
"Adek gue gak tinggal sama gue," kata Kalevi lagi. "Dia lebih milih tinggal sama nenek gue."
Leilani mengangguk paham. Mungkin ada suatu hal yang membuat mereka tidak bisa tinggal bersama.
"Kalo masalah ini, lo jangan tanya kenapa. Soalnya gue belum bisa cerita," kata Bima lagi.
"Iya. Aku paham kok. Kadang, ada masalah-masalah keluarga yang memang lebih baik kita simpan sendirian aja," balas Leilani.
Leilani paham sekali. Karena dia pun mempunyai masalah keluarga yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa-siapa. Jadi tidak masalah kalau Bima tidak mau cerita.
"Tapi lo tau gak?" kata Bima tiba-tiba.
"Eh? Tau apa?" balas Leilani.
"Tiap gue liat lo, gue selalu keinget adek gue," kata Bima sambil tersenyum simpul.
"Kenapa?" tanya Leilani heran. "Apa aku mirip dengan adik kamu?"
Bima menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Enggak. Elo sama sekali gak mirip sama adek gue. Tapi gak tau kenapa ... tiap liat lo gue langsung keinget sama adek gue," kata Bima.
Leilani mengernyitkan keningnya. "Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Leilani.
"Cewek, perempuan," jawab Bima.
"Umur berapa?"
Bima terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan dari Leilani. "Lo banyak tanya ya," kata Bima sambil tertawa.
"Maaf. Aku cuma ingin tau aja," ujar Leilani.
"14 taun. Dia 14 taun," kata Bima lagi.
"Oh. Berarti ... masih SMP ya?" lagi-lagi Leilani kembali bertanya.
Bima hanya tersenyum tipis mendengar Leilani yang tidak ada hentinya untuk bertanya.
"Udah. Sekarang giliran lo. Ceritain tentang lo. Gue udah cerita banyak dari tadi," tuntut Bima lagi.
"Tunggu. Biarin aku mikir dulu," kata Leilani sambil mulai memikirkan apa yang bisa ia bicarakan pada Bima.
Bima melihat es campur milik Leilani yang sudah habis. Ia pun berinisiatif untuk menawarkan es campur di miliknya pada Leilani.
"Mau lagi?" tanya Bima.
Leilani melirik sekilas ke arah es campur milik Bima. "Tidak. Nanti perut aku penuh sama es campur lagi," tolak Leilani.
Leilani pun kembali memikirkan apa yang bisa ia bicarakan pada Bima. Sementara Bima sendiri, dia dengan sabar menunggu Leilani untuk bercerita.
"Si Adam itu, gimana? Lo serius suka sama dia?" Pada akhirnya, Bima lagi yang bicara karena Leilani tak kunjung bercerita.
"Oh iya. Itu aja. Aku ceritain yang itu aja," kata Leilani yang merasa diberi sebuah ide oleh Bima.
__ADS_1
Bima pun langsung menyetujuinya. "Oke."
"Iya. Aku emang beneran suka sama ka Adam. Ada lagi yang mau ditanyain?" ujar Leilani.
"Mau gue bantu gak?" tanya Bima.
Leilani menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Bima lagi.
"Aku tidak berniat untuk menyatakan perasaan aku sama ka Adam."
"Kenapa?"
"Aku tidak percaya diri," jawab Leilani.
Bima terkekeh mendengar jawaban Leilani. "Ungkapin aja. Biar lega. Biar gak ada yang ngeganjel lagi di hati."
"Tapi bagaimana kalau dia nolak aku?" kata Leilani pesimis.
"Ck. Gak lah. Orang kayak si Adam tuh ... ada yang suka juga udah syukur," kata Bima meremehkan.
Leilani tidak mau terhasut oleh perkataan Bima. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di pikiran Leilani.
Jika Bima mau membantunya untuk menyatakan cinta pada Adam, maka kemungkinan ada kesempatan untuk Bima dan Kalevi bisa dekat lagi. Secara, Kalevi kan sudah berkata bahwa dia akan mendukung Leilani.
Jika mereka berdua sudah berjanji untuk membantu Leilani, maka itu artinya, mau tidak mau Bima dan Kalevi harus mau bekerja sama.
Tanpa basa basi lagi, Leilani pun segera melancarkan aksinya.
