LELAH

LELAH
Amadeo wiliam


__ADS_3

Apa yang terfikir bila permintaan ana tidak terwujud? Ya, mereka akan membalas dengan tangisan, tangisan yang akan membuat semua orang akan merasa iba kepadanya.


"Hiikkss,,deo mau pelmen..." seperti balita kecil ini, ia terus mengeluarkan rengekan yang tak henti-henti. Beribu cara telah dilakukan agar balita ini memahami apa yang dilarang oleh bundanya. Tapi, tetap saja ia pada pendiriannya.


"Deo mau pelmen, undaa." rengeknya lagi.


"Deo sayang, permen tidak baik untuk kesehetan untuk gigi deo. Kalau nanti rusak gigi deo bagaimana? nanti banyak ulat-ulat yang menyukai gigi deo."


"deo tau ulatkan?" ucap bunda selembut mungkin.


Anaknya ini mengangguk dengan ekspresi sedih" ulat celamm...."


"Nah iya, ulat menyeramkan itu nanti memakan gigi deo, gigi deo nanti berlubang, deo mau giginya berlubang?"


Anaknya itu menggeleng sembari mengerucut bibirnya.


Bunda yang tidak tahan akan kelucuan anaknya, mengecup seluruh wajahnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" hhmmm....ada yang dicium bunda," suara berat itu berhasil membuat ibu dan anak ini menghentikan aktifitasnya.


Belita itupun membrontak keluar dari pelukan bundanya. Sepertinya balita itu mencari kesempatan dalam kesempitan, saat mereka mulai kedatang seseorang.


"Noven," ya, ibu dari balita bermata biru ini adalah ana.Anatasya.


Wanita ini telah banyak berubah. tapi tidak dengan sikapnya, sikap ana masih seperti dulu, wanita yang akan penuh kesabaran.


Balita kecil ini segera belari menuju arah noven dengan sigap noven mengendong pria kecil dan lucu ini.


" unda pelitt,"


" Deo tidak boleh beli pelmen..." adu balita kecil ini, dengan memeluk tubuh noven.


"Deo.." tegur ana sedikit nada tinggi."


"Deo mau permen,? Kata noven seraya menurunkan deo dari gendongannya.


Dengan semangat deo mengangguk.


noven lalu merogoh saku celananya, untuk mengambil sesuatu yang diinginkan deo.


"untuk deo?"pancaran bahagia langsung tercetak jelas di wajah deo. Noven mangangguk sembari tersenyum, deo pun segera mengambil permen yang berada ditangan noven, sebelum bundanya itu mengambil alih makanan kesukaannya itu.


"Noven," tegur ana pada noven,bahkan matanya setengah membulat.


"sekali-kali tidak apa-apa nana," ucap noven seraya mengusap lembut puncak kepala deo."


"uhh,, unda pelit...." walaupun telah mendapatkan apa yang ia inginkan, deo tetap sebal pada bundanya itu.

__ADS_1


Ana menghampiri deo, kemudian mensejajarkan dirinya dan anaknya itu.


Deo yang takut akan permennya diambil oleh bundanya, segera berlindung dibalik tubuh noven.


"papa, unda mau ambil pelmen deo."


Noven tertawa kecil melihat deo sangat takut pada ana.


Noven kemudian memindahkan posisi deo menjadi berada dipangkuannya.


"papa banyak memiliki permennya, jadi jangan takut..." bisik noven ditelinga deo.


Raut wajah deo nampak terkejut, mata birunya pun ikut membulat. Ini sangat bahaya sekali bila bundanya itu mengetahuinya.


"nanti diambi unda...."balas deo dengan khawatir tepat didepan telinga nove, namun ekspresinya sangat berbanding jauh dengan kenyataan, wajahnya justru sangat terlihat sangat mengemaskan membuat siapapun melihatnya secara langsung akan ikut merasakannya


Ana yang penasaran mulai mencondongkan tubuhnya kearah 2 pria itu, supaya percakapan mereka dapat terdengar olehnya.


"Deo makannya kalau sedang ada papa saja ya," balas noven ditelinga deo.


Deo mulai mengangguk-angguk menandakan bahwa ia paham dengan yang dikatakan noven.


" Unda ndak boleh dengal." celetuk deo saat mengetahui bundanya itu mulai menguping pembicaraan 2 pria taman ini.


" Hei, ngomongi apa kalian?" kata ana, sembari kembali pada posisinya semula. Dan berusaha menutupi ekspresi terkejutnya.


