
Senyum itu mengembangkan saat matanya menatap kumpulan foto berwarna hitam-putih, gambar itu terlihat mulai dari sebuah titik hitam kecil, sampai titik hitam kecil itu berubah menjadi membesar.
Ya itu adalah gambaran bayi ana yang tercetak dalam sebuah foto USG. Ana mengumpulkan semua hasil USG itu, dari awal kehamilan hingga pengunjung kehamilan.
Ingin rasanya memberitahu daniel, semua gambar-gambar itu. Memberitahunya bahwa janinnya berjenis kelamin laki-laki. Ana ingin memceritakan banyak tentang semuanya yang tidak diketahui oleh daniel.
"Kau merindukan Ayah?" katanya sambil mengusap perutnya. Ya dirinya dan bayinya sangat merindukan sosok daniel. Merindukan yang teramat dalam. Tapi suaminya itu tidak berada disini. Sosoknya tak pernah lagi ia temui 2 minggu terakhir ini.
Di detik-detik terakhir dimasa kehamilannya ini, ana ingin daniel berada didekatnya, disampingnya, menjaganya. Tapi ia justru malah pergi, pergi jauh dari sisinya.
"Ayah sedang bekerja sayang," ana mencoba menenangkan bayinya yang mulai menendang-nendang perutnya.
Ana yang tidak mau terlarut dalam kerinduannya, memutuskan berjalan-jalan diluar rumah. Ia membiarkan langkahnya terus melangkah. Sampai akhirnya langkahnya terhenti pada sebuah taman kanak-kanak, matanya tak henti-henti mentap disetiap kegiatan yang dilakukan anak kecil ditaman kanak-kanak tersebut.
Ana merasakan tendangan dari bayinya kembali. ana mengulas senyuman saat mendapat reaksi bayinya seperti itu.
" kau mau cepat-cepat bersekolah ya?
bunda juga menginginkan hal itu cepat terjadi," ujar ana, sambil mengusap perutnya itu.
"Oh, ayolah. Dia saja belum lahir, nana" suara itu tidak asing untuknya.
"Noven?"
pemilik suara itu adalah noven. Ia pun mendekati ana yang tengah mematung didepan taman kanak-kanak.
" kau sedang apa, berdiam diri di sini?"
Tanya noven yang tidak sengaja bertemu dengan ana saat ia melewati jalan ini.
"Apa kau tidak ingat dengan kandunganmu ini?" lanjut noven lagi
"Aku sedang mengajaknya berjalan-jalan...."
" sendiri" ana mengangguk.
" kalau ada sesuatu hal buruk bagaimana?" noven.
Ana mengembangkan senyumannya
"Dokter menyarankan agar aku tidak berdiam dirumah, agar posisi bayi saat lahir sudah pada posisi yang benar."
"tapi tidak harus sendirian seperti ini,"
hanya itu yang bisa ana lakukan. Ana kembali melangkah kakinya, meninggalkan noven yang masih terdiam didepan taman kanak-kanak.
Tapi noven tidak akan membiarkan ana berjalan seorang diri dalam kondisi seperti ini. Noven segera menyusul ana yang belum terlalu jauh darinya.
"kamu ingin kemana?" tanya ana.
"menemanimu." ana tertegun dengan perkataan noven.
" menemaniku?"
"ya,"
__ADS_1
"tidak lucu bukan,kalau tiba-tiba saja kau melahirkan dijalanan, seorang diri.."
Ana memukul bahu noven setelah mendengar ucapannya barusan.
"Ada apa?"
" perkataan ku tidak ada yang salahkan?"ucap noven.
ana menghela nafasnya, ia berdebat dengan noven tidak akan pernah abisnya, itu akan membuang- buang energinya, ia pun memutuskan tidak menjawab pertanyaan noven.
" suamimu memangnya kemana?"tanya noven hati-hati.
Ana menghentikan langkahnya, perkataan noven seolah menghinoptis dirinya.
...----------------...
Daniel sudah terlihat rapi, mengunakan jas biru. Dan ditangannya pula sudah ada sebuah koper yang ia genggam
Ana yang sedang menonton serial televisi, sejenak melupakan acara serial itu dan kini pandangannya teralih pada sosok suaminya.
"kau mau kemana?" tanya ana sedikit bingung
Daniel yang berkutat pada layar ponselnya, menatap sekilas kearah ana. Kemudian terfokus kembali pada layar ponselnya, ia mengabaikan pertanyaan dari istrinya itu.
