LELAH

LELAH
Rumah sakit


__ADS_3

Biasanya pagi ini ana selalu memunculkan wajahnya dihadapan daniel.


Dan sekarang kemana perginya? Ia benar-benar membuat daniel kesal.


"kemana wanita itu" desis daniel!


" bi!"


"bi nina!!!" panggil daniel, bi nina secepat kilat menghampiri tuannya itu."


"Dimana ana?"


Bi nina menoleh kekanan kekiri untuk mencari nyonya itu namun setelahnya ia akhiri dengan gelengan.


" saya tidak melihat non ana sejak pagi,"


****! Daniel mengumpat kesal.


bagaimana istrinya itu kabru dari rumah ini?


Lalu melaporkan semuanya kepada orang tuanya dan mertuanya. Bisa gawat!


Daniel memutuskan sendiri untuk mencarinya kekamar. Tidak ada sedikitpun perubahan saat semalam ia injakkan kakinya disini.


Masih tetap sama, terutama nampan yang berisi nasi,susu, vitamin, yang daniel letakkan, masih utuh ditempatnya.


Namun setelah menatap nampan, matanya tertuju pada sebuah pintu, pintu toliet kamar ana. Pintu itu masih tertutup rapat, tanpa celah sedikit pun.


"Ana buka, pintunya," daniel terus mengetuk-ngetuk pintu toilet.


Tidak ada jawaban dari ana, dengan sekali dobrakan daniel dapat membuka pintunya.


disana sudah terdapat ana yang terbaring diatas lantai toilet.


"Astaga, Ana!" panik daniel, tentu saja ia panik kenapa ana ada didalam sini? Apa sedari malam ia berdiam disini, tempar dingin ini.


Daniel tanpa basa basi segera membopong ana untuk dipindahkan diatas ranjang.


ana masih memajam matanya, bibirnya sedikit memucat. Ini pasti karena kemarin ia tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan merasakan dinginnya toilet.


daniel membantu meniupkan telapak tangan ana agar kehangatan dapat ana rasakan, namun tetap saja ana memejamkan matanya.


" ana bangun,"katanya, kemudian diselingi tiupan hangat darinya.


Tak lama ana membuka matanya, ia sedikit terkejut saat melihat kehadiran daniel. Bagaimana kondisi matanya? Lalu jika siska tau bagaiman?


"kenapa kau bisa ada didalam sana?" tanya daniel bingung


ana merubah posisinya menjadi duduk, melepaskan tangannya dari tangan daniel.


"kau tidak berangkat?"


" Ah, iya. Aku menunggu....."perkataannya terhenti saat ia mendapatkan sebuah sambungan telepon diponselnya.


"........."


" iya sayang maaf, aku kesana sekarang ya,"


".........."


"ini ada insiden kecil, tapi tidak apa-apa bukam masalah yang besar,"


".........."


"tentu, masalah terpenting untuk ku, hanya kau saja."


"..........."


"iya sayang, bye. I love you."


baru saja tersadar, ana sudah dikasih sarapan seperti ini. Sarapan sesak didada.


Ana sudah bisa menebak pasti yang meneleponnya itu adalah kekasihnya, siska.


Karena hanya wanita itu yang bisa mendapat perkataan selembut itu, selain mama mertuanya.


Daniel bangkit" kalau ada perlu apa-apa katakan saja pada bi nina," setelah itu daniel pergi dari kamar ana.


Ana menantap sedih kepergian daniel, suaminya itu pergi dengan kekasihnya.


mau dikatakan tidak rela, ana tidak rela, istri mana yang rela melihat suaminya pergi bersama wanita lain, tapi ia tidak bisa menyangkalnya, bahwa suaminya itu memang seharusnya hidup bersama kekasihnya, bukan dengan dirinya.


...**************...


Sebulan berlalu, dan sekarang adalah tanggal dimana ana menjadwalkan pemeriksaan kandungannya.


