LELAH

LELAH
Mencoba Menjadi Ayah yang terbaik


__ADS_3

" maaf, aku meninggalkanmu begitu saja."


Begitu lah isi massage yang noven kirimkan untuk ana.


Noven benar-benar menyesal pergi begitu saja tanpa pamit, saat berada dibandara. Karena dirinya mendadak mendapatkan telefon dari kliennya.


Noven mengacak-acak rambutnya, "pasti ana marah,maafkan aku." itu lah yang ada difikiran noven sekarang, pasalnya pesan tadi adalah pesan yang ke 50 kali. Yang sudah noven kirimkan untuk ana.setelah hari dimana ia meninggalkan ana dibandara.


Tidak mungkin ana berada dipesawat selama 5 hari.tidak mungkin, pasti ana sudah mengaktifkannya dari mode pesawat. Noven yakin itu, karena setiap pesan yang ia kirimkan untuk ana selalu masuk, terutama telefon, ponsel ana aktif, namun sayangnya tak pernah ada jawaban dari ana. Dan itu membuat noven khawatir dengan keadaanya.


...----------------...


Ana menatap sendu kearah anaknya yang tengah terlelap tidur diatas ranjang miliknya.


"Ayah"


Ana menatap bibir deo, anaknya itu memanggil daniel.


Apa ia merindukan Ayahnya itu?


ya, mungkin karena pada akhirnya ana luluh dengan perjuangan daniel yang berusaha menemui anaknya, walaupun terlambat. ralat hanua luluh saja, tidak menaruh hati kepadanya.


Lagi dan lagi ana tak mau mengambil resiko.ia lebih memilih berada dirumahnya bersama deo, bersembunyi dari daniel yang sejak kejadian dibandara itu.namun ternyata daniel mengetahui alamat rumah ana, dan ia terus -menerus mendatangi rumah ana, terus memanggil-manggil namanya beserta anaknya itu.


" Ana, aku mohon padamu, tolong kasi aku kesempatan untuk menjadi Ayah yang baik untuk deo."


Daniel kembali lagi, tanpa rasa bosan. Bahkan ia rela menunggu diluar rumah ana dari petang hingga malam hari, dan terus'-menerus memohon agar ana mau menemui dirinya dengan deo.


Namaun ana bersikap acuh, yang ia sesali, kenapa ia baru menyadari disaat banyak hati telah disakitinya?


"Ana" teriak daniel yang begitu melirih.


" ana," aku mohon pada mu, aku ingin menemui deo."lirih daniel sangat menyayat hati.


Suara rintik hujan yang jatuh diatap mulai terdengar, mullai dari perlahan hingga suara rintik hujan itu menjadi besar.


ada sedikit rasa khawatir saat mendengar rintikan hujan yang mulai membesar.itu tandanya pria iru sedang merasakan dinginnya air hujan.


Tapi sekali lagi, ana membuang rasa khawatir pada pria itu. Ana tidak perduli. Biarlah itu menjadi urusannya! Toh, nanti pria itu akan pergi dengan sendirinya.....


" ana..."aku mohon, nyatanya tidak, suara pria itu masih terdengar.


Tidak peduli, ana tau pria itu tidak bodoh, pasti ia memakai payung untuk melindungi dirinya dari rintikan hujan.


Ana bangkit dari sofa, dan berniat meninggalkan ruang keluarga.namun tertahan saat dirinya mendengar kembali suara daniel.


"ssh...ana, aku tidak perduli sebanyak apapun air hujan yang turun, aku tetap disini..."suara itu terdengar bergetar.


Ana tetap melangkah kakinya meninggalkan ruang keluarga.


...--------------------...


Sekujur tubuh tubuh daniel telah dibasahi oleh air hujan. Tapi ia tidak perduli, ia akan menempati janjinya bahwa ia tidak akan memperdulikan seberapa banyak air hujan yang membasahinya.


bibir miliknya berwarna pink pun kini telah berubah sedikit memucat.


"Deo, ayah disinin..."teriak daniel dengan suara yang bergetar.


20 menit berlalu. Dan 20 menit itupun daniel lalui bersama air hujan yang terus membasahi tubuhnya.


