Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Sebuah Rahasia (Candra Mengantar Leilani Pulang)


__ADS_3

"Fiuuuh." Leilani menghembuskan nafasnya. "Akhirnya selesai juga."


Leilani pun langsung menutup pintu kelasnya dan kemudian berjalan menuju pintu gerbang untuk segera pulang.


Hari ini, tidak ada kegiatan di klub spesial, makanya Leilani bisa langsung pulang.


Leilani menghentikan langkahnya ketika ia melihat Candra di depan pintu gerbang. Candra membelakanginya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Leilani bisa menebak, Candra berniat mengantarkannya pulang. Bu Rika sudah mengatakannya tadi siang.


Awalnya Leilani kira, Candra tidak akan melakukan perintah pak Bayu dan bu Rika. Tapi ternyata dugaannya salah. Sekarang, Candra sedang menunggunya.


Candra berbalik. Mata kedua insan berbeda gender ini lagi-lagi bertemu. Namun seperti biasa, tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka hanya diam sambil terus bertukar pandang.


Leilani memalingkan wajahnya dari Candra. la kemudian melanjutkan langkahnya.


Leilani melewati Candra begitu saja. Tidak ada sapaan apa-apa. Hanya berjalan melewatinya.


Candra—pria jangkung itu berjalan di belakang Leilani tanpa menurunkan tangannya. la berjalan dengan santai sambil terus memperhatikan gadis di depannya.


Sepanjang perjalanan, mereka sama sekali tidak bersuara. Candra menjaga jarak satu meter dari Leilani.


Setiap Leilani berhenti, maka ia pun berhenti. Ia akan berjalan ketika Leilani berjalan. Dan dia akan berhenti jika Leilani berhenti.


Sekarang, mereka sudah sampai di jalanan yang cukup sepi. Tidak ada kendaraan umum ke sini.


Grep


Candra mencekal pergelangan tangan Leilani dari belakang.


Leilani pun menghentikan langkahnya. Ia kemudian berbalik untuk melihat Candra.


"Udah. Cukup," ujar Candra. "Di sini udah nggak ada orang."


Leilani melihat sekeliling untuk memastikannya. Ia tidak mau ada orang yang melihat mereka berdua.


"Iya.


Candra pun kembali melepaskan tangannya.


"Lo nggak papa, kan?" tanya Candra.


Wajah Candra terlihat sangat khawatir. Terlihat sekali ketulusan dilihat dari sorot matanya.


"Emang kenapa?" Leilani malah balik bertanya.


Candra menunjukkan wajah kesalnya. "Jangan pura-pura. Make up waktu itu ... lo ditampar lagi kan sama nyokap lo?" tebak Candra.


Sorot mata Leilani berubah sedih. "Iya," jawab Leilani sambil menganggukkan kepala.


Candra menyingkap rambut Leilani untuk melihat pipinya, memastikan bahwa Leilani sudah baik-baik saja.


"Masih sakit?" tanya Candra sambil menyentuh pipi Leilani.


Leilani menggelengkan kepalanya. "Nggak."

__ADS_1


Candra pun mengelus pipi Leilani dengan ibu jarinya.


"Lely." Candra memanggil Leilani dengan nama kecilnya.


Leilani mendongakkan kepalanya. "Kenapa?"


"Gue kangen Io yang dulu. Gue kangen Io yang ceria," ujar Candra.


Leilani menghela nafasnya. "Aku juga nggak tau Leilani yang dulu kemana," cicit Leilani.


"Ly, lo tau? Gue masuk klub aneh itu buat lo," ujar Candra.


Leilani tersenyum pada Candra. "Iya tau," balas Leilani. "Makasih."


Candra tersenyum saat melihat Leilani tersenyum. "Gue suka liat Io lebih ceria kaya gini” ucap Candra sambil mengacak-acak rambut Leilani.


Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka. Kali ini, mereka berjalan berdampingan sambil terus bercerita.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengikuti mereka dan diam-diam memfoto adegan demi adegan yang Leilani dan Candra lakukan barusan.


"Lely. Kembaliin sepupu gue yang dulu," pinta Candra. "Gue kangen lo yang dulu."


Yap. Leilani adalah sepupu Candra. Benar-benar sepupu. Ayah Candra adalah adik dari bu Ratih—ibu kandung Leilani.


Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya di sekolah, kecuali mereka berdua, dan tentu saja Rosa.


