
"Ly. Lo mau naik taksi atau mau nunggu jemputan aja? Gue masih ada urusan soalnya. Gue gak langsung pulang," ujar Candra pada Leilani.
"Jalan aja lah, gak terlalu jauh juga. Sekalian mau beli bakso buat tante," jawab Leilani.
"Yakin?"
"Iya," balas Leilani penuh keyakinan.
Candra sebenarnya sedikit khawatir karena Leilani belum terbiasa dengan jalan pulang ke rumah Candra. Tapi apa boleh buat, Candra ada urusan juga.
"Ya udah. Sampe ketemu di rumah ya," pamit Candra.
"Iya," balas Leilani.
Candra pun pergi entah ke mana. Sedangkan Leilani, dia pergi dulu ke toilet sebelum pergi.
Saat Leilani berada di dalam toilet, Leilani sedikit mengerutkan keningnya. Leilani melihat ada puntung rokok tergeletak begitu saja di sana.
Leilani yang penasaran pun segera mengambilnya. Ia memperhatikan puntung rokok itu dengan seksama.
Setelah puas memandanginya, Leilani pun segera keluar dan kemudian membuang puntung rokok itu ke dalam tong sampah yang ada di dekat sana. Dan Leilani pun segera pergi dari sana.
"Loh? Baru pulang?"
Di tengah perjalanan menuju rumah Candra, Leilani bertemu dengan Bima.
"Eh? Bima. Iya," balas Leilani.
"Mau beli bakso juga?" tanya Bima yang sedang duduk sambil menikmati baksonya.
Leilani pun menganggukkan kepala.
"Mau berapa bungkus, Neng?" tanya si penjual bakso.
"Empat bungkus, Pak," jawab Leilani.
"Pedes apa engga?"
"Yang satunya jangan pake pedes, Pak."
"Pedesnya dipisah aja kalo gitu ya, Neng."
"Iya."
"Silakan duduk dulu di sana sana. Biar gak pegel." Bapak tukang bakso menyuruh Leilani duduk bersama Bima sambil menunggu baksonya.
Leilani pun duduk di dekat Bima untuk menunggu baksonya.
"Bukannya tadi sama si Candra? Kemana itu anak?" tanya Bima.
"Emh ... katanya mau main dulu sama temennya," jawab Leilani.
Bima pun mengangguk-anggukan kepala mendengar jawaban Leilani.
"Kirain gak punya temen si Candra," ujar Bima bercanda.
"Ya masa gak punya," balas Leilani.
"Kenapa engga? Bisa aja kan emang gak punya. Kaya lo contohnya," ucap Bima.
Leilani menoleh pada Bima. Kata-kata Bima benar-benar menusuk hatinya. Itu adalah sebuah fakta. Dan Leilani tidak bisa menyangkalnya.
"Maaf. Gue cuma bercanda," ujar Bima yang bisa melihat raut sedih di wajah gadis yang duduk di sampingnya tersebut.
__ADS_1
Leilani hanya menggelengkan kepala pelan mendengar permintaan maaf Bima.
"Neng, semuanya jadi empat puluh ribu aja," ucap si penjual bakso sambil menyerahkan kresek hitam berisi bakso pada Leilani.
Leilani pun menerima kresek itu dan kemudian mengambil uang dari dalam tasnya.
"Nih, Pak. Sekalian punya temen saya ya."
Bima menyerahkan uang lima puluh ribu pada si penjual bakso.
"Siap. Makasih. Jangan kapok-kapok beli di sini," balas si penjual bakso.
"Bima, tidak usah. Aku bawa uang kok," ucap Leilani sambil memberikan uangnya pada Bima untuk mengganti uang Bima.
"Udah, gak papa. Kali ini gue traktir. Besok-besok giliran ya, traktir gue," ujar Bima.
Leilani tidak mau berdebat lagi. "Ya sudah. Terimakasih ya."
Bima pun menganggukkan kepala.
"Tapi kalau aku ada uang ya," lanjut Leilani.
Leilani berdiri dari duduknya. "Pak, makasih ya," ucap Leilani.
"Iya. Hati-hati di jalan, Neng."
Leilani pun menganggukkan kepala.
"Bima. Aku duluan ya," kata Leilani pada Bima.
"Yo. Bareng aja. Gue juga mau pulang," balas Bima.
Mereka pun akhirnya berjalan bersama untuk pertama kalinya.
"Lan. Gue boleh tanya gak?" kata Bima di tengah perjalanan.
"Lo ... kenapa tinggal di rumah Candra?" tanya Bima dengan hati-hati.