Dan sekali lagi daniel tidak perduli! Mungkin ini adalah hukuman atas apa yang telah ia perbuat terhadap deo saat anaknya itu masih berada didalam kandungan.


Daniel menundukan kepalanya,"Ayah disini...."lirih daniel.


"Ayah jahat?" daniel tertawa sumbang


" memang, kau ini tidak lebih dari seorang iblis!" daniel menyalahkan dirinya.


" Tapi, ayah sungguh sangat menyesal nak. Ayah menyesal." isak daniel. Daniel tak kiat menahan isakannya, terlebih air mata cengeng? Mungkin itu yang bisa dikatakan saat in, tapi sekali lagi ia tidak perduli, ia akan tetap berjuang.


Daniel menaikan kembali pandangannya. Pandangannya langsung disungguhkan oleh sebuah payung. Daniel menatap payung itu lalu menatap sang penyuguh payung.


" ana...."lirih daniel dengan senyuman. Ana segera membuang tatapannya kesembarang arah. "Ambil dan pulang ." singkat ana.


Daniel menatap lekat manik mata ana, kalau itu aku tidak bisa."


Ana menatap kembali kearah daniel kemudian berjalan kearahnya, lalu meraih tangan daniel dan memberikan payung itu kepadanya.


Setelah itu ana membalikan tubuhnya dan melangkah kakinya.


" Aku mohon pada mu ana,izinkan aku untuk bertemu deo, aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya."


Ana langsung menghentikan langkahnya.


"aku mohon, tidak mungkin kau menutup-nutupi semua fakta, kalau aku ini memanglah ayahnya."


"Kau tidak kasian pada Deo? Yang terus - menurus menanyakan keberadaan Ayahnya?


kau membohonginya..."


"Lalu kalau aku menemui mu dengan Deo, apa deo mau menerima mu?" ucap ana dengan memutar tubuhnya kembali.


" bahkan ia tak menyukai mu, saat kau menyebutkan dirimu sebagi ayahnya."perkataan ana berhasil membuat daniel membungkam.


" memaksanya? tidak, aku tidak akan melakukan itu...."


"A-aku akan berusaha."


"y-ya, aku berusaha meyakinkannya bahwa aku memang lah ayahnya."ucap daniel yakin.


Apakah ana harus percaya? Seorang daniel berusaha untuk meyakini seseorang tanpa paksaan.


" tidak kau..."


" aku tidak akan memaksanya, aku akan melakukannya dengan perlahan, aku akkan membuat deo mengakui ayahnya ini ataupun bahkan menyayangi Ayahnya ini dengan hatinya." potong daniel secepat mungkin dan yakin.


Ana diam seribu bahasa. Ia tidak yakin,


"aku mohon..."


Ana mulai memikirkan perkataan daniel setelah merasa yakin dengan keputusannya, ia memberikan anggukan, dan saat itu juga senyum bahagian daniel terpancar dari bibirnya.


"Tidak memaksanya." peringat ana keras.


Daniel mengangguk semangat.


Sebenarnya ana ragu dengan apa yang ingin daniel lakukan.tapi ia juga tak bisaa memungkiri kalau daniel memanglah ayahnya.


...----------------...


3 hari berlalu, dan daniel menempati janjinya. Ia beursaha mengambik hati anaknya itu tanpa paksaan


Walau anaknya itu terlihat masih tidak menerima kalau daniel ayahnya.


"Hei...Deo ay....paman datang," ralat daniel, saat tatapan deo datar menatapnya.


daniel melangkahkan kakinya mendekat kearah deo yang sedang menyusun balok-balok mainan miliknya.


"deo buat apa?" tanya daniel lembut.


Deo menatap balok kayu yang sedang ia susun kemudian menatap manik mata daniel.


"lumah." singkat deo, lalu kembali menyusun balok-balok itu.


Daniel tersenyum menatap deo, "Hm..paman bawakan sesuatu untuk deo, ucap daniel lembut.namun sama sekali deo tidak menggubrisnya dan terus menyusun balok- balok kayu miliknya.


Daniel mengeluarkan sesuatu dari paperbagnya


"lihat paman membawa apa..." dengan malas deo menoleh kearah daniel.


Ah, ternyata Ayahnya itu membawakan hero kesukaannya,superman. Hampir saja deo ingin berteriak melihat hero kesukaannya begitu banyak,namun buru-buru ia menolehkan kepalanya kembali.


