Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Gue Kira Kita Teman


__ADS_3

Leilani masih mematung di tempatnya. Ia masih sulit percaya dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.


Teeeet teeet teeet


Leilani langsung tersadar dari keterkejutannya setelah mendengar bel tanda masuk berbunyi. Leilani pun segera berjalan keluar dari ruangan klub menuju kelasnya.


"Astagfirullooh!!"


Leilani begitu terkejut karena melihat ada Fadhil di samping pintu ruangan klub. Ternyata Fadhil belum pergi dari sana.


Fadhil bersandar di sisi pintu sambil melipat kedua tangannya dengan santai di depan dada.


"Kenapa? Gue bukan hantu. Gak usah takut," ujar Fadhil.


"Bukan begitu. Kenapa kamu masih di sini?" tanya Leilani heran.


Apa Fadhil masih ada urusan? Atau ada sesuatu yang ketinggalan? Leilani bertanya-tanya dalam hati.


"Ayo, cepet. Bel udah bunyi," ajak Fadhil tanpa menjawab pertanyaan dari Leilani.


Fadhil pun berjalan duluan. Sementara Leilani, dia tetap diam ditempatnya. Ia tidak mau berjalan bersama-sama dengan Fadhil. Bisa-bisa satu sekolahan heboh jika melihat mereka berjalan bersama.


'Fadhil ini kenapa sih? Dia terus saja ikut terlibat dengan aku? Apa dia sengaja melakukan ini, supaya para siswa dan siswi semakin membenci aku?'


Fadhil menghentikan langkahnya saat merasakan bahwa Leilani tidak ada di belakangnya.


Fadhil berbalik dan menatap lurus mata Leilani yang sudah berjarak beberapa langkah darinya.


"Ayo," ujar Fadhil yang melihat Leilani hanya diam di tempat.


Leilani hanya diam. Ia sedang memikirkan cara untuk menghindar dari Fadhil.


Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di pikiran Leilani.


"Satu ... dua ... tiga!!"


Pada hitungan ke tiga, Leilani langsung berlari sekencang-kencangnya. Ia melewati Fadhil yang sedari tadi menunggunya.


Fadhil yang melihat tingkah Leilani hanya bisa menggelengkan kepala. Ia pun segera berjalan cepat menuju kelasnya.


Sesampainya di kelas, pak Amar sudah ada di kelasnya. Pak Amar merupakan guru Geografi. Beliau adalah guru paling sepuh di sekolah ini. Semua orang amat menghormatinya. Meski sudah cukup tua, tapi beliau memiliki kharisma yang bisa dirasakan oleh semua orang yang ada di sekitarnya.


Fadhil pun masuk ke dalam kelas dan kemudian mencium tangan pak Amar.


"Maaf, Pak. Saya terlambat. Barusan saya—" Perkataan Fadhil langsung dipotong oleh pak Amar.

__ADS_1


"Jangan bilang ... kamu habis dari toilet juga," terka pak Amar. "Alasan yang sama dengan teman cewek kamu barusan."


Fadhil yakin, perempuan yang dimaksud pak Amar adalah Leilani. Leilani pasti menggunakan itu sebagai alasan.


"Tidak, Pak. Barusan saya ada sedikit urusan," jawab Fadhil.


"Urusan apa? Apa urusan yang lebih penting daripada belajar saat kamu di sekolah? Jangan mentang-mentang kamu ketua kelas, lalu kamu bisa seenaknya. Harusnya kamu yang jadi contoh untuk teman-teman kamu. Bukan sebaliknya. Kamu mengerti?"


Fadhil menundukkan kepala. "Saya benar-benar minta maaf, Pak."


"Ya sudah. Karena ini pertama kalinya kamu telat ... maka bapak akan memberi toleransi. Akan tetapi, kalau kamu sampai mengulanginya lagi, maka akan ada sanksi," tutur pak Amar.


Fadhil menganggukan kepala tanda mengerti.


"Oke, silakan duduk," titah pak Amar. "Yang lainnya juga. Semua ini berlaku untuk semua orang tanpa ada pengecualian."


Fadhil pun berjalan menuju tempat duduknya sambil menundukkan kepala. Ini pertama kalinya dia kena omel gurunya. Sepanjang perjalanan ia sekolah di sini, tidak pernah sekali pun Fadhil melanggar aturan sampai terkena teguran seperti ini.


Sementara itu, Leilani hanya menatap Fadhil dengan tatapan tanpa arti. Seolah-olah, dia tidak ada hubungannya dengan kejadian ini.


