LELAH

LELAH
Kesekian Kalinya


__ADS_3

"Dia....." daniel tidak langsung melanjutkan karena dering panggilan masuk diponselnya yang mendadak berbunyi dan menganggunya.


Daniel mengangkat panggilan yang masuk diponselnya, " ya ada apa?"tanya daniel, ia kemudian bangkit dan menjauh dari meja.


Kini dimeja itu hanya ada Dion dan ana. Suasana benar-benar canggung, apa lagi ana merasakan aura berbeda dari pria itu.Ia bisa merasakan bahwa pria itu kini tengah menatap dirinya.


"Dion Stepheson..." katanya, sembari mengulurkan tangannya.


Ana tak langsung menjabat tangannya, ia menatap wajah pria itu dulu, cukup lama ia menatapnya, begitu juga dengan tangan Dion yang sudah cukup lama juga melayang diatas udara.


Ana akhirnya membalas jabatan tangan dari Dion, walaupun sebenarnya ia sempat ragu.


"Ana." ucap ana singkat, kini ia merasakan genggaman tangan pria ini nampaknya sangat erat sekali.


"maaf," kata ana mencoba memberi pengertian kepada Dion agar mau melepaskan tangannya, akhirnya Dion mengerti dan melepaskan genggaman tanganya itu.


" kalau boleh tau kau siapanya daniel?"


Skak!! Ana tak bisa menjawab, mau menjawab kalau ia istrinya, tapi ia takut kalau daniel akan murka kepadanya. Apa jawab saja seperti yang ia katakan kepada kekasihnya itu?


Dion nampak menunggu jawaban darinya.


"Aku," "pelayannya," jawab ana dengan senyuman yang terlihat memaksa.


Raut wajah Dion nampak tak percaya. Dari pakaian dan wajah, ana sama sekali tidak masuk dalam kriteria pelayan.


"pelayan?" kata Dion dengan rasa ketidak percayaannya itu.


"Dia istriku." kata daniel yang tiba-tiba datang dan langsung menggeser bangkunya untuk lebih dekat lagi kepada ana, lalu merangkulnya.


"Tapi, dia bilang..."


"Dia istriku." daniel menggulang perkataannya.


" pelayan katanya...."


daniel menatap ana sejenak, menatapnya dengan tajam.


"ya-ya, maksudku,pelayan dalam segala urusannya, seperti dalam membuat sarapan, menyiapkan sarapan," ana mencoba meralat perkataannya walaupun ia yakin itu pasti terdengan sangat aneh.


"Tidak sayang, itukan memang tugas mu sebagai istri, bukan lelayan." kata daniel seraya mengacak pelan puncak kepala ana.


Dion merasa miris melihat adegan yang baru saja terjadi. Baru saja hatinya akan memilih, ternyata wanita pilihannya sudah dimiliki pria lain.

__ADS_1


tidak, Dion tidak boleh terbawa perasaan dalam keadaan seperti ini. Mungkin saja setelah kejadian ini berakhir, perasaan itu akan hilang, hilang dengan sendirinya. Ya, itu pasti.


Mungkin perasaan ini hanyalah perasaan kagumnya saja melihat wanita secantik ana karena memiliki senyuman manis persis seperti wanita yang ia cintai sewaktu ia kuliyah dulu, wanita yang ia gapai hatinya namun belum sempat terwujud.


" bagaiman? Sudah puas?" tanya daniel bernada sindiran.


"ya," jawab Dion dengan melemas.


entah apa membuat daniel mengatakan hal yang sejujurnya kepada Dion, ia hanya tak suka saat Dion menatap ana dengan menatap menyukai. Terlebih saat mengenal dirinya.


Tak lama kemudia pelayan datang membawa makanan yang sudah dipesan.


"hhmm,, silahkan dimakan." kata daniel dengan sengaja dikeraskan, karena Dion masih terus menatap ana. Ia juga merangkul ana lebih dalam untuk masuk kedalam pelukannya.


lamunan Dion buyar, namun setelah lamunannya buyar, dion bangkit dari duduk. Ia mendadak menjadi tidak mood lagi.


"ada apa?" tanya daniel.


"aku pamit dulu, aku masih memiliki acara lain,' alabi dion.