" Untuk deo." ucap daniel


" Ndak untuk paman caja." tolak deo dengan sangat terpaksa. Dan untuk pertama kali dirinya menolak hero kesukaannya itu.


"paman tidak suka superman, paman menyukai spiderman.karena menurut paman spiderman itu lebih keren..."


Deo menoleh kearah daniel sembari mengerucut bibirnya, "Ndak!!! cupelman lebih keren!" ucap deo tak setuju.


" spiderman lebih keren...."


Deo memejamkan matanya," Cupelman!!"teriak deo kesal.


Daniel tertawa melihat tingkah anaknya itu, " Hm..superman palinh keren, kalau deo mau ambil hadiah dari paman" itu lah salah satu upaya daniel agar pemberian darinya bisa diterima oleh deo.


Tanpa berpikir panjang, deo merampas seluruh mainan superman yang diberikan oleh daniel.


"Cupelman yang paling kelen!!"


Daniel tersenyum sembari mengusap ouncak kepala deo dengan lembut.


...----------------...


Mata biru milik deo mulai terlihat saat kelopak matanya perlahan-lahan mulai terbuka.


"Unda..." sapa deo pertama kali, saat matanya sudah benar- benar terbuka. Ana hanya menyunggikan senyuman tipis untuk anaknya .


Deo bangkit dari tidurnya lalu merubah posisinya menjadi duduk.


" Unda..."ucap deo sembari mengusap kedua matanya.


Ana mengusap puncak kepala deo lembut."iya sayang."


" Unda- unda deo mau tanya cama unda.."


" iya sayang," deo mau tanya apa sama bunda?" deo diam sejenak, "paman itu, dia ciapa?" ana mengernyitkan dahinya bingung.


paman siapa yang dimaksud deo?


Deo paham, pasti bundanya itu tidak mengerti dengan ucapannya.


"iihh, unda. Paman yang cuka kelumah deo."


Sekarang ana paham, yang dimaksud anaknya itu pasti daniel.


" paman itu...."


Suara bel berbunyi, membuat ana langsung menghentikan ucapannya,


" bunda lihat keluar dulu ya," deo mengangguk cepat ana langsung bergegas keluar,untuk mengecek siapa yang datang.


Ckleks~

__ADS_1


ana membuka pintu. disana sudah beridiri tegap seorang pria dengan mengenakan pakain kaos dan celana levis hitam.tak lupa ditangannya sebuah paperbag.


Orang itu daniel.pasti pria itu ingin menemui deo.


" ya?" singkat ana, bahkan tangannya sudah melipat didadanya.


"Deo..."


"Tidak aku memberikan mu kesempatan untu bertemu deo hanya seminggu 3 kali. Dan kau..."


Wajah daniel nampak kaget,


" 3 kali?kau tidak pernah mengatakan hal sebelumnya ."


" dan sekarang aku mengatakannya."acuh ana


" tapi ana ,aku...."


"Kembali minggu depan atau tidak sama sekali..."


"Paman..."


Ana menoleh kesampingnya, begitupun daniel yang menurukan pandangannya kebawah.


Tanpa basa basi daniel langsung menyamakan posisinya dengan deo.


" Hei..." ucap daniel, sembari mengacak-acak pelan rambut deo.


Ekhemm..ana berdehem cukup keras.


daniel yang mendengar ana berdehem menatap sekilas kearah ana yang sedang menatapnya dengan tatapan datar.


Daniel buru-buru mengalihkan pandangannya kembali kemata deo.


"paman bawakan ini untuk deo." ucap daniel lalu menyerahkan paperbag yang ada ditangannya kehadapan deo.


" deo menatap paperbag itu, " tidak ucah paman,"


Daniel meraih tangan deo, lalu menuntun tangan kecil deo untuk memegang paperbag darinya.


"ini untuk Deo."


Ekhemm...ana berdehem kembali, tapi ini lebih keras dari sebelumnya.


Daniel yang merasa ada atmosfir yang berbeda dari ana, segera bangkit.


"paman pulang dulu ya,"


" kenapa pulang paman?" tanya deo bingung, karena tidak seperti hari sebelum-sebelumnya ,daniel datang kerumah ini selalu mengajaknya bermain, namun kali ini, ia ingin pergi begitu saja?"


