LELAH

LELAH
Episode 1 (Ibu Mertua)


__ADS_3

Awal bulan lagi, dan Rea membencinya.


Karena memasuki awal bulan, mereka akan berkumpul dirumah Marya, ibu mertuanya.


Wanita yang selalu anggun dengan pakaian mahalnya, wanita yang selalu tegas di setiap tutur katanya, dan wanita yang selalu berhasil menyakiti hati Rea lewat tatapan tidak sukanya.


Bukan kumpul-kumpul biasa, melainkan membahas masalah usaha yang ibu mertuanya percayakan kepada anak-anaknya.


Kenapa mereka para istri harus ikut? Kata Marya biar lebih dekat satu sama lain.


Tapi nyatanya, Rea malah merasa terkucil


Bahasan mereka selalu saja membuat Rea bungkam. Karena jangan kan pernah merasakan, mengerti pun tidak.


Mulai dari pembahasan barang-barang branded hingga liburan ke berbagai negara.


Benar yang orang bilang, beda level beda pembahasan.


Beda kelas, pasti beda tempat.


***


Menjelang sore mereka sudah tiba dirumah ibu mertuanya.


Rumah yang sangat mewah menurut Rea, untuk ukuran wanita yang dulunya hanya tinggal di kampung.


Di sisi kiri dan kanan terdapat bermacam aneka bunga yang memanjakan mata. Kata Bram, ibunya memang suka berkebun dihalaman rumahnya.


Di teras rumah terdapat dua kursi kayu yang bercat coklat, dan sebuah meja kayu kecil.


Angin sepoi-sepoi berhembus, menambah sejuknya rumah itu.


***


Marya yang dari tadi di dapur telah berkumpul dengan mereka, anak-anaknya.


Biasanya dia tidak akan berbasa-basi, dia akan langsung menanyakan apa yang menurutnya perlu di perbaiki dalam menjalankan bisnisnya.


Rasyid, anak sulungnya, diberikan kepercayaan untuk mengelola usaha properti milik keluarga.


Arsyad, anak kedua, diberikan kepercayaan untuk mengelola kafe yang tersebar di beberapa provinsi.


Dan Bram, anak bungsunya, di berikan kepercayaan untuk mengelola usaha mebel yang dulu dikelola ayahnya, sebelum ayahnya meninggal.


Untuk urusan itu, para istri tidak akan ikut bergabung. Mereka akan ikut membantu ART menyiapkan makanan untuk jamuan makan malam nanti.

__ADS_1


***


Masalah-masalah usaha bisnis sudah selesai di perbincangkan, makan malam juga telah usai.


Waktunya mereka akan pamit pulang. Rasyid sudah pulang duluan dengan istrinya, Diana.


Arsyad katanya akan menginap di rumah ibunya, karena Naraya lagi hamil. Takut nanti kecapekan di jalan, karena rumah mereka cukup jauh dengan rumah ibunya.


Tapi ketika hendak masuk ke mobil, Marya memanggil Bram.


"Bram, tunggu sebentar! Ada yang ingin ibu sampaikan."


"Oiya buk, ada apa?"


"Sebaiknya kita ngobrol didalam saja Bram, biar Rea menunggu di dalam mobil."


Bram melirik Rea, meminta persetujuan sepertinya.


Dia mengangguk, dan mengisyaratkan agar Bram menyusul ibunya kedalam.


Entah apa yang ingin mereka bahas, bukankah tadi sudah selesai? pikir Rea.


Merasa di dalam mobil kurang nyaman, Rea memutuskan keluar dan duduk di teras. Tapi tiba-tiba terdengar Marya berbicara sesuatu pada Bram.


Gadis miskin kan biasanya rajin, ini banyak malasnya. Dasar manja!"


Jadi itu penilain ibu mertua terhadapnya. Lalu bagaimana dengan menantu ibunya yang lain, Diana dan Naraya?


Bahkan saat selesai makan pun mereka enggan untuk membantu mengangkat piring yang kotor. Hanya Rea yang membantu bik Wina dan bik Iyem.


"Jadi laki-laki itu nggak boleh di bodohi istri, Bram. Rea itu cuma numpang hidup sama kamu. Capek Ibu liatnya. Apa perlu Ibu yang cariin kamu istri lagi, yang bisa di andalin?" Ibu berbicara dengan sangat marah.


"Buk, sudahlah. Kenapa selalu saja hal ini yang Ibu bahas. Kami menjalani rumah tangga dengan cara kami, Buk."


"Ya, dengan cara kamu. Makanya kamu kurus kayak begitu semenjak menikah dengan Rea!


Keluar sama temen-temen kamu aja kamu jarang, kan!


Kenapa? Dikekang kamu sama dia?


Apa yang bisa kamu banggakan dari istri kamu?


Hanya tamatan SMA, miskin, dan yang lebih parah lagi belum bisa memberikan kamu keturunan!"


Cukup! Rea sudah tidak kuat lagi mendengar semua itu.

__ADS_1


Sesak, dia menekan dada kuat-kuat agar bisa meredam tangisannya. Dia belari menuju mobil.


Entah apalagi yang akan ibu mertuanya katakan pada Bram, dia tidak akan kuat mendengarnya.


Serasa runtuh dunianya kala tahu bahwa ibu mertuanya membencinya dengan begitu dalam. Dia menyandarkan kepalanya di pintu mobil, pening mulai mendera.


Air mata tak mampu lagi dia tahan. Seburuk itukah dia di pandangan ibu mertuanya?


Sekelebat bayangan muncul di balik jendela kaca, berarti Bram akan segera kembali.


Rea buru-buru masuk ke dalam mobil, karena dia tidak ingin Bram tahu bahwa dia telah mendengar semuanya.


Bram berjalan kearah mobilnya di parkir, Rea segera menghapus air matanya, menahannya agar tidak keluar lagi. Lalu tersenyum dan membukanya.


"Lama nunggunya, Sayang?" Bram bertanya sambil mengusap kepalanya.


"Enggak juga mas, orang nunggunya sambil main HP jadi nggak kerasa," jawabnya sambil memegang tangan Bram. Berharap mendapatkan kekuatan dari genggaman tangan itu.


"Ya udah, kita pulang. Kamu pasti capek, kan?"


Rea membalasnya hanya dengan senyuman.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah ibu mertuanya dan kenangannya hari ini.


Kenangan yang akan menambah kesabaran nya untuk masa depan.


Atau mampu membuat hidupnya menjadi berantakan.


***


Sebelum pulang ke rumah, mereka mampir terlebih dahulu ke sebuah minimarket yang terletak di pertigaan jalan menuju rumah mereka, hanya sekedar untuk membeli cemilan cemilan ringan untuk menemani waktu bersantai.


Hanya Rea yang turun, sedang Bram lebih memilih menunggu di dalam mobil.


Bram masih mengingat jelas bagaimana kata-kata ibunya tadi.


Jika dalam waktu setahun Rea masih belum juga hamil, maka Bram harus rela menceraikannya.


Bram tidak ingin semua itu terjadi, membahagiakan Rea adalah tanggung jawabnya.


Dia akan berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan Rea ada di sisinya. Walaupun Bram tau, Ibunya bukanlah wanita yang mudah menyerah. Menentang keinginannya adalah sebuah masalah.


Tidak peduli bagaimana perasaan Bram terhadap istrinya saat ini, yang dia tau hanya ingin menjadi pelindung untuk Rea.


Bahkan jika harus mengorbankan perasaannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2