LELAH

LELAH
Supermarket


__ADS_3

" Aku pulang." suara ana membuyarkan kan fikiran daniel kini matanya mengarahkan pada ana.


" aku fikir kau sudah kembali, makanya aku langsung kembali tanpa kembali ke restaurant lagi." ucap daniel tanpa bersalah.


Apa daya tampungan ingatan daniel masih berfungsi? Sudah jelas- jelas dan sangat jelas ana menjelaskan padanya kalau ana menunggunya, dan mungkin janji yang ia buat juga ia melupakannya, ya memang pria itu sudah mulupakannya.


Ana tak merespon daniel, ia terus melangkah menuju anak tangga, menaiki satu persatu.


"kau pulang naik apa?" ana tak merespon terus melangkah dan sampai akhirnya ia masuk kedalam kamar dan menghilang dari pandangan daniel.


Daniel menatap dari kejauhan dengan bingung, ada apa dengan ana? Dia merasa tidak melakukan sesuatu, dan urusan janji menelepon, daniel hanya asal berbicara agar ana dapat membiarkan dia pergi tanpa membuatnya menangis ditempat umum.


lagi pula daniel tidak memiliki no ana.


...****************...


3 hari berturut-turut, ana tidak memperdulikan apa yang daniel lakukan.


Moodnya pada suaminya benar-benar tidak mendukung. Sampai pada akhirnya daniel pasrah, dan mulai menanyakan keanehan ana yang sedang ia rasakan.


" kau kenapa?"


"Tidak," singkat ana, sembari meneruskan pekerjaan memasak.


" sudah ku katakan tidak perlu memasak lagi, kau hanya membuang waktu saja." ana tak memperdulikannya, dan hanya fokus masakannya yang hampir selesai.


Daniel menghempaskan nafasnya kasar,


Kenapa wanita ini sangat keras kepala!


Setelah selesai ana menyajikannya diatas meja, lalu pergi meninggalkan daniel yang berdiri seperti patung.


Tampaknya sehabis memasak tadi, ana langsung bersiap diri, terlihat dari pakaiannya yang telah berganti menjadi pakaian dress yang tidak terlalu ketat, tapi perutnya terlihat membuncit.


****! Daniel sekali -kali melirik ana, dan sepertinya istrinya itu mengarah padanya.


daniel menelan salivanya, kenapa wanita itu membuat dirinya tergoda.


Dan segera mungkin pandangannya ia alihkan pada koran yang berada pada genggamannya.


" ada apa?" sontak pertanyaan itu keluar dari mulut daniel. Tapi ana tak menjawab pertanyaan suaminya itu.melainkan fokus pada seekor anak kucing yang berada didekat kaki daniel.


Daniel yang merasa tidak ada kehadiran istrinya dihadapannya, segera menurunkan koran yang menutupi wajahnya.


ia mendapati istrinya yang tengah duduk dilantai, mengusap tubuh anak kucing itu dengan lembut.


Lagi-lagi ana membuat pertahanan daniel goyah. Posisi ana yang mengusap kucing, membuat belahan dadanya terlihat jelas pada posisi daniel yang berada diatas sofa.


"ada apa?" kini giliran ana yang berbalik bertanya pada daniel, menatap daniel yang menatap dirinya.


Daniel terkejut ia seperti tertangkap basah habis melakukan sesuatu. Dengan segera ia menggeleng.


" Kau hampir menginjaknya," ana bangkit dan membawa anak kucing itu menuju pintu, membantunya menuju jalan keluar dari rumah ini.


Ana berbalik badan, ia berjalan arah daniel. Tangan nya sesekali mengusap perut buncitnya.


"Aku izin..."


" bertemu dengan pria hidung belang?"


Ana menatap daniel tak percya


"tdak, kau tidak boleh kemana-mana." katanya, tapi matanya mengarahkan pada dada ana, baju nya benar-benar rendah, membuat sebagian dadanya itu terlihat.


"aku ingin membeli susu."


"susu? Bukannya kau punya?" tatapnya masih sama, mengarah pada dada ana. Ana menggeleng cepat karena stok susunya sudah habis.


" susu..." ana mengernyitkan dahinya.


"susu hamil." jelas ana


" iya itu susu, susu hamil maksudnya,"lanjut daniel sedikit gugup. Daniel membuang fikiran mesumnya itu.


Ana memutar bola matanya, kenapa suaminya membuang waktunya saja.


" aku diizinkan atau tidak?"


" tidak!" ana menatap tak percaya


" ngh, maksudnya iya," kini ia menghempaskan nafasnya dengan kasar.


sepertinya suaminya membuat perasaan ibu hamil berantakan, karena sikap labilnya.


