok pakai kotak bekal, bukannya kesal, aku malah senang?'


'Sadar Lani. Sadar.'


'Fadhil berbahaya. Aku harus hati-hati kedepannya.'


Leilani menggeleng-gelengkan kepalanya supaya kewarasannya kbali lagi.


Fadhil yang melihat itu, menautkan alisnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Tidak ada. Cepat makan saja. Nanti kita telat. Kalau kita sampai telat, kamu harus bertanggungjawab ya," kata Leilani.


"Tenang aja. Kalo dihukum pun kan ada temen kalo berdua," kata Fafhil dengan entengnya.

__ADS_1


Sekarang, giliran Leilani yang menggelengkan kepala. Bagaimana bisa Fadhil berkata begitu. Kemarin-kemarin saja mereka sudah mendapat peringtan dari guru.


***


__ADS_2