
Rea mengenakan sebuah dress tanpa lengan berwarna pastel.
Mengoleskan lipstik berwarna nude, dengan sedikit polesan di wajahnya.
'Cantik' gumamnya.
***
Jam di dinding kamar sudah berjalan di angka 20.45 menit, tapi Bram masih belum datang untuk menjemputnya.
Sudah berkali-kali Rea menghubungi suaminya, tapi hanya operator yang menjawab.
Rasa khawatir mulai menyeruak di benak Rea, berbagai spekulasi tentang suaminya berkecamuk di dalam pikirannya.
Rea pergi ke ruang tengah, dia memutuskan untuk menonton tv. Beberapa kali mengganti chanel, berharap ada tontonan yang bisa mengalihkan rasa khawatir nya.
Namun suasana hati memang tidak pernah bisa untuk dibohongi.
Sudah satu jam berlalu, tapi nihil. Bram belum juga pulang.
Rea bergegas pergi ke kamar, membersihkan wajahnya dari sisa bedak yang menempel, dan menghapus lipstiknya dengan tissue.
dilanjutkan dengan mengganti bajunya dengan sebuah piyama.
***
Berbeda dengan Rea yang sudah lama menunggu, Bram merasa terjebak dengan sandiwara ibunya.
Bram benar-benar bingung, mau pulang tapi ibunya selalu menahannya. Tetap berada di sini, lalu bagaimana janjinya dengan Rea?
Sore tadi, setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari tempatnya bekerja, Bram tiba di lokasi yang ibunya kirimkan.
__ADS_1
Tapi Bram di kejutkan dengan sosok perempuan yang dulu selama bertahun-tahun memenuhi pikirannya.
Wanita yang sempat memporak-porandakkan hidupnya.
Wanita yang dulu sangat dicintainya. Ayra Letishia.
Bram memutuskan untuk pergi, menjauhi tempat itu. Bukan tidak ingin menemuinya, tapi ada hati yang harus dijaga.
Tapi baru selangkah, Bram merasakan seseorang menarik tangannya.
"Bram, kenapa tidak langsung ke sana? Ibu dari tadi nungguin loh "
"Bram mau pulang Buk, sepertinya sandiwara ibu berhasil." Jawab Bram ketus.
"Kamu menilai Ibu seperti itu? Bram, Ayra pulang dari Jakarta mau ketemu kamu. Sebegitu bencinya kamu sama Ayra, sampai-sampai untuk menemuinya pun kamu enggan." Jawab ibunya dengan tatap marah, terdapat raut kekecewaan di wajah itu.
"Buk, Bram ada janji sama Rea. Mau menghubunginya hp Bram tinggal di kantor. Dia pasti nungguin Bram sekarang. Tolong ibu ngerti."
"Kalau itu memang alasannya, baiklah. Ibu yang akan menelpon Rea langsung. Ibu yakin dia akan mengerti. Sepertinya perasan istri kamu memang lebih penting daripada perasaan ibu!" Sahut ibunya marah.
Mereka melangkah masuk, menuju meja paling sudut yang terlebih dahulu telah dipesan Ayra.
Bukan kali ini saja Ayra meminta kepada Marya untuk di pertemukan dengan Bram. Tapi Bram selalu menolak dengan berbagai alasan.
Ayra dulu adalah kekasih Bram, mereka menjalin hubungan sekitar 3 tahun. Tapi, di saat rencana pertunangan mereka telah tersusun rapi tiba-tiba Ayra harus pergi ke London untuk mengejar karirnya sebagai model.
Ayra memutuskan hubungannya dengan Bram secara sepihak.
Ayra, gadis berumur 27 tahun. Cantik, pintar, cerdas, berwawasan tinggi, dan jangan lupa tingkat sosialnya setara dengan keluarga Bram.
Sangat wajar jika Marya sangat menyukai Ayra, meskipun dulu Ayra pernah membuatnya kecewa.
__ADS_1
****
"Hai Bang, apa kabar?" Ayra bangkit dari duduk nya ketika melihat Bram datang. Menyambutnya dengan pelukan hangat.
'Abang' adalah panggilan sayang Ayra untuk Bram.
Ada degub di dada yang sulit Bram jelaskan. Rasa itu, mungkinkah ia masih ada?
Bram refleks mendorong tubuh Ayra, mengingat kemungkinan terburuk efek yang ditimbulkan untuk hatinya.
"Emm ... maaf bang jika aku lancang. Aku hanya bersikap sesuai hati dan pikiranku." Ayra berujar dengan wajah yang sedih.
Marya berusaha mencairkan suasana dengan memanggil pelayan dan menyuruh mereka memesan makanan.
***
Bram melirik arloji di tangan nya, pukul 19.30. Masih ada waktu untuk pergi pikirnya.
"Buk, aku pulang duluan. Sudah selesai, kan?"
Bram menggulung kemejanya, menyapu keseluruh ruangan untuk memanggil pelayan. Mengeluarkan dompetnya dan hendak membayar pesanan mereka.
"Bram, Ibu sepertinya juga harus pulang karena Ibu ngerasa kurang enak badan. Kamu tolong antarin Ayra pulang ya, kasian dia kalau harus pulang naik taksi." Pinta ibunya dengan mengusap rambut Ayra pelan.
Bram tahu ini hanya lah akal-akalan ibunya saja, agar rencananya dengan Rea batal.
"Ayra bisa pulang naik taksi kan, Ra? Lagian ini masih belum jam delapan jadi jalanan masih ramai. Maaf aku harus buru-buru pulang."
Bram mengambil dompetnya yang tergeletak di meja, kemudian hendak melangkah pergi.
"Baiklah, Ibu yang akan mengantar Ayra kalau kamu tidak mau! Kesehatan Ibu bukanlah yang utama sepertinya."
__ADS_1
Inilah kelemahan Bram. Ketika ibunya sudah memposisikan diri sebagai orang yang tak berarti, Bram merasakan sakit yang luar biasa. Cukup ayahnya yang menganggap ibunya seperti itu.
Bram berbalik, menghela napas sejenak. Sepertinya rencana untuk membahagiakan Rea kali ini benar-benar gagal.