"paman...."


"paman sibuk. Jadi ia harus segera pulang." sambung ana lebih awal, dengan wajah dingin .


"Iya syang, paman pulang dulu ya..."


Daniel mengehentikan ucapannya saat deo menggelengkan kepalanya dengan keras.


" pama ndak boleh pulang!"


Daniel mentap ana miris, namun ana tetap pada pendiriannya, dengan cara memberikan tatapan tajam pada daniel, membuat pria itu harus mengeluarkan cara aggar deo mengerti.


"paman harus pulang, deo main sama superman yang paman belikan dulu ya..."


Deo tetap menggeleng, "Deo ndak mau!"


Dengan terpaksa ana mangangkat tubuh mungil deo kedalam dekapannya.


" tidak, paman sibuk.dan dia haru lul..."


"Deo mau main cama paman..."


" tidak bisa deo!" ucap ana sedikit meninggi.


deo akhirnya menundukan kepalanya dengan mata yang berlinang air matanya


"Deo mau paman." lirih deo pelan.


Menandakan kesedihan ada padanya.


daniel yang melihat deo ingin menangis segera meletakkan tangannya diatas puncak kepala deo, lalu mengelusnya.


"paman pulang dulu ya sayang," ucap daniel lembut, lalu ia mulai membalikan tubuhnya dan siap pergi


Sedangkan deo menegakan kepalanya kembali, menatap punggung daniel dengan sedih.


Dan ana ia harus menerima cobaan apa lagi ini.


" berhenti," ucap ana, daniel langsung menghentikan langkahnya


" kembali." daniel mencoba mencerna perkataan ana barusan.


" saya bilang kembali," perintah ana cukup keras.


Daniel membalikan tubuhnya kembali, lalu mengahampiri ana.


Sedangkan ana, ia menurunkan deo, dan membiarkan anaknya itu menghampiri daniel.


Ya, ana tidak bisa melihat putranya itu sedih, dan membjat dirinya harus mengambil sebuah keputusan, yaitu menuruti kemauan deo.


"paman, main bola..." pinta deo


daniel masih menatap ana.


" hanya 1 jam," ucap ana, kemudian ia membalikan tubuhnya dan menghilang seiring pintu ia tutup.


Itu tandanya ana mengizinkan daniel


...***************...


Ana memasuki kamarnya sesekali ia mengintip daniel dan deo melalui jendela. Ia hanya takut daniel akan menyakiti deo, namun tidak, justru pria itu memperlakukan deo dengat lembut.


Ana berjalan kearah ranjangnya lalu menduduki sisi ranjangnya


Ddrrrrtt...ddrrrtt...


suara getaran ponsel milik ana terdengar, ana milirik kearah laci, karena suara itu berasal dari laci itu.


Ana membuka laci itu lalu mengambil ponselnya.matanya membulat oleh pesan yang ia lihat diponselnya.50 lebih pesan? Dengan pengiriman yang sama.


"Nove," ana langsung membuka pesan yang noven kirim.


Isinya adalah penyesalan noven karena meninggalkan ana secara tiba-tiba tanpa pamit. Bahkan ia menyangka ana benar-benar pergi kejerman.


Ana segera mengetik pesan untuk noven


To: noven


"noven maaf aku baru membuka pesan dari mu."


selama itukah ia melupakkan ponselnya itu?


Ya memang, semenjak kejadian dibandara ana tidak memperdulikan apapun kecuali memperdulikan anaknya itu.


...---------------...


"Gol," teriak Deo girang saat bola yang ia tendang mampu menebus gawang yang dijaga daniel.


"yea, deo menang, paman kalah..."


Daniel tersenyum lalu menghampiri anaknya itu.


"yah paman kalah."


" itu kalena paman ndak jago, cepelti deo makanya jago." ucap deo.


Daniel mangacak- acak rambut deo,


" begitu ya?" deo mengangguk yakin.


daniel mencubit pelan hidung mancung deo.


Deo melangkah kakinya menuju bangku, ia menduduki dirinya yang mulai letih diatas bangku.


Daniel pun ikut menyusul deo.