Tiga bulan yang lalu daniel selalu mengantarnya untuk memeriksa kandungan ana walaupun semuanya adalah bentuk permintaan ana yang sedikit memaksa.


Ya, hanya sebatas mengantar saja, tidak ikut melihat perkembangan bayinya, tapi ana tidak mempermasalahkan hal itu, daniel mau mengantarnya itu sudah lebih dari cukup untuknya.


Hari ini ana akan mencoba kembali, mencoba agar suaminya itu mau mengantarnya dan membujuknya agar mau memeriksa kandungannya, dan melihat perkembangan bayinya bulan ini.


Walaupun ia tau sedikit sulit sekarang -sekarang ini meminta sesuatu dari daniel, semenjak kehadiran siska, sikap baik suaminya itu memudar, ia lebih mengutamakan wanita itu.


Ana mengetuk pintu kamar daniel dengan hati-hati


"ya?" suara teriakan daniel terdengar dari dalam kamarnya.


"Aku...." ana membuka kenop pintu perlahan-lahan.


disana suaminya sudah terduduk diatas sofa dengan pandangan yang berkutat pada layar laptopnya, diatas meja pula terdapat kertas-kertas miliknya.


sepertinya daniel sedang fokus pada file-file data yang ada di laptopnya itu.


"Apa?" tanya daniel


Ana merasa ragu untuk mengatakan keinginannya pada daniel.


"Daniel,"


Tatapannya kini telah berubah, menatap mata ana dengan malas "Apa? Jangan membuang waktu ku."


"kau, bisa tidak mengantar ku kerumah sakit?" ucap ana pada akhirnya, ia memberanikan diri mengatakannya.


terdengar helaan nafas keluar dari mulut daniel, "Aku tidak bisa." katanya, kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.


"bisa, kau pasti bisa." ucap ana ia berharap suaminya itu mengabulkan permintaan sederhananya.

__ADS_1


"Tidak bisa."


" kau masih ingat dengan perkataanku dulukan?" ucap daniel


Ana menggeleng tanpa sepengetahuan daniel.


"selama kau masih memiliki kaki, pergunakan kaki normal mu itu. Jangan manja,"


Ana mengingatnya, kalimat yang hampir ia lupakan, kini kembali lagi. Pasalnya daniel tidak pernah mengeluarkan perkataan itu, semenjak siska tidak memunculkan batang hidungnya.


" Tapi.."


Braks! Dengan sekali hentakan diatas meja, berhasil membuat ana terkejut, bahkan membuatnya takut.


"tidak usah manja!"


"lagi pula tidak ada pria yang ingin menggoda wanita hamil sepertimu."


"Toh sebulan yang lalu saja, kau memutari perumaha ini beberapa kali. Tidak terjadi apa-apa,"


" jadi, kau tidak akan kenapa-kenapa.


Paham?!" bentaknya, begitu menusuk hati.


daniel sama sekali tidak mengerti dirinya, kondisinya sekarang. Sebulan yang lalu kondisinya jauh lebih baik dibandingkan sekarang. Bahkan sekarang ia jarang meminumkan susu yang biasanya selalu ia dapatkan dari daniel. Karena, Semenjak kehadiran siska, daniel sudah tidak memperdulikannya.


Daniel memutar bola matanya jengah," Apa lagi?"


Kau tidak memiliki uang?" kemudian daniel mengambil dompetnya yang berada disaku belakang celananya, mengambil beberapa uang tersebut.


Ana menggeleng. Daniel mendecak, ia melempar beberapa lembar uang itu kehadapan ana.


"Ambil saja!" setelah itu daniel kembali fokus pada layar laptopnya.


ana menahan sesak didadanya. Padahal ana hanya memintanya untuk mengantarnya saja. Tapi justru ia malah membuat hal rendah baginya kalau hanya untuk memeriksa kandungan ana masih memilikinya.