"Bima," seru Leilani.
"Heuh?" balas Bima.
"Kalau aku mau menyatakan perasaan aku sama ka Adam ... emang kamu beneran mau bantu?" kata Leilani memastikan.
"Iya. Tenang aja. Gue ada di belakang lu. Kalo perlu, gue marahin dia kalo dia sampe nolak lu," kata Bima setengah bercanda.
Leilani tersenyum. "Ya gak usah gitu juga. Itu namanya pemaksaan."
"Tapi janji ya. Janji mau bantuin," kata Leilani lagi.
Bima pun langsung mengiyakannya agar Leilani percaya.
***
Tidak terasa, hari sudah sampai pada hari senin lagi. Leilani berangkat jauh lebih pagi karena ada kegiatan upacara bendera tentu saja. Ia tidak mau sampai terlambat.
Ditambah lagi, Leilani harus memberikan bekal yang ia bawa untuk Fadhil.
Setelah menyiapkan semuanya, Leilani pun segera berangkat. Setelah salim pada bi Sumi, Leilani pergi untuk berpamitan pada ibu dan juga ayah tirinya.
__ADS_1
Saat itu, sang ibunda masih menikmati sarapannya bersama dengan Rosa dan juga ayahnya.
Leilani menghampiri mereka bertiga. "Ma, aku berangkat dulu, ya," kata Leilani sambil mengulurkan tangannya.
Bu Ratih tidak merespon Leilani. Bu Ratih bertingkah seolah tidak mendengar dan juga tidak melihat bahwa Leilani ada di sana.
Melihat itu, Rosa pun hanya bisa tertawa dalam hatinya. Rasanya senang sekali melihat Leilani menderita.
"Kamu sudah sarapan?" tanya ayah Rosa.
"Sudah, Om."
Pak Bagas mengangguk. "Ya sudah. Hati-hati di jalan ya," kata pak Bagas.
Leilani tersenyum kecil. "Iya, Om."
Leilani pun sun tangan pada pak Bagas dan kemudian langsung berangkat supaya tidak terlambat.
Sesampainya di sekolah, Leilani langsung mencari keberadaan Fadhil. Biasanya Fadhil akan menunggunya di persimpangan jalan. Tapi hari ini Fadhil tidak ada.
Leilani pun pergi menuju kelasnya. Di sana, Leilani tidak menemukan keberadaan Fadhil.
Leilani pun langsung pergi menuju ruang klubnya. Siapa tau saja Fadhil ada di sana. Akan tetapi, ternyata Fadhil juga tidak ada di sana.
Leilani menghela nafasnya. Ia pun menyimpan kotak bekal untuk Fadhil ke dalam lemari yang ada di sana.
Makanan yang Candra suruh belikan juga masih utuh dan tidak berpindah satu senti pun dari tempatnya. Berarti memang sejak hari itu belum ada orang yang datang lagi ke ruangan ini.
Leilani pun keluar dari ruang klub menuju lapangan. Sudah cukup banyak siswa dan siswi yang hadir di sana.
Saat Leilani hendak pergi menuju lapangan, tiba-tiba Leilani melihat keberadaan Fadhil. Ternyata Fadhil baru sampai. Pantas saja Leilani tidak menemukan keberadaan Fadhil di mana-mana. Ternyata Fadhil memang belum datang.
Leilani pun langsung berjalan menghampiri Fadhil. Ia sudah tidak ragu lagi untuk tampil bersama dengan Fadhil. Ini semua berkat Fadhil. Fadhil yang selalu mendorong Leilani agar semakin berani untuk menunjukkan diri.
"Fadhil," seru Leilani.
"Hm?" jawab Fadhil malas.
"Aku naruh bekal buat kamu di lemari ruangan klub," kata Leilani.
"Terserah," balas Fadhil sekedarnya.
"Kok terserah sih? Aku udah buat masakan lain. Bukan mi lagi," ujar Leilani.
Fadhil langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Leilani.
"Kasih aja ke cowok lo. Gue udah gak mau lagi," kata Fadhil dengan wajah datar.
Melihat ekspresi Fadhil yang seperti itu, Leilani pun kembali khawatir. Apa ia berbuat salah lagi pada Fadhil?
***
__ADS_1