
Pak bayu menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Fadhil, Lani!" seru pak Bayu pada Fahd dan juga Leilani yang duduk di bangku mereka masing-masing.
Leilani duduk di pojok belakang sebelah kanan, sedangkan Fahd duduk di pojok kiri dekat jendela.
Fahd duduk di pojok belakang bukan tanpa alasan. Ia duduk di sana supaya lebih mudah mengawasi semua orang. Secara, dia adalah ketua kelasnya.
"Selesai pelajaran mampir dulu sebentar ke markas," pinta pak Bayu dengan senyum cerahnya.
Fadhil menganggukkan kepalanya. Sedangkan Leilani, dia hanya diam saja.
Orang-orang yang ada di sana mulai bergosip ria. Para siswi tentu saja iri pada Leilani. Sedangkan para siswa, mereka berharap bisa masuk circle itu juga.
"Fahd!" panggil teman sebangku Fadhil yang bernama Romi.
"Hm?" balas Fahd singkat sambil terus fokus pada buku yang sedang dibacanya.
"Gue boleh masuk klub itu juga, kan?" rengek Romi pada teman sebangkunya ini.
"Nggak," jawab Fahd acuh tak acuh.
"Gimana sih, Bro. Kita kan sohib," bujuk Romi sambil membenturkan bahu mereka.
"Oh," balas Fahdil acuh.
Romi akhirnya menyerah. Ini tidak akan mudah. Jika Fadhil sudah memutuskan, maka itu lah hasilnya.
Fadhil kemudian berdiri dari duduknya.
"Kemana, Bro?" tanya Romi.
Fadhil tidak menjawabnya. Ia berlagak seolah tidak mendengar pertanyaan teman sebangkunya.
Dan tiba-tiba saja, seorang siswi cantik tidak sengaja menjatuhkan makanannya yang ada di kantong kresek. Tepat di hadapan Fadhil.
Fadhil berhenti sebentar dan kemudian mengatakan, "tolong cepat bereskan!" dengan nada datarnya.
Fadhil pun sedikit berbelok dan kemudian melanjutkan langkahnya.
Siswi cantik itu pun menunjukkan raut kecewa. Rencananya gagal.Ia kira, Fadhil akan membantunya. Tapi ternyata tidak.
Siswi cantik itu diketahui bernama Rosa. Rosa pun mulai memunguti camilan yang dibelinya.
"Lani!!" bentak seorang siswi yang merupakan teman sebangku Rosa. "Bisa nggak sih lo itu beli jajan sendiri?! Lo punya tangan, kan?!"
"Gue tau lo itu iri sama Rosa. Tapi ya nggak gini juga!!!" lanjut Gina yang merupakan teman sebangku Rosa.
Leilani hanya diam. Ia sudah tidak peduli. Hal seperti ini memang sudah sering terjadi. Rosa memutarbalikkan fakta sehingga Leilani yang terkesan jahat di sini.
__ADS_1
Leilani sudah berusaha menjelaskan semuanya. Tapi mereka tetap tidak percaya.
Gina berdiri dengan emosi. "Lo nggak mikir apa?! Lo tuh beruntung punya sahabat kayak Rosa. Dia tetep baik sama lo meski lo cuma bisa iri dan bikin Rosa menderita. Jijik tau nggak!!!"
Orang-orang di sekolah memang sudah terhasut oleh omongan Rosa. Rosa mengatakan bahwa ia dan Leilani dulunya sahabat. Hubungan mereka memburuk karena Leilani iri padanya. Leilani iri pada kecantikan dan juga kekayaan Rosa.
Rosa mengatakan bahwa dirinya seringkali ingin membantu Leilani, tapi Leilani selalu menolaknya. Dan Leilani malah balik membencinya.
Rosa juga bilang, Leilani berkata bahwa Leilani akan kembali baik pada Rosa asal Rosa membelikan makanan untuknya setiap hari.
Rosa bilang, mungkin Leilani sengaja melakukannya agar Rosa terlihat seperti kacung untuk Leilani.
Kebohongan besar memang. Tapi itulah yang murid sekolah ini percayai.
Itulah asal muasal kenapa banyak sekali orang yang membenci Leilani. Bagi mereka, Leilani terlihat seperti orang bermuka dua. Leilani berlagak lemah. Padahal busuk hatinya.
"Nggak apa-apa, guys. Udah. Kasian Lani."
Rosa lagi-lagi pura-pura membela Leilani.
Romi yang memang sudah lama naksir Rosa ikut emosi. "Lo budeg ya?!!"
