Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Payung Ungu


__ADS_3

Bu Rika mengajak Leilani untuk bicara empat mata.


"Lela, hari ini siapa yang anter kamu pulang?" tanya bu Rika.


Leilani menggelengkan kepalanya. Sejak ia tinggal di rumah Candra, jadwal mengantar Leilani pulang sudah tidak berlaku lagi bagi mereka semua. Dan Leilani juga tidak mempermasalahkannya.


"Jadwal itu sudah tidak berlaku, Bu. Memangnya kenapa?" tanya Leilani bingung.


"Gini, mereka tidak akan mau berdamai gitu aja. Tapi seenggaknya kamu harus usaha. Nanti di perjalanan, kamu gunakan kesempatan itu untuk membujuk mereka agar mau berbaikan. Bicara dari hati ke hati, oke?" tutur bu Rika menjelaskan maksud dan tujuannya.


Sekarang, Leilani pun mengerti maksud dan tujuan bu Rika.


"Sepertinya, hari ini jadwalnya Hadyan, Bu. Kalau tidak salah," kata Leilani setelah mengingat-ingat kembali pembagian jadwal mereka.


"Bagus. Nanti kamu coba bicara baik-baik ya sama dia," titah bu Rika.


Leilani pun menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Semangat!!" kata bu Rika sambil mengangkat kepalan tangannya.


Mereka berdua pun kembali lagi bergabung bersama dengan yang lainnya.


Bu Rika memberi sebuah kode pada pak Bayu bahwa semuanya sudah ia atur.


Setelah mendapat kode dari bu Rika, pak Bayu dan bu Rika pun pamit undur diri dari sana.


***


"Pak Bayu, ini gimana?" keluh bu Rika dalam perjalanan pulang mereka.


"Gak papa, Bu. Ini bagian dari proses yang akan mendewasakan mereka," tutur pak Bayu bijaksana.


Bu Rika masih kelihatan ragu. "Tapi gimana kalau masalah mereka malah makin runyam? Berarti klub kita bakalan bubar," ujar bu Rika sedih.


Pak Bayu tersenyum tipis. "Tidak. Percaya pada saya. Saya yakin mereka akan bisa melaluinya bersama-sama," kata pak Bayu optimis.


***


Sementara itu, di dalam ruangan klub mereka semua hanya diam saja. Tidak ada satu pun yang mau bicara.


"Kalian tidak mau pulang?" tanya Leilani memecah kehinangan.


Tidak ada yang mau menjawab. Leilani menoleh pada Fadhil, dan Fadhil pun membalasnya.


Fadhil pun akhirnya bersuara. "Pulang aja. Lagian ngapain juga kalo cuma diem-dieman kayak gini, kan? Malah buang waktu aja," tutur Fadhil.

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo pulang," ajak Leilani.


Setelah mendengar itu, mereka pun bersiap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


"Hadyan," seru Leilani saat mereka semua hendak keluar dari dalam ruangan.


Seperti biasa, yang dipanggil adalah Hadyan, tapi yang menoleh semuanya.


"Aku mau ngajak Hadyan pulang," kata Leilani menjelaskan pada yang lainnya.


Hadyan kelihatan sedikit terkejut mendengar perkataan Leilani. Begitu juga dengan keenam pria lainnya. Tapi mereka tidak menagatakan apa-apa.


Melihat tatapan teman-temannya yang seperti itu membuat Leilani sedikit malu. "Jangan salah paham. Ini kan menurut jadwal," kata Leilani lagi.


Awalnya, Hadyan tidak mau mengantar Leilani pulang. Akan tetapi, saat mereka bubar, Leilani menarik paksa Hadyan dengan sekuat tenaga agar Hadyan mengantarkannya. Akhirnya, mau tidak mau Hadyan pun mengantarkan Leilani pulang.


Di sepanjang perjalanan, Leilani dan Hadyan hanya diam. Leilani bingung harus mulai darimana untuk bicara, jadi ia juga hanya diam saja.


"Hadyan," seru Leilani.


Akhirnya, di jalan yang lumayan sepi, Leilani memberanikan diri untuk bicara. Ini adalah kesempatan untuknya, ia tidak boleh menyia-nyiakannya.


Sebenarnya jalannya tidak begitu sepi, hanya saja sudah jauh dari area sekolah. Jadi tidak ada yang mengenali mereka.