***


Setelah selesai makan siang di kantin, Leilani langsung pergi menuju perpustakaan. Perpustakaan adalah salah satu tempat favorit Leilani. Sepi dan membuat tenang. Tidak ada gangguan.


Namun di tengah perjalanan menuju perpustakaan, Fadhil sang ketua kelas tiba-tiba saja datang menghadang.


"Ada apa?" tanya Leilani yang sudah jengah melihat Fadhil yang tak kunjung bicara.


Fadhil tidak segera menjawab. Ia malah bersedekap di depan dada tanpa mengalihkan tatapannya dari sang lawan bicara.


Leilani yang tak kunjung mendapat jawaban akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana dan melanjutkan tujuannya untuk pergi ke perpustakaan.


Fadhil kembali menghadang Leilani yang hendak pergi. Hampir saja Leilani menubruk Fadhil jika Leilani tidak segera menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Sekali lagi Leilani bertanya pada Fadhil.


Leilani bisa melihat tatapan kesal Fadhil padanya. Tapi Leilani memanglah Leilani. Leilani tidak peduli. Toh, sudah banyak orang yang menatap Leilani dengan tatapan kebencian. Jadi Leilani sudah terbiasa.


"Masih bertanya," balas Fadhil sinis.


Leilani mengerutkan kening mendengar jawaban Fadhil. "Kenapa?"


"Kenapa?!" Fadhil mengulang perkataan Leilani dengan wajah kesal.


"Apa karena tadi pagi?" terka Leilani.

__ADS_1


Fadhil diam sebagai jawaban. Dan Leilani mengerti. Diamnya Fadhil kali ini artinya adalah iya.


"Apa kamu nyalahin aku karena kamu ditegur sama pak Amar? Itu kan salah kamu sendiri," jelas Leilani.


"Salah sendiri? Kamu pikir aku telat masuk karena apa?" balas Fadhil kesal. "Karena nungguin kamu! Nungguin lo!!"


Leilani terkesiap mendengar ucapan Fadhil. Namun Leilani tetap merasa tidak bersalah. "Lagian untuk apa juga kamu nungguin aku?"


Fadhil terdiam. Pertanyaan Leilani terdengar lebih sulit bagi Fadhil dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang biasa ia temukan di soal ulangan.


Leilani merasa menang. Ia pun tertawa bahagia dalam hati karena bisa membuat seorang Fadhil diam. Leilani merasa bahwa kini ia bisa mengalahkan Fadhil yang terus menerus berusaha merecoki kehidupannya.


Leilani pun menegapkan badannya dan kemudian berjalan melewati Fadhil begitu saja.


Settt.


Fadhil memegang tangan Leilani yang hendak melewatinya. Leilani kembali terkejut dibuatnya.


Leilani melihat tangan kirinya yang di pegang oleh Fadhil. 'Apa lagi ini?' batin Leilani panik.


Fadhil membenarkan posisinya, sehingga kini mereka berdua kembali saling berhadapan. Namun, Fadhil masih betah memegangi tangan Leilani, seolah mengatakan bahwa ia tak akan melepaskan Leilani begitu saja.


Leilani dan Fadhil saling beradu pandang "Gue ketua kelas ..." ucap Fadhil.


'Memang kenapa kalau ketua kelas?' batin Leilani.


"... Gue gak mungkin ngebiarin siswa dari kelas yang gue pegang, bolos gitu aja."


"Aku tidak berniat bolos kok. Kamu kan liat sendiri. Aku malahan berlari supaya tidak telat masuk kelas," jawab Leilani tidak mau kalah.


Fadhil akhirnya melepaskan tangan Leilani. Ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


Leilani pun segera pergi. Ia ingin segera jauh-jauh dari Fadhil. Bahaya jika sampai ada yang memergoki mereka berduaan seperti ini. Kalau itu sampai terjadi, habislah Leilani.


"Gue kira kita udah temenan," ujar Fadhil tiba-tiba.


Leilani yang mendengar itu sontak menghentikan langkahnya.


"Gue nungguin lo supaya lo gak dihukum sendirian," lanjut Fadhil.


Leilani masih diam di tempatnya sambil mendengarkan dengan seksama.


"Tapi ternyata gue salah. Gak seharusnya gue nganggep temen ke orang yang bahkan gak mau temenan sama gue," tutur Fadhil mengutarakan isi pikirannya.


Setelah mengatakan itu, Fadhil pun pergi begitu saja meninggalkan Leilani yang masih tertegun di tempatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2