"Deo capek?" tanya daniel,deo hanya mengangguk. Daniel duduk disamping deo, kemudian mangangkat kedua kaki mungil deo keatas pahanya, lalu memijat kaki deo dengan perlahan.


"paman apain kaki deo?" tanya deo sembari memperhatikan tangan daniel yang berada diatas kakinya.


"memijat kaki deo,"jawab daniel.


"kenapa ditekan-tekan kaki deo? Tanya deo polos.


Daniel tertawa mendengar penuturan annaknya ini." ini namanya dipijit sayang, biar kaki deo tidak pegal." deo hanya ber-oh ria saja.


Cukup lama daniel memijat kaki deo, sampai akhirnya ia menghentikan pinjatannya, saat deo menyebutkan kata Unda, yang berarti adalah bunda. Daniel menoleh kepalanya.


Benar, ana sudah berdiri diambang pintu yang tidak jauh dari bangku yang diduduki oleh daniel dan deo.


Daniel sempat terpaku melihat penampilan ana, wanita itu benar-benar cantik, bahkan kecantikannya melebih dari wanita ular itu. Namum sayangnya, kenapa ia baru menyadarinya?


Daniel membuyarkan kembali pikirannya tentang penampilan ana, kini matanya ia alihkan pada jam tangan miliknya.


Sudah 1 jam, batin daniel. Saat menyadari bahwa 1 jam singkat yang ia lalui bersama deo hari ini sudah abis.


Daniel menurunkan kaki deo,lalu ia bangkit dari bangku.


Sedangkan deo, ia menatap daniel bingung,


"kenapa belenti paman?" tanya deo, yang tanpa daniel sadari bahwa anaknya itu mulai merasakan kenikamtan dipijit secara lembut dan penuh perasaan oleh daniel.


Daniel tersenyum, ia membawa deo kedalam gendongannya. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju ana yang masih terdiam diambang pintu.dengan dress berwarna navy yang melekat ditubuhnya.


Daniel mengecup kening deo, "paman pulang dulu ya,"


Deo menautkan alisnya, " kenapa pulang?"


"karena...."


"karena sudah 1jam." jawab ana tanpa raut sedikitpun.


Daniel manatap ana,"ya, sudah 1 jam."

__ADS_1


"Deo mau main cama paman." daniel menoleh kearah deo yang berada digendongannya.


"iya, kapan-kapan main sama paman lagi ya."


"Deo maunya cekalang!" rengek deo.


"tadi..."


" Aku mau kau temani deo." ucap ana tanpa mentap sedikitpun, kearah daniel.


Daniel terdiam. Apa benar yang dikatakan ana?


" Aku?"


"Ya,kau tidak mau? Baiklah..."


"Aku mau. Aku akan temani deo."jawab daniel secepat mungkin.tentu saja daniel mau.ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menepati janjinya, menjadi Ayah yang baik untuk Deo.


Ana menghela nafasnya ia lalu mendekat kearah daniel, lalu mencium kening deo.


Daniel terpaku.kenapa ia sangat bodoh menyia-nyiakan wanita seperti ana,memiliki kasih sayang yang tulus.menyayangi anaknya itu dengan sangat,saat Ayahnya tidak menerima kehadirannya.


"Bunda pergi dulu ya sayang," ucap ana lembut dengan senyuman.


Daniel jadi mengingat saat ana masih bersama dirinya, wanita itu selalu memberikan senyuman kepadanya,walaupun beribu kata menyakitkan telah ia ucapkan.ia memang daniel akui ia sangat membenci saat wanita itu tersenyum.


Namun saat ini, senyum itu membuat daniel merindukan senyuman yang selalu ana berikan kepadanya dulu.


Tapi tidak apa,setidaknya rindu daniel akan senyuman ana bisa terbayar, walaupun senyuman itu bukan untuknya.setidaknya daniel bisa melihat senyuman itu secara dekat.


Ana menaikan tatapannya kearah mata biru daniel.


"temani deo sampai aku kembali."ucap ana, lalu membalikan tubuhnya.


" kau mau kemana?" ucap daniel memberanikan diri


"bukan urusanmu." ana pergi dari hadapan daniel dan deo.


Daniel menatap kepergian ana


"ya, itu benar.lirih daniel dengan tersenyum miris.


...-------------------...


