
Leilani berangkat dengan membawa bekal di tasnya. Bekal kali ini ia siapkan dengan sungguh-sungguh sebagai rasa terimakasihnya pada Fadhil. Ia benar-benar merasa lega karena Fadhil kembali bersikap seperti biasa.
Di tengah perjalanan, Leilani melihat keberadaan Fadhil. Ternyata hari ini Fadhil sudah menunggu di tempat biasa.
Leilani pun segera menghampirinya.
"Fahd," sapa Leilani.
Fadhil yang sedang asyik memainkan ponsel pintarnya menoleh. Ia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Leilani tersenyum cerah sambil berjalan menghampiri Fadhil.
Fadhil pun balas tersenyum pada Leilani. Membuat Leilani kaget saja.
Bagaimana tidak kaget. Jarang sekali Fadhil tersenyum seperti itu padanya. Biasanya Fadhil akan memasang wajah datar saat berinteraksi dengan Leilani.
'Sepertinya mood anak itu sedang baik,' kata Leilani dalam hati.
Fadhil mengulurkan tangannya untuk menagih bekal yang Leilani janjikan.
Tanpa menunggu lama, Leilani pun lngsung mengambil bekal untuk Fadhil dari dalam tas miliknya.
"Ini," kata Leilani.
Fadhil pun langsung menerima bekal itu dan kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Leilani mengernyit heran. Ia kira Fadhil akan memakan bekal itu sekarang seperti biasa. Tapi kali ini Fadhil malah langsung memasukkan bekalnya ke dalam tas.
"Kenapa?" tanya Fadhil yang melihat ekspresi bertanya di wajah Leilani.
"Tidak dimakan?" kata Leilani.
Fadhil kemudian menunjukkan jam yang ia pakai di tangannya. "Mau telat?" kata Fadhil, menjawab pertanyaan Leilani.
Akhirnya Leilani mengerti. Kalau Fadhil makan dulu di sini, mungkin mereka akan terlambat sampai ke sekolah.
Mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan mereka menuju sekolah.
"Fadhil," seru Leilani.
Fadhil menoleh. "Kenapa?" tanyanya.
"Kemarin-kemarin ... kamu marah kenapa?" tanya Leilani.
Fadhil tidak langsung menjawab. Ia masih diam sambil terus melanjutkan langkahnya.
"Kemarin?" ulang Fadhil setelah diam beberapa saat.
"Iya," jawab Leilani sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
Fadhil diam lagi.
"Bukannya apa-apa. Aku cuma penasaran aja apa salah aku. Karena aku gak tau salah aku dimana ... aku kan jadi bingung harus minta maaf sama kamu gimana," lanjut Leilani.
Leilani menunggu jawaban Fadhil. Sementara Fadhil sendiri, dia masih kelihatan berpikir.
'Apa masalahnya seserius itu ya ... sampai dia bingung bagaimana cara mengatakannya,' pikir Leilani dalam benaknya.
"Ekhm ... itu ... gue gak tau harus bilang ini sama lo apa engga," kata Fadhil akhirnya.
Leilani langsung memusatkan perhatiannya pada Fadhil. "Kenapa? Katakan saja," pinta Leilani.
Fadhil menghentikan langkahnya. Ia menatap Leilani dengan tatapan serius. "Sebenernya ... gue udah lama pengen nyampein ini sama lo ... tapi gue takut ..." tutur Fadhil.
'Menyampaikan sesuatu?' batin Leilani.
Leilani mulai was-was. Perasaannya campur aduk. Ia takut dengan kelanjutan perkataan Fadhil nantinya.
'Apa jangan-jangan ... dia juga mau menyatakan perasaannya?' batin Leilani.'Apa jangan-jangan kemarin dia marah karena cemburu?'
"Kalau begitu tidak usah. Jangan katakan saja. Yang penting kita sudah baikan," kata Leilani pada Fadhil.
Fadhil menggelengkan kepalanya. "Ngga. Kayaknya gue harus bilang sekarang. Gue gak mau mendem ini lama-lama. Cukup sampai hari ini aja. Gue pengen lo tau semuanya."
Leilani semakin was-was mendengarnya. "Tapi aku belum siap. Aku belum siap mendengarnya," kata Leilani dengan wajah panik.
'Tolong jangan ... jangan katakan ... aku tidak mau pertemanan kita rusak ...' Leilani berbicara sendiri dalam hatinya.
"Sebenernya ... gue marah karena ...." Fadhil menggantungkan perkataannya. Membuat Leilani semakin tidak tenang saja.
"Gue marah karena masakan lo kurang enak," kata Fadhil.
