LELAH

LELAH
Nyatakah ini??


__ADS_3

"Gila-gila ternyata Pak Rendi pangeranku itu orang yang pedulian"


"Tasya belajar? Nggak mungkin banget lah"


"Norak banget sih!"


"Beruntung banget si jadi Tasya, gue juga mau dong"


"Kok mereka kaya udah deket gitu ya? Apa jangan-jangan mereka jadian? Tapi nggak mungkin sih! Masak iya selera Pak Rendi rendah banget"


Pasti tau kan siapa yang membicarakan mereka? Yups, sudah jelas dan sudah pasti adalah anak-anak MIPA 4.


Pak Rendi telah berdiri dari posisinya dan telah menyelesaikan 20 kali push up tadi.


"Udah kan bu Rosa? Jadi sekarang boleh dong Tasya mengikuti pelajaran ibu?" Tanya Pak Rendi.


"Iya boleh, tapi lain kali jika Tasya terlambat lagi saya tidak akan mengizinkan dia untuk mengikuti pelajaran saya selamanya" ucap Bu Rosa dingin.


"Belajar yang bener ya Asya! Jangan sia-siakan waktu kamu lagi. Oke??" ucap Pak Rendi sembari mengacak rambut Tasya.


"Iya pak, sekali lagi makasih ya pak" ucap Tasya ke Pak Rendi.


"Yaudah, kalo begitu saya pamit keluar dulu semua" Setelah mengatakan itu Rendi segera pergi meninggalkan kelas itu dan meninggalkan Tasya dengan pipi yang merona karna perbuatannya tadi.


Tasya segera duduk di tempat duduknya sedangkan Riri memutar tubuhnya menghadap ke belakang, tepatnya ke hadapan Tasya.


"Eh sya, kok bisa sih lo ama Pak Rendi?? Apa bener yang gue bilang kalo pak Rendi suka ama lo!" ucap Riri


"Ceritain dong sya" pinta Riri.


"Husst.... diem ngapa! Gue mau belajar nih!" ucap tasya sambil menaruh jari telunjuknya ke bibir, setelah itu ia langsung mengalihkan tatapannya ke orang yang ada di depan tepatnya yang sedang menerangkan pelajaran, siapa lagi kalo bukan bu Rosa.


Selama 2 jam itu Tasya berusaha fokus dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan kantuk yang menyerang dirinya.


"Nih pelajaran kapan abisnya sih!! kok lama banget dari tadi! Bosen banget gue kalo kaya gini" batin Tasya


Untung saja waktu berpihak kepadanya


karna setelah itu bel istirahatpun


berbunyi nyaring.


"Allhamdulillah." Ucap Tasya


"Sya lo mau ke kantin? Bareng nyok."


Ucap Riri


"Iya yuk. Udah lama juga BTW." Tasya


terkekeh


Mereka melangkahkan kakinya keluar


kelas


"Sya kantin yuk." Ajak pria itu


"Tapi Pak.." saat Sheila ingin menolak


ajakan Rendi tiba-tiba pembicaraannya


terpotong oleh suara Riri.


"Udah Sya, gue mah kaga papa lah sendiri" Ucap Riri


"Yaudah gue duluan ya Sya." Ucap


Riri kepada Tasya


"Iya. Ati-ati ye." Ucap Tasya.


"Yuk Asya." Ajak Rendi sambil


menggenggam tangan Tasya.


"Jangan gandeng deh napa Ren! berasa kek


anak kecil deh gue." Ucap Tasya


"Biarin aja napa Sya"


Mereka melangkahkan kakinya menuju


warung Wak Inem.


"Hallo Tasya lovers." Ucap Sheila


menyapa teman-temannya.


"Eh Tasya." Ucap Rino.


"Sya mau pesen apa?" Tanya Rendi.

__ADS_1


"Rokok." Tawab Tasya dengan cengiran


tanpa dosanya.


"Serius." Ucap Rendi dingin.


Ntah kenapa Tasya merinding melihat


Rendi yang dingin kepadanya


ini


"Nasgor." Ucap Tasya.


