Leilani Dan Tujuh Pangeran

Leilani Dan Tujuh Pangeran
Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Sehabis makan, mereka duduk santai sambil memperhatikan orang-orang.


Candra tengkurap sambil berkirim pesan dengan sang pacar, Kalevi fokus mengamati orang-orang yang sedang bermain voly. Kemudian Dimas, ia tidur dengan santai seperti di pantai.


"Kegiatan kita apa lagi Pak?" tanya Candra tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel genggamnya.


"Gak ada," jawab pak Bayu.


"Yess. Ini baru namanya klub spesial," ujar Candra senang. "Kalo gitu saya mau ke markas, Pak."


Candra berdiri dan kemudian segera pergi dari sana.


"Pak. Apa saya boleh pulang?" tanya Leilani. "Silakan," jawab pak Bayu.


Leilani pun pergi menuju ruangan klub untuk mengambil tas. Di sana, ada Candra yang sedang fokus dengan game komputernya.


Cklek


Candra berbalik ketika mendengar suara pintu terbuka. Mata Leilani dan Candra bertemu, tapi mereka hanya saling menatap dalam diam. Sepertinya, ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Entah apa itu.


***


Ini adalah hari minggu. Leilani sedang bersantai di pinggir kolam sambil membaca buku.


Tiba-tiba saja, notifikasi pesan masuk sangat banyak ke handphonenya. Tidak seperti biasanya.


Leilani tidak punya teman chat satu pun juga. Jadi sudah pasti, ini adalah notifikasi pesan dari grup chat klub spesial.


Leilani pun membukanya.


Candra : "Ada kabar besar!!"


Restu. : "Kabar apa?"


Candra : (Mengirim foto)


Kalevi : "Foto apaan tu?"


Candra : "Ada headset delapan. Sama buku juga. Di sananya ditulis "Leilani".


Kalevi. : "Mba Kun. Lo beli itu buat kita? Lo mau nyumbang juga ya?"


Leilani : "Nggak. Aku kan gak punya uang."


Kalevi : "Bener juga."


Leilani melamun sambil menyetrika baju putih abunya. Ia sedang memikirkan pesan dari Candra tadi. Siapa kira-kira yang mengirimkan barang-barang itu atas namanya?


***


Keesokan harinya, di waktu istirahat Leilani pergi ke ruangan klub sendirian. Ternyata anggota lain, pak Bayu dan bu Rika juga sudah ada di sana.


"Nah! Itu orangnya," ucap bu Rika ketika melihat kedatangan Leilani ke sana.


"Mba Kun. Lo beneran gak beli semua ini?" tanya Kalevi sekali lagi.


Leilani menggelengkan kepalanya sambil mengamati benda-benda yang tertulis namanya di sana.


"Dia mana punya uang. Sepatu aja ...." Hadyan melihat sepatu Leilani dengan tatapan meremehkan.


"Bener sih," timpal Kalevi.

__ADS_1


"Ceritakan gimana kejadiannya," titah pak Bayu pada Candra.


"Nah, bener. Lu sendiri ngapain ke sini hari minggu?" tanya Kalevi. "Mencurigakan."


Fadhil menganggukkan kepalanya. "Bisa jadi lo sendiri yang beli ini. Lo tersangka utama."


"Enak aja. Buat apa gue beliin barang buat dia. Yang ada nyokap gue marah-marah kalo tau gue beli barang mahal buat dia," tutur Candra memberi penjelasan.


"Lagian dia bukan siapa-siapa gue juga. Pacar bukan, temen bukan. Ngapain coba gue beliin buat dia," lanjut Candra.


"Terus lu ngapain ke sini kemaren?" tanya Kalevi.


"Gue mau main game. Eh, tau-taunya udah ada itu di sini," jawab Candra.


"Jangan-jangan lo ya?" Candra balik menuduh Kalevi.


"Mustahil. Bukan tipe gue," jawab Kalevi enteng.


"Kamu, Bima?" tanya pak Bayu.


Bima menggeleng santai.


"Barangnya barang mahal. Pasti orang kaya," ujar Restu dengan wajah berpikir.


"Jadi tidak ada satu pun dari kalian pelakunya?" tanya pak Bayu memastikan.


"Apa jangan-jangan ... ini adalah kejutan bu Rika sama pak Bayu?" Candra terus mencoba menebak siapa pelakunya.


"Ah ... tapi kalian kan juga gak cukup kaya buat beli barang kayak gini,” ucap Candra yang tidak disaring sama sekali.


"Hush!! Kamu ini." Bu Rika sedikit kesal dengan ucapan Candra.