" ana mengangguk lalu berjalan perlahan menuju pintu.


" mau kemana?" pertanyaan daniel berhasil menghentikan langkah ana.


Ana menghempas nafasnya lagi.tadi ana sudah menjelaskannya, apa ia masih kurang jelas.


" membeli susu." jelas ana tanpa menoleh.


"kau memiliki uang? " ana menautkan alisnya. Ia masih memilikinya dalam bukut tabungannya.


" sudah kuduga, atau kau ingin menawarkan tubuhmu dulu pada pria hidung belang? Lalu kau baru membelinya?" ana membalikan tubuhnya. Sakit sekali daniel berkata seperti itu, air matanya tanpa disuruh keluar dengan sendirinya dari matanya.


"Aku tak sehina itu," jawab ana, sesekali suaranya tercekat


"aku masih memiliki uang ditabungan ku."


ana meneruskan langkah kakinya kembali,

__ADS_1


Tapi kembali tersendat karena daniel sekarang daniel sudah berdiri diambang pintu.


daniel mendecih," aku tidak yakin. 5 bulan kau tak melakukan pekerjaan itu, pasti kau tidak memiliki pemasukan. Dan sekarang kau hendak melakukan pekerjaan itukan?"


Hatinya sakit sekali daniel menuduhnya seperti itu " aku tidak sehina itu." ucapnya, sembari menghalus air mata yang membasahi pipinya.


Menangis lagi? Bukankah perkataannya tidak salah? Ia senang mengeluarkan kata pedasnya untuk ana.


"bagaimana kalau aku yang mengantarmu?" ana mengerjapkan matanya beberapa kali, mencerna perkataan daniel, sejenak ia mengahapus air matanya. Apa suaminya tidak salah?


"mangantar ku?"


Namun dibalik semua perkataan pedas daniel, ia sebenarnya hanya tidak suka ana berpergian seorang diri dengan berpakaian seperti itu. Ingin memberitahu wanita itu pakaiannya terlu terbuka namun ia takut ana terbawa suasana. Jadi ia memantau ana secara langsung agar tidak ada pria berani menatap tubuh indah ana.


"ya."


"tidak, aku akan pergunakan kaki ku ini, sepertu yang kau bilang."


" tanang saja aku tidak akan menyewakam tubuh ku ini." lanjut ana lagi.


" baik, berarti kau tidak ku izinkan keluar."


" aku hanya membeli susu hamil."


"pertama, aku tau kau tidak memiliki uang dan aku juga tau kau pasti akan tetap pergi lalu menyewakan tubuhmu itu ah, menjijikan.


"kedua kau ingin berjalan kaki? Jangan menghalu, kau ini sedang hamil? Kau ingin membahayakan dirimu sendiri kemudian lada akhirnya kau akan merepotkan ku. Dan yang ke tiga, kau tidak ingin menginginkan ku mengantar mu? Sudah bisa disimpulkan bahwa kau memang berniat menyewakan tubuh mu itu pada pria hidung belang." ucap daniel untuk pertama kali sepanjang kereta api.


ana menghela nafasnya, perkataannya memang menyakitkan tapi ia sedikit luluh pria itu memiliki rasa khawatir pada dirinya, ia akhirnya mengalah dan mengangguk.


" baiklah, antar aku."


" tunggu disini, jangan kemana-mana." daniel bergegas kekamarnya, untuk berpakaian lebih rapi.


...**************...


Daniel mengemudikan dengan santai, iya juga memakai kaca mata dipagi hari. Entah agar matanya tidak mau terkena sinar matahari yang mulai terik. Atau ia takut terciduk karena diam-diam selalu melirik ana yang berada disampingnya. Tapi ana masih bisa merasa kalau daniel meliriknya.


" minimarketnya..." kata ana, saat melihat minimarket dekat rumahnya dilewati begitu saja oleh daniel.


"kita pergi kesupermarket"


ana menautkan alisnya" putar balik, aku hanya ingin disitu saja."


Daniel menurunkan sedikit kacamatanya kemudian memberikan tatapan tajam pada istrinya itu. Otomatis ana menundukan kepalanya.


Daniel kembali fokus pada jalanan.


kriieett ...daniel mengerem mobilnya dengan sangat mendadak. Guncangan akibat dari rem yang daniel buat, membuat ana meringis kesakitan pada perutnya.


Daniel melepaskan kaca matanya, wajahnha sangat panik melihat ana meringis kesakitan.


jantung berdegup kencang. Mata ana menatap manik mata daniel. Rasa sakit itu perlahan-lahan menghilang, saat matanya menatap daniel.