Daniel bingung harus melakukan apa lagi untuk mangajak bermain anaknya ini.


"paman...." suara deo memecah keheningan.


"iya sayang?"


"Hhmm..." deo menjedakan perkataannya sejenak


"Deo mau apa? Deo lapar? Atau mau main bola lagi sama paman? Atau deo...."


Deo menggeleng kepalanya memasang wajah seirus, membuat jantung daniel berdetak cepat.ini bukan detak jantung orang jatuh cinta, tapi lebih menjurus pada ketakutan kalau deo memintanya untuk pulang dan tidak perlu datang lagi kerumahnya ini.


"Deo tidak mau paman disini?" daniel memberanikan diri untuk bertanya.


Deo menggelengkan kepalanya lagi.


"deo mau ketempat kebun binatang paman."ucap deo.


jadi itu yang membuat deo memasang wajah seriusnya.


"deo mau kekebun binatang?"


Deo mengangguk semangat sudah lama sekali ia tidak melihat binatang- binatang disana.


"Lets'go.." daniel mengangkat tubuh deo layaknya pesawar . Membuat deo tertawa geli,bila terdengar oleh telinga telanjang mereka berdua pun menuju kemobil.


...------------------...


Ana duduk diatas kursi restaurant dengan manis. Bahkan ia tidak terlihat seperti wanita yang telah memiliki anak atau bahkan menyandang status janda. Ia lebih terlihat seperti wanita lajang dewasa.


Sesekali pria-pria yang melewati meja yang ana tempati melirik kearahnya bahkan ia memberikan senyum kepada ana. Namun ana membalas dengan tatapan datar.


" Nana.."


Ana mendongakkan kepalanya, kini matanya menatap lurus kearah didepannya,dimana orang memangil namanya berhasil membuat jantung ana ber-irama cepat.


" pasti aku sudah membuat kamu menunggu lama," ya, itu adalah noven. setelah mendapat pesan balasan dari ana. Noven segera menghubungi ana, bahkan ia langsung mengajak ana untuk menemui dirinya.


"Ngh....sedikit,"ucap ana dengan menunjukan deretan giginya yang rapih. noven membawa jarinya kedaun telinganya kemudian menariknya "Maaf,"


Ana yang tau noven menarik telinganya sediri dengan cukup keras, segera memaksanya untuk menurun kembali tangannya.


"Kamu, jangan melakukan itu" ucap ana tak suka.


"seharusnya aku yang ada diposisimu, bukan kau yang menunggu aku." kesal noven oada dirinya sendiri.


"ini bukan salah kamu, aku saja yang datangnya terlalu cepat." ucap ana yang tidak menginginkan noven menyalahkan dirinya sendiri.


"kalau begitu besok-besok perginya bersama abg,"


Ana menganga.mustahil, berduan dengan noven didalam mobil.


Lalu apa kabar dengan jantungnya?


noven tertawa melihat ekspresi ana.


"Aku bercanda," ana hanya memberikan ulasan senyuman pada noven.


"oh ya," coba jelaskan ke Noven kenapa telepon dari Noven tidak pernah ana angkat dan pesan noven juga tak pernah ana balas? Padahal semua noven kirim ke nana terkirim semua?"


Ana langsumg memudarkan senyumannya.


"Nana"


Ana menarik nafas panjang " ana membantalkan penerbangan untuk pergi kejerman."


"Batal?"


...-------------------...


Daniel mengajak deo berkeliling kekebun binatang dengan deo yang berada didalam gendongannya. Ia tidak mau membuat anaknya itu merasakan kelelahan, walaupun anaknya memaksa minta turun.


"paman, deo mau jalan saja."pinta deo, namun daniel tak menyetujuinya permintaan anaknya itu.


"paman gendong saja,biar deo tidak capek ya sayang."


Deo menghela nafasnya. Menyebalkan memang, tapi apa boleh buat ia tidak bisa melawan orang yang lebih tua darinya.


"Deo mau lihat apa?"tanya daniel lembut, dengan tatapan fokus kejalan.


mata daniel mengikuti arah jari telunjuk deo.


jari itu menujuk kearah panda....


"deo mau lihat panda?" dengan semangat pula deo mengangguk, tanpa basa basi daniel melangkah kan kakinya menuju kearah tempat panda.


