Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Rahasia Antara Kita


__ADS_3

Bu Anjani mengajak pak Bayu, bu Rika, dan juga Fahd untuk berunding bersama dengan kepala sekolah. Sementara itu, Candra menjaga Leilani selagi mereka pergi.


Tak lama kemudian, mereka semua kembali ke UKS bersama dengan Indri. Dan ternyata Leilani sudah sadar. Wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Saya minta maaf, Bu. Ini salah saya. Indri tidak salah apa-apa," ujar Leilani dengan wajah memelas hampir menangis.


Leilani kemudian melihat Indri yang hanya berdiri sambil menundukkan kepalanya.


"Bu Anjani sudah mengumumkan bahwa kalian berdua tidak bersalah," ujar bu Rika mencoba menenangkan Leilani.


Leilani kelihatan sedikit terkejut. Ia masih belum mengerti maksud ucapan bu Rika.


"Jadi kamu gak usah takut lagi ya," pinta bu Rika.


"Tapi ibu ada satu syarat," ujar bu Anjani tiba-tiba.


"Syarat?" ulang Candra.


Bu Anjani menganggukkan kepala sambil menghela nafasnya. "Iya. Syarat."


"Syarat apa?" tanya Leilani.


"Tadi di kelas ... Fadhil mengatakan bahwa kalian menjadi peringkat satu dan dua di ajang lomba SMP. Ibu mau kalian bersaing lagi seperti dulu," tutur bu Anjani.


Leilani kelihatan sangat terkejut dengan syarat yang diajukan oleh bu Anjani.


"Maaf, Bu. Tapi saya tidak bisa," tolak Leilani.


"Oke. Maka Indri akan menerima hukuman sesuai dengan perbuatannya," ancam bu Anjani.


Pak Bayu dan bu Rika saling memandang satu sama lain. Tanpa Leilani ketahui, ini sebenarnya adalah rencana mereka berdua.


"Pokoknya ibu tidak mau tau. Mulai minggu depan, ibu tidak ingin lagi melihat Leilani yang pura-pura dungu," ujar bu Anjani.


Setelah mengatakan itu, bu Anjani pun langsung pergi.


Pak Bayu, bu Rika, Fadhil dan juga Candra keluar dari sana. Hanya tersisa Leilani dengan Indri berdua.


"Aku minta maaf ..." ujar Leilani sambil menangis terisak.


"Gak. Harusnya gue yang minta maaf," balas Indri. "Gue juga mau bilang makasih karena berkat Io, gue gak jadi dihukum. Gue gak bakal ngulangin lagi," tutur Indri.


Leilani kelihatan terkejut dengan respon Indri. Ia kira, Indri akan menyalahkan dirinya seperti teman dekatnya dulu yang bunuh diri.


"Gue permisi," ucap Indri yang kemudian langsung pergi.


Setelah kepergian Indri, Candra pun kembali masuk ke dalam secara diam-diam. Candra tidak mau Indri mengetahui hubungan persaudaraannya dengan Leilani.


Candra tersenyum. "Tenang. Jangan cemas. Semua baik-baik aja," ujar Candra.


“Indri ... dia ...." Leilani tidak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Gak. Dia gak bakal bunuh diri," ujar Candra sambil memeluk sepupu kesayangannya.


***


Keesokan harinya, Leilani tampak lebih ceria. Bukan tanpa alasan tentu saja. Tadi, saat Leilani baru saja sampai, ia melihat Indri yang sedang mengobrol santai dengan teman-temannya. Indri terlihat ceria seperti hari-hari biasa. Dan itu membuat Leilani merasa sangat lega.


Leilani pergi menuju ruang klub spesial. Ia Leilani pergi menuju ruang klub spesial. Ia berniat mengambil pulpen dan juga pensil yang ketinggalan di sana.


Cklek


Leilani membuka pintu lemari dan kemudian mengambil pensil dan pulpennya. Namun, ketika Leilani hendak menutup pintu lemari, tiba-tiba Leilani teringat dengan suatu hal.


"Buku itu ..." gumam Leilani.


Leilani teringat dengan buku miliknya yang ada pada Fadhil—buku yang Fadhil jadikan bukti di hadapan bu Anjani.


"Buku itu hilang saat aku bangun."


Leilani mengingat-ingat kembali kejadian saat ia menginap di ruang klub ini.


Apa jangan-jangan Fadhil ...." Leilani membelalakkan matanya.