Leilani tidak peduli. Ia hanya duduk diam sambil memegang erat bukunya.
Fahd kembali masuk ke dalam kelas. Ternyata dia tidak kemana-mana. Dia hanya berjongkok di depan kelasnya.
"Berisik," ucap Fadhil sambil berjalan menuju bangkunya.
"Maaf, Fahd ..." tutur Rosa dengan wajah menyesal.
"Kayak anak kecil aja,” gumam Fadhil.
Rosa pun berjalan menghampiri Leilani dan kemudian memberikan kresek berisi makanan tersebut.
"Ini," ujar Rosa sambil menunjukkan senyum sinisnya pada Leilani.
Leilani pun menerima seperti biasanya. "Oh. Makasih," ucap Leilani dengan polosnya.
Leilani memang tidak pernah menolak jajanan yang diberikan Rosa. Bagi Leilani, keadaan ini sedikit baik untuknya.
Leilani tidak pernah diberikan uang jajan ke sekolah. Makanya, saat Rosa membelikan jajanan, ia langsung menerimanya. Toh, diterima atau tidak, teman-temannya akan tetap membencinya.
Rosa pun kembali ke bangkunya. Ia kembali menunjukkan wajah palsu pada orang-orang di sekitarnya.
Leilani melihat ke sekeliling. Semua orang mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Mereka juga berbagi makanan satu sama lain.
Ada rasa sedih ketika melihatnya. Leilani tidak punya satu pun teman di sisinya. Tidak ada tempat untuk berbagi suka dan duka.
Selama ini, Leilani selalu berdoa sehabis sholatnya. Dia selalu berdo'a agar suatu hari nanti ia juga akan mempunyai sahabat dekat seperti orang-orang pada umumnya.
__ADS_1
***
"Pak, kenapa klub ini banyak acara sih?" celetuk candra.
Mereka semua sudah berkumpul di sana, kecuali Leilani. Entah kemana dia.
"Baru gini aja. Coba liat klub lain! Mereka udah mulai kegiatan. Kita belum mulai apa-apa," jawab pak Bayu.
"Ya iyalah, Pak. Mereka kan jelas kegiatannya. Dahlah, kalo ribet gini mending saya keluar aja, Pak," lanjut Candra.
"Keluar aja. Lebih bagus kalo lo gak ada," ujar Hadyan.
"Ishh. B*nc* s*al*n !!" ucap Candra sambil mengepalkan tangannya.
"Stop!!" titah pak Bayu. "Kalau mau keluar, ya silakan!!" tantang pak Bayu pada Candra.
Semua orang menatap pak Bayu curiga. Tidak mungkin pak Bayu membiarkan anggota keluar semudah itu.
"Tapi ... kalian harus tanggung resikonya," ujar pak Bayu sambil tersenyum mencurigakan.
Pak Bayu kemudian mengeluarkan surat keanggotaan yang sudah mereka tandatangani kemarin.
"Baca ini!" titah pak Bayu sambil menyodorkan kertas putih itu pada Candra.
"What?!!!" kaget Candra setelah membaca isinya.
Pak Bayu tersenyum puas melihat reaksi Candra.
Keenam pemuda lainnya yang penasaran kemudian membaca surat keanggotaan mereka masing-masing.
Ternyata banyak poin penting yang tidak mereka baca.
"Masuk gratis, keluar bayar. Masa gini sih, Pak," protes Candra.
"Lagian kalo mau keluar percuma juga. Lo kan gak punya bakat apa-apa. Pffttt." Kalevi mencoba menahan tawa.
"Ya udah, lah. Gak jadi, Pak," ujar Candra akhirnya.
Pak Bayu kembali tersenyum. "Jangan lihat itu saja. Lihat juga poin yang menguntungkannya. Tidak ada aturan ketat. Kita juga bebas berekspresi. Klub ini lebih terbuka daripada klub lainnya. Dan satu lagi, kalian bebas menggunakan ruangan ini. Anggap saja milik sendiri," tutur pak Bayu panjang lebar.
"Ya udah. Kalo gitu sekarang kita mau apa?" tanya Candra mewakili semuanya.
"Eits, eits, eits!! Tunggu dulu. Masa mau mulai tapi ketuanya belum ada," ujar bu Rika yang entah kapan datangnya.
"Si mba Kun kemana woy?" tanya Kalevi pada Fadhil. "Lo kan sekelas sama dia."
"Bentar lagi juga dateng," jawab Fadhil malas.
Tak lama kemudian, Leilani pun benar-benar datang.
__ADS_1
***