"aku pamit ana..." lanjutnya lagi, dengan menatap ana sekilas. Sial nyatanya ia memang hanya kagum dengan senyuman wanita itu yang sama persis dengan wanita yang dicintainya itu. Membuat ia seketika merindukan sosok yang sudah lama tidak ia lihat.


"hati-hati ya," kata ana lembut dan tersenyum padanya.


"kau yakin? makanannya?"


Perginya dion dari restaurant ini berakhirlah juga drama yang baru saja daniel lakukan.


Daniel segera menjauh dirinya dari ana.


" jangan terlalu percaya diri."


ana langsung menatap kearah daniel


" mengakuimu sebagai seorang istri, aku tidak ingin harga diriku jatuh, karena kau sudah mengatakan dirimu itu sebagai pelayan."


"aku ini orang penting. Tidak mungkin orang penting membawa pelayannya dalam pertemuan bisnisnya."


"dengan terpaksa aku harus mengakui semuanya." daniel menjelaskan.


ana yang baru diterbangkan setinggi langit oleh daniel, harus merasakan sakit kembali, daniel menjatuhkan dirinya beserta harapan indahnya, semua seketika menjadi pupus.


"Aku paham,"jawab ana, dengan wajah menunduk.

__ADS_1


" Bagus," , "oh ya, kau juga bisa kan menjaga sikapmu itu didepan teman ku bukan?"


ana menautkan alisnya, memangnya apa yang sudah ia perbuat, sampai samlai daniel menegur dirinya?


"Aku?" tanya ana bingung


Daniel berdecih, "iya." , "seharusnya kau tidak menarik perhatian dion seperti tadi," kata daniel tidak terima.


Deg, apa itu tandanya daniel?


"karena kau tidak pantas mendapatkan perhatian, terlebih perhatian darinya."


" seharusnya kau menyadarinya, dia itu pria ber-kelas dan wanita baik-baik. Bukan seperti mu ," ******! Umpat daniel.sembari membuang wajahnya kesisi kanan.


remuk sudah hati ana untuk kesekian kalinya, apa salahnya sampai daniel tega hati, merendahkannya? Ia tidak boleh menangis, walau rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya.


ana mendengarkan umpatan kasar daniel untuknya dan itu benar-benar membuat hatinya terasa sakit.


Prang! Daniel membanting sendok yang berada ditangannya, keatas piring.


"mood ku sudah hilang!" daniel meninggalkan restaurant ini beserta ana yang masih mematung dikursi ini.


Setelah daniel pergi, ana menangis dan meneteskan air matanya, ia tidak perduli pada orang-orang yang berada di restaurant ini. Mereka tidak merasakan apa yang dirasakan ana. Mereka hanya bisa mengomentari tangisan ana.dalam diamnya mereka.


...****************...


Braks! Daniel membanting pintu mobilnya, ia tidak mengerti dengan semuanya, yang ia tau ia sangat marah!


ia mengacak-acak rambutnya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar, ia membuka pintu mobilnya kembali. Ia ingin kembali kedalam restaurant dan membawa ana kemobil miliknya, namun ia membatalkan niatnya saat ia melihat ana lebih dulu keluar dari resturant. Daniel menghentikan langkahnya, ia dan ana hanya terpisah jalan.


Ana terus berjalan dengan wajah yang menunduk, menyembunyikan wajah sedihnya. Sampai akhirnya, ia tak sadar, jarak yang tidak jauh darinya ada sebuah mobil yang melintas kearahnya.


"Ana..."lirih daniel pelan, matanyapun sedikit membulat.


daniel yang sadar ada sebuah mobil yang hendak menghampiri ana, ia dengan secepat kilat berlari kearah ana. Membawanya menyingkir dari jalan, yang hampir melayangkan nyawanya.


Ana shock, saat melihat mobil yang baru saja melintas dengan kecepatan penuh.


" kau tidak apa-apa ana? Kau baik-baik saja kan?"


kau....apa..apa...ana..kau...suara samar-samar terdengar dari telinga ana.


nafasnya begitu berat untuknya, sampai pada akhirnya tubuh ana terjatuh.

__ADS_1


"ana," daniel segera membawa tubuh ana untuk dibawa kedalam mobilnya. Dan daniel melajukan mobilnya untuk membawa ana pulang kerumah.


Mohon dukungannya untuk karyaku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2