"Ok." Jawab Rendi.


Setelah itu Rendi langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Tasya untuk memesan makanan mereka.


"Sya." Panggil Keenan.


Tasya yang merasa namanya di panggil


itu seketika menengok ke sumber suara.


"Eh ada apa Nan?" Tanya Sheila.


Keenan berjalan mendekati Tasya dan


Keenan berbisik tepat di telinga Tasya.


"Gue mau ngomong tapi ngga disini,


pulang sekolah kita ketemu di Rooftop."


Bisiknya.


Ketika Tasya ingin bertanya apa yang


di bicarakan nanti ketika di Rooftop harus ia urungkan karna Rendi sudah kembali dengan 2 piring nasi goreng dan 2 botol air mineral di tangannya.


Mereka menikmati makanannya dengan banyak bicara.


"Eh Pak Rendi kok sama Tasya sih?" tanya Calvin kepo.


"Ya memangnya kenapa? Ada yang salah ya?" tanya Pak Rendi.


"Gak salah sih pak, ya tapi kan Tasya tu siswa yang terkenal bandel. Kok bapak malah jalan sama dia" ucap Calvin.


"eh gak maksud apa-apa kok Sya, peace!" ucapnya sembari mengacungkan kedua jarinya.


"Saya sudah berteman dengan Asya, jadi saya mohon kalian juga bisa menganggap saya sebagai teman kalian juga" ucap Rendi.


"Oh gitu toh,, kirain kalian ada hubungan special gitu!" ucap Rino menimpali.


"Ya do'a kan saja ya" ucap Rendi menanggapi.


"Tapi kalo kalian jadian jangan lupa traktir kita-kita ya Pak!" ucap Calvin.


"Gampang itu mah"


Dan mereka pun bercerita mengenai banyak hal sampai-sampai mereka sadar kalau bel masuk telah terdengar nyaring.


"Sya nanti gue tunggu di rooftop begitu bel ya" bisik Keenan ke Tasya


"Okey." Jawab Tasya


Setelah membisikan sesuatu ke Tasya Keenan pun langsung pergi ke ruang kelasnya tanpa menunggu teman-temannya yang lain. Entah mengapa kali ini Keenan terlihat agak murung, tidak seperti biasanya.


"Ren gue ke kelas duluan ya." Ucap Tasya


"Mau di anter?" Tanya Rendi


"Ngga usah, gue bisa sendiri kok."


"Yaudah." Tasya pun meninggalkan Rendi dan berjalan menuju kelasnya


Ketika ia menginjakkan kakinya di dalam kelas tersebut, ia sudah di hadiahi pertanyaan-pertanyaan itu lagi.


"Tasyaa...ceritain dong gimana lo bisa jadian ama si Pak Rendi, secara kan dia perfect banget udah gitu dia kan jarang bisa deket sama cewek." Ucap Riri mendekati Tasya


"Siapa yang jadian lagi." Jawab Tasya sembari melangkahkan kakinya menuju bangku tempat duduknya Riri menyetarakan langkah mereka.


"Ih masa ngga jadian sih."


"Emang ngga."


"Tapi lo ada perasaan kan sama dia?" Tasya menghentikan langkahnya.


Ia diam tak berkutik fikirannya ntah kemana "Mm...nggak." jawab Tasya ragu-ragu


"Udah jelas deh dari sikap lo Sya lo itu suka sama dia. Dia juga keliatannya suka sama lo." Terang Riri.


"Nggak mungkin lah Rendi suka sama gue Ri, ngaco banget si kalo ngomong"

__ADS_1


"Apa bener ya kalo Rendi beneran suka sama gue? yang gue cinta kan si Keenan tapi kenapa giliran bahas Rendi jantung gue mulai gak normal juga? apa iya gue mulai suka sama dia?" batin Tasya menanyai dirinya sendiri.


"Yee... Kaga percayaan amat si neng! Lo mah ngeraguin yang namanya Riri! Jangan panggil Riri deh kalo sampe gue salah, gue mah gak pernah salah kalo nebak-nebak masalah gini"


"Iyain aja deh, biar seneng"


"Kalo lo bisa nebak, kenapa lo juga nggak bisa nebak kalo selama ini gue cinta Keenan Ri?" batin Tasya lagi.


Dan seorang guru pun masuk ke ruang kelas XII MIPA 4 dan seketika semua siswa menghentikan aktivitas mereka semua.


Tasya sukses mengikuti pelajaran hari ini dengan lancar walaupun ia selalu berusaha keras untuk menahan kantuknya


"Akhirnya pulang juga." Ucap Tasya semangat.


"Rekor nih. Selama gue hampir 3 tahun sekelas sama lo. Baru kali ini lo ngikutin pelajaran sampe selesai good." Ucap Riri sambil mengangkat kedua jempol tangannya.


"Iya dong Tasya gitu." Ucapnya bangga


"Oh iya lo mau pulang bareng sama gue nggak?" Tanya Riri kepada Tasya.


Seketika itu Tasya ingat akan janjinya kepada Keenan.


"Gue lupa ada janji. Gue duluan ya." Ucap Tasya terburu-buru.


"Yaudah ati-ati." Ucap Riri.


Tasya berlari menyusuri koridor dan menaiki tangga dengan terburu- buru. Setelah ia sampai di atas ia membungkuk memegangi lututnya dan mengatur nafasnya.


"Gila-gila cape parah gue dah." Ucap Tasya dan setelah itu ia menyeka ketingatnya


"Sya." Panggil Keenan.


Tasya mendongakkan kepalanya dan bangkit dari posisinya dilihatnya Keenan yang sudah di hadapannya


"Gue mau ngomong sama lo." Ucap Keenan lagi


"Ngomong apa Nan?" Tanya Tasya


Keenan menjauh dan dan duduk di bawah sedikit saja Keenan lengah ia akan terjatuh ke bawah.


Tasya yang melihat Keenan menjauh pun mengikuti langkah Keenna dan duduk di samping Keenan


"Gue mau tanya gimana kalo misalnya gue pergi jauh sya?" Tanya Keenan.


Tasya heran dengan pertanyaan Keenan. Kenapa ia menanyakan hal itu? "Gue ngga tau. Pastinya sih kalau itu terjadi mungkin hidup gue bakal lebih hancur dari hidup gue yang sekarang Nan, soalnya lo itu penyemangat gue buat bertahan di dunia ini" Terang Tasya.


Entahlah kenapa ia mengatakan ini sembari senyum miris dan membayangkan saat Keenan pergi darinya bagaimana hidupnya kelak. Tiba-tiba Keenan memeluk Tasya sangat erat.


Tasya sungguh heran dengan ini "Maksud lo apa sih Nan? tiba-tiba lo tanya hal kek begitu udah gitu sekarang pake acara peluk-pelukan lagi." Ucap Sheila


Dalam hati ia sangat bahagia bisa di peluk Keenan seerat ini.


"Maafin gue sya" ucap Keenan lirih.


"Lo tu kenapa si Nan? tiba-tiba melow gini?" tanya Tasya tak paham dengan keadaannya saat ini.


"Maaf kalo gue nggak bisa nepatin janji gue untuk selalu ada buat lo, untuk ngehibur lo yang lagi sedih, untuk berbagi semua yang lo rasain. Karna gue setelah ujian nanti, gue bakal kuliah di luar negeri" ucap Keenan


"Kenapa lo baru bilang Nan!!! Ujian tu kurang dari 2 bulan lagi dan lo baru bilang sekarang!!! Lo anggep gue apa Nan!!! LO JAHATTTT TAU NGGAK!!!" ucap Tasya setelah itu ia berlari meninggalkan Keenan.


Tasya berlari sekencang-kencangnya meninggalkan area sekolah melewati gang-gang kecil.


Tiba-tibaa....................


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT????


Jangan lupa tinggalkan jejak👣👣👣👣

__ADS_1


__ADS_2