"keluar! Jangan menganggu ku."


"aku sibuk!" katanya sedikit membentak


Ana menelan salivanya dengan susah payah, ia pun melangkah kakinya keluar, tanpa mengambil sedikitpun uang yang di berikan oleh daniel.


Ana berjalan menuju ruang tamu.


sejenak ia mengistirahatkan tubuhnya diatas sofa.


Namun beberapa menit ia berada diruang tamu, ia sudah melihat sosok daniel sudah rapi mengunakan kemeja. seketika sebilah senyuman tercetak dibibir ana.


Pasti suaminya itu sudah berubah fikiran, pasti ia akan mengantarnya kerumah sakit. Ini persis sebulan yang lalu. Daniel yang tidak terduga.


*Ana berjalan kesana- kemari, tangannya terasa dingin, bahkan jantungnya berdegup kencang.


Membuat daniel yang berada dimeja makan merasa risih


"bisa diam?" kata danie datar, ana yang mendengar suara daniel segera menghentikan langkahnya, menatap suaminya dengan gugup.


"kau tidak ingat?"


daniel bangkit dari duduknya, setelah sarapannya habis*.


" tidak."


belum selesai berbicara daniel sudah membalikan tubuhnya dan menghampiri tangga*


"*kalau untuk menuruti kemauan anehmu, aku tidak bisa. Hari ini aku sibuk." setelah daniel melangkah kakinya meninggalkan ana yang masih mematung.


Kecewa, ana merasa kecewa. Ia tidak mengingat bahwa hari ini adalah dimana ana harus memeriksa kandungannya. Untuk menemani dirinya, tapi sekarang ia sangat acuh pada dirinya.


Ana melangkah kakinya menuju ruang tamu, melangkah dengan kecewa, lalu duduk diatas sofa.


Untuk melupakan kekecewaan nya itu, ana memutuskan untuk menonton acara televisi.


Tak lama kemudian datang lah daniel yang sudah rapi mengenakan jas biru, tanpa sepengetahuan ana, karena dirinya sudah mulai asyik dengan acara televisi yang sedang ia nikmati.


Merasa ada yang memperhatikannya, ana menoleh kesamping kanannya, dan benar saja, daniel tengah menatapnya.


Ana yang masih meras kecewa, segera mengalihkan kembali pandangannya kelayar televisi. Ana benar-benar tidak mood melihat daniel.


"Ada apa?" tanya daniel, tali ana mengacuhkannya.


Daniel menghela nafasnya malas, "cepat ikut aku kemobil," pintanya.


Ana menautkan kedua alisnya, "untuk apa?"


"tidak usah berpura-pura lupa, atau apapun itu kau sudah tau jawabannya." jawab daniel.


Tapi ana justru malah terdiam terpaku, ia tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya.


"Ck! Permintaa kemarin."


Ana refleks segera menoleh kearah daniel." kau bisa menemani ku?" tanya ana berbinar bahagia.


" mengantar, jawab daniel datar. Baiklah, tidak apa-apa, ana sudah sangat bersyukur daniel mau mengantarnya, setidaknya masih ada rasa kepeduliannya untuk ana dan bayinya ini*.


Pasti daniel akan melakukan hal yang tidak terduga itu lagi.


ana melemparkan senyuman kepada daniel.ia yang menyadari mendapat senyuman, mendadak menghentikan langkahnya


"kenapa?"


" kau ma..."


" Ya, persis apa yang kau fikirkan,"


Ana mengembangkan senyumannya lebih lebar. Ia tau pasti daniel tidak akan membiarkan wanita hamil terlebih lagi istrinya untuk berjalan sendirian dirumah sakit.


"menemui siska," bagai dihantam ribuan beton mendengar lanjutan dari daniel.


Seketika senyum dibibirnya menghilang, pupus sudah harapan ana.


"kenapa?"


