
"Ay ... Ayra ..., tunggu sebentar aku mau kita bicara." Bram berhasil mena
"Lepas, Bang. Jadi selama ini Abang mengorbankan kebahagiaan Abang sendiri, hanya untuk menebus kesalahan yang telah Abang lakukan. Dan yang lebih parahnya lagi, Abang berpura-pura mencintainya. Munafik!" Ayra menatap Bram tajam.
"Kamu cuma salah paham. Ini tidak seperti yang kamu duga. Apa yang tadi kamu dengar tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Iya, tidak seperti yang aku pikirkan. Karena dulunya aku berpikir bahwa Abang benar-benar mencintai Rea, benar-benar menginginkannya. Tapi setelah mendengar semuanya aku tau perasaan Abang yang sesungguhnya. Aku bukan ingin mengusik ataupun ingin merusak rumah tangga yang coba Abang pertahankan selama ini, hanya saja aku kasihan sama Abang. Pengorbanan Abang terlalu besar hanya untuk wanita seperti Rea."
"Jangan pernah menilai istriku seperti itu, Ay!"
"Abang marah? Tersinggung? Ah, paling cuma berpura-pura peduli, agar terkesan membela!" ucap Ayra dengan menyunggingkan senyum sinis. Lalu Ayra berlalu dari hadapan Bram menuju mobilnya di parkir.
Sebelum masuk ke mobil, dia menoleh ke arah Bram sambil berucap, "Jangan pernah menemuiku, sebelum Abang bisa memahami perasaan Abang yang sesungguhnya."
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Bram terus memikirkan kata-kata Ayra. Wanita itu benar, dia memang belum bisa memahami perasaannya sendiri, pikirnya.
Setelah mandi dan makan malam, dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur di samping istrinya.
"Mas, kok diam terus dari tadi sih? Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ibu tadi siang, sampai Mas kepikiran seperti ini?"
"Enggak Sayang, Mas cuma lagi memikirkan pekerjaan yang masih tertunda."
"Kalau memang nggak ada yang kamu pikirkan, kenapa mukanya kusut begitu?" jeda sejenak, kemudian Rea melanjutkan, "Emm ... Boleh aku tanya sesuatu?" Rea bertanya ragu-ragu.
"Sebenarnya, bagaimana perasaan Mas terhadap Ayra untuk saat ini?"
"Kenapa bertanya seperti itu, kamu meragukanku?"
"Aku ragu karena aku mempunyai alasan yang kuat, Mas. Masa lalu bila terus dipikirkan akan berdampak ke masa depan. Sekuat apapun Mas berusaha melupakan orangnya, tapi jika Mas terus saja mengingat kenangannya itu sama saja dengan kamu membuatnya tetap tinggal di sini, di hati. Tentukan hati kamu dulu, baru kamu bisa menentukan sikap kamu, Mas. Mungkin kamu bisa berpura-pura dalam bersikap, tapi kamu tidak akan pernah bisa berdusta dan mendikte hati kamu." Rea menatap Bram dengan tatapan yang ..., entah. Sulit diartikan.
__ADS_1
"Kamu cukup percaya sama aku, jangan berpikir macam-macam. Ayra adalah masa lalu, jangan jadikan dia sebagai penghambat kebahagiaan kita di masa depan, Sayang."
"Aku mendengar semuanya, Mas. Percakapan kamu dengan Ibu tadi siang. Haruskah aku tetap berpikir seolah tidak terjadi apa-apa? Bolehkah aku berpikir macam-macam sekarang?"
Degggg ....
Bram terkejut, dia mengeryitkan dahinya seolah berpikir siapa yang telah memberitahu istrinya.
Lidahnya kelu, dia tidak bisa mengucapkan kalimat pembelaan apapun sekarang.
Bahkan bukan kalimat pembelaan yang dia pikirkan sekarang, tapi berbagai pertanyaan untuk dirinya sendiri lah yang ada di benaknya.
Darimana Rea tau semuanya?
Keputusan apa yang akan Rea ambil jika dia sudah tau semuanya?
__ADS_1
Dan mampukah dia merelakan Rea pergi dari sisinya bila dia meminta untuk berpisah?