LELAH

LELAH
Sakit


__ADS_3

Tasya di perbolehkan pulang lebih awal dari pada anak-anak lainnya karna dokter yang memeriksanya di UKS tadi mengatakan bahwa Tasya butuh istirahat banyak hari ini.


"Sya biar saya anterin pulang ya?" Ujar Rendi.


Memang sedari tadi Rendi yang menjaganya, ia tidak tau kemana perginya laki-laki yang Tasya sukai. Ia tidak mau menanyakan hal itu kepada Tasya. Karna ia ingin melakukan pendekatan yang lebih ke Tasya. Hari ini Rendi memapah Tasya dan meninggalkan UKS untuk menuju mobilnya. Beruntunglah hari ini ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari UKS. Selama perjalanan menuju mobil Rendi itu, lagi-lagi semua pandangan mengarah ke arah Tasya dan Rendi


"Dasar murahan! Bisa-bisanya nggodain Pak Rendi."


"Yayang Sheila kok mukanye pucet."


"Dasar udah nakal, bandel, murahan pula. Najis banget."


"Jangan di dengerin Sya." Ucap Rendi menyemangati Tasya


"Udah kebal kok gue Ren, ntar kalo gue udah sehat gue bales tuh orang-orang." Ucap Tasya sambil terkekeh


"Nah ini baru Asya yang gue kenal." Rendi terkekeh


Ntah kenapa fikiran Tasya tidak tenang hari ini, apalagi ia tidak bertemu sama sekali dengan Keenan. Tasya berkali-kali melirik ke seseorang di sampingnya yang sedang mengemudikan mobil itu. Ia nampak serius dengan jalanan yang ada di hadapannya


"Eh Ren..." ucap Tasya


"Ya, Kenapa Sya?" Jawab Rendi masih dengan tatapan yang lurus ke depan memperhatikan jalan itu.


"Lo liat Keenan ngga sih hari ini?" Tanya Sheila


"Emangnya kenapa sih, saya kan guru lagian tadi nggak ada mata pelajaran olajraga di kelas dia. Udah gitu kita kan nggak deket sya?"


"Gue telfon dari pagi ngga ada kabar, gue juga ngga ketemu dia di sekolah."


Rendi menengok ke samping.


"Hayo kamu kangen ya? Katanya mau ngilangin perasaan kamu ke dia. Baru sehari nggak ketemu aja udah uring-uringan gitu" Ucap Rendi.


"Apaan sih lo ngaco tau nggak." Elak Sheila.


"Udah mending kamu jujur aja sama saya Sya! Saya tau kok kemarin waktu hujan kamu juga bohong kan sama saya?" ucap Rendi.


Tasya hanya diam setelah mendengar ucapan Rendi. Ia kembali memikirkan apa kesalahannya hingga ia kembali kehilangan orang-orang yang ia sayang. Saat diam tiba-tiba kepala Tasya terasa amat sakit.


"Aduh..." Tasya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut itu.


"Eh kamu kenapa Sya?" Rendi langsung menepikan mobilnya.


Setelah Rendi menepikan mobilnya, ia segera mengambil sebotol air mineral di tas nya itu dan ia menyerahkannya kepada Tasya


"Nih air di minum dulu sya" Ucap Rendi sambil menyerahkan sebotol air mineral itu kepada Tasya. Tasya pun segera meminum air mineral itu.


"Thanks ya Ren. Udah jadi sahabat gue." Ucapnya sambil tersenyum.


Rensi memutar bole matanya malas."Saya ingin dianggap lebih dari sahabat Sya." Ucapnya


"Maaf Ren gue belum bisa."


"Iya gak papa kok, Saya rela nunggu kamu sampai kamu bisa nerima saya" ucapnya tulus.


Setelah melihat Tasya dalam keadaan yang baik-baik saja pun, ia kembali melajukan mobilnya.


Selama perjalanan pulang itu mereka sama sekali tidak ada yang membuka percakapan sampai Rendi pun melihat pedagang bubur ayam langganannya di pinggir jalan.


" Sya kamu mau beli bubur ayam langganan saya nggak? itu bubur sangat enak lho!" Tanya Rendi masih dalam keadaan fokus pada menyetirnya.


"Sya, jawab dong." Ucap Rizki.


Kali ini ia menengok ke sebelahnya. Ternyata ia menemukan Tasya yang sedang tertidur sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Yaelah tidur."


Akhirnya Rendi pun menghentikan mobilnya dan turun dari mobilnya untuk membeli bubur ayam tersebut. Setelah mendapatkan bubur ayam tersebut ia pun segera membayarnya dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


Tasya menghentikan mobilnya setelah sampai di apartement Tasya, Rendi menepuk-nepuk pipi Tasya berharap agar sang empunya itu bangun. Dan yang di sadari Rendi adalah badan Tasya sangat panas


Rensi langsung menggendong Tasya ala bridal style dan membawanya ke kamarnya.


Rendi pum menepuk jidatnya "Anjir pin nye berapa lagi."


Lagi-lagi Rendi menepuk jidatnya "Goblok kenapa gue bisa lupa."

__ADS_1


"Uhukk...uhukkk.." Tasya terbatuk sehingga ia bangun dari tidurnya


"Syukurlah kamu udah bangun, pinnya berapa Sya?" Ucap Rendi.


Setelah di beritahukan pinnya itu, Rendi segera menekan digit angkanya dan membawa Tasya masuk ke kamarnva.


Tasya berusaha duduk dari posisi berbaringnya di bantu oleh Rendi karna ia merasakan badannya yang tidak enak.