Bu Rika kembali memikirkan siapa pelakunya. "Apa jangan-jangan ...." Bu Rika menggantungkan perkataannya.


"Ya ampun!!" pekik bu Rika sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Kenapa, Bu?" tanya pak Bayu.


"Jangan-jangan ... ada penguntit!! Dia pasti menguntit Lela. Yang bisa masuk ke sini kan cuma anggota," tutur bu Rika dengan wajah horor.


"Bu Rika terlalu banyak nonton drama," balas pak Bayu.


"Pak Bayu ini! Gimana kalo beneran?" kesal bu Rika. "Pokoknya harus ada yang antar Lela pulang mulai sekarang."


"What?! Jangan bilang ... salah satu diantara kita yang harus nganter dia pulang?" tebak Candra.


Bu Rika mengangguk penuh keseriusan.


"Benar. Kalian bergantian anter Lela pulang."


"Ide bagus," timpal pak Bayu.


"Tidak usah, Bu," tolak Leilani. "Biasanya saya juga pulang sendiri."


'Bu Rika makin mengada-ada. Kenapa aku harus diantar pulang oleh mereka,' batin Leilani.


"No no no. Kamu itu perempuan. Gimana kalo klub kita pulangnya malam abis kegiatan?" Bu Rika tidak menerima penolakan.


"Lani," seru pak Bayu tiba-tiba.


"Iya."

__ADS_1


"Sepertinya kunci bapa hilang. Bisa tolong carikan?" pinta pak Bayu.


"Oh, iya."


Leilani pun pergi dari sana dan mulai mencari kunci yang mirip seperti kunci miliknya.


Sementara itu, di ruangan klub, pak Bayu menyuruh ketujuh pemuda populer itu duduk. Mereka duduk melingkar seperti biasanya.


"Dengar! Perintah ini adalah mutlak. Ingat poin perjanjian yang pertama. Harus patuh pada pak Bayu, bu Rika dan ketua." Pak Bayu kembali mengingatkan ketujuh pemuda itu agar mereka tidak lupa.


"Kalau kalian gak mau ...." Bu Rika kembali menggantungkan ucapannya.


"Kek!!! Tamat riwayat kalian semua," ancam bu Rika.


Mereka menghela nafas lelah.


"Dengar! Sebenarnya, bapak bukan cuma ingin kalian mengantar Leilani pulang," ujar pak Bayu yang mulai mengemukakan niatannya.


"Bapak mau kalian lebih dekat dengan dia. Sejujurnya, bapak merasa Leilani terlalu misterius untuk kita," lanjut pak Bayu.


"Maksud Bapak? Bapak mau kita ngorek kehidupan pribadi dia?" tanya Candra.


"Begitulah kira-kira," jawab pak Bayu.


"Nggak. Saya nggak setuju. Itu privasi dia, Pak. Jangan ikut campur urusan orang," tolak Candra.


"Pikirkan ini. Kalian tau rumor yang beredar, kan?" tanya pak Bayu pada ketujuh pemuda itu.


"Tentang dia yang sebenernya suka bully Rosa?" Kalevi bertanya untuk memastikan.


"Yap. Itu salah satunya. Apa kalian juga tidak penasaran siapa yang mengirim barang-barang itu?" lanjut pak Bayu sambil melirik barang-barang dari orang misterius tadi.


Mereka mulai memikirkan kata-kata pak Bayu.


Fadhil kemudian mengangkat tangannya. "Saya setuju."


Pak Bayu dan bu Rika tersenyum karena Fadhil mengerti maksud mereka.


"Hah?!" Candra menatap Fadhil dengan tatapan tak percaya.


Fadhil bukan tipe orang yang suka ikut campur dengan masalah orang. Tapi sekarang?


"Saya juga setuju," timpal Restu.


"Oke. Angkat tangan bagi orang yang setuju," titah pak Bayu.


Mereka pun mengangkat tangan mereka, terkecuali Candra.


Candra menggeleng tak percaya. Kenapa mereka malah setuju semua?


"Sudah diputuskan. Akan ada jadwal mengantar Lela pulang," ujar bu Rika senang.


"Kamu, Candra. Hari ini kamu yang antar Lela pulang!" titah bu Rika.


"Oke ..." jawab Candra malas.


"Fadhil selasa, Restu Rabu, kamis Dimas, jum'at Levi, dan Sabtu Bima," putus bu Rika.


"Oke. Misi klub sudah ditentukan. Selamat menjalankan misi kalian," ujar pak Bayu yang kemudian bertepuk tangan.


***

__ADS_1


__ADS_2