Deo tak mau menjawab, ia justru brontak agar bisa terlepas dari pangkuan noven.


"Deo, mau main bola....." pinta deo dengan suara yang mengemaskan.


Tiba-tiba saja noven menepuk keningnya keningnya sendiri "papa lupa membawa bolanya,"


Deo melepaskan gennggamannya pada lengan noven, ia menundukan wajahnya dengan lemas, sepertinya detik-detik air matanya akan terjatuh akan segera dimulai.


Noven yang menyadari deo kecewa karena dirinya melanggar janjinya yang akan mengajaknya bermain bola, segera menangkupkan kedua tangannya pada wajah deo.


"Anak laki-laki tidak boleh apa?"


deo menaikkan wajahnya dengan bibir yang mengerucut.


"tapi papa ndak bawa bola,"


Noven mencubit gemas pipi deo, lalu mengendongnya. Setelah itu ia perlahan mulai melangkah kakinya, meninggalkan taman ini.


"noven deo mau bawa kemana?" teriak ana.


Noven menghentikan langkahnya sejenak, kemudian menoleh kepalanya kebelakang "bermain bola....katanya, kemudian melangkahkan kakinya lagi.

__ADS_1


Ana terdiam. dalam benaknya, ana sudah yakin pasti noven berusaha melakukan apapun agar deo tidak sedih, termasuk menuruti kemauan anaknya itu.


Noven sangat menyayangi deo layaknya anak kandungnya sendiri, bahkan ia dengan suka rela memberikan kasih sayangnya untuk deo, agar balita itu tidak kekurangan kasih sayang.


Ana merasa beruntung karena anaknya itu bisa mendapatkan kasih sayang dari pria seperti noven. Walaupun deo bukanlah anak kandungnya, tapi noven lah yang selalu ada untuk pria kecilnya itu.


Sebelum deo terlahir didunia sampai akhir ia terlahir didunia, noven lah yang selalu ada disamping ana.


dan yang memberi nama deo adalah noven. Amandeo wiliam.


Wajar saja bila deo mempunyai panghilan khusus untuk noven, anaknya itu memanggil noven dengan sebutan papa.


Ada sedikit kesedihan didalam hatinya, ia hanya mengenal sosok paman yang menjelma menjadi sosok papa, tanpa tahu sosok ayah kandungnya yang sebenarnya.


walaupun ayah kandungnya sama sekali tidak mau menganggapnya ada. Ana tetap menceritakan sosok daniel kepada anaknya itu.


Terkadang pula ana merasa sedih bila deo menanyakan keberadaan ayahnya, bagaimana rupanya? Keberadaannya ada dimana?


Bahkan pertanyaan menyedihkan terlontar begitu saja daru balita itu.


Apa ayahnya itu tidak mau melihatnya?


dan ana hanya bisa menjawab, bahwa ayahnya itu sedang bekerja, dan belum ada waktu untuk menemuinya. Tidak mungkin bila dirinya mengatakan yang sebenarnya, ana tidak mau menabur bubuk kebencian pada anaknya.


"Hei," suara noven berhasil membuyarkan lamunan ana. Bahkan iapun tak sadar bhwa noven sudah berada disampingnya cukup lama.


"Deo--" ana menatap tubuh deo yang terkapar didalam pelukkan noven.


"ssstt, dia tertidur saat kami ingin membeli bola.." bisik noven pelan.


ana melemparkan senyuman kepada noven "terimakasih noven..."


Noven mengernyitkan dahinya, " untuk?"


" karena selama ini kamu sudah mau berada disisi ana dan deo. Dan kamu juga mau memberikan kasih sayang kamu untuk deo.." kata ana seraya mengelus puncak kepala deo.


Noven menatap lekat manik mata ana.


" aku sayang pada deo,"


Ana mengangguk paham, noven adalah pamannya, wajar bila seorang paman menyayangi keponakannya.


" sama bundanya juga..." lanjut noven lagi, tak


lupa senyum manis mengembang dibibirnya. Membuat ana menatap mata noven, menatapnya cukup lama. Ana tidak paham dengan ucapan noven.


Tangan kanan milik noven, yang tidak ia gunakan untuk menopang tubuh deo, mulai ia pekerjakan untuk mengenggam tangan ana, mengenggamnya dengan lembut.

__ADS_1


" *nana, Will you marry me?"


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊*


__ADS_2