Ana mencoba tersenyum kembali dengan gelengan yang menyertainya.tanpa memiliki perasaan, daniel pergi. Anna mengingat kembali perkataan suaminya itu.


" keluar! jangan menganggu ku."


" aku sibuk."

__ADS_1


lalu bagaimana dengan siska? Apa dia tidak menganggu waktu kerjanya? Bagaimana dengan kesibukannya? Apa karena siska kesibukannya itu ditunda, atau bahkan kesibukan itu tidak berarti lagi?


Siska yang hanya berstatuskan kekasihnya, ia bisa meluangkan waktunya. Sedangkan ana? Sepertinya status yang lebih kuat tidak menjamin ana untuk bisa mendapatkan waktu dari daniel.


Ini sangat menyakiti hati.


......***************......


Tak ada pilihan lain untuknya, ia memilih untuk meminta rakha mengantarnya kerumah sakit. Dan beralasan bila daniel sedang sibuk dengan kliennya.


"Aku masih tidak menyangka, kau hamil ana...." perkataan itu terus -menerus Rakha ulang. Pasalnya ia baru mengetahui kalau adik sepupunya ini tengah mengandung, bahkan ia mengetahuinya setelah perut adiknya ini telah membesar.


Bisa dikatakan rakha shock, ia merasa terlambat untuk mengetahui semuanya.


Tapi sepertinya belum terlambat, karena 1 pun keluarga belum ada yang mengetahui tentang kehamilan ana, hanya rakha yang baru ana beritahu.


Sebenarnya, ana tidak mau merepotkan keluarga besarnya dan suaminya karena hanya kehamilan ini. Bukan hanya itu saja, kalau keluarganya memaksa untuk tinggal dirumahnya bersama daniel bagaimana? Apa daniel setuju.


Kekasihnya? Bagaimana tiba-tiba kekasih daniel datang kerumahnya dalam keadaan rumah ramai penuh dengan keluarga. pasti daniel akan menyalahkan ana.


" kakak akan beritahu papi dan mami kamu.." ana membulatkan matanya.


"jangan kak, jawab ana refleks."


" maksudku, biar cucunya ini menjadi surprise saja." ralat ana secepat mungkin, ia tidak mau membuat kakaknya curiga padanya.


"keponakanku bukan benda ana," kata rakha sembari sibuk memperhatikan jalan yang sedikit demi sedikit mulai ramai.


"ssstttt"


"kau diam saja," omel ana.


Rakha hanya tertawa melihat tingkah adik sepupunya ini.


Akhirnya merekapun sampai dirumah sakit tempat ana biasa memeriksa kandungannya.


Tugas rakha hanya sampai lobby rumah sakit saja, ia tidak bisa menemani pemeriksaan adik sepupunya sampai selesai. Dikarenakan metting yang harus segera mungkin diselesaikannya.


"telepon aku, kalau kau ingin pulang. Biar kakak yang menjemputmu.


Ana menggeleng " tidak perlu kak, mana mungkin ana harus menunggu kak Rakha sampai selesai metting." artinya ana tidak menginginkan daniel salah paham akan dirinya, karena beranggapan telah berkata yang tidak-tidak mengenainya.


Rakha mengangguk paham.


"ya , kalau kau mau saja.."


" aku pergi dulu," katanya seraya menutup jendela mobil miliknya.


Ana berjalan masuk kedalam, ia lebih dulu untuk mendaftarkan dirinya.setelah itu, ia menuju ruang tunggu, menunggu namanya dipanggil.


cukup banyak hari ini yang memeriksa kandungan, sampai- sampai kapasitas bangku disini penuh. Mereka datang kemari rata-rata didampingi oleh suaminya. Berbagai tipe suami disini, ada yang siap sedia menerima perlakuan manja istrinya, bahkan ada yang membentak suaminya dengan amat sangat murka dan dengan ihklas suaminya menerima.


