LELAH

LELAH
Episode 12 (Ayra, atau Rea?)


__ADS_3

Bram sangat marah, setelah tau bahwa yang mengirimkan fotonya dan Ayra adalah ibunya sendiri. Belum lagi masalah foto Rea dengan seorang laki-laki, yang menurut ibunya itu adalah selingkuhan Rea. Padahal laki-laki itu tidak lain adalah sepupu jauh Rea dari kampung, yang tidak sengaja bertemu di kafe karena kebetulan dia bekerja di sana.


Bram bisa menilai, secara tidak langsung ibunya telah mengadu domba dia dan istrinya. Yang menurut Bram itu adalah cara licik dan menjijikkan bagi seorang ibu. Dan yang dilakukan ibunya adalah kesalahan yang sangat fatal.


"Kamu tunggu di rumah, ya. Mas janji nggak akan lama. Mas cuma ingin, ibu lebih bijak dalam menyikapi suatu masalah. Bukan dengan cara yang menjijikkan seperti ini." Bram keluar rumah menuju garasi.


Rea terdiam, antara ragu dan penasaran. Ragu karena telah membiarkan suaminya pergi sendirian dalam keadaan marah.


Penasaran, karena ia ingin tau apa yang akan ibunya jelaskan mengenai semua kejadian yang telah ibunya perbuat.


***


Tok ... Tok ... Tok

__ADS_1


"Assalamualaikum ... Bu, ini Bram."


"Waalaikumsalam ... Sebentar." Terdengar sahutan dari dalam. Setelah pintu dibuka, Bram langsung menuju ke taman belakang setelah diberitahu Bik Iyem bahwa ibunya ada di sana.


"Buk ... Apa maksud semuanya? Ibu mengambil foto Bram dan Ayra secara diam-diam, lalu ibu kirim foto itu ke Rea. Dan yang bikin Bram gak habis pikir sama ibu, kenapa foto itu ibu bikin seolah-olah kami sangat dekat!" Tanpa basi-basi Bram langsung memberondong ibunya dengan berbagai penjelasan. Bram emosi, rahangnya mengeras seiring dadanya yang kembang kempis menahan amarah.


Ibunya hanya tersenyum, dia menoleh kearah Bram sebentar kemudian kembali memandangi bunga-bunga indah hasil pekerjaaan tangannya disela waktu senggangnya.


"Nikahilah Ayra ... Dia jodoh yang makahsjdjjd akajsbdbd kajshsj


Dia marah, kesal, sedih, dan ... entah.


Diapun bingung harus menanggapi perkataan ibunya seperti apa. Dia bahkan belum mampu berpikir secara benar.

__ADS_1


Setelah diselimuti keheningan beberapa saat, akhirnya Bram angkat bicara. Kali ini dia bertekad untuk melawan rasa ragu akan cintanya pada istrinya.


"Bram memang belum sepenuhnya mencintai Rea, Buk. Tapi bukan berarti tidak cinta. Rea akan selalu menjadi satu-satunya. Saat ini bahkan selamanya." Bram mengucapkannya dengan senyum, berusaha menyamarkan keraguan yang terus saja ada dalam hatinya.


"Bagaiman dengan perjanjian kita? Ibu hanya memberi kesempatan kamu setahun. Dan diusia pernikahan kalian yang sudah delapan bulan saja, belum ada tanda-tanda kehamilan yang ditunjukkan istrimu." Balas ibunya mengingatkan.


"Masih ada empat bulan lagi. Dan aku pun tidak ingin membebaninya dengan hal itu, Buk. Melindunginya dan membahagiakannya adalah tanggung jawabku."


"Kamu bertanggungjawab atas perempuan itu, setelah kamu mengambil tindakan yang salah. Karena kamu ingin menebus dosa kamu karena telah menabrak bibinya lalu menikahinya karena merasa kasihan ... "


Praaangg ...


Tiba-tiba ada suara benda terjatuh dari arah ruang tengah yang berdekatan dengan taman belakang. Dan terlihat sekelebat bayangan seseorang berlari kearah depan yang terlihat dari kaca jendela di samping ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2