" Tadi ada kucing," daniel mencoba menjelaskan. Ana menganggu pelan, daniel pun menjalankan mobilnya kembali.


...***************...


Mereka berduapun sampai disalah satu mall.


daniel sudah siap keluar dari mobilnya.tapi tidak dengan ana yang masih diam dikursinya,dengan sabuk pengaman yang masih terpasang.


"turun." pinta daniel, tapi ana malah menggeleng


" jangan membuat ku marah."


" kau tidak meninggalkan ku kan?" tanya ana, rupanya ia masih trauma dengan daniel yang meninggalkannya seorang diri.


"aku akan menemanimu." tatapnya kini mengarahkan lurus, tidak menatap ana.


" tidak, nanti kau meninggalkan ku, aku tidak mau."


Daniel mengacak rambutnya frustasi. Apa perkataan nya tadi masih cukup jelas? Atau ana tidak memahami perkataannya?


"Aku tidak masalah jikau kau meninggalkan ku diminimarket dekat rumah, tapi bila disini aku tidak mau." jawab ana sedikit begetar.


"Bodoh! memangnya siapa yang mengatakan akan meninggalkan mu?" ana menggelengkan kepalanya. Tidak tahu, batinnya ikut menjawab.


Daniel berdecak kesal ia keluar dari mobil. Lalu membuka pintu bagian ana.


"keluar." satu persatu ana turunkan kakinya diatas aspal, lalu bangkit.


Kemudian daniel menutup pintu, dan mengunci mobilnya.


" ayo!" daniel berjalan mendahului ana, mendahului ana yang masih terdiam ditempatnya, lalu mulai mengikuti langkah kaki daniel dari belakang, dengan sangat perlahan. Kondisinya yang sedang hamil tidak memungkinkan ana untuk berjalan dengan cepat, atau bahkan bisa menyusul langkah kaki daniel yang besar.


Daniel hanya bisa mengerutu, apa memang semua ibu hamil langkahnya seperti lansia.


Daniel pun kembali kebelakang, awalnya ia berniat memarahi ana tapi melihat perutnya buncit, daniel tidak tega memarahinya, dan mengurungkan niatnya tadi.


Dari kejauhan daniel geram melihat kelambanan ana.ia pun memutuskan menghentikan langkahnya sejenak, menunggui ana agar jaraknya tidak terlalu jauh dengannya.


" setelah ku cermati, siput lebih cepat dari mu!" kata daniel saat ana sudah mendekat padanya.


Setelah memutar mall besar ini, daniel dan ana berhasil menemukan supermarket disini.


ke-keras kepala daniel merimbas pada ana, yang harus ikuti serta mengelilingi mall sebesar ini.


"sudah ku bilang, minimarket dekat rumah saja." ketus ana. Pria ini tidak akan pernah tau. Dalam kondisinya yang sedang mengandung ana mudah letih.Tentu saja tidak, ia tidak akan pernah tau.Peduli dengannya saja tidak.


"lemah." cibir daniel. Ana melemaskan pandangannya.

__ADS_1


" cepat pilih," kini daniel yang berbalik ketus kepadanya. Ana mengambil susu ibu hamil yang sering ia beli. Hanya 1 dus yang berukuran besar yang ia ambil. Dan itu berhasil membuat daniel membulatkan matanya tidak percaya.


" 1 saja?"ana mengangguk cepat


" bagus, setidaknya uang ku tidak terbuang banyak." timpah daniel sesegera mungkin.


untuk bayi yang entah siapa ayahnya. Umpat daniel pelan, tapi sangat terasa ditelinga ana.


ana terdiam sejenak.setelah perdebatan berjalan menuju kemari daniel memaksa akan membayar untuknya. Perkataan pria itu sekarang terdengar bahwa ia tidak ihklas membelikan untuk ana terlebih umpatannya, lalu untuk apa tadi ia memaksa.


" jadi kau tidak ihklas membelikan ini untuk ku?" tanya ana saat umpatan daniel terdengar olehnya.


"Menurut mu?"


" tidak apa-apa, aku masih bisa membelinya sendiri."ucapan ana yang terdengar kecewa. Ia memang sudah bahagia saat daniel memaksanya seolah-olah ia sangat memperdulikannya bayinya, nyatanya pikirannya salah, sampai kapanpun daniel tidak akan mengakui bayi yang tengah dikandungnya.


"daniel menghela nafasnya kasar, sensitif sekali ana. Daniel mengambil 4 kardus lagi dan memeluk empat kardus itu agar tidak terjatuh.