Ana jadi merasa miris melihat keadaan sekitar. Mereka semua beruntung. Andaikan ana ada diposisi wanita-wanita itu, ana tidak akan merepotkan daniel, karena baginya kehadiran daniel untuknya lebih dari cukup.


Matanya tak henti menatap sekitar, seketika berhenti untuk memperhatikan sekitar.


Dan kini hanya terfokuskam pada satu titik, tepatnya di ujung koridor, sepasang manusia yang tidak asing baginya, yang selalu membuat hatinya porak poronda, mereka ada di rumah sakit ini. Untuk apa mereka disini?


" Daniel?" lirih ana tidak percaya.


Tak sadar, ana mulai melangkah kakinya untuk mendekat kearah mereka.tapi sebuah tangan justru menahannya, ana pun menoleh kebelakang, untuk melihat siapa orang yangv menahan langkahnya.


"nana kau ada disini?" sosok yang sekarang yang berada dihadapannya adalah noven.


"Aku..." ana menoleh ketempat dimana terakhir kali daniel dan siska berdiri namun sayang, tak ada 1pun orang disana.


Nya, Anatasya wijaya..."suara panggilan itu membuat noven dan ana menatap kesumber suara.


Ya, sekarang adalah giliran ana untuk memeriksa kandungan.


"Kau ingin memeriksa kandungan mu?" tanya noven. Ana hanya menjawab anggukan.


Ia ingin melepaskan cengkeraman noven dari pergelangan tangannya, tapi noven justru mencengkeramnya


"Aku boleh ikjt?"


...**********...


Ana menatap layar monitor, ekspresinya seketika berubah setelah melihat bayi kecilnya terlihay dilayar monitor.


"Dia kecil,"


Ana tertawa kecil mendengar ucapan noven. Mata noven tak pernah sedikitpun terlepas dari monitor USG.ia tampak menikmati melihat bayi ana yang nantiny akan menjadi keponakannya.


" lihat nana,"noven mendekatkan jarinya kesamping monitor USG. Membandingkan jarinya, dengan jari keponakannya itu.


"dia benar- benar kecil," kata noven dengam ekspresi gemas.


Dokter yang menyaksikan ikut tertawa melihat tingkah noven.


setelah puas menatap bayinya melalui monitor. Ana dan noven kembali kemeja pemeriksaan.


"perkembangan bayinya bagus, nyonya harus tetap menjaga kestabilan tubuh nyonya."


" tuan juga harus memperhatikan kondisi istri tuan, jangan sampai beliau kecapean,atau membuatnya marah. Karena itu tidak baik untuknya." perkataan dokter ini membuat noven ternganga seketikan


Ana hanya mengangguk tanpa ekspresi. Setelah itu mereka keluar dari ruang pemeriksaan.


...************...


Noven masih menerka-nerka perkataan dokter tadi. Ia mengatakan kalau noven adalah suaminya? Berarti selama ini, ana hanya menjalani pemeriksaan kandungan seorang diri.


"saat kau memeriksa kandunga, apa iq tidak menemani mu?" tanya noven to the point.


" Dia sibuk noven, bukan tidak ingin menemaniku," ana akhirnya membuka suaranya. setelah beberapa saat pertanyaan dilontarkan noven tadi ia diamkan sejenak.


" selama 8 bulan ini?" tanya noven tidak percaya.


Ana diam tak menjawab, entahlah, ia harus berkata apa. Ia sangat bingung.


Keterlaluan! umpat noven. Ia marah akan semua perlakuan kakaknya itu! Kenapa pria itu membuat hidup wanita yang dicintainya sengsara seperti ini.


Ana mengatakan kalau ia sibuk? Lalu bagaimana dengan kejadian tadi? Sibuk bersma wanita lain maksudnya?


menelantarkan istri yang sedang hamil? Membiarkannya berjuang sendiri disaat wanita-wanita lain oleh suami-suaminya.


Entah bagaimana jalan fikiran kakaknya yang bodoh itu.

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2