"Daniel," panggil ana.
Terdengar helaan nafas darinya "urusanmu apa?" tanya daniel yang begitu tajam.
jelas ada urusannya, ana adalah istrinya, dan bila seorang istri ingin tau keberadaan suaminya saat tidak berada disisnya.
daniel mengalihkan tatapannya kearah lain " katakan saja aku sedang ada urusan metting diluar kota."
Perkataan daniel tidak meyakinkan untuknya, pasti suaminya itu berbohong sesuatu kepadanya.
" metting?" tanya ana penasaran.
" ya, kenapa?"
Ana segera menggeleng, " aku hanya memastikan kembali."
Daniel memasukan poselnya kedalam saku celananya kemudian membawa koper miliknya untuk mendekati ana.
"percaya?" tanya daniel. Bodohnya ana malah menggelengkan kepalanya, pasti daniel akan sangat marah kepadanya.
" jawabnya pasti tidak...." , "kau ingin tau aku mau kemana?" kini daniel berjalan menghampirinya.
ana mengangguk dengan semangat, siapa yang tidak ingin mengetahui suaminya akan pergi kemana?
" berlibur," mendengar kata berlibur membuat ana sedikit bahagia,pasti suaminya ini mendekatinya untuk memberitahunya agar segera bersiap-siap lalu merapikan semua pakaian didalam koper, agar dirinya ikut bersamanya liburan.
"bersama siska," lanjutnya. Kebahagian itu seolah hanya kembang api bagi ana, yang bertahan dalam sekejap.
Daniel mengusap lembut puncak kepala ana, membuat sedikit rambut ana berantakan.
"kau ingin ikut?" tanya daniel, tentu jawabnya adalah tidak! Ia tidak akan mau menyaksikan itu semua! Menyaksikan suami tercinta bermesraan dengan kekasihnya.
__ADS_1
tapi dengan diamnya anapun, daniel sudah paham.
"tidak mau ya?"
" baguslah, lebih baik dirumah saja." kata deniel dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.
"oh, ya, jangan macam-macam selama aku tidak ada." katanya dengan seulas senyum yang menyeringai.
" mengerti?" wajahnya berubah kembali mejadi datar
"kau memiliki telingakan?!" bentak daniel .
ana mengangguk dengan air mata yang tertahan.
"bagus." katanya, sambil meninggalkan ana dengan membawa kopernya. Meninggalkannya seolah tidak ada rasa bersalah .
Untuk yang kesekian kalinya, hatinya dipatahkan lagi
...----------------...
"nana?" ana membuyarkan lamunannya saat noven memanggil namanya.
"Dia," , " metting luar kota," jawab ana, persis seperti apa yang daniel inginkan.
" meninggalkan mu sendirian disini?"
"dalam kondisi seperti ini, dia meninggalkan mu?" kata noven tidak percaya.
"dia bekerja noven," kata ana mencoba membuat noven mengerti.
Noven menaikan sebelah alisnya, " kenapa dia tidak mengajakmu juga?"
Ikut dengannya? Lalu menyaksikan momment menyakitkan itu?
" Aku menolaknya?"
" karena kalau ada aku disana, pekerjaan nya bisa-bisa berantakan semua, karena ulah ngidam ku ini."
" bayi ini setiap didekat ayahnya selalu meminta hal yang diluar dugaan, jadi aku memutuskan untuk tidak ikut dengannya."
bohong ana agar noven tidak mencurigainya.
Raut wajah noven berubah. Hatinya sakit saat ana mengatakan semuanya.ia jadi menyesal melontarkan pertanyaan itu kepadanya.
Sejenak ana merasakan kembali perutnya ditendang oleh bayinya.
"sepertinya dia tidak terima dibicarakan oleh bundanya ini...."
Ana mengusap perutnya kembali, " hei..jangan marah." kata ana mengajak bicara anaknya itu.
Noven menatap perut ana.
" boleh aku merasakannya?" tanya noven ragu.
Dengan senang hati ana mengijinkannya untuk merasakan tendangan super power dari bayi itu. noven sangat bahagia merasakan tendangan bayi ana. Dia menyesal, seandainya ia lebih dulu mengungkapkan isi hatinya kepada ana. pasti noven merasakan sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia.
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ku 🙏🏻🙏🏻😊😊