Leilani sedikit terkejut. Ternyata Hadyan sudah tahu apa yang ingin ia bicarakan.


Lrilani tidak mau menyerah begitu saja. "Tolong maafin Candra. Aku yakin, dia gak bermaksud kayak gitu kok."


Hadyan tersenyum sinis. "Yakin?"


Leilani diam. Ia juga tahu, mungkin Candra memang keterlaluan.


"Kalo emang dia tulus mau minta maaf. Harusnya dia yang minta maaf sendiri," tutur Hadyan.


Leilani lagi-lagi hanya diam. Seperti halnya Fadhil yang tidak bisa langsung memafkan Leilani, begitu juga dengan Hadyan yang tidak bisa begitu saja memaafkan Candra.


Akan tetapi bedanya, Leilani berusaha untuk mendapatkan maaf dari Fadhil. Sedangkan Candra, dia tidak melakukan apa-apa. Entah Candra merasa bersalah atau tidak. Leilani juga tidak tahu bagaimana isi hati Candra.


"Nanti aku akan bicara dengan Candra," kata Leilani.


"Gak usah. Kalo pun dia minta maaf, harus kemauan dia sendiri. Bukan karena lo atau orang lain yang nyuruh. Kalo bukan dia sendiri yang pengen minta maaf, ya percuma aja. Itu artinya dia emang gak niat buat minta maaf," tutur Hadyan panjang lebar.


Yang dikatakan Hadyan memang tidak salah. Tapi tetap saja, Leilani harus bisa membujuk Candra. Entah tulus atau tidak, tapi Candra harus minta maaf pada Hadyan.


"Satu hal lagi. Kalo lo cuman mau bicarain sepupu lo itu dan terus belain dia, mending jangan bicara aja." Hadyan memberi peringatan.

__ADS_1


Leilani pun akhirnya memilih untuk diam dan tidak lagi mengungkit-ungkit masalah Candra. Leilani takut, Hadyan malah marah juga padanya. Bukannya menyelesaikan masalah, nantinya malah menambah masalah.


Mereka pun kembali berjalan dengan dengan keheningan.


Tik tik tik.


Tiba-tiba saja air hujan berjatuhan.


"Hujan," kata Leilani.


"Tau," balas Hadyan datar.


"Mau berteduh dulu?" kata Leilani. "Atau kamu mau langsung pulang aja ke rumah kamu? Gak papa kok sampai sini juga."


Leilani khawatir pada Hadyan, takutnya nanti kesorean, apalagi saat hujan.


Hadyan tidak menjawab. Dia malah membuka tas miliknya dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


Ternyata Hadyan membawa payung dalam tasnya. Leilani sedikit merasa ... heran? Biasanya laki-laki mana mau membawa payung ke sekolah seperti itu. Tapi mungkin karna Hadyan adalah seseorang model, makanya dia agak berbeda dari yang lainnya.


Hadyan pun membuka payung miliknya. Payung lipat berukuran sedang yang berwarna ungu.


Set


Hadyan tiba-tiba menarik Leilani agar ikut berteduh di bawah payung miliknya.


Leilani sedikit terkejut dibuatnya. "Tidak usah," kata Leilani. "Biar kamu aja yang pakai."


"Lo pikir gue cowok apaan? Gue pake payung, sedangkan cewek ujan-ujanan," kata Hadyan.


Mereka pun lanjut berjalan berdampingan dibawah payung Hadyan. Hadyan mencondongkan payungnya lebih pada Leilani agar Leilani tidak terlalu kehujanan. Ya meskipun, tentu saja mereka akan tetap basah, tapi setidaknya tidak terlalu parah.


Dan lagi, setiap Leilani bergeser agak menjauh, maka Hadyan pun agar bergeser pula supaya payungnya bisa tetap menaungi mereka berdua.


Akhirnya mereka sampai juga di dekat rumah Leilani. Namun Leilani tidak menunjukkan dengan pasti yang mana rumahnya.


"Sudah sampai. Terimakasih, ya," kata Leilani tulus.


Hadyan tersenyum kecil sambil mengangguk pelan.


Leilani seketika terkesima melihat senyumannya. Ini adalah pertama kalinya Hadyan tersenyum ramah padanya.


"Gak usah bilang makasih. Gue emang udah niat buat ngelakuin ini sejak lama," kata Hadyan.


***

__ADS_1


__ADS_2