LELAH

LELAH
Bertemu


__ADS_3

Ana menunggu manis dikursi yang berada didepan sekolah Deo, hanya tinggal menunggu beberpa menit saja menunggu deo keluar.


"Undaa...." tak lama deo keluar dari gerbang sekolah dengan raut wajah yang bahagia. Kaki munggil berlarian menuju arah ana yang sekarang berubah posisinya menjadi beridiri.


Deo memeluk bundanya, "Unda.. Kata deo bahagia. Ana segera membawa anaknya kedalam pelukkannya, "anak bunda kenapa? Senang sekali kelihatannya....." ucap ana sembari mencubit pipi deo lembut.


"ndak apa-apa Unda ," ucap deo dengan menampilkan gigi-gigi kecilnya.


Ah ya, ana mengingatnya. Pasti anaknya tersenyum menanda kan bahwa ia ingin menangih janji kepadanya.


"superman?"


Deo menganguk-angguk kecil, ana mengacak-acak pelan rambuk anaknya.


Tumben sekali anaknya ini memberi kode, tidak merengeknya terlebih dahulu.tapi syukurlah, setidaknya ia tidak dibuat runyam oleh rengekan dari deo.


Ana menurunkan deo dari gendongannya, ia membawa jemari deo kedalam jemarinya. Kemudian mengajaknya pergi untuk membeli miniatur superman yang diinginkannya.


"Unda..." ana hanya berdehem


"Unda...kalau ayah pulang, beliin deo mainan ndak?"


Detik itu pula langkah kaki ana terhenti. Hatinya terasa tertusuk, sepertinya deo masih berharap kalau Ayahnya akan pulang dari kerjanya, yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi. Karena Ayahnya itu tidak akan pernah kembali, menemuinya, atau bahkan menyapanya. Karena yang ana tau, daniel sangat membenci darah dagingnya sendiri.


"Unda..." deo menarik pelan jemari ana, agar bundanya itu tersadar dari lamunannya.


" ya syang," ucap ana setelah sadar, ia juga memberi senyuman tipis untuk deo.


" Unda Ayah...."


Perkataan deo terhenti saat dering ponsel ana berbunyi. Ana segera mengangkat teleponnya itu.


"Hallo"


"........"


" rancangan milik saya?"


ana sibuk dengan teleponnya, dan tanpa sadar ia sudah melepas genggamannya pada jemari deo.


Seiring terlepasnya jemari deo, pandangam pria kecil ini sudah terfokus pada bola bercorak hitam yang berada ditengah jalan.


Merasa bola itu sangat menarik, deo menghampiri keberadaan bola itu, perlahan-lahan.


Brukkss....


Baru beberapa langkah kakinya melangkah, tubuh mungil deo sudah terhempas. Entah deo yang terlalu bersemangat ingin mengambil bola itu, atau kaki berbalut panjang hitam yang tidak sengaja menghalangi jalan deo sehingga pria kecil itu tersungkur jatuh.


"Awh..."deo meringis kesakitan, ia mengusap sikutnya. Wajah putihnya sudah memerah, matanya pun mulai berkaca-kaca. Tapi ia teringat dengan perkataan buk guru, kalau ia tidak boleh menangis.


Deo, ndak boleh menangis...deo bangkit.


tatapan mata birunya kini sudah berpindah kepada pemilik mata biru lain.

__ADS_1


"paman nablak deo!" omel deo dengan tangan bertolak pinggang.


"liat, tangan deo beldalah. Kulit kelupas." katanya sembari memperlihatkan sikutnya yang kulitnya telihat terkelupas dan sedikit mengeluarkan darah, akibat bergesekan dengan aspal.


ana yang posisinya masih menerima panggilan, mulai menyadari tidak ada anaknya disisinya. Dan saat itu juga ana segera memutuskan panggilan teleponnya.


"deo...." panggil ana panik, tentu ana panik, bagaimana bisa deo sedari tadi jemarinya ia genggam bisa hilang.


Matanya mulai menelusuri jalan, ana benar-benar panik.


matanyapun akhirnya terfokus pada satu titik.


Kepanikannya saat ini mulai berkurang, akhirnya ia menemui keberadaan anaknya.


Tapi tunggu, sedang bersama siapa anaknya itu?


Ana yang khawatir kepada deo dan curiga kepada pria dewasa yang berada dihadapan anaknya adalah penculik.


Ana segera berlari kearah deo.


deo mengerucutkan bibirnya. " nanti Unda tanya-tanya deo, deo ndak mau buat Unda...."


"Deo, bundakan sudah mengatakan jangan pergi begitu saja tanpa izin dari bunda."


Ucap ana yang sekarang berada dihadapan pria kecilnya, tanganya mengusap rambut deo, posisi tubuhnyapun ia samakan posisi deo.


Tanpa sengaja mata ana menatap tangan deo, kemudian ia mengangkat tangannya untuk melihat kondisi sikut deo yang nampaknya terluka. "ini kenapa?" tanya ana khawatir.


"Deo mau ambil bola, tapi tiba-tiba ada paman." jelas deo. Ana mengangkat tubuh deo kedalam gendongannya, kemudian mengecup pipi anaknya dengan lembut.


Deo mengangguk, namun tak lama deo mengegelengkan kepalanya.


"tapi kalau paman ndak ada, deo ndak jatuh." sangkal deo.


"iya, sekarang obatin tangan deo dulu ya..."


Perkataan ana seketika terhenti, nafasnya pula seolah ikut berhenti juga. Dirinya mendadak menjadi mennequin. Hatinya terasa nyeri.


" Unda...." panggil deo, kemudian mencium pipi ana berkali-kali. Untuk menyadarkan bundanya yang tiba-tiba terdiam.


Anapun akhirnya tersadar.


"ya, ya..." jawab ana refleks, sembari menatap lekat manik mata deo, tak lupa senyuman yang begitu memaksa ana keluarkan.


"Hai..."


Deo menatap kearah paman yang tak sengaja menabraknya.


Sungguh, ana tidak ingin mendengar suaranya lagi, bahkan melihatnya kembali ana tak ingin.karena itu semua sangat menyakitkan untuknya.


Ya, itu adalah mantan suaminya, daniel wiliam.dirinya dipertemukan kembali oleh sosoknya.


"paman tablak deo, kenapa ucapin Hai, bukan maaf?" kata deo tak terima.

__ADS_1


Daniel tersenyum kecil." maaf ya...."


Ana yang mulai tidak merasa nyaman segera melangkah kakinya, ia harus segera sampai menuju mobil.


Daniel tidak tinggal diam ia mengejar ana, akhirnya daniel bisa meraih pergelangan tangan ana yang sedang menahan tubuh deo yang berada dalam dekapannya.


Ana menghentikan langkahnya.


"Ana..."


" tolong lepaskan tangan anda dari tangan saya," ucap ana tanpa menoleh sedikitpun.


Daniel menggeleng, " Tidak."


" tolong lepaskan tangan anda dari tangan saya." ulang ana kembali tapi dengan intonasi yang berbeda, yaitu sedikit meninggi.


"paman, lepas tangan Unda!" omel deo yang tidak terima perlakuan daniel.


Detik itu juga daniel melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan ana saat deo yang memintanya.


Merasa tangannya tidak digenggam oleh daniel, ana segera melangkah kakinya kembali.


" ana..." panggil daniel yang terdengar begitu miris.


...----------------...


ana masih Shcok.


bahkan hatinya yang sudah lama tidak nerasakan sakit yang begitu mendalam, kini hadir kembali.


Kilasan-kilasan saat daniel mengusirnya bahkan hampir melontarkan kata kasar terhadap deo, yang masih didalam kandungan, kembali didalam ingatannya.


"Unda..." panggil deo lembut.


Ana yang merasa deo memanggilnya segera menoleh kearah kursi sampingnya, lebih tepatnya tempat dimana deo duduk "ya sayang."


"supelman?"


Ana menggeleng "karena deo tadi pergi tanpa seizin bunda, beli supelmennya tidak jadi sekarang." sebenarnya ana tidak tega mengatakan itu kepada anaknya, tapi ia tidak mau mengambil resiko berbahaya. Ia saangat takut daniel akan mengikutinya. Jadi lebih baik, dirinya menolak permintaan deo, dengan alasan yang dilanggar deo.


Deo menghela nafasnya kecewa " maaf Unda."


ana menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi.


...----------------...


Daniel terduduk diam mematung dikursi mobilnya.dirinya sama sekali belum beranjak sedikitpun dari lokasi tadi, dimana dirinya bertemu dengan ana, dan seorang anak kecil.


Sekilas wajah anak kecil itu terekam jelas diotaknyan, terutama bagian matanya. Mata birunya, yang sama persis dengan dirinya.


" Apa itu kau Nak?" daniel mengalihkan tatapannya pada kertas mini ditangannya.


lebih tepatnya itu adalah cetakan USG milik ana.

__ADS_1


"benarkah?" lanjut daniel,ia masih tidak percaya. Jika itu benar, itu berarti, anak itu adalah?


Mohon dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2