Leilani sedikit terkejut dengan pertanyaan Bima. Ia bingung harus menjawab apa.
"Kalo gak mau jawab juga gak papa," kata Bima sambil tersenyum simpul.
"Cuma nginep aja kok," dusta Leilani.
"Nginep? Tapi kok kayaknya betah banget. Udah hampir seminggu, kan?"
"Iya. Emang betah sih. Mereka semua baik soalnya," jawab Leilani jujur.
"Emang gak kangen rumah?"
"Ya kangen sih. Tapi ..." Leilani menghentikan perkataannya. Hampir saja Leilani menceritakan rahasianya pada Bima.
"Tapi apa?" tanya Bima penasaran.
"Ya gak papa. Nanti juga aku balik ke rumah. Cuma sekarang lagi mau nginep aja," jawab Leilani asal.
Sejujurnya Leilani juga tidak tahu apa dia bisa kembali ke rumah ibunya atau tidak. Tapi Leilani selalu menghibur dirinya sendiri. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti sang ibunda akan datang menjemputnya lagi.
Bima hanya tersenyum kecil mendengarnya. "Kalau ada masalah, lo bisa kok cerita. Gue gak bakal bilang siapa-siapa," kata Bima pada Leilani.
Leilani sedikit terpana. Ia merasakan sebuah ketulusan dari ucapan Bima. Hati Leilani menghangat. Sudah lama sejak terakhir kali ada teman yang berkata seperti itu padanya.
Terakhir kali, teman yang mengatakan kata-kata seperti itu pada Leilani adalah Bulan. Tapi sayang, Bulan malah bunuh diri dan pergi meninggalkan Leilani sendiri. Pasti Bulan sangat benci pada Leilani.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Leilani tulus.
"Sama-sama."
"Bima. Kenapa kamu baik?" tanya Leilani penasaran.
Seingat Leilani, Bima dan Kalevi hanya baik pada wanita cantik saja. Tapi kenapa sekarang Bima juga baik pada Leilani? Apa karena mereka satu klub sekarang?
"Emang harus jahat ya? Gue bisa kok jadi orang jahat," kata Bima dengan wajah serius.
"Ya jangan lah. Masa mau jadi orang jahat," balas Leilani.
Bima hanya tersenyum melihat respon Leilani.
"Oh iya. Tadi ... aku menemukan puntung rokok di sekolah." Leilani tiba-tiba teringat dengan puntung rokok tadi.
Entah kenapa, sekarang Leilani jadi sangat nyaman mengobrol dengan Bima. Leilani merasa punya teman untuk bercerita.
Dan Bima sendiri, entah kenapa Bima bisa bicara sebanyak ini dengan Leilani.
"Puntung rokok? Dimana?" tanya Bima.
"Di toilet wanita," jawab Leilani.
"Gak papa lah. Terserah aja. Itu hak mereka," jawab Bima santai.
"Kamu gak penasaran siapa pemiliknya?" tanya Leilani.
"Pemiliknya?" ulang Bima sambil menampakkan wajah berpikir.
"Gue gak peduli siapa pemiliknya," lanjut Bima. "Tapi kalo sampe ketauan bisa bahaya juga."
"Bahaya kenapa?" tanya Leilani.
"Ya mungkin aja sanksinya dikeluarin dari sekolah. Aturan di sekolah kita emang cukup tegas. Ya, kan?" tutur Bima.
Leilani mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan Bima.
"Kalo menurut lo siapa pemiliknya?" tanya Bima.
Leilani kelihatan berpikir. "Pemiliknya? Aku juga tidak tau."
"Lo mau lapor sama guru?" tanya Bima lagi.
"Engga. Jangan bilang siapa-siapa ya," pinta Leilani.
"Loh, kenapa?" tanya Bima sambil tersenyum kecil. "Jangan bilang lo pemiliknya," ujar Bima bercanda.
"Bukan. Kasian aja kalau ketauan. Nanti gimana kalau dia depresi, terus bunuh diri?" kata Leilani.
"Ya enggak lah. Bunuh diri gak semudah itu kali," balas Bima.
"Tapi emang mending jangan dilaporin sih," ucap Bima. "Biarin aja. Jangan terlibat sama pembuat masalah kayak mereka."
Tidak terasa, sekarang waktunya mereka berpisah. Arah tujuan mereka sudah berbeda.
"Bima. Terimakasih ya," kata Leilani.
"Buat?"
"Karena mau dengerin aku cerita."
Bima tersenyum. "Santai aja. Gak perlu gue anterin sampe rumah Candra, kan?" tanya Bima dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Engga lah. Sampai jumpa."
***