
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian di rumah Marya, ibu mertuanya.
Kini Rea sudah mulai menata hati, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran yang bisa membuatnya merasa stress.
Rea ingin lebih banyak berpikir positif sekarang, ingin berusaha lebih keras lagi untuk melunakkan hati ibu mertuanya.
Karena jika Rea menjauh, sama saja Rea mementingkan keegoisannya daripada baktinya. Bakti terhadap suaminya.
Seburuk apapun sikap mertuamu, bukankah dia tetap ibu dari suamimu?
Dan surga suami ada pada ibunya.
***
Hari ini tepat tujuh bulan usia pernikahan mereka, dan Rea berharap semoga hari ini juga hari yang membahagiakan untuk mereka. Berharap yang maha kuasa menitipkan malaikat kecil di rahimnya. Karena sudah seminggu Rea telat dari jadwal tamu bulanannya.
Antara penasaran dan ragu Rea melangkah ke kamar mandi, dengan sebuah benda pipih digenggamannya.
Dia melakukan ini diam-diam, karena bila hasilnya sesuai keinginan, maka ini akan menjadi kejutan untuk Bram.
Tetapi, bila hasilnya tidak sesuai keinginan cukup dia saja yang menelan kekecewaan.
Rasa cemas bergelayut dalam batin Rea. Entah sudah kali ke berapa Rea mencoba, tapi hasil tak pernah sesuai dengan yang ia harapkan.
Degup di dada kian mengencang saat Rea melihat hasilnya pagi ini.
Negatif.
Lagi-lagi dia harus kembali menelan rasa kecewa.
Benda panjang pipih itu masih saja menunjukkan satu garis. Itu artinya memang belum ada tanda-tanda keberadaan janin di rahimnya.
Rasanya nyeri itu kembali memenuhi rongga dada. Hatinya hancur kala mengingat bahwa ibu mertuanya sangat menginginkan cucu dari Bram.
Memori pembicaraan Bram dengan ibunya malam itu berputar jelas, seperti mengejek dan membenarkan apa yang ibu mertuanya ucapkan.
Dia memukul dadanya, sesak.
Dia marah pada takdir yang memperlakukannya dengan sangat tidak adil.
__ADS_1
Dia marah pada dirinya sendiri, kenapa sampai tidak disukai dan dibenci?
Dia mengingat semuanya, mengingat bagaimana binar bahagia ibu mertuanya ketika memperlakukan Naraya yang sedang hamil dengan sangat baik.
Mengingat bagaimana raut kecewa ibu mertuanya ketika Aditya-anak dari Rasyid tidak ikut ke rumah ibunya minggu lalu.
Air matanya luruh kala bayangan kekecewaan Bram terlintas dalam benak. Dia memilih berdiam diri, karena sangat tidak sanggup menerima kenyataan ini.
Duduk di kloset, dengan tangan menutupi wajah yang banjir oleh air mata. Dan Berusaha meredam kesedihannya sendiri.
Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, mungkin Bram khawatir karena sudah lebih dari 30 menit dia berdiam diri disini.
Ceklek
"Sayang, hey ada apa? Kenapa menangis?"
Ah, dia lupa mengunci pintu rupanya. Bram sedikit berlari ke arahnya dan memberondong dengan berbagai pertanyaan.
Bram menarik Rea kedalam pelukannya, membuat tangisnya pecah.
Rea sesenggukan. Dia tidak kuat mengatakannya.
Lagi!
"Sayang, kenapa? Apa Mas punya salah sama kamu?" Bram melepaskan pelukannya, hingga kini terlihat wajah Rea yang basah karena air mata.
"Maafin aku Mas, pasti Mas kecewa lagi"
"Kecewa kenapa, hm? Bram membelai pipi istrinya dengan lembut, dan menghapus air mata yang tak juga berhenti mengalir.
"Negatif lagi Mas" ucap Rea dengan sesenggukan.
"Sayang, tidak usah dipikirkan. Kita udah pernah konsultasikan ini ke dokter, dan hasilnya kita baik-baik aja, kan?
Gak ada masalah sama sekali. Jadi stop mikirin masalah ini lagi, oke."
"Tapi kenapa negatif terus Mas? Aku tau Mas sangat menginginkan aku hamil, belum lagi tuntutan dari ibu. Ibu pasti kecewa lagi sama aku Mas," tangis Rea pecah, "Apa sih kelebihan aku Mas? Yang ada cuma kekurangan. Bahkan untuk hamil pun Tuhan belum menghendaki. Apa kesalahan yang telah aku perbuat Mas, sehingga Tuhan menghukumku dengan hukuman yang sangat berat." Lanjutnya.
"Cukup! Mas bilang cukup. Kamu adalah wanita yang punya banyak kelebihan, nyaris tanpa cela. Kamu penyemangat, penguat, dan kebahagiaan untuk mas. Tolong jangan bicara seperti itu lagi."
__ADS_1
Bram menarik Rea kedalam pelukan. Mengusap punggungnya dengan lembut, berharap bisa memberikan istrinyanya kekuatan.
Mencium pucuk kepala istrinya berkali-kali.
Bram pun sebenarnya kecewa dengan kenyataan ini, tapi dia tidak akan pernah menampakan nya di hadapan Rea.
Karena tanpa Bram bertanya pun, dia sudah tahu bahwa kekuatan Rea sekarang ada padanya. Suaminya.
Dia hanya berharap agar Tuhan memberikan kebahagiaan untuk Rea, dengan cara apapun kecuali perpisahan.
Kebahagiaan untuk wanita tangguh dan sabar, istrinya.
***
Bram memutuskan pulang lebih awal hari ini, karena dia mengkhawatirkan kondisi Rea mengingat kejadian pagi tadi.
Walaupun dia tidak bisa memujudkan apa yang Rea harapkan, tapi setidaknya dia ingin mengurangi beban dan kesedihan Rea meski hanya sedikit.
Membawa dua bungkus mie ayam di tangan, Bram mengetuk pintu.
Sekali.
Dua kali.
Belum ada tanda-tanda Rea akan membukakan pintu.
Bram memutar kenop pintu.
"Ceklek."
Ternyata pintu tidak terkunci. Lalu Bram segera masuk. Menutup pintu pelan, kemudian ia menaruh tasnya di atas sofa yang ada di ruang tamu.
Bram menyapu seluruh ruangan tengah, tidak ada jejak Rea sama sekali.
Bram membuka pintu kamar, dan langsung disuguhkan dengan pemandangan yang memilukan.
Rea tertidur dengan mata yang sembab, hidung yang memerah, dan sisa-sisa air mata yang hampir mengering.
Di genggaman tangannya terdapat selembar foto yang sudah nampak usang, menandakan foto itu sudah sangat lama. Foto ibunya.
__ADS_1
Rea merindukan ibunya.