LELAH

LELAH
Episode 10 (Jarak)


__ADS_3

Detik sudah berganti menit, menit pun sudah berganti dengan jam. Dan jam pun perlahan menyongsong waktu menjadi hari.


Hari-hari telah terlewati, kini delapan bulan sudah pernikahan mereka.


Semakin waktu berlalu, semakin jauh jarak diantara keduanya.


Bram yang sering pulang larut malam, dan Rea yang semakin pendiam.


Bram yang sering tidak memberi kabar, dan Rea yang memang sering terkesan membiarkan.


Rumah tangga mereka terasa hampa, tidak ada kehangatan lagi di dalamnya.


***


Bram terbangun ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08.30.


Dia melihat ke arah samping tempat tidurnya, ternyata Rea sudah tidak ada lagi di sana.


Sinar mentari pagi masuk melalui jendela yang memang sudah terbuka, Bram mengernyitkan keningnya dan menutupi matanya dengan sebelah tangan karena bias cahaya menembus penglihatannya.


Bram bangun kemudian mandi, dilanjutkan dengan sarapan yang sedari tadi memang sudah tersedia di atas meja.


Tapi dia bingung karena dari tadi dia belum melihat istrinya, tidak biasanya Rea pergi tanpa pamit dan izin darinya. Bram mengambil hp dan menghubungi Rea. Hanya ada suara operator, nomornya tidak bisa dihubungi.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Bram, kemana perginya perempuan berlesung pipi itu. Tidak ada tanda-tanda kepergiannya.

__ADS_1


Jangankan pamit pergi kemana, sekedar membangunkan pun tidak.


Cemas mulai menghampiri, tapi Bram menepisnya. Dia meyakinkan dirinya, bahwa Rea baik-baik saja.


Mengambil tas dan kunci mobil yang tergeletak di meja samping tempat tidur, Bram memutuskan pergi ke kantor.


***


"Bro, kusut amat tuh muka. Ada masalah lagi sama kakak ipar gue?"


"Ck ... Harus berapa kali gue bilang, kalau mau masuk ketuk pintu dulu! Lo pikir ini kantor punya lo, hah? Mending lo keluar sekarang, daripada gaji lo gue potong!" Bram menatap tajam Aziz yang tiba-tiba saja masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Aziz mendekati Bram, kemudian di sofa yang berseberangan dengannya. Dia melonggarkan sedikit dasinya, kemudian mengambil ponsel di saku celananya.


"Lo tau, gue belum bisa sepenuhnya ngelupain Ayra. Tapi, bukan berarti gue mau main belakang ataupun mau khianati Rea. Gue cuma gak tega liat Ayra gak ada yang ngurus, gue cuma gak tega disaat dia butuh banget sama gue, dan gue gak ada. Itu menyakitkan buat dia, lo bayangin gimana jadi gue, Bro." Bram menatap Aziz dan memijat kepalanya pelan.


"Tetap aja lo salah, Bro. Lo cinta ama Ayra, tapi apa yang udah dia lakuin ke lo? Parah banget, kan! Sedangkan Rea yang gak ngerti apa-apa, yang lo undang agar dia masuk ke dalam kehidupan lo, lo sia-siakan. Sebagai sepupu lo, gue berhak mengingatkan." Aziz berbicara sambil memainkan HP-nya, yang dari tadi terdengar beberapa notifikasi, tanda banyak pesan yang masuk dan meminta balasan.


"Rea pendiam sekarang, tadi pagi dia pergi tanpa izin dari gue. Sibuk banget dia sekarang, bahkan menyambut gue pulang pun jarang. Gue ngerasa jauh banget sama dia. Gue udah coba buat mengikis jarak yang ada, tapi kayaknya sia-sia." Bram memandangi foto pernikahannya dengan Rea yang ada di meja kerjanya. Rea terlihat sangat cantik dengan riasan seadanya, dan kebaya putih yang melekat pas di tubuh mungilnya.