Leilani meminta Candra untuk merahasiakan ini semua. Candra adalah salah satu pria populer di sekolahnya. Leilani tidak mau cari masalah, makanya ia memilih untuk merahasiakannya.


Leilani meminta Candra untuk pura-pura tidak mengenalnya. Ia juga melarang Candra berbicara padanya.


Sebenarnya Candra tidak begitu peduli dengan pandangan orang-orang. Tapi, karena sepupu kesayangannya yang meminta, maka Candra pun melakukannya.


Inilah alasan kenapa Candra selalu meminimalisir interaksi dengan Leilani di klubnya.


Leilani menghela nafasnya. "Aku juga nggak tau kenapa hidupku jadi begini."


"Mulai sekarang ... ceritain semua sama gue. Jangan sembunyiin apapun lagi dari gue," ucap Candra sambil mencubit pipi sepupunya itu.


"Iya." Bukannya kesal, Leilani justru malah tertawa saat Candra mencubit pipinya.


Mereka pun akhirnya sampai di depan gerbang. "Mau mampir dulu?" tawar Leilani.


"Iya lah. Capek gini ya masa nggak dikasih minum dulu," balas Candra.


Mereka pun masuk ke dalam rumah besar tersebut.


"Den Candra," sapa pak Satpam. "Non Lely."


Leilani dan Candra tersenyum pada pak satpam.


"Bi Sumi!" sapa Candra dengan wajah ceria.


"Den Candra," balas bi Sumi tak kalah ceria.


"Aku mau ganti baju dulu," izin Leilani.

__ADS_1


Candra pun mulai asyik mengobrol dengan bi Sumi.


Wajar saja mereka berdua akrab. Bi Sumi adalah orang yang mengasuh Leilani dan Candra waktu kecil, makanya mereka dekat.


"Kemana aja? Lama banget nggak ke sini," ucap bi Sumi sambil memberikan segelas air pada Candra.


Candra menerimanya dan kemudian duduk di kursi yang ada di sana.


"Nggak kemana-mana sih Bi, sebenernya," aku Candra.


Bi Sumi menghela nafasnya. Wajahnya berubah menjadi sedih.


"Kenapa, Bi?"


"Sering-sering ke sini," pinta bi Sumi. "Kasian Non Lely."


"Emang kenapa?" tanya Candra.


Bukannya Candra tidak tahu sama sekali tentang apa yang terjadi pada Leilani. Tapi Candra ingin tahu detail kejadiannya.


Bi Sumi pun mulai menceritakan kejadian kemarin saat Leilani di tampar dan di seret keluar.


"Bibi sebenernya udah nggak betah di sini. Tapi bibi kasian liat Non Lely. Dia gak punya siapa-siapa di sini. Ibunya kaya iblis. Masa nyiksa anak sendiri," tutur bi Sumi dengan mata berkaca-kaca.


Candra menepuk bahu bi Sumi. "Makasih, Bi. Bibi mau bertahan di sini," ucap Candra tulus.


"Mau gimana lagi. Non Lely udah kayak anak sendiri" balas bi Sumi.


Bi Sumi sendiri adalah seorang wanita yang sudah cukup sepuh. Dia tidak dikaruniai keturunan dalam pernikahannya.


Dulu, suaminya juga pekerja di sini. Tapi, sekarang suaminya sudah meninggal dan bi Sumi tidak ada niatan untuk menikah lagi.


Candra tiba-tiba teringat dengan baju Restu. Ia ingin dengar cerita aslinya dari bi Sumi.


"Bi. Bibi tau kan Lely bawa seragam cowok?" ungkap Candra.


"Oh yang itu. Tau lah. Bibi sama Non Lely kira bajunya ilang. Eh ... ternyata dicuri sama Non Rosa," ungkap bi Sumi.


"Udah gue duga," gumam Candra. "Si Rosa emang nyebelin. Tu anak musti dikasih pelajaran," ujar Candra.


"Kasih pelajaran gimana? Wong nyonya Ratih selalu bela dia," balas bi Sumi.


"Sekarang dimana si Rosa?" tanya Candra.


"Nggak tau. Belum pulang kali," jawab bi Sumi.


Tak lama kemudian, Leilani keluar dari kamarnya. Ia sudah berganti pakaian dengan baju rumahan.


Mereka bertiga pun mulai bergosip ria dan tertawa-tawa. Sudah lama bi Sumi tidak melihat Leilani seceria ini.


Namun, saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ....


"Eh, Candra," sapa Rosa.


***

__ADS_1


__ADS_2