"Benar. Aku orangnya," ujar seorang pria yang entah sejak kapan juga ada di sana.


Leilani sangat terkejut. Tentu ia kenal dengan suara itu. Itu adalah suara Fadhil, teman sekelasnya.


Leilani segera membalikkan tubuhnya. la kembali dibuat terkejut karena jarak diantara mereka hanya terpaut beberapa senti saja.


"Aku orangnya," ujar Fadhil sambil mengurung Leilani dengan kedua tangannya.


"Kamu ... kamu pemilik jaket itu?" tanya Leilani.


"Ya," jawab Fadhil cepat.


Leilani menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri. Ia tidak nyaman dengan posisi ini.


"Ada yang mau ditanyakan lagi?" ucap Fadhil dengan tatapan mengintimidasi.


Leilani pun kembali memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata lawan bicaranya ini.


"Kenapa?" tanya Leilani. "Kenapa kamu pura-pura tidak tau orang yang menolong aku, padahal kamu sendiri orangnya?"


Kali ini, Fadhil yang terlihat kebingungan. la kemudian melepaskan kungkungan tangannya dari Leilani.


Leilani menunggu jawaban lawan bicaranya.


"Rahasia," jawab Fadhil sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


"Rahasia?" ulang Leilani.


Fadhil menganggukkan kepalanya. "Cuma kita yang boleh tau masalah ini."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Leilani lagi.


"Karena kita melakukan hal rahasia," jawab Fadhil enteng.


Leilani mengerutkan keningnya. Ia semakin tidak mengerti dengan pria di hadapannya ini.


"Lo gak inget?" ujar Fadhil sambil menaikkan sudut bibirnya.


Leilani mulai memikirkannya. Ia kembali mengingat hal apa saja yang terjadi waktu itu.


Setelah beberapa saat berlalu, Leilani langsung membulatkan matanya.


Fadhil tersenyum melihat reaksi lucu Leilani. "Udah inget?" ucap Fadhil sambil terkekeh geli.


Leilani hanya diam sambil mengepalkan tangannya di sisi badan.


"Makanya ..." Fadhil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "...stttt. Mending kita diem aja."


Fadhil berjalan semakin mendekat pada Leilani. Leilani refleks langsung menahan tubuh Fadhil dengan kedua tangannya.


"Gue mau ambil buku, btw" ujar Fadhil dengan senyum meledek.


Setelah mengatakan itu, Fadhil pun mengambil buku miliknya yang ada di belakang Leilani. Setelah itu, ia pun langsung pergi.


Sementara itu, Leilani masih mematung di tempatnya. Ia benar-benar masih belum bisa percaya.


"Aku kira itu cuma mimpi," gumam Leilani.


Flashback


Waktu itu, pukul sebelas malam Fadhil pergi ke ruangan klub spesial. Awalnya, ia kira tidak akan ada siapa-siapa di sana.


Dan Fadhil sangat terkejut ketika melihat ada Leilani di sana.


Fadhil mencoba memanggil Leilani yang tertidur di atas meja, namun Leilani tidak kunjung menjawabnya. Setelah mengecek keadaan Leilani, ternyata Leilani demam tinggi.


Fadhil pun mengambil kotak P3K, dan alat kompres. Namun Leilani tidak kunjung sadar juga.


Awalnya, Fadhil hanya duduk sambil memperhatikan wajah Leilani yang pucat pasi. Akan tetapi, makin lama, tubuh Leilani malah semakin menggigil.


Fadhil pun membuka jaket hitam miliknya dan kemudian menyelimuti Leilani dengan jeket tersebut.


Akan tetapi, ternyata Leilani tetap saja masih kedinginan. Bahkan Leilani sampai masih kedinginan. Bahkan Leilani sampai mengigau saking panasnya demam yang Leilani alami.


Akhirnya, dengan sedikit ragu, Fadhil pun mendekatkan kursinya pada Leilani. Ia kemudian mengangkat kepala Leilani dan kemudian menyandarkan kepala Leilani ke dadanya.


Dan pada akhirnya, Fadhil memeluk tubuh Leilani sepanjang malam supaya Leilani tidak terlalu kedinginan.


Sampai pada waktu pagi hari, sinar mentari menerobos masuk lewat jendela. Fadhil melihat jam di sana dan kemudian segera pergi agar tidak ada orang yang curiga dan menganggap mereka melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana.


Flashback end.

__ADS_1


***


__ADS_2