"Hah?!" pekik Leilani.
Leilani langsung speachless mendengarnya. Pikiran Leilani sudah kemana-mana. Tapi ternyata hanya itu alasannya? Hanya karena masakannya kurang enak? Itu saja? Benar-benar tidak terduga.
Leilani tiba-tiba tertawa renyah. Ia benar-benar merasa lega. Sangat lega setelah mendengarnya.
"Malah ketawa," sindir Fadhil.
"Aku kira kenapa. Ternyata cuma karena itu kamu marah," kata Leilani sambil tertawa geli.
Fadhil tersenyum tipis melihat Leilani yang sedang tertawa. Jarang sekali melihat Leilani seperti ini. Biasanya Leilani selalu terlihat murung. Wajahnya terlihat muram tanpa kebahagiaan.
"Kenapa? Ada yang salah?" kata Fadhil.
Mereka pun lanjut berbincang sambil melanjutkan langkahnya.
"Aku kira karena apa. Ternyata cuma gara-gara hal sepele," kata Leilani.
__ADS_1
"Sepele?" ulang Fadhil. "Masakan lo kurang enak. Itu artinya lo kurang tulus buatinnya. Coba kalo lo masak sepenuh hati. Pasti bakalan enak," tutur Fadhil.
Leilani hanya tersenyum mendengarnya. "Oke. Aku minta maaf kalo gitu. Tapi masakan kali ini aku yakin kamu pasti suka. Soalnya aku buat dengan sepenuh hati," kata Leilani.
"Hm. Nanti gue coba. Gue pengen coba masakan sepenuh hati itu kayak gimana rasanya," kata Fadhil setengah bercanda.
Leilani pun ikut tersenyum mendengarnya.
Setibanya di sekolah, seperti biasa. Kebersamaan Fadhil dan Leilani tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitar mereka. Mereka merasa iri pada Leilani karena Leilani bisa dekat dengan Fadhil. Bahkan bukan Fadhil saja, tapi dengan anggota-anggota lainnya juga.
Leilani sekarang sudah mulai terbiasa. Ia belajar untuk tidak terlalu memikirkan pandangan orang pada dirinya. Yang terpenting sekarang adalah orang-orang yang baik dan juga mau menerimanya. Bukan orang-orang yang tidak menyukainya.
"Bareng lagi? Udah baikan?" tanya Restu sambil merangkul pundak Fadhil.
Fadhil dan Leilani sedikit kaget dengan kemunculan Restu yang tiba-tiba. Restu tiba-tiba menyerobot dan berjalan beriringan di antara Fadhil dan Leilani.
"Kenapa ekspresi kalian kayak gitu?" kata Restu sambil menoleh pada dua temannya tersebut.
Fadhil hanya diam. Restu kemudian beralih pada Leilani. "Apa aku ganggu?" tanya Restu.
"Bukan begitu. Aku cuma kaget kamu muncul tiba-tiba," kata Leilani.
Restu hanya tersenyum mendengar jawaban Leilani.
"Mulai sekarang ... kita saingan," bisik Restu pada Fadhil.
Fadhil yang mendengar itu kelihatan sedikit terkejut. Akan tetapi, ia berpura-pura terlihat biasa saja, seolah tidak mendengar apa-apa.
Setelah mengatakan itu, Restu pun pergi meninggalkan mereka berdua menuju kelasnya.
"See you," kata Restu sambil melambaikan tangan pada Leilani.
"Restu bilang apa?" tanya Leilani yang menyadari bahwa Restu membisikkan sesuatu pada Fadhil.
"Jangan mau tau urusan cowok," jawab Fadhil.
Leilani mengernyitkan dahinya. Ia penasaran dengan apa yang dikatakan Restu pada Fadhil. Tapi mustahil Fadhil mau memberitahunya. Makanya ia memilih untuk mengubur rasa penasarannya.
Sesampainya di kelas, Leilani mendapat tatapan tajam dari Rosa dan juga teman-temannya. Tetapi Leilani memilih untuk mengabaikannya saja.
"Bro! Lo ngapain bareng sama cewek itu," kata Romi dengan nada tidak suka. "Rusak reputasi lo aja."
Fadhil mengabaikan perkataan Romi. Tapi Romi tidak ambil hati. Ia sudah terbiasa dengan sikap Fadhil yang seperti ini.
"Pilih-pilih lah, Dhil, kalo mau sama cewek. Masih banyak yang jauh lebih cantik dari dia," ujar Romi lagi.
"Gue tau. Gue gak sebodoh itu," balas Fadhil akhirnya.
***
__ADS_1