
"Apa yang Ibu bilang sama kamu, Re?" Bram bertanya dengan raut muka cemas.
"Ibu menyuruhku untuk menanyakan perasaan kamu sebenarnya. Dari situ aku tau, sesuatu yang tidak aku ketahui telah terjadi. Tapi aku bodoh, bila aku harus menyerah dan punya pemikiran sendiri. Aku tidak ingin menebak ataupun mengambil kesimpulan sendiri, sebelum aku mendengar semuanya dari kamu, Mas."
"Kamu 'kan tau dari dulu Ibu memang agak menentang pernikahan kita. Mungkin Ibu bicara begitu sama kamu untuk menggoyahkan keyakinan kamu. Kita baru saja sudah berbaikan, aku nggak mau kita mengulangi masalah yang sama terus menerus."
"Kehilangan bukanlah sebuah pilihan. Dulu ... Aku kehilangan Ayah dak Ibuku secara bersamaan. Kemudian, Bibi yang sudah menjadi pengganti Ibuku juga pergi meninggalkanku karena kecelakaan. Haruskah sekarang aku kehilangan kamu, Mas? Andai aku bisa memilih, aku tidak akan mau ditinggalkan. Andai aku bisa memilih, aku tidak ingin mereka pergi meninggalkanku sendirian. Aku tau, ini keputusan berat yang harus kamu ambil, Mas. Tapi bolehkan aku meminta kamu untuk tetap tinggal bersamaku?" Rea menangis, lalu dia menhambur dalam pelukan Bram.
"Selamanya aku akan tetap di sisi kamu. Semoga hubungan kita ke depannya akan lebih baik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, bertahanlah untuk tetap bersamaku." Bram memeluk Rea dengan erat.
"Kamu sudah berkali-kali berjanji, aku harap kali ini kamu bisa menepatinya, Mas. Lelaki sejati adalah lelaki yang bisa memegang teguh pendirian dan komitmennya. Yakinkan hati kamu sekali lagi. Jika kamu benar-benar sudah merasa yakin untuk hidup bersamaku, maka aku tidak akan mengizinkan kamu untuk bertemu dengan perempuan itu lagi. Jangankan untuk bertemu, menyebut namanya saja tak akan aku biarkan."
"Iya, aku berjanji untuk lebih baik ke depannya."
__ADS_1
"Ini kesempatan terakhir kita, Mas. Jika kamu mengingkari janji, dan aku tidak mampu untuk bertahan maka berakhirlah pernikahan kita. Akan harap kita mampu menjaga pernikahan ini selamanya."
"Amiiin."
***
Hari berlalu begitu cepat jika selalu diisi dengan kebahagiaan. Hari ini tepat setahun usia pernikahan mereka.
Rencananya, nanti malam mereka akan merayakan hari pernikahan dengan sederhana.
Jauh-jauh hari Bram sudah menyiapkan kado dan kejutan romantis untuk menyenangkan hati istrinya.
Makan malam romantis itu akan diadakan di villa milik Azis, tepat di dekat danau. Selain temanya yang romantis, Bram juga tau bahwa Rea menyukai hal-hal yang berhubungan dengan alam langsung.
__ADS_1
Semuanya sudah diatur sesempurna mungkin, bahkan Karin juga ikut andil dalam persiapannya. Tapi yang ditunggu tak kunjung tiba.
Ya, mereka sedang menunggu Rea yang seharusnya sudah tiba sejak setengah jam yang lalu.
Tadi Rea di jemput oleh supirnya Karin, karena mereka sedang sibuk mempersiapkan semua yang diperlukan untuk membuat makan malam yang akan mengesankan bagi Rea.
Raut cemas tidak bisa mereka sembunyikan, terlebih dengan Bram.
Tiba-tiba hp Bram berbunyi, menandakan ada yang menelpon.
Dengan cepat Bram memencet tombol hijau ketika nama Rea yang terpampang di layar handphonenya.
"Apa? Bagaimana keadaan kamu sekarang? Oke-oke aku ke sana sekarang, jangan kemana-mana.
__ADS_1