"Lo harus bedain, mana bodoh dan mana baik. Bodoh dan baik itu bedanya tipis banget, Bro. Lo nikahin Rea, agar bisa ngelindungin dia, kan? Itu baik, selama lo bisa jaga komitmen dari awal.


Lo nemenin Ayra kemana-mana, berusaha selalu ada saat dia butuh. Itu bodoh. Kenapa? Manusia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Lo ngertikan maksud gue?" Aziz bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlalu keluar tanpa pamit. Raut wajahnya menampakkan kekesalan yang amat sangat.


Sepeninggalan Aziz, Bram hanya duduk termenung memandangi foto pernikahan mereka yang diambil delapan bulan yang lalu.

__ADS_1


Saat itu, Bram bisa merasakan besarnya kasih sayang Rea, merasakan betapa peduli istrinya, dan betapa bahagianya perempuan cantik itu.


Tapi sekarang, Bram tidak bisa merasakan itu semua. Bahkan untuk melakukan kewajiban suami istri saja, Rea sepertinya terpaksa. Karena tidak ada lagi pelukan hangat maupun kata-kata indah yang mampu memabukkan.


Bram merasa gagal membahagiakan istrinya, hanya karena terlalu peduli pada Ayra. Dia tahu ini salah, sangat salah.


Dia bertekad akan memperbaiki semuanya, mengikuti apa yang Rea lakukan padanya sama saja dengan membuat jarak mereka semakin jauh. Bram akan mengalah, membuang egonya. Karena dia sadar, sesungguhnya perempuan itu sangat berarti dalam hidupnya. Ada rasa kehilangan yang luar biasa saat hubungan mereka renggang.


***


Di lain tempat, Rea pergi ke sebuah Restoran yang sudah disepakati dengan Karin. Mereka akan bertemu pagi ini jam 09.00.


Rea sengaja datang lebih awal, karena tidak ingin sahabatnya menunggu. Selain itu, dia malas bila harus makan satu meja dengan suaminya yang hanya diisi dengan keheningan. Entah sejak kapan jarak itu mulai tercipta, tapi semakin hari semakin terasa.


Dari jendela kaca di depannya, Rea melihat Karin sudah tiba. Dengan hanya menggunakan kaos oblong dan celana jeans, sahabatnya masih terlihat sangat cantik. Karin memang agak sedikit tomboy, tapi hatinya justru sangat lembut dan murah hati.


"Hey, bengong aja! Teman datang, bukannya disambut malah diam. Masih mikirin masalah yang kamu ceritakan tadi malam?" Ketika sampai, Karin langsung duduk dan melontarkan pertanyaan.


"Aku tau dia selingkuh, Rin. Mungkin memang Ayra yang lebih pantas mendampinginya daripada aku." Rea berbicara sambil menahan kristal bening yang sebentar lagi akan jatuh bila ia berkedip.


"Bram nggak mungkin melakukan hal serendah itu, Re. Aku bisa nilai suami kamu orangnya gimana. Kalian cuma perlu terbuka, bicara dari hati ke hati. Jalin komunikasi yang baik." Mata Karin berkaca-kaca, dia ikut merasakan kesedihan yang Rea rasakan.


"Dia rela menemani Ayra di rumah sakit sampai larut malam, dia rela menemani Ayra kemanapun jika diminta, bahkan dia rela menjadikan aku yang kedua dan Ayra menjadi prioritasnya. Apakah itu bukan cinta? Ibu sendiri yang memperlihatkan foto-foto mereka, secara tidak langsung Ibu memintaku mundur. Aku tidak diinginkan, Rin." Rea sudah tidak bisa membendungnya lagi, tangisnya pecah.


Karin langsung memeluk Rea, berusaha memenangkannya. Dia akan membuat perhitungan pada Bram, karena telah menyakiti Rea secara terang-terangan.

__ADS_1


__ADS_2