Betapa gemasnya wajah deo saat mereka sudah berada tepat didepan kandang panda, wajahnya menunjukan ekspersi gemasnya kepada hewan panda itu.


Setelah puas melihat binatang- binatang, daniel mangajak deo pulang,sebelum ana yang mendahuluinya.


Kini suasana mobil terasa hening.deo yang bersandar pada kursi mobil dengan tatapan menatap langit yang dipenuhi bintang dan daniel fokus pada jalanan.


Daniel membiarkan suasana hening, agar anaknya itu beristirahat, walaulun ia masih ingin bercemkrama dengannya.


"paman, "panggil deo tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun


Daniel melirik sekilas kearah deo, " ia sayang,"jawab daniel lembut.


"paman itu cebenalnya ciapa?" tanya deo dengan wajah yang sudah ia tolehkan kearah daniel.


Daniel memberhentikan mobilnya, tatapannya lurus kedepan tanpa berkedip sedikitpun.


"kenapa belenti paman?" tanya deo bingunh, karena daniel yang tiba-tiba saja menghentikan mobilnya, yang kebetulan suasana jalan yang mereka lewati sepi.jadi tidak perlu khawatir akan terganggunnya pengedara lain.


"paman..." panggil deo,akhirnya lamunan daniel berhasil deo buyarkan, kini daniel menoleh kearah deo.


"iya sayang"


"Iih, paman deo beltanya kenapa ndak dijawab.cebenalnya paman ciapa?" ucap deo dengan intonasi suara yang terdenggar begitu kesal.


"paman......" daniel sendiripun bingung hatus mengatakan apa.mengatakan kalau ia adalah Ayahnya? Itu tidak mungkin, daniel tau kalau anaknya ini sangat membenci kalau ia mengakui kalau dirinya adalah Ayahnya.


"iih paman itu ciapa?"ucap deo menahan kekesalannya.


"paman manusia..." jawab daniel dengan kekehan yang terdengar memaksa.


Deo menatap daniel dengan bingung, "Deo tau itu."


Daniel melirik anaknya sekilas dan mulai menghentikan kekehannya saat anaknya itu tidak merespon jawabannya yang ia buat seolah-olah lucu.lebih baik daniel diam, ia tidak mau masalah semakin rumit.


Tidak ia hanya saja tidak bisa mengatakan yang sebenarnya untuk saat ini.


22:00 p.m


Daniel menghentikan mobilnya didepan rumah ana.


Ada rasa sedikit takut dalam dirinya,karena ia sudah melebihi batas waktu yang ia tentukan sampai dirumah ana. Tentu saja ana hanya mengijinkan daniel bersama deo sampai ia pulang dari perginya, sedangkan daniel? Ia tidak tau menau kapan ana pulang kerumahnya itu.


Daniel melirik kearah kursi penumpang disampingnya, deo sudah terlelap tidur.daniel yang tidak tega membangunkan anaknya ia memutuskan untuk mengendong deo.


sampai didepan pintu ada sedikit keraguan daniel untuk menekan tombol bel.tidak, daniel membuang semua keraguannya itu.


Daniel menekan bel itu awalnya hanya sekali, 3 kali sampai akhirnya sang pemilik rumah ini keluar.


Jantung daniel berdegup kecang saat ana sudah berada dihadapannya, menatapnya, pasti wanita itu akan memarahinya, bahkan mungkin tidak akan membiarkan dirinya bertemu deo lagi.


"ana aku...."


Ana langsung memindahkan deo kedalam genndongannya dengan hati-hati agar anaknya itu tidak terbangun.


"ana, maaf," lirih daniel dengan kepala tertunduk.


"ya, " singkat ana, namun berhasil membuat daniel mendongakan kepalanya lagi, ia menatap ana tak percaya.


"terimakasih ana," ucap daniel bahagia, entahlah walaupun singkat daniel bahagia.


Ana tersenyum tipis," pulang dan istirahatlah," ana membalikan tubuhnya dan masuk kedalam rumah.


Ana masih memperhatikanya?

__ADS_1


Daniel tersenyum sumringah,wanitanya masih memperdulikannya. Ya wanitanya, daniel menyukai itu,tidak perduli status mereka sekarang yang telah bercerai.


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2