LELAH

LELAH
Episode 7 (Ego)


__ADS_3

Pagi ini Rea bangun lebih siang dari biasanya.


Ini hari Minggu, Bram seharian akan menghabiskan waktu di rumah.


Rea bangun dengan mata yang sedikit bengkak, tubuh yang lelah. Dan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban.


***


Dari arah dapur tercium aroma masakan yang begitu menggoda.


Dari semalam dia tidak memakan apapun, perutnya belum terisi sama sekali.


"Sayang, udah bangun? Kita sarapan dulu ya, ini udah Mas buatin roti bakar sama susu coklat kesukaan kamu." Tawar Bram dengan senyum sumringah.


Hati Rea mencelos, sikap Bram sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas kejadian tadi malam.


Apakah perasaan Rea sebegitu tidak pentingnya bagi Bram?


Rea duduk dan memulai sarapan dengan diam, hening menyelimuti suasana sarapan pagi kali ini.


Sesekali Bram meliriknya, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Mata Rea sedikit bengkak, menandakan bahwa dia menangis semalam.


Sebenarnya Bram bukan tidak ingin menjelaskan, hanya saja dia belum menemukan alasan yang paling tepat. Berkata jujur pun percuma hanya akan menambah luka di hati Rea.


Tadi malam Bram tidak segera pulang setelah mengantar Ayra, dia mampir ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil hp sekaligus menenangkan pikiran dan mencari alasan untuk dijelaskan kepada Rea ketika pulang. Nyatanya kantor bukan pilihan yang tepat untuk mencari solusi, pikirannya tambah kacau dan alasan untuk membuat Rea tenang pun belum juga ditemukan.


Bram memang tidak pintar dalam hal berbohong, karena ketika kebohongan itu tercipta dia takut kebohongan kebohongan yang lain akan mengikuti.


***


Sikap Rea sangat dingin kepada Bram, hampir setengah hari hanya dia habiskan dengan berdiam diri di kamar. Dia hanya akan menjawab ketika Bram bertanya, itupun hanya dengan anggukan atau gelengan.


Siang ini Bram mengajaknya menonton TV, usaha untuk mencairkan hati istrinya yang sedang kalut.


Mereka menonton dalam diam, entah meresapi jalan cerita filmnya atau malah berkelana dalam pikiran dan benak masing-masing.


Bram mendekati, menarik Rea ke dalam pelukannya. Mengusap punggungnya dengan pelan dan mengecup keningnya dalam.


Rea menarik diri, seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tidak sanggup bersitatap dengan mata teduh milik Bram.


Bram menarik kedua bahu Rea, agar menghadap ke arahnya. Memegang kedua pipi nya kemudian berkata,


"Maaf, Mas pasti sangat mengecewakan kamu. Mas bisa menjelaskan semuanya, semalam ada urusan mendadak yang harus mas tangani. Usaha mebel kita di Bandung mengalami masalah yang cukup serius.


Bukan tidak ingin menghubungi kamu tapi baterai Mas lowbat. Mas juga lupa membawa charger." Bram menatap kedua mata Rea lekat.


"Apakah pekerjaan memang sepenting itu buat kamu, Mas? Apakah perasaan aku tidak berarti bagimu? Semalam aku menunggu kamu dengan cemas, berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepala. Dan sekarang kamu meminta maaf, bukan karena niat tapi sepertinya karena keterpaksaan."


"Hey, kenapa berpikir seperti itu? Percayalah ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayang." Bram terlihat putus asa.


"Jika kamu memang ingin meminta maaf, kenapa sekarang? Bukankah dari tadi malam kamu sudah bisa melakukannya, Mas!"


"Rea stop! Kamu kekanak-kanakan. Ini cuma masalah kencan yang batal, dan kamu melebih-lebihkannya dengan berbagai pikiran buruk kamu. Bisakah kamu membuat aku merasa nyaman di rumah untuk menikmati waktu liburku daripada harus membicarakan hal-hal yang sangat tidak jelas ini Re!" Nada bicara Bram meninggi, rahangnya mengeras menahan amarah.

__ADS_1


Bram berlalu menuju dapur, menuangkan segelas air untuk membahasi kerongkongannya yang terasa kering.


Dia memukul meja dengan keras, merutuki kebodohan yang baru saja dilakukan.


Dia menyesal, amat menyesal.


Bagaimana mungkin pertemuannya dengan Ayra tadi malam bisa menimbulkan efek se-luar biasa ini. Memporak-porandakan pikirannya hingga membuatnya bicara sangat kasar kepada Rea.


Masih seberarti itukah Ayra didalam hidupnya?


***


Rea mundur beberapa langkah, kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Tv. Dia sangat terkejut dengan perubahan sikap Bram yang terkesan agak kasar.


Tidak biasanya Bram bersikap seperti ini, mungkinkah ada hubungannya dengan pesan yang dikirim semalam?


Ah, pikiran buruk itu kembali muncul.


Rea menghapus air matanya, berdiri kemudian berjalan kearah dapur untuk menyusul Bram. Dia ingin meminta maaf karena telah membuat suaminya marah.


Dia memang salah, pikirnya.


Terkadang masalah hadir karena memang kita yang tidak mampu memahami situasinya.


Dan dalam situasi semalam, Bram memang sudah mengambil pilihan yang benar.


Mengabaikan perasaannya, dan menyelesaikan pekerjaannya.


***


Mendung bergelayut manja di atas sana, tidak nampak matahari kemerahan yang akan tenggelam. Yang ada hanya awan hitam pekat.


Tanda sebentar lagi akan hujan.


Setelah menerima telepon dari seseorang, wajah Bram pias. Raut kekhawatiran sangat kentara di wajahnya.


Dia pamit, kemudian pergi dengan terburu-buru. Memacu motor maticnya dengan kecepatan yang lumayan.


Tidak dihiraukannya panggilan maupun pertanyaan dari Rea, dia hanya berpesan agar tidak usah menunggunya pulang.


***


Sore sudah beranjak menjadi malam. Bram pergi dari dua jam yang lalu.


Tidak ada kabar dari suaminya, jangankan untuk menelpon sekedar sms pun Bram sepertinya tak sempat.


Masalah seberat apakah yang sedang dialami Bram, sehingga mampu mengabaikan?


Rea tiduran di sofa ruang tamu, berselancar didunia maya sambil menunggu suaminya pulang.


Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk, dari Karin. Sahabatnya.


Sahabat yang dia temukan saat SMA, hingga sekarang pun hubungan mereka tetap terjaga.

__ADS_1


Dulu Karin lah tempat dia mengadu ketika lelah menjalani takdir hidupnya, setelah ibunya pergi.


'Re, siapa yang sakit? Tadi mau menghampiri Bram tak sempat, karena buru-buru harus pulang. Ibu sudah menunggu di mobil.'


Ini aneh pikirnya.


Bram, suaminya?


Di rumah sakit?


'Mas Bram, di rumah sakit Rin?'


Belum ada jawaban dari Karin. Kemudian pesan sudah dibaca, karena centangnya telah berwarna biru.


Karin mengetik....


'Iya Re, kamu nggak tau?'


Rea memencet tombol 'kembali', keluar dari aplikasi berlogo telepon dan berwarna hijau itu. Ya, WhatsApp.


Pesan dari Karin hanya dia baca, tanpa berminat untuk membalas.


Rea tidak ingin main tebak-tebakan lagi kali ini.


Dia mencari kontak ibu mertuanya, berniat untuk menanyakannya langsung.


Sudah lima kali mencoba, tapi tetap tidak ada jawaban dari ibu mertuanya.


Dia berpikir sejenak, apakah dia harus menyusul ke rumah sakit, pikirnya.


***


Bram pulang ketika sudah larut malam, dia memang membawa kunci cadangan jadi tidak harus membangunkan Rea untuk dibukakan pintu.


Terdengar suara TV dari ruangan tengah, ternyata ada istrinya yang telah tertidur di sofa.


Menunggunya.


Membuka jaketnya dan melemparnya asal. Bram duduk di sofa, mendekatkan wajahnya dan memandang Rea yang sedang terlelap.


Kulit putih, hidung mancung, dan lesung pipi yang menambah manis senyumnya.


Ada perasaan bersalah yang hinggap di hatinya.


Bersalah karena sudah membohonginya, bersalah karena hati dan perasaannya sekarang tidak lagi sama.


Bram teringat kejadian sore tadi, ibunya menelponnya dan mengabarkan bahwa Ayra kecelakaan saat menuju bandara.


Bram panik, khawatir takut terjadi apa-apa pada Ayra.


Segera pergi tanpa menjelaskan apapun pada Rea, bahkan hanya untuk meminta izin darinya.


Bukankah sikap itu jelas menunjukkan perasaannya pada Ayra?

__ADS_1


Bodoh! Rutuknya.


__ADS_2