"kurang?"


"kau ingin berapa?"


ana mengaga, kalau sebanyak itu uang didompetnya tidak cukup, ia meninggalkan atm nya dirumah.


"aku yang akan membayar."


"tidak apa-apa aku hanya membutuhkan ini," jawab ana.


"daniel berdecak." kau menolak?" setauku ****** tidak akan pernah menolak pemberian apapun." sebutan itu lagi, dadanya mulai terasa sesak saat daniel menyebutkan sebutan itu pada diringa.ana mimilih melangkah meninggalkan daniel dengan mata yang terasa panas.


Sungguh penolakan ana membuatnya kesal, ia menyusul ana.bila ia perhatikan ana hanya menunduk


"lihat kedepan bukan menunduk kebawah seperti itu.


ana menaikan pandangannya, matanya sudah menggenang air mata.


Daniel memperhatikan sekitar yang mulai banyak orang, ia menahan langkah ana dengan cara memegang lengan nya.


Buliran air matan ana akhirnya jatuh dan membasahi pipinya.


"jangan menangis!" bentak daniel pelan ia takut orang-orang berfikir buruk mengenainya. Tetap, ana tidak mau menghentikan tangisannya.


daniel mengusap wajahnya dengan kasar, akhirnya ia memilih untuk menghapus cairan bening yang membasahi pipi ana.


"lupakan perkataan ku, aku tidak serius mengatakan itu, aku yang akan membayarnnya," ucap daniel dengan lembut, ia kemudian mengalih kotak susu yang berada dalam tangan ana. Ia melakukan ini agar ana tidak terus menangis, jadi biar lah ia mengalah kali ini.


Namun disatu sisi juga melihat ana menangis membuat daniel seketika menjadi tidak tega dibuatnya.


Daniel memilih jalan dibelakang ana karena ia tidak mau berisiko membuat emosinya terpancing dan pada akhirnya ana menangis lagi. Daniel meletakkan semua dus diatas meja kasir, dan kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayarnya.


"Ada lagi?" tanya daniel, mereka pun keluar dari mini market.


" dering ponsel daniel mendadak bunyi, dan menghuruskannya untuk mengangkatnya. sebelumnya, ia menjauhkan posisinya dari ana.


" hallo?"


"....."


" apa?metting mendadak?"


"....."


" ck, kalian tau kan, saya tidak suka denga hal yang berbau dadakan!"


"cencel! Bilang pada mereka, next pertemuan. tut! suara telepon terputus terdenggar dari


Ponsel milik daniel.


Suasana keadaan didalam mobil tidak sehening tadi pagi saat berangkat, suara klakson mobil yang saling bersautanlah.membuat suasana sedikit lebih berwarna.


Ana yang berada disampingnya menatap wajah suaminya yang nampaknya terlihat sangat kesal dengan kondisi jalan saat ini. Ia tahu tapi, apakah ia tidak bisa ikut-ikutan? Kepalanya terasa ingin meledak.


"Daniel.."daniel milirik ana sekilas, lalu melanjutkan kembali memainkan bunyi klakson mobilnya.


" bisa tidak mengurangi kegiatan mu diatas klakson mobilmu itu?" tanya ana hati-hati.


"merasa terganggu? pintu buka lebar, kalau kau bersedia turun." penolakan daniel terasa tajam dan menohok dihati.


"tapi,kepalaku terasa pusing mendengar klakson mu yang..."


"Berisik? Yang menekan klakson mobil banyak, bukan hanya aku saja."


" jadi, jangan menyalahkan ku, kalaupun aku diam, tetap berisik juga kan? Kata daniel diakhir tatapan tajam.


Ana pun terdiam kemudian menunduk, sesekali ia memijat keningnya.


tiinnnn.....tin...tin...*tiinnnn...


Hueekk..hueek*..mendadak ana merasa mual. Dan suara mualan ana sendirilah yang menghentikan tangan daniel yang sedari tadi terus menerus menekan klakson mobil miliknya.


" ck! jangan mengotori mobil ini," peringat daniel.


Hueekk..huek...ana menutup mulutnya dengan tangannya, membekapnya dengan kencang.


" daniel berdecak sebal, kemudian menjalankan mobilnya kembali, karena jalan sudah bisa dilewati walaupun perlahan. Daniel yang tidak menginginkan ana mengotori mobilnya ini.memilih untuk membelokan mobilnya kejalan sepi.


Entah daerah apa yang mereka injak ini


...****************...


Mohon dukungannya untuk karya ku 🙏🏻🙏🏻😊😊

__ADS_1


__ADS_2