LELAH

LELAH
Extra Part 2


__ADS_3

Ana mengusap perutnya yang sudah membesar. merasakan tendangan-tendangan kecil dari bayi yang berada dalam kandungannya.


Sesekali ia tersenyum, ia tidak menyangka bahwa ia sekarang tengah mengandung anak noven. Laki-laki masa SMA nya yang selalu mencari kesempatan agar berada didekatnya, namun karena kepolosannya dulu ana selalu menjauh dari nya.


Saat sedang membayangkan masa lalunya tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang melingkar diperut ana.


" Hallo anak papa..."ucap noven dengan suara lembutnya,


" sayang"


Noven melepaskan pelukkannya ia, mensejajarkan tubuhnya dengan perut buncit ana, lalu meenciumnya.


" merindukan papa tidak?"


Ana tersenyum melihat tingkah noven.


"papa disana selalu memikirkan mu dan juga bunda." noven harus meninggalkan ana selama 2 bulan, padahal ia sudah menolak, tapi analah yang memaksanya agar tetap bekerja.


Noven bangkit lalu mencium kening ana. " kau tidak mengidam yang aneh- aneh bukan?"


Sebenarnya ia mengidam papanya ada didekatnya...."bohong ana, ia menginginkan melihat ekspersi noven.


"Apa ? Kenapa kau tidak mengatakannya?" ucap noven menatap ana tidak percaya.


Bagaimana bisa ia menyembunyikan ngidamnya itu, padahal ia selalu mengatakan pada ana bila ia mengidam dan dirinya harus turun tangan noven dengan siap akan kembali kerumah. Tidak perduli jarak yang begitu jauh.


Noven mengenggam pergelangan tangan ana dan mengajaknya untuk duduk diatas sofa.setelah itu ia mengelus perut buncit milik ana.


" sekarang masih rindu tidak?"


"Tidak, tapi katanya ia ingin cepat-cepat bertemu papanya...."


noven menatap ana sembari tersenyum.


"sebentar lagi sayang, kita akan bersama-sama."


" hari ini jadwal untuk memeriksa kandunganmu kan?"


" ana menganggukan, ternyata suaminya ini tidak melupakan itu.ia fikir noven akan melupakan ini setelah pergi meninggalkannya selama 2 bulan.


"Deo, dimana dia?" noven mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah. Ia merindukan anak laki-lakinya itu.


"Dia bersama Ayahnya."


...----------------...


tak sedikitpun laki-laki ini melepaskan pelukan erat anaknya yang tengah tertidur lelap. Wajah teduhnya saat tertidur mengingatkannya pada seseorang dimasa lalunya yang kini sudah bahagia bersama orang lain.


"Ayah..." deo mengerjapkan matanya dan itu membuat lamunan daniel terbuyar.


" sudah bangun?"tanya daniel mengusap lembut puncak kepala deo.


deo menganggu setelah itu ia membangkitkan tubuhnya dan merubah posisinya menjadi duduk


"Ayah..."ucap deo lagi.


" iya sayang?"


deo melengkukan senyuman hingga matanya menjadi menyipit.


daniel hanya mengernyitkan dahinya bingung.


"Ayah lupa?" deo mendengus kesal


" lupa?" daniek masih mengernyitkan dahinya bingung.jelas saja ia bingung.anaknya ini baru saja terbangun dari tidurnya dan tiba-tiba ia berkata bahwa daniel telah melupakan sesuatu.


"Ayah bilang cama deo mau menemani deo membeli baju adik untuk dipelut Unda..."


Ah, ternyata ingatan deo sangat tajam.


" tentu saja ayah akan menemani deo,"


" ayo ayah kita beli baju untuk adik dipelut unda." semangat 45 deo, ia sangat menanti kan momment ini. Momment dimana adik kecilnya kelak akan memakai pakaiam hasil pilihannya.


Tanpa basa-basi lagi deo menarik tangan daniel untuk segera membersihkam tubuhnya lalu menemaninya untuk membeli pakaian untuk adik kecilnya.


...----------------...


Dalam perjalanan noven tak henti-hentinya menggoda ana sehingga membuat ibu hamil ini merasa kesal dibuatnya.


"pipimu sekarang memang benar- benar chubby, bahkan melebihi saat kau hamil deo."


Ledek noven, ia merindukan moment ini, menggoda istrinya ini sampai wajahnya yang menurutnya menggemaskan.


Ana tidak mau menoleh kearah noven, lebih baik ia melihat pemandangan diluar dari pada harus melihat wajah noven yang menurutnya sekarang sangat menyebalkan.

__ADS_1


Noven melirik kesampingnya dengan senyum puas, " Hei...kau marah padaku?"


Ana hanya diam.


" Aku hanya bercanda sayang." sembari fokus pada jalanan. Sesekali melirik kearah ana kembali, ia tersenyum melihat raut wajah ana yang merajuk seperti itu.


"sstt.. Noven menoleh kesamping saat ana memegang perutnya sembari merintih, wajahnya terlihat menahan sakit.


" nana, kau kenapa?" tanya noven panik, sesekali ia melirik kearah ana.


" perutku....." ana meringis kesakitan membuat noven yang berada disampingnya dengan segera menepikan mobilnya.


" perutmu, ada apa dengan perutmu?"


Khawatir noven, seketika itu pula ia merasa menyesal telah mmembuat ana marah padanya.walaupun ia hanya berniat untuk menggodanya saja.


"sstt...perutku, anak kita...."ana meringis kembali.


" kau ingin melahirkan?" tapi ini, ini belum waktumu untuk...." disaat wajah noven sudah terlihat panik dan suaranya yang sudah terdengar bergetar, disaat itu pula terdengar kekehan ana.


Noven menatap ana bingung.


" emangnya enak!" gerutu ana, rupannya ana membalas perbuatan noven dengan cara mengerjainnya dan lihatlah sekarang ekspersi noven telah berubah menjadi datar dan ana melihay itu merasa puas.


Bersyukur saat bayi yang berada kandungannya menendang, ana dengan tidak sengaja meringgis dan itu langsung direspon oleh noven, sekalian saja ana membalas perbuatannya itu.


"ini tidak lucu ana." noven menyalakan kembali mobilnya lalu menjalankannya.


Ana melirik kearah noven yang menjalankan mobilnya dengan wajah datarnya.apa mungkin noven marah padanya?


" sayang marah pada ku?" tanya ana hati- hati.


Namum noven tak menjawab ia fokus pada jalanan.


Sungguh ana tidak bermaksud membuatnya marah, ia hanya merasa kesal dan ingin membalas sedikit perbuatannya itu.


Ana menyentuh pelan lengan noven mengenakan jari telunjuknya, " sayang..." ucap ana yang mulai takut bila noven marah padanya.


" sayang marah?"


Noven hanya diam tak mengubris ana, ana menurunkan tangannya lalu menghela nafasnya pelan.


"papa marah sayang?" ucap ana pada bayi yang berada dikandungannya sembari mengusapnya.


Ana juga menyadarkan kepalanya, dan memejamkan matanya, lebih baik ia tidur dari pada ia harus melihat noven yang marah padanya.


Noven tidak bisa untuk marah pada ana, ia justru akan merasa bersalah bila ia marah hanya karena hal sepele saja.


Noven menggeleng, "tapi abg tidak suka nana seperti tadi."


Ana menegakan tubuhnya kembali," marah kepada ku atau..."


" berpura-pura kalau perutmu itu sakit, itu tidak baik ana, apa kau mau ada apa-apa dengan bayi kita?" omel noven panjang lebar.


Ana menggeleng


" kalau begitu, kenapa kau melakukan itu, kau tidak tau abang khawatir melihat mu seperti itu, abg tidak ingin kau melahirkan ditempat seperti ini."


Ana tertawa mendengar penjelasan noven."tidak sayang ini belum waktunya. Hanya saja perut ku terasa sakit, saat...."


Noven menatap ana tidak percaya,


"sakit? jadi kau tidak berpura...."


Ana mengangguk pelan " ya, setelah itu...."


" kenapa kau tidak berbicara dan malah membuat abang menjadi kesal padamu."


"bayi kita menendang perutku, ia mungkin merasa kesal bundanya ini dibuat seperti itu oleh papanya."


" dan saat aku melihat responmu sepanik itu sekalian saja aku membalasmu."


Memangnya aku tidak bisa membuat mu kesal.


Noven baru mengerti, jadi ana meringgis kesakitan itu memang benar tapi ia melebih-lebihkan agar melihat kepanikan diwajah noven.sempurna sekali


" jadi istriku ini sudah bisa berekting ya?"


Ucap noven dengan senyum menggodanya.


" Tidak! Aku hanya merasa kesal padamu."


Noven tersenyum lalu mengecup kening ana, " ya, kalau begitu maafkan aku ya"ucap noven lembut.


Ana mengangguk sembari tersenyum pula.

__ADS_1


...----------------...


" Hiikkss....hikkss..Undahh, isakan tangis terdengar sangat kencang.


"ssttt, shasha tidak boleh menangis, nanti bunda dan papa marah..." deo mencoba memenangkan adik kecilnya Raisha wiliam, adik perempuan satu-satunya yang amat ia sayangi yang kini usianya sudah menginjak 3 tahun.


Kini mereka berada ditaman dekat rumah.


" caca mau es clim," isak shasha.deo mengaruk tengkuknya, "abang tidak punya uang," binngung deo, karena dia hanya berniat mengajak adiknya ini menghirup udara pagi hari.


" caca mau es clim," rengek shasha lagi.


"ya tunggu Bunda dan papa pulang ya, nnti abang belikan es krim untuk shasha."deo menenangkan shasha yang terus menerus merengek.


"Aaaaaa.....caca mau es clim..." kini shasha makim berteriak.


Teriak shasha sampai akhirnya seorang pria menghampiri mereka.


" shasha jangan berteriak, dilihat irang tau," kesal deo oada akhirnya. Sampai akhirnya adk perempuannya itu menangis.


"Hei, jangan seperti itu, nanti adikmu takut." peringat pria itu lalu memindahkan shasha pada gendongannya.


Deo yang melihat shasha digendong oleh pria yang seumuran dengan Ayahnyaa langsung bangkit." jangan gendong Shasah!!"marah deo.


" Dia menangis harus seperti ini agar dia berhenti menangis," ucapnya.


" turunin shasha paman!" kesal deo dan dengan terpaksa ia mengigit lengan pria itu.


" Heii,.....mau tak mau pria itu menurunkan shasha dari gendongannya,dengan cepat deo langsung mengenggam jemari shasha.


"Ayo shasha kita pulang, paman ini jahat, jangan dekat-dekat." deo mengajak oulang shasha yang tanpa deo sadari ia sudah berhenti menagis.


...----------------...


Daniel memnfokuskan tatapannya pada dilayar laptopnya, mengerjakan proyeknya untuk perusahaannya kedepan.


"Ayah...." daniel dikagetkan denga sebuah lingkaran tangan pada lehernya.


"shasha," daniel sudah tau pasti ini adalah shasha.


shasha tersenyum sembari melepaskan lingkaran di leher daniel.gadis itu kini telah beranjak dewasa, usianya telah memasuki 17 tahun, itu artinya ia bukan lagi anak-anak.


"Ayah, apa paman ada disini? Tanya shasha hati-hati, sembari melihat pintu.


"oh..paman?"


"kapan kau kesini?" suara briton itu mengagetkan shasha yanh tiba-tiba sosoknya muncul dibalik pintu.


"bang Deo!" kaget shasha deo yang berstelan tuxedo masuk menghampiri shasha dan daniel.


"kenapa tidak memberi tahuku?"


Deo nampak terlihat tampan dengan tubuh tingginya apalagi mata birunya mampu membuat siapapun terpana dengan keindahannya.


"shasha."


"shasha merindukan seseorang," daniel ikut menjawab dengan senyum menggoda, walaupun usianya hampir menginjak kepala empat, wajah daniel masih menawan. Banyak wanita yang mendekati dirinya, namu sayang ia memilih untuk tetap sendiri, ia hanya takut akan menyakiti wanita kembali.


shasha menatap daniel " ah tidak, shasha...."


" merindukan seseorang," goda daniel kemabli.


Doe mentap daniel dan shasha bingung,


"merindukanmu? Tentu saja, kau harus merindukan ku shasha, aku ini abangmu," ucap deo sembari melangkahkan kakinya menuju kearah mereka berdua.


Detik itu juga shasha langsung menatap deo, " iya, karena bang deo tidak menemuiku sangat lama, jadi aku merindukan abang."


Deo tersenyum ia mengusap puncak kepala shasha hingga membuat rambut gadis itu berantakkan.


"Rambutku berantakan abang." gerutu shasha sembari merapikan rambutnya agar kembali rapi.


Daniel hanya tersenyum bahagia melihat deo bisa memiliki rasa sayang sebesar itu, pasti sifat itu ia turunkan dari ana.


Walau awalnya ia tidak mau mengakui deo,namun sekarang dan sampai kapanpun deo adalah anak kebanggaannya.


...----------------...


Tersenyum bahagia itu yang ana rasakan, ia sangat bersyukur bisa memiliki keluarga kecil yang harmonis.


Walaupun awal pernikahannya dengan daniel terlihat sangat menyedihkan namun ana dapat melalui itu semua dengan sabar dan ihklas. Justru ia kini memiliki seorang suami yang amat menyayanginya, melebihi dirinya dia sendiri.


Dan perjuang itulah yang membuat ana semakin percaya bahwa kebahagian pasti akan datang kepada siapapun untuk orang yang bersabar dan ihklas dalam menjalani segala ujian apapun.


TAMAT

__ADS_1


Mohon Dukungannya untuk karya ku🙏🏻🙏🏻😊😊


__ADS_2