LELAH

LELAH
Episode 6(Maaf)


__ADS_3

Perjalanan mengantar Ayra hanya diisi dengan keheningan. Entah segan atau canggung untuk membuka topik obrolan terlebih dahulu, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah hampir sampai ke apartemen Ayra, dia meminta Bram menepikan mobilnya.


Bram bingung, tapi tetap saja menuruti.


Mobil berhenti di bawah pohon rindang yang terletak di pinggir jalan. Ayra menatap Bram sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Bang, aku minta maaf, tidak ada maksud untuk menyakiti hati abang. Aku meninggalkan Abang karena punya alasan yang kuat" Ucap Ayra dengan penuh penyesalan, sambil menatap wajah Bram


Bram menanggapi ucapan Ayra hanya dengan diam.


"Bang, tolong dengarkan penjelasan aku, jika Abang memang membenciku maka ini adalah terakhir kalinya aku berusaha menemui Abang." Ayra menggenggam tangan Bram, berharap Bram mau mendengarkannya.


Bram menarik tangannya dengan pelan.


"Alasan kamu saat itu hanya satu, Ra. Karir!


Kenapa di saat keadaannya sudah berubah kamu baru ingin menjelaskan semuanya?


Ini cara kamu mempermainkan hatiku!? Ini sungguh lucu, Ra! Dan asal kamu tahu, kamu berhasil!"


Ucap Bram pelan, namun penuh penekanan.


Ayra menatap netra Bram lekat, hingga tatapan mereka berdua bertemu. Ayra bisa melihat kekecewaan di mata Bram, dan itu karenanya.


Ada kerinduan kala menatap mata itu, mata yang dulu hampir setiap hari memandangnya dengan penuh cinta, mata yang dulu setiap hari memujanya.


Ayra tidak terima dengan semua tuduhan yang dilontarkan padanya, dia tidak ingin kesalahpahaman ini tetap berlanjut.


"Abang terlalu sibuk dengan spekulasi Abang. Sehingga, tak pernah ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya."


Ayra memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela untuk menyembunyikan butiran air matanya yang telah mengalir membasahi wajahnya.


Bram diam.


Lalu dia menoleh ke arah Ayra, ada rasa iba ketika melihat air mata itu.Hanya sebentar.


"Baiklah, lima menit waktu untuk menjelaskan." Jawab Bram spontan.


"Sepuluh menit Bang, aku mohon."

__ADS_1


" Apakah waktu lima menit dapat membuat kisah kita akan berjalan dengan cara yang berbeda?" Jawab Bram dengan senyum mengejek.


" Tapi setidaknya Abang tahu kenyataannya, bang. Aku mohon."


Jawab Ayra pelan sambil memilin jemarinya dan menunduk.


"Baiklah, sepuluh menit dari sekarang." Ucap Bram sambil melihat jam di tangannya.


"Saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa, usaha ayah dalam masalah, ibu pergi meninggalkan kami bersama kekasihnya. Tawaran menjadi model dengan bayaran yang cukup fantastik adalah satu-satunya solusi yang bisa diandalkan saat itu. Bukan tidak memikirkan perasaan Abang, hanya saja jika aku tidak mengambil kesempatan itu maka hidup kami akan berantakan," Ayra menarik nafasnya pelan, kemudian melanjutkan.


"Berbulan-bulan aku menyiksa diri sendiri dengan merindukanmu, Bang. Bukan tak ingin menghubungimu hanya saja aku takut pertahananku goyah. Aku tidak ingin pulang ke Indonesia tanpa bisa membuat perusahaan ayah kembali bangkit." Ayra memandang Bram.


"Ingin meminta bantuan Abang tapi aku malu, lagian apa kata ibumu jika belum apa-apa sudah merepotkan. Dan yang harus Abang tahu adalah bahwa saat ini perasaan aku masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Aku tidak berharap memulai semuanya dari awal tapi setidaknya Abang bisa memaafkan aku." Ayra tersenyum sambil mengambil tas yang ada di dashboard mobil. Bersiap keluar, tapi tiba-tiba Bram menarik tangan nya. Ayra menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya, sebagai tanda tanya 'ada apa?'


