LELAH

LELAH
Terwujud


__ADS_3

Refleks, ana menoleh kearah pintu dan disana sudah beridiri seorang wanita diambang pintu kamarnya. wanita paruh baya yang baru pertama kali ini ia lihat.


Ana melemparkan senyuman dan memberikan isyarat agar wanita paruh baya itu masuk kedalam kamarnya.


"iya,"


" saya nani, maid baru sini."


Ana mengangguk-angguk paham, kemudiam ia melemparkan seulas senyuman.


"Saya disini diperintahkan oleh tuan, untuk memastikam sarapan yang sudah disiapkan untuk nona, sudah dimakan atau belum..." ana menatap sekilas keatas nakas, makanan itu sama sekali belum tersentuh olehnya.


Ana sama sekali tidak minat untuk menyentuh makanan berat itu, ia hanya mengambil segelas susu yang berada diatas nakas.


"saya hanya ingin ini.."katanya seraya memberi senyuman.


" Tapi non.."


" bi nina bawa saja piring itu," pinta ana.


bi nina tidak bisa membantah, ia kemudian mmembawa piring itu dan segera keluar dari kamar ana.


Ana tidak langsung meminum susu itu, melainkan ia letakan kembali diatas nakas.


Karena yang ia harus lakukan sekarang adalah membersikkan tubuhnya yang mulai terasa gatal.


...****************...


20 menit berlalu ana, ana sudah memberishkan tubuhnya. Rambutnya yang basah membuatnya semakin terlihat seksi.


Dan tepat saat ana membasuh rambutnya dengan handuk, sepasang mata menatapnya.


"Aku tidak terima piring yang makanannya masih utuh," suara serak basah itu berhasil membuat ana terkejut.


Dan di saat sudah terdapat sosok daniel yang tengah duduk ditepi ranjang, wajahnya tidak bisa dibaca oleh mata ana.


perlahan-lahan ana menghampirinya,


"kenapa makan itu tidak kau makan?" katanya menatap ana dengan dalam. Ana membuang nafasnya kasar.


"Apa peduli mu?"


daniel menyeringai, "tidak ada." daniel teringat ia tidak boleh berkata tidak-tidak pada ana, karena kondisi kehamilannya sangat lemah.


"maksud ku, kau harus makan." daniel buri-buru meralat perkataannya


"kau saja yang makan."


" jangan membantah."


"tidak, kau saja."


daniel menghela nafasnya panjang " begini, kau masih mengingatkan apa yang pernah kukatakan?"


Ana menggeleng tanpa menatap suaminya.


daniel bangkit, dan memajukan langkahnya kearah ana, dan menyisakan 1 langkah kaki lagi yang memberi jarak mereka.


"Dengan kau tidak memakan makananmu itu sama saja kau mengancam kesehatan mu,


otomatis..."


Aku akan merepotkan dirinya batin ana miris


"Aku paham," jawab ana pelan


"sekarang, makan." perintah daniel lagi, dengan tatapan yang tak lepas dari pandangan istrinya.


Ana menggeleng kembali.


" Apa perlu aku jelaskan lagi secara rinci?"


Ana melangkah kakinya, membiarkan jarak diantara mereka tiada. " Terimakasih."

__ADS_1


Setelahnya ia berlalu meninggalkan daniel.


Dengan secepat kilat daniel meraih tangan ana.


" bisakan menghilangkan ke-egoisanmu itu?" daniel marah pada sikap ana.


"Aku?"


"ya, apa sulitmya kau tinggal makan saja?"


Ana tidak menggubris, ia membuang pandangan kearah lain.


Daniel tidak bisa bersabar dengan tingkah ana, ia melepaskan sejenak tangan ana lalu ia mengambil piring yang berada diatas nakas.


Tangan kirinya untuk digunakan menahan beban piring dan tangan kanannya digunakan untuk menarik lengan ana agar duduk diatas ranjang.


" makan," pinta daniel, saat ana sudah terduduk diatas ranjang. Tangannya masih setia pada pergelangan tangan milik ana.


Ana justru malah merapatkan bibirnya dengan sangat rapat sedikitpun terlihat.


"buka!" pinta daniel dengan sedikit memaksa. Tetal, ana tetap pada pendiriannya yang tetap setia membungkam mulutnya.


Terpaksa daniel harus melalukan sesuatu hal, ia melepaskan tangannya yang menggengam pergelangan tangan istrinya, lalu ia meletakan piring itu diatas nakas.


ana mengigit bibir bawahnya, ia merasakan suatu ancaman dari suaminya itu.


Pasti ia ingin menyakitiku dan bayiku. Batin ana sangat yakin.


Daniel menatap dalam mata milik istrinya itu, tak sedikitpun pandangannya ia lepaskan.


Dan ana ia sangat tak bisa bila suaminya itu telah mentapnya penuh ancaman.


"kau tidak mau?" daniel bertanya kembali, kini tangan daniel sudah berada diatas bahu ana.


Ana dengan refleks menggeleng. Daniel yang mendapat respon tidak berubah hanya memberikan seringainya untuk ana.


Ana semakin yakin, daniel akan menyakiti dirinya dan bayinya. Fikirannya pun mulai berputar-putar, bagaimana caranya untuk lepas dari cengkeraman suaminya itu.


Tangan daniel semakin lama, menaiki leher jenjanbmg ana.


" Hiikkss...hiikkss.."


"jangan mencekkik ku." isak ana membuat daniel melongo tidak percaya.


"memangnya siapa yang ingin mencekik mu?" daniel melepaskan tangannya yang berada di leher jenjang ana.


Ana menghentikan isakan tangisnya, kemudian menatap daniel " kau ingin mencekikukan?"


daniel menggeleng, ia tidak bodoh mana mungkin ia melakukan hal sebodoh itu.


Sebenarnya ia hanya ingin memancing ana dengan ciuman yang akan ia lakukan, bila ana tetap tidak mau memakan sarapannya.


Tapi pemikiran daniel dan istrinya itu justru sangat berbeda.


" lalu apa? Kalau bukan ingin mencekikku." daniel tidak bisa berkata jujur, tidak mungkin ia berkata ingin mancing ana dengan ciumannya, bisa-bisa wibawanya didepan ana menghilang dalam sekejab.


Daniel yang sudab tidak bisa berkata-kata apapun memutuskan keluar dari kamar ana.


...***********...


Sepertinya keinginannya itu mengebu-ngebu dihati, suara keinginan itu begitu mengguruh, tidak sedikitpun ia membebaskan dari rasa keinginanya itu.


" jangan membuat bundamu ini menangis sayang." ana mengusap perutnya.


Ngidam itu belum menghilang, justru semakin bertambah mengebu-ngebu. Ana sangat menginginkan memakan buah mangga yang dikupas langsung oleh daniel.tapi itu tidak mungkin, karena daniel sudah menolaknya.


Kali ini ana tidak perduli, ia memutuskan untuk pergi kedapur dan mengambil mangga yang telah dipetik daniel kemarin.


Setidaknya, biar rasa keinginan itu setengah terpenuhi, karena sudah bisa memakan buah mangga itu.


Ana mengambil buah mangga itu dan siap untuk mengupasnya.


"Nona, kenapa didapur?" suara bi nani hampir membuat buah mangga yang berada digenggam tangan ana terlepas.

__ADS_1


"bi nani,"


"iya, saya ingin makan mangga.."jawab ana lembut, Tak lupa senyuman miliknya ia keluarkan.


Tanpa disuruh bi nani mengambil alih mangga yang siap dikupas oleh ana menjadi berpindah tangan dalam genggamannya.


" biar bibi saja, non ana tunggu saja diruang tamu." kata bi nani


Ana yang tidak mau merepotkan maid barunya itu, segera mengambil buah itu kembali ketangannya.


" tidak bi, bair saya saja," tangannya mulai mengupas sedikit kulit mangga yang berada ditangannya.


"diruang tamu saja non, katanya sembari menuntun ana untuk menunu ruang tamu, ana yang tidak menginginkan itu menahan langkahnya.


"nona sedang hamil, tidak baik berlama-lama berdiri."


ana melemparkan kembali senyumannya kepada bi nani.


" tidak apa-apa bi, disini saja"


" biar tidak bekerja2 kali."


"tidak apa-apa non, nanti bibi yang buat kulitnya."


"itukan sudah tugas bibi,"


ana tetap saja tidak mau menurut, justru ia bersandar dimeja dapur sembari mengupas kulit mangga.


"kali ini aku semakin ragu ketajaman telingamu." suara itu tiba-tiba saja datang.


bersamaan dengan suara itu, buah mangga yang berada ditangan ana sudah berpindah kedalam genggamannya, begitu pula pisau.


"Daniel,"


"mungkin kandar frekuensimu menurun,"


" atau memang ingin merasakan menjadi anak durhaka?" katanya dengan tatapan tajam.


Ana menatap balik tatapan daniel.


"teruskan pekerjaan mu bi," perintah daniel.


bi nani mengangguk dan menuruti perintah majikannya itu.


Daniel melangkahkan kakinya mendekat pada ana, dengan tatapan yang tidak terlepas sedikitpun.


"bi nani, usianya diatas mu,"


"Dengan kau menolak keinginannya sama saja kau itu dalam perjalanan menuju anak durhaka."


"aku tidak ingin merepotkannya .." katanya melepaskan tatapannya dari mata daniel.


"Alasan klasik."


Daniel mulai mengupas kulit mangga itu.


ana menatap kearah suaminya tidak percaya.


"Kembalikan," pinta ana


"sayang daniel tidak menanggapi permintaan ana dan terus mengupas buah mangga tersebut sampai tidak ada sedikitpun kulit yang menempel. Lalu memotongnya menjadi beberapa bagian ia letakan diatas piring kosong.


ana masih menatap tidak percaya.


"apa?"


"sudah ku kembalikan."sembari meletakan pisau yang ia gunakan untuk mengupas mangga, disamping piring sudah terisi potongan mangga.


ana mengangguk, setelah itu daniel menuju kedapur untuk membersihkan tanganya.


Ana masih terdiam, menatap mangga yang telah dikupas daniel. Antara senang dan bingung, ngidamnya ini terwujud.


Senang, karena ngidamnya ini sudah bisa terwujud. Dan bingung kenapa suaminya itu tiba-tiba datang, meraihnya, lalu mengupas buah mangga itu bahkan memotongnya pula, persis apa yang ia inginkan

__ADS_1


Entahlah, yang terpenting ngidamnya ini terwujud.


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2