"Pelan-pelan Sya." Ucap Rendi sambil membetulkan letak bantal untuk Tasya


"Lah iya saya lupa kan." Rendi menepuk jidatnya lagi.


"Lupa apaan sih Ren?" Tanya Tasya.


"Bubur buat kamu ketinggalan di mobil."


Setelah mengucapkan itu, Rendi pun segera berlari dan turun untuk mengambil bubur ayam yang di belinya tadi untuk Tasya. Seketika Rendi menghampiri Tasya lagi dengan nafas yang terengah-engah


"Mana buburnya Ren?" Tanya Tasya


"Saya lupa kuncinya ketinggalan." Ia segera menyambar kunci mobilnya di nakas tempat tidur Tasya dan ia pun segera berlari untuk pergi ke mobilnya lagi.


Sedangkan Tasya hanya bisa tersenyum melihat kelakuan guru yang telah menjadi sahabatnya ini. Beruntunglah ia masih mempunyai seseorang yang sangat peduli padanya walau ia mengharapkan orang tuanya yang merawatnya. Ah sudahlah kenyataannya sekarang ia tidak mempunyai orang tua bukan?


"Ngelamun mulu si neng." Ucap Rendi yang seketika membuyarkan lamunan Tasya


"Lah, lo kapan dateng Ren?" Tanya Tasya karna ia tidak melihat Rendi yang memasuki kamarnya.


"Masa segini gedenya saya nggak keliatan sih sya." Ucap Rendi heran.


"Lo kan biasanya suka ngilang terus datengnya tiba-tiba kan"


"Kamu pikir saya mahluk gaib apa."


"Lo kan Syaiton."


"Mamas Rendi yang paling ganteng ngambek nih?" Ucapnya


"Kok gue kek pengen muntah gitu dengernya." Gumam Tasya yang masih bisa di dengar oleh Rendi.


"Dih pede."


"Udah-udah lebih baik dan sangat baik kalo kamu makan buburnya sekarang ya." Ucap Rendi menghentikan perdebatan itu


"Lah orang lo yang mulai kok" Ucap Tasya


Rendi pun menghiraukan ucapan Tasya dan segera menyuapi Tasya untuk memakan buburnya.


"Satu lagi ya Sya." Ucap Rendi karena satu porsi bubur itu hampir habis.


Tasya pun membuka mulutnya dan memakan bubur itu. Walaupun lidahnya pahit tetapi ia harus menghargai orang lain bukan? Apalagi Rendi yang sudah merawatnya selama hampir seharian ini


"Pinter." Ucap Rendi karna Sheila mampu menghabiskan satu porsi bubur tersebut, ya walaupun sedikit di bantu olehnya.


"Nih minum, abis itu di minum obatnya ya." Rendi meyodorkan air putih itu dan memberikan Tasya obat yang tadi pagi Dokter berikan padanya untuk Tasya.


"Makasih." Ucap Tasya. Setelah itu ia pun meminum obatnya.


"Sekarang kamu tidur lagi ya." Ucap Rendi setelah itu ia bangkit untuk membersihkan bekas makanan Tasya


"Ren.." panggil Tasya


"Iya Sya, kamu butuh sesuatu?" Tanya Rendi.


Tasya menggelengkan kepalanya. "Makasih."


"Makasih buat apa?"


"Makasih lo masih mau ada di samping gue saat dunia menjauh." Ucap Tasya lirih.


Rendi mendekati Tasya dan duduk di tepi ranjang "Maksud kamu apa sih Sya?" Tanyanya.


"Kadang gue berfikir apa gue pantes untuk dapet kasih sayang? Gue hanya berharap orang yang gue sayang juga sayang sama gue. Apa bisa? Rasa-rasanya gue terlalu hina untuk itu."


"Sya.." Rendi membelai rambut Tasya dengan sayang.


"Gue hanya perlu itu Ren, ngga lebih. Gue hanya pengen ngerasain gimana rasanya jadi prioritas."

__ADS_1


"Ini terlalu sakit Ren." Air mata yang sudah sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir tanpa izin.


Entah kenapa Tasya tidak mengeluarkan isakan setiap kali ia menangis. Rendi membawa Tasya ke pelukannya mengusap punggung gadis itu supaya tangisannya reda.


"Gue hanya pengen masa remaja gue kaya anak-anak lainnya. Orang tua gue yang slalu ada di samping gue, dan orang yang gue sayang selalu ada buat gue."


"Ren... apa gue bisa bareng-bareng ngejalanin hidup sama orang yang gue cinta dan lari dari keterpurukan tentang broken home?"


Satu fakta yang kini ia ketahui tentang Tasya, yaitu ia adalah anak dari keluarga yang broken home. Dan itu sudah ia lalui dari ia kecil. Ia tidak bisa membayangkan apa yang telah Tasya lalui selama ini.


"Tasya pasti bisa kok." Ucap Rendi sambil tersenyum


"Tapi gue ngga yakin Ren."


"Hussttt... udah ya Tasya ngga boleh sedih, Tasya harus optimis bahwa Tasya itu bisa." Rendi mengusap air mata Tasya dan membantunya untuk membaringkan tubuhnya.


Rendi mengusap puncak kepala Tasya "nice a dream Sya." Ucapnya.


Tasya pun memejamkan matanya berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya. Rendi yang melihat Tasya sudah tertidur pun segera keluar dari kamar itu untuk menuju ruang TV. Rendi segera menelfon seseorang karna entah kenapa ia merasa emosi melihat Tasya yang sedih itu.


Siapa yang di telpon Rendi???


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT???


Jangan lupa tinggalkan jejak👣👣👣👣

__ADS_1


__ADS_2