"Tolong jangan pernah muncul lagi di hadapanku, karena kehidupanku sudah berbeda dari yang dulu. Ada hati yang mesti ku jaga. Aku sudah menikah, Ayra"


"Menikah?" Tanya Ayra.


Ekspresi terkejut tampak kentara dari wajahnya.


'Kenapa ibu Bram tidak mengatakan apapun soal ini?' Batinnya.


"Iya." Jawab Bram sambil menunjukkan cincin pernikahan di jarinya. Ada senyum getir menghiasi wajahnya.


Ayra menatap Bram sambil menangis. Suasana yang hening, menambah kesedihan Ayra.


"Sebelum aku pergi, bolehkah aku memeluk Abang sekali ini saja untuk yang terakhir kali? Agar aku bisa menyadarkan hatiku bahwa hangat pelukanmu bukanlah milikku lagi."


Bram menarik Ayra ke dalam pelukannya, menyalurkan segala kerinduan yang selama ini berusaha dia acuhkan.


Ayra menangis sesenggukan di dalam pelukan Bram, dia menumpahkan segala bebannya. Tangisnya pecah tanpa mampu dia tahan.


Tiba-tiba sekelebat bayangan Rea muncul di dalam pikiran Bram, dia menarik diri.


'Perasaan ini salah' pikirnya.


Bram pamit pulang, tetap berada di sini hanya akan menambah luka di hatinya.


***


Malam semakin larut sudah jam 22.30 sekarang.

__ADS_1


Rea masih belum bisa memejamkan matanya, hingga kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka.


Ah, suaminya sudah pulang, pikirnya.


Rea memilih berpura-pura tidur, daripada harus memberondong Bram dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya.


Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, kemudian Bram keluar dengan baju yang telah diganti.


Tak lama, tangan kokoh Bram memeluk tubuhnya dari belakang. Mengecup kepalanya dalam dan berucap "Maaf."


Dekap hangat dari Bram selalu mampu menenangkan jiwanya.


Tidak perlu menunggu terlalu lama, sudah terdengar helaan nafas yang teratur menerpa leher jenjangnya. Suaminya sudah terlelap.


Baru saja dia ingin memejamkan mata, tiba-tiba terdengar getar HP dari atas nakas sebelah tempat tidur. Rea penasaran siapa yang mengirim pesan malam-malam begini.


Terlihat beberapa notifikasi di layar atas HP suaminya, salah satunya pesan tanpa nama yang baru saja dikirim.


'Bang, terima kasih untuk semuanya. Aku bahagia pernah dicintai dengan begitu hebatnya.'


Deg..


Jantung Rea berpacu sangat cepat, tangannya gemetaran masih dengan memegang HP suaminya.


Mungkinkah Bram setega itu mengkhianatinya?


Bukankah selama ini Bram begitu mencintainya?


Berbagai pertanyaan muncul di benak Rea.


Dia meletakkan HP Bram kembali, mencoba menguatkan hatinya atas apa yang telah dilihatnya.


Dia luruh ke lantai, ia benamkan kepalanya pada tangan yg memeluk kedua lututnya.


Bahunya berguncang, menandakan tangisannya semakin pilu.


Dadanya naik-turun. Dia menarik rambutnya dengan kuat, menyalurkan segala rasa sakitnya.


Mungkinkah suaminya berkhianat? Tanyanya dalam hati.


Ah, berspekulasi sendiri hanya membuatnya bertambah kacau.

__ADS_1


Rea berdiri, berbaring menghadap suaminya. Memandang wajah itu lekat, wajah yang selalu meneduhkannya.


Dia berharap ketika esok hari tiba, semuanya baik-baik saja. Dan Bram yang dia kenal bukanlah Bram yang sekarang